
Kebersamaan Tuan Richard dan Sandra, tidak berlangsung lama karena Sandra harus kembali lagi ke kota untuk melanjutkan kuliahnya setelah dua hari weekend bersama sang kekasih.
"Aku juga ikut ke kota untuk mengantarmu." Ucap Tuan Richard.
"Benarkah?" Sandra sangat antusias karena Tuan Richard ingin menemaninya ke kampus.
"Kebetulan aku juga punya urusan dengan perusahaan, tapi tidak langsung ke perusahaan tapi ke suatu tempat dengan asisten Teddy." Ucap Tuan Richard sambil mengunyah sarapannya.
"Tuan Richard! kenapa anda tidak berusaha membuka diri lagi dan menerima keadaan anda, sambil tetap beraktivitas seperti biasanya?" Apa yang anda sedang alami saat ini, bukan suatu hal yang aib, apa lagi, anda akan mendapatkan donor mata dan itu akan membuat anda kembali melihat.
Merasakan penderitaan sebagian nasib orang lain yang hidup dalam keterbatasan entah fisik maupun secara finansial seperti saya, anda akan tahu bagaimana kita harus menghargai suatu hal kecil dalam kehidupan kita sebagai bentuk syukur kita kepada Tuhan." Ucap Sandra menasehati kekasihnya.
"Sandra, kamu berkata seperti itu karena kamu tidak mengalami seperti apa yang aku rasakan saat ini sayang." Tuan Richard protes dengan nasehat Sandra.
Sandra tertawa kecil bahkan terkesan menyedihkan." Apa lagi yang harus aku lalui Tuan Richard. Aku lahir dengan tidak mengenal kedua orangtuaku. Dibesarkan di pantai asuhan hingga usiaku sepuluh tahun karena nenek tidak bisa mengurusku dan harus bekerja.
Setelah tamat SMA, aku harus mencari pekerjaan untuk bisa bertahan hidup. Bertarung melawan kerasnya hidup dengan banyak godaan dari arah manapun. Aku harus tetap tegar seperti karang laut yang siap diterpa ombak pantai.
Kadang aku harus menahan lapar dan kedinginan di malam hari karena gaji ku yang tidak cukup untuk satu bulan bertahan hidup di kota besar. Walaupun temanku banyak yang menjajakan tubuhnya untuk mendapatkan uang yang lebih besar, tapi mereka harus mengalami siksaan fisik yang luar biasa dari pelanggan yang tidak punya hati memperlakukan mereka sebagai wanita.
Kadang ******** mereka mengalami cidera yang cukup parah dan mereka harus di bawa ke rumah sakit. Belum lagi penyakit kelamin yang dialami mereka karena bergonta-ganti pasangan dengan para pecandu narkoba. Itulah sebabnya aku menjaga diriku sebaik mungkin untuk tidak tersentuh dari tangan kotor manusia-manusia terkutuk itu, sekalipun aku hampir mati kelaparan dan kedinginan karena tidak bisa membeli selimut tebal saat musim dingin.
Nah, sekarang kesedihan seperti apa yang kamu rasakan Tuan Richard, jika kamu masih punya segalanya. Makan teratur tiga kali sehari dan tidur di kamar yang sangat nyaman.
Memiliki segudang perusahaan dan fasilitas mewah serta semua pelayan tunduk kepadamu." Ucap Sandra yang membandingkan kehidupan dirinya yang bertolak belakang dengan Tuan Richard.
Tuan Richard menghela nafasnya, menyimak setiap tutur kata kejujuran dari sang kekasih. Ia merasakan kepedihan yang saat ini dialami oleh Sandra dan sebagian orang di luar sana.
Walaupun terdengar menyedihkan namun terselip kebanggaan Tuan Richard pada Sandra yang menjaga dirinya dari banyak godaan dari pria hidung belang diluar sana.
"Jika awalnya kamu menolak hal yang sangat memalukan dirimu bahkan akan merusak tubuhmu, lantas mengapa kamu mau menerima tawaranku untuk menjadikan kamu seorang gadis simpanan seorang pria buta seperti aku ini." Tanya Tuan Richard penasaran.
"Karena aku tidak punya kesempatan untuk mendapatkan uang yang banyak dalam satu malam untuk biaya pendidikanku. Jika aku mempertahankan harga diriku, selamanya orang seperti ku tidak akan bisa bersaing bersama orang elit seperti anda.
__ADS_1
Aku hanya mengubur mimpi ku menjadi seorang guru atau dosen suatu saat nanti. Jika mimpi ku sudah terkubur, maka akan mudah bagi kalian yang kaya menindas kami yang tak berpunya kecuali harga diri dan kecerdasan yang aku miliki." Ucap Sandra dengan penuh kebijakan di setiap kata-katanya hingga menyentuh relung hati Tuan Richard.
"Sandra, terimakasih sayang!" Kamu sudah membuka mata batinku untuk menerima dunia luar sebagai bentuk interaksi manusia dalam bersosialisasi.
Aku kagum padamu karena pengalaman teman-temanmu, kamu tidak menyerah pada keadaan dan tidak terjerumus dalam pergaulan bebas." Ucap Tuan Richard sambil menggenggam tangan wanitanya.
"Tapi Tuan Richard sudah menyentuhku walaupun belum seutuhnya dan itu sudah tidak lagi suci bagiku." Timpal Sandra dengan wajah muram.
"Sandra, bukankah aku janji untuk menikahimu setelah aku mendapatkan donor mata?" Jangan bersedih sayang!" Karena kau adalah permaisuri ku yang akan aku gauli dan aku tidak akan menelantarkanmu seperti isi perjanjian awal kita yang menyatakan bahwa, Jika urusanku selesai denganmu, kamu akan dibebaskan dengan bayaran sesuai dengan kesepakatan." Tuan Richard.
"Apakah maksud perkataanmu Tuan Richard?" mengapa anda tiba-tiba sudah membatalkan perjanjian kita?" Tanya Sandra tidak percaya.
"Justru aku sudah membakar perjanjian itu setelah aku mendapatkan kamu, sayang sebagai bidadariku." Ucap Tuan Richard lalu tersenyum manis pada sang kekasih.
"Tuan Richard! bukan kamu yang akan menyingkirkan aku, tapi aku yang akan pergi dari hidupmu setelah kamu bisa melihat lagi suatu hari nanti." Ucap Sandra sedih.
"Selamat pagi Tuan Richard, nona Sandra!"
"Pagi Teddy!" Kita berangkat sekarang?" Tanya Tuan Richard.
Mobil mewah itu meluncur lagi ke kota menuju ke kampus.
Tuan Richard memeluk pinggang Sandra hingga gadis itu tiba di kampus. Sandra pamit dengan mengecup bibir tipis milik Tuan Richard.
"Aku yang akan menjemputmu nanti, sayang. Kita akan ke suatu tempat." Ucap Tuan Richard.
"Aku akan menunggumu, sayang, tolong jangan sampai telat menjemputku!" Pinta Sandra manja.
"Belajar yang benar dan jangan nakal!" Canda Tuan Richard sambil membelai rambut panjang sang kekasih.
"Tuan Richard seperti nenekku, selalu saja nasehatnya sama setiap kali aku pamit padanya." Ucap Sandra.
Tuan Richard terkekeh mendengar Sandra menggerutu. Sandra berjalan menuju kelasnya dan mobil mewah itu meluncur ke salah satu tempat yang di tuju Tuan Richard dengan diantar oleh asistennya Teddy.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah menemukan apartemen yang sangat bagus untuk kami berdua tempati, Teddy?" Tanya Tuan Richard.
"Sudah Tuan, aku yakin nona Sandra akan menyukainya." Ucap Teddy.
"Teddy, terimakasih atas kerja kerasmu karena telah mempertemukan aku dengan nona Sandra. Tapi aku ingin kamu tetap fokus menyelidiki wanita yang sudah menabrak aku. Jangan lupakan itu!" Titah Tuan Richard dengan penuh dendam kesumat.
"Iya Tuan Richard, sekarang masih dalam proses penyelidikan Tuan Richard." Balas Teddy.
Setibanya di apartemen yang di telah dibeli oleh Tuan Richard melalui asistennya Teddy, keduanya memasuki apartemen mewah itu.
Teddy meminta pihak apartemen untuk membawa barang-barang milik Tuan Richard dan Sandra untuk di tempatkan di walk in closet. Itu berarti keduanya akan menetap di apartemen itu sebentar lagi.
"Dasar bodoh, sudah tahu tidak bisa melihat, kenapa ingin melihat apartemen ini." Gumam Teddy membatin ketika mereka sudah tiba di kamar tidur utama.
"Teddy, setelah kita dari apartemen, aku ingin kita ke perusahaan. Aku bosan sendirian dan menunggu kedatangan Sandra." Ucap Tuan Richard.
"Benarkah Tuan Richard, mau kembali ke perusahaan?" Tanya Teddy tidak percaya.
"Tentu saja Teddy. Aku ingin beraktivitas seperti biasanya, walaupun aku tidak bisa melihat, namun aku bisa mendengar dan melakukan apa saja dengan keterbatasan fisikku saat ini." Ucap Tuan Richard.
Setelah mengunjungi apartemen yang akan mereka tempati, Tuan Richard dan asistennya melanjutkan perjalanan mereka menuju perusahaan milik Tuan Richard.
Semua karyawan tidak percaya ketika melihat Tuan Richard yang berjalan menggunakan tongkat.
Teddy meminta mereka untuk memperlakukan Tuan Richard seperti biasanya.
Sekarang giliran Imelda yang tidak percaya melihat keadaan Tuan Richard yang saat ini mengalami kebutaan.
Hampir saja ia mengucapkan kata-kata yang membuat Tuan Richard murka, namun di tahannya karena permintaan Teddy.
"Teddy, apakah mereka sedang mencibir ku?" Tanya Tuan Richard setelah keduanya sudah berada di ruang kerja milik tuan Richard.
"Semua karyawan tetap menghormatimu, Tuan Richard, karena nasib mereka ada di tanganmu, jadi tenang saja, mereka tidak akan menghinamu." Ucap Teddy menghibur bosnya.
__ADS_1
"Ternyata perkataan Sandra benar, bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan dengan fisikku, ternyata aku hanya butuh waktu untuk beradaptasi dengan keadaan. Terimakasih cintaku!" Gumam Tuan Richard dengan senyum mengembang.