
Dua bulan kemudian, pernikahan Sandra akan di gelar dalam waktu satu Minggu ini. Hidup Sandra yang terlihat menyedihkan dengan tubuh yang makin kurus dan wajahnya yang tampak tirus namun gadis ini tetap saja terlihat cantik. Bahkan ia tidak terlihat seperti wanita yang sudah memiliki dua anak.
Pagi itu Sandra ingin turun ke pantai untuk melihat matahari terbenam. Hendrik yang melihat Sandra melamun seorang diri di bibir pantai, berinisiatif untuk menghibur gadis itu.
"Selamat sore nona Sandra!" Sapa Hendrick yang tidak bisa bertemu dengan Sandra padahal mereka berada di satu area.
Sandra tersenyum hambar pada Hendrik. Ia pun kembali menatap ombak laut yang memecahkan keheningan pantai saat ini.
"Setiap ujian kehidupan tidak akan selamanya bertahan dalam kehidupan kita nona Sandra. Asalkan kamu bisa bersabar dan mau melewati setiap ujian itu, kaku akan keluar sebagai pemenang dan bukan sebagai pecundang.
Jika kamu ingin mengakhiri hidupmu, kamu hanya mendapatkan empati sesaat dari keluargamu dan setelah itu mereka akan melupakanmu karena mereka akan tenggelam dengan aktivitas mereka sehari-hari. Kamu hanya dikenang dalam memori mereka setiap kali, mereka merindukan dirimu.
Jadi, jangan pernah menyerah nona karena dua anakmu sangat membutuhkan kasih sayang ibunya saat ini. Hiduplah demi mereka jika kamu muak dengan hidup ini." Ucap Hendrick dengan bijak.
Kata-kata Hendrick seperti tetesan air hujan yang telah menyentuh jiwa Sandra yang begitu tandus saat ini. Ia yang tidak pernah berkomunikasi dengan siapapun di kediaman orangtuanya selama ini, menjadi terhibur dengan kehadiran Hendrik yang menemaninya dan juga menasehatinya.
Sandra menatap wajah Hendrick yang terlihat sangat manis.
"Terimakasih Hendrick, aku kira semua orang di sini sangat apatis dengan hidupku, tapi aku salah menilai itu karena kamu hadir di saat yang tepat untuk menyadarkan aku di tengah hidupku yang makin rapuh." Ucap Sandra penuh haru.
"Aku akan membantumu nona Sandra, aku tidak akan takut dengan ancaman tuan Kevin dan tuan Marco untuk bisa membebaskan kamu dari kedua lelaki itu." Ucap Hendrick dengan percaya diri.
"Benarkah?" Kalau begitu, aku akan menghubungimu melalui pesan dengan ponselku. Aku masih ingat nomormu. Aku punya rencana untuk bisa kabur dari bajingan Marco." Ucap Sandra dengan tersenyum manis pada Hendrick.
"Kalau begitu aku pamit nona Sandra, aku tidak ingin kamu mendapatkan intervensi lagi dari ayahmu jika mereka melihat aku dekat denganmu. Aku tunggu pesanmu nona Sandra." Ucap Hendrick lalu melanjutkan lagi larinya menyusuri pantai.
Sandra kembali bersemangat setelah bicara dengan Hendrick. Gadis itu tidak ingin memperlihatkan ekspresi wajahnya yang saat ini terlihat gembira. Ia tetap memasang wajah datar seperti biasanya agar tidak ada yang curiga kepadanya.
Setibanya di kamar, Sandra mengetik pesan untuk Hendrick. Hendrick membaca pesan itu sambil menelan salivanya dengan gugup.
__ADS_1
"Ini rencana yang cukup sulit, nona Sandra. Bagaimana kalau ketahuan, bukankah itu akan membuat kamu lebih menderita nantinya, bukan." Balas Hendrick.
"Hanya itu rencanaku yang tersisa, apakah ada idemu yang cukup baik dariku?" Tanya Sandra.
"Aku belum bisa berpikir jernih saat ini, tapi kita akan mencobanya nona Sandra karena banyak sekali pihak yang kamu libatkan di rencana ini, andaipun kita tertangkap, setidaknya kamu memiliki kartu AS untuk bisa menjatuhkan tuan Marco dan juga tuan Kevin yang merupakan ayah kandungmu." Tulis Hendrick.
"Terimakasih Hendrick atas bantuanmu. Hanya kamu yang bisa aku andalkan dalam hal ini. Aku sudah menganggap kamu seperti kakakku. Aku mudah bangkit karena nasehatmu, kalau bukan nasehatmu, mungkin saat ini kamu sudah menemukan mayatku di dasar laut karena aku tidak punya alasan untuk hidup." Balas Sandra.
Tok...tok...
"Sandra!" Tolong buka pintunya sayang!" Pinta nyonya Caroline.
Sandra membuka pintu kamarnya dan melihat tiga wanita bersama ibunya dengan membawa tiga gaun pengantin.
"Sandra!" Perkenalkan ini tiga desainer ternama yang direkomendasikan ibunya Marco untuk membuat gaun pengantin untukmu. Apakah kamu ingin mencobanya sayang?" Tanya nyonya Caroline kepada putrinya.
"Silahkan masuk!" Ucap Sandra.
Sandra mengambil salah satunya yang akan dijadikan untuk acara pernikahannya.
"Aku lebih suka yang ini karena ada sentuhan klasiknya namun tetap kelihatan modern. Aku ingin gaun yang tertutup dengan kain penutup kepalanya." Ucap Sandra yang sudah jatuh cinta dengan gaun tersebut.
"Bagaimana dengan dua gaun kami nona Sandra?" Tanya salah satu desainer itu yang terlihat kecewa.
"Aku tetap akan memakainya untuk pesta pernikahanku setelah pernikahan." Ucap Sandra yang tidak ingin melihat kedua desainer ini sedih.
"Terimakasih nona Sandra!" Semoga pernikahanmu berjalan dengan sempurna." Ucap mereka bertiga secara serentak.
"Terimakasih nona-nona!" Sekarang kalian boleh kembali ke butik kalian." Titah nyonya Caroline kepada ketiga desainer tersebut.
__ADS_1
"Sandra!" Boleh ibu bicara denganmu sayang?" Tanya nyonya Caroline hati-hati.
"Kalau tidak begitu penting, silahkan keluar dari kamarku!" Ucap Sandra sinis.
"Sandra, ibu mendukung rencanamu itu sayang. Semoga kali ini kita berhasil mewujudkannya." Ucap nyonya Caroline dengan wajah sendu.
Sandra menatap wajah ibunya untuk mencari kebenaran di bola manik biru yang persis dengan miliknya.
"Benarkah anda ingin membantuku?" Tanya Sandra sekali lagi untuk meyakinkan dirinya bahwa ibunya tidak sedang bercanda dengannya.
"Apapun resikonya, ibu siap untuk bercerai dengan ayahmu karena kesempatan ku untuk membuatmu bahagia hanya dengan membantu rencanamu sayang." Ucap nyonya Caroline sambil menitikkan air matanya.
Wanita paruh baya ini meninggalkan kamar putrinya setelah menyampaikan niatnya. Sandra menatap punggung ibunya yang masih terlihat tegak itu dengan pandangan nanar. Hatinya mulai merasakan kasih sayang ibunya saat ini benar-benar tulus padanya.
"Ibu...ibu..ibu!" Panggil Sandra berulang kali membuat nyonya Caroline seperti mendapatkan tetesan air dingin di tengah padang pasir saat kehausan.
Nyonya Caroline membalikkan tubuhnya dan menunggu Sandra mengulangi lagi ucapannya dengan panggilan "IBU" pada dirinya.
"Ibu...ibu!" Panggil Sandra lalu merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan ibunya.
"Putriku Sandra!" Nyonya Caroline menghamburkan pelukannya pada putrinya sambil menangis. Sandra mencium pipi ibunya dan ibunya membalas dengan mencium pipi putrinya berulang kali.
"Sandra, ibu rela kehilangan apapun di dunia ini, asalkan ibu mendapatkan kasih sayang darimu, nak." Ucap nyonya Caroline.
"Maafkan Sandra ibu!" Sandra sudah berbuat kasar pada ibu." Ucap Sandra sambil terisak.
"Ibu sudah melupakannya sayang, ibu ingin melihatmu bahagia dengan Richard dan dua buah hatimu." Ucap nyonya Caroline.
"Kalau begitu aku akan menghubungi semua pihak yang terlibat dari rencana kita ini, ibu." Ucap Sandra penuh semangat.
__ADS_1
"Lakukan dengan hati-hati sayang!" Ucap nyonya Caroline mewanti-wanti putrinya.
"Aku butuh doa dan restu darimu saja, ibu. Selebihnya biarkan semua itu urusan Sandra." Ucap Sandra lalu memeluk lagi ibunya.