
Medan yang ditempuh oleh asisten Teddy untuk mencari Sandra sangat sulit. Kondisi alam yang tidak bersahabat dalam pencarian Sandra membuatnya selalu berhenti setiap saat untuk menyesuaikan tenaganya yang sudah cukup lelah.
Sementara di tempat yang berbeda, Sandra sangat menyesal karena sudah meninggalkan penginapan terburu-buru dan parahnya lagi ia tidak membawa cukup banyak bekal untuk persiapan dalam cuaca seperti ini.
Sandra mengedarkan pandangannya ke sekitar tempatnya berada saat ini. Tidak ada warna lain yang di lihatnya kecuali pohon Pinus yang tertutup salju dan tumpukan salju yang memenuhi permukaan tanah yang makin menebal.
"Kalau tahu perjalananku berakhir menyedihkan seperti ini, harusnya aku tetap bertahan di penginapan sampai Teddy sendiri yang menjemputku di sana. Betapa malangnya nasibku kini harus sendirian di tempat yang menyeramkan seperti ini.
Apakah sekarang Tuan Richard sudah menyelesaikan operasi donor matanya?" Apa yang harus aku lakukan jika dia sudah bisa melihat nanti?" Apakah dia masih mengenali wajahku dan langsung mengirim aku ke penjara?" Tanya Sandra lirih.
Sementara di mansion, Tuan Richard sangat gelisah karena belum ada kabar apapun dari asistennya Teddy tentang nasib kekasihnya Sandra.
Mungkin sudah kesekian kalinya, ia hanya bolak-balik ke kamarnya dengan menggenggam ponselnya.
"Ya Tuhan, ini sudah dua hari tapi Sandra dan Teddy belum munculnya juga. Sedangkan dari laporan BMKG, cuaca di luar sana makin memburuk." Gumamnya dengan hati berdebar kencang.
Tuan Richard melihat ke arah jendela yang cukup berkabut tebal. Di kamarnya yang memiliki mesin pemanas membuat suhu tubuhnya tetap nyaman dan terjaga.
"Sial!" Operasinya gagal dan aku harus terpisah dengan wanitaku. Sandra, maafkan aku sayang!" Semoga kamu kuat di sana. Kamu gadis yang cerdas. Aku yakin kamu wanita hebat yang bisa bertahan dalam keadaan apapun." Ucap Tuan Richard sedih.
Dari alat pelacak yang di pegang oleh Teddy, mobilnya Sandra sudah lebih dekat dengan dirinya.
"Ya Tuhan, syukurlah aku sudah bisa menemukan dirinya. Sandra... Sandra..!" Panggil Teddy ketika sudah berada di samping mobilnya Sandra.
Sandra terkesiap ketika ada orang yang menggedor pintu mobilnya.
Ia pun mendekati dan mengarahkan sinar senter ke arah orang itu tanpa ingin membukanya. Sandra terlonjak kaget saat melihat Teddy sudah menjemputnya. Ia pun segera turun dari mobilnya.
"Teddy... Teddy!" Pekik Sandra kegirangan lalu buru-buru membuka pintu mobilnya sambil memeluk Teddy.
Pria tampan ini langsung bergetar hatinya mendapatkan pelukan dari Sandra, gadis yang sangat ia kagumi.
"Nona Sandra!" Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Teddy sambil memegang kedua bahu Sandra dan memeriksa keadaan gadis ini yang terlihat lebih pucat dengan bibir yang sudah membiru.
"Aku baik-baik saja tuan Teddy, hanya saja aku kelaparan, yang ada hanya air." Ucap Sandra berkaca-kaca.
"Sebaiknya kita ke dalam mobilmu. Aku membawa banyak makanan untukmu?" Apakah kamu kedinginan?" Ini ada switer penghangat tubuhmu, kamu cukup memakainya dobel supaya tidak kedinginan."
Asisten Teddy mengeluarkan beberapa makanan berupa roti, buah, biskuit, makanan kaleng untuk mereka berdua.
"Kamu tunggu di sini ya, nanti aku akan menyalakan api unggun untuk kita agar tubuh kamu tetap hangat." Ucap Teddy penuh perhatian pada wanita yang selalu ia kagumi itu.
Sandra hanya mengangguk sambil mengunyah makanannya. Sesekali ia harus bersin karena tidak kuat menahan hawa dingin.
Keduanya menikmati makanan mereka. Teddy mengambil syal untuk dililitkan ke leher Sandra.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menghubungi kalian karena tidak ada sinyal di tempat ini. Apakah Tuan Richard sudah selesai operasi matanya?" Tanya Sandra ragu-ragu.
"Operasinya gagal Sandra karena ada suatu insiden yang tidak mengenakkan." Ucap Teddy.
Teddy menceritakan keadaan Tuan Richard yang gagal melakukan operasi. Sandra terlihat sedih mendengar cerita tentang tentang kekasihnya itu. Tapi ia masih bisa bernafas lega karena dirinya masih bisa berkomunikasi dengan Tuan Richard.
"Apakah dia ada di apartemennya?" Tanya Sandra.
"Orangtuanya sudah membawa pulang Tuan Richard ke mansionnya, karena dia tidak bisa melakukan apapun sendirian tanpamu nona Sandra, jika ia pulang ke apartemen.
Lagi pula dua saudaranya sedang berkunjung ke mansionnya sehingga ia merasa terhibur bisa bermain dengan keponakannya." Ucap tuan Teddy.
"Syukurlah Tuhan, aku masih bisa bernafas lega." Gumam Sandra membatin.
"Kita akan menunggu bantuan sehari dua hari ini nona Sandra. Kerena saat ini tempat kita terisolir karena cuaca buruk." Ucap Teddy.
Teddy mengeluarkan perlengkapan kemah untuk mereka. Beruntungnya ia sudah mempersiapkan semuanya di dalam mobilnya agar keduanya bisa beristirahat lebih nyaman di dalam tenda.
Sandra ikut membantu Teddy merapikan tenda, meletakkan balok kayu dan menghamparkan karpet tebal di atasnya. Teddy memberikan kantong selimut untuk Sandra dan membuat pembatas antara Sandra dan dirinya agar tetap terhalang antara mereka berdua.
"Apakah kamu ingin tidur sekarang?" Jika kamu ingin ke kamar kecil, aku sudah membuatnya di balik pohon Pinus itu." Ucap Teddy.
Sandra sangat senang dengan hasil karya Teddy. Lelaki tampan ini tahu segalanya dan mempersiapkan segala sesuatunya tanpa kekurangan.
"Tuan Teddy, jika ada wanita yang kamu sukai saat ini, wanita itu sangat beruntung memiliki dirimu karena kamu sangat terampil dan apik dalam mengerjakan sesuatu.
Kita seakan sedang melakukan kegiatan Pramuka saat ini." Ucap Sandra yang sedang berada di depan api unggun sambil menikmati minuman hangat.
"Aku sudah terlatih dalam kondisi apapun nona Sandra, jadi menghadapi kondisi ekstrim dengan cuaca seperti ini, bukan hal baru bagiku. Jika ada gadis yang bisa aku dapatkan, aku ingin mendapatkan gadis itu seperti nona Sandra. Tapi itu mustahil aku dapatkan karena seorang Sandra tidak bisa lagi dapat di cari di budaya kita yang sangat bebas pergaulannya." Ucap Teddy membuat Sandra seketika syok.
Degg...
"Apa maksud tuan Teddy bicara seperti itu padaku?" Apakah saat ini dia sedang jatuh cinta padaku?" Sandra melilitkan syal miliknya agar lebih menutupi setengah wajahnya sambil menghadap ke api unggun yang makin lama mulai berkurang apinya.
Teddy menambahkan ranting kayu untuk memancing api kembali membesar setelah itu ia pun memasak makanan untuk mereka berdua.
"Makanlah ini nona Sandra supaya perutmu hangat." Titah tuan Teddy yang melayani Sandra dengan baik.
Sandra menikmati makanan yang dibuat Teddy untuknya. Keduanya terlihat akrab dengan bertanya tentang kehidupan mereka masing-masing.
Tuan Teddy menceritakan kehidupannya dengan apa adanya pada Sandra, gadis ini hanya menceritakan kehidupannya hanya sebatas umum saja karena Sandra bukan tipikal gadis yang sering mengumbar kehidupan pribadinya.
"Sandra!" Apakah seumur hidupmu kamu tidak pernah jatuh cinta?"
"Aku begitu takut untuk membangun mimpiku tentang cinta karena aku tidak ingin disakiti karena cinta itu sendiri."
__ADS_1
"Apakah kamu ingin cinta itu berakhir dengan kisah manis dengan sebuah pernikahan?"
"Tentu saja itu bukan mimpiku saja tuan Teddy karena semua wanita lajang memiliki tujuan yang sama dalam hidupnya.
Hanya saja jalan yang mereka tempuh untuk mendapatkan kisah cinta yang berakhir indah dengan berbagai macam cara. Kalau aku ingin mengenal untuk pertama dan terakhir dengan satu pria saja dalam hidupku." Ucap Sandra.
"Apakah yang kamu maksud itu adalah Tuan Richard?" Lelaki pertama dan terakhir yang akan hidup denganmu sampai menua bersamamu?" Tanya Teddy penasaran.
"Entahlah Tuan Teddy, kadang hatiku berharap demikian saat ini, tapi manusia bisa berubah dengan sejalannya waktu. Mungkin dalam dua tahun ini, Tuan Richard begitu tergila-gila kepadaku karena kondisi matanya yang buta. Tapi aku tidak tahu bagaimana setelah ia bisa melihat lagi setelah operasi donor mata untuknya berhasil." Sandra terlihat murung dengan ucapannya saat ini.
"Nona Sandra, aku yakin Tuan Richard adalah lelaki yang bertanggung jawab dengan komitmen yang pernah ia sampaikan kepadamu.
Walaupun dalam dua tahun ini kalian menghabiskan waktu bersama, namun Tuan Richard tidak akan pernah ingkar dengan janjinya jika dia sudah mendapatkan wanita pilihannya.
Tuan Richard juga sepertimu. Dia memang pernah berada di dunia kelam dengan berbagai tipe wanita yang ingin ia kencani namun tidak ada satupun diantara mereka yang kecantol di dalam hatinya. Aku yakin nona Sandra, Tuan Richard sudah jatuh hati padamu." Ucap Teddy meyakinkan Sandra yang terlihat ragu pada ketulusan cinta Tuan Richard pada dirinya.
"Tuan Teddy, aku percaya dan yakin dengan cinta bosmu itu, tapi aku tidak bisa menikah dengannya karena akulah pelaku yang telah menabrak dirinya hingga membuatnya buta." Gumam Sandra membatin.
Teddy menatap wajah cantik Sandra yang disinari api unggun. Hatinya merasa bergetar hanya melihat mata biru Sandra saja karena gadis ini menutupi setengah wajahnya dengan syal miliknya.
"Tuan Teddy, aku sudah mengantuk, aku pamit tidur duluan," ucap Sandra.
"Silahkan nona Sandra, aku ingin mengawasi daerah ini karena rubah bisa muncul kapan saja." Ucap Teddy.
"Selamat malam tuan Teddy!"
"Selamat malam nona Sandra!" Semoga mimpi indah." Ucap Teddy penuh kehangatan.
Sandra masuk ke dalam tendanya dan segera memasuki badannya ke dalam kantong selimut yang sangat tebal. Ia pun memejamkan matanya dan membayangkan wajah tampan Tuan Richard yang saat ini sangat ia rindukan.
"Sayang, apakah kamu sedang merindukan aku saat ini?" Tanya Sandra sambil memandangi foto Tuan Richard yang ada dalam ponselnya lalu menciumnya.
Lama kelamaan, gadis ini akhirnya terlelap juga. Di luar sana tuan Teddy sedang membuat beberapa perangkap untuk binatang buas agar tidak menganggu mereka saat sedang tidur.
Keesokan harinya, Sandra dan Teddy sedang duduk menikmati sarapan mereka.
"Sepertinya hari ini agak lebih cerah dan salju sudah mulai berkurang turun ke bumi." Ucap Teddy.
"Semoga saja ada bantuan agar kita segera kembali ke kota." Ucap Sandra.
Tidak lama terdengar suara helikopter yang sedang berputar di area tempat mereka berkemah.
Teddy mengenali suara helikopter itu. Ia pun melambaikan tangannya ke atas.
Setelah melihat keberadaan Teddy, helikopter itu turun dan Sandra segera merapikan dirinya, ia harus menutup wajahnya dengan masker dan melilitkan syalnya lebih tinggi lagi menutupi setengah wajahnya serta topi kupluk untuk menutupi kepalanya agar tidak dikenali pilot helikopter itu.
__ADS_1
Keduanya naik bersama ke dalam helikopter dan meninggalkan dua mobil mewah di tempat mereka berkemah karena mobil itu sudah menyatu dengan salju.