
Teddy berhasil menghubungi Tuan Richard dengan mengirimkan pesan, bahwa mereka sudah di evakuasi dari tempat yang cukup terisolir dari jangkauan masyarakat.
Tuan Richard begitu gembira mendengar kabar itu. Tapi sayangnya, baru saja ia mendapatkan kabar gembira, tiba-tiba saja pesawat yang ditumpangi oleh Teddy dan Sandra terlihat oleng dan hilang kendali, hingga akhirnya menabrak pepohonan dan jatuh hingga menimbulkan ledakan.
Petugas penjaga hutan langsung tiba tepat waktu menolong para korban namun tidak ditemukan Sandra di tempat kejadian perkara.
Rupanya saat helikopter jatuh, tubuh Sandra jatuh terpental keluar dari badan helikopter hingga tubuhnya jatuh di tempat yang curam tertutup lagi salju yang tebal.
Tuan Miller yang mendapatkan kabar itu segera memberitahukan putranya." Richard, kita harus segera ke rumah sakit, nak karena baru saja asistenmu Teddy dan kekasihmu Sandra mengalami kecelakaan karena helikopter mengalami kerusakan mesin." Ucap tuan Jordan Miller.
"Tidak mungkin Daddy, barusan Teddy mengirim pesan padaku bahwa sepuluh menit lagi, helikopter mereka akan tiba di istana kita." Ucap Tuan Richard syok.
"Sayang, apakah kamu mau ikut ke rumah sakit atau tidak, karena Teddy sudah di evakuasi duluan sedangkan tubuh Sandra saat ini sedang dalam pencarian oleh tim SAR." Ucap nyonya Catherine.
"Jadi Sandra terpisah dengan Teddy?" Tanya Tuan Richard dengan suara tercekat dengan menahan amarahnya.
"Iya sayang, kita harus segera ke rumah sakit karena keadaan Teddy sangat parah saat ini. Bagaimanapun juga Teddy adalah saudara sepupumu." Ucap nyonya Catherine dengan suara parau.
"Baiklah mommy!" Tapi aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Sandra. Aku tidak bisa hidup tanpa dirinya mommy." Ucap Tuan Richard dalam keadaan kalut.
"Kita akan tetap berdoa agar Sandra bisa di temukan dan segera di tolong oleh siapa saja yang menemukan dirinya." Ucap nyonya Catherine sambil mengusap air matanya.
Keluarga ini segera berangkat ke rumah sakit untuk melihat keadaan Teddy yang masih merupakan kerabat dekat mereka. Hanya saja hidup Teddy yang kurang beruntung karena kedua orangtuanya telah meninggal dunia, membuat nyonya Catherine mengurus anak malang itu hingga dewasa.
Teddy tumbuh besar bersama dengan Tuan Richard hingga keduanya seperti kakak-beradik. Teddy sangat menyayangi Tuan Richard seperti kakaknya sendiri. Ia tidak pernah merasa lelah ataupun marah jika Tuan Richard memintanya mengerjakan ini dan itu.
Teddy seakan mengabdikan dirinya pada keluarga Tuan Richard demi sebuah balas Budi.
Setibanya di rumah sakit, mereka mendatangi ruang IGD di mana. saat ini Teddy sedang di tangani oleh dokter.
Teddy yang sudah siuman terus menyebutkan nama Tuan Richard. Dokter yang menanganinya keluar dari ruangan IGD untuk menemui keluarga pasien.
"Sepertinya pasien ini tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Sebaiknya panggil keluarganya agar dia bisa bicara leluasa sebelum menghembuskan nafas terakhirnya." Ucap dokter Wilson.
"Dokter, aku ingin kalian mengambil mataku untuk Tuan Richard karena hidupku tidak lama lagi." Ucap Teddy dengan nafas yang sudah sangat lemah.
"Baik Tuan Teddy, apakah anda ingin menyumbangkan untuk Tuan Richard?"
"Iya dokter!"
__ADS_1
Sementara dokter Willy menemui Tuan Richard dan keluarganya, Teddy berusaha keras untuk tidak menutup matanya hingga ia bisa bicara sendiri dengan Tuan Richard.
"Permisi Tuan Miller!"
Keadaan Tuan Teddy sepertinya tidak bisa bertahan. Ia ingin bertemu dengan putra anda Tuan Richard." Ucap dokter Willy.
"Astaga Teddy!" Maafkan Tante sayang." Ucap Nyonya Chaterine sedih.
Tuan Richard menemui asistennya itu. Ia mulai merasakan kehilangan Teddy yang bukan hanya sebagai asisten pribadinya, tapi juga sosok Teddy sudah seperti sahabat baginya.
Seluruh rahasia hidupnya, bahkan semua kebutuhannya, Teddy selalu siapkan untuknya dan siap mendengarkan apapun yang menjadi keluhannya selama ini.
"Teddy!"
Tuan Richard berusaha memegang tangan Teddy yang terasa sangat dingin.
"Tuan Richard, aku tidak bisa lagi menjadi asisten pribadimu. Aku tidak kuat lagi bertahan." Ucap Teddy terdengar gagap.
"Apakah kamu tega meninggalkan aku sendiri dengan keadaan aku yang masih buta seperti ini, Teddy?" Tanya Tuan Richard dengan berlinangan air mata.
"Tuan jangan sedih karena aku akan mendonorkan mataku untuk mu. Kamu akan kembali melihat dan kamu juga harus menikahi nona Sandra karena dia sangat mencintaimu. Dia adalah gadis yang sangat baik dan termasuk gadis yang sangat unik.
Aku sangat mengaguminya, tapi aku sadar bahwa dia adalah milik Tuan Richard. Aku titipkan nona Sandra kepadamu Tuan Richard. Jangan sakiti dia walau apapun yang terjadi suatu hari nanti. Tolong maafkan dia. Dia sudah menjaga dirinya dan juga cintanya hanya untukmu.
"Tapi Sandra belum di temukan Teddy, di mana dia?" Tanya Tuan Richard.
Sayangnya tuan Teddy keburu pingsan sebelum menjawab pertanyaan Tuan Richard.
"Tuan Richard, sebaiknya persiapkan diri anda untuk menerima donor mata dari tuan Teddy. Kita akan bertemu di ruang operasi." Ucap dokter Wilson.
Keluarga tuan Miller sangat bahagia karena pada akhirnya, putra mereka mendapatkan lagi donor mata, walaupun mereka harus kehilangan asisten pribadinya putra mereka sekaligus keponakan mereka sendiri.
"Ya Tuhan terimakasih atas kebahagiaan yang Engkau berikan kepada kami hari ini, walaupun kami harus merelakan kepergian keponakan kami tercinta Teddy, ucap nyonya Catherine dengan perasaan haru.
Satu jam kemudian, Tim dokter sudah siap di meja operasi untuk mendonorkan mata kepada tuan Richard dari asisten pribadinya, Teddy.
Sementara di sisi lain, tim SAR masih melakukan pencarian atas hilangnya Sandra yang sampai sore ini belum bisa di temukan oleh mereka.
"Kita hentikan pencarian ini sementara waktu karena salju mulai turun lagi dan ini makin deras ditambah lagi hari sudah mulai gelap." Ucap pemimpin tim SAR yang ada di lokasi kecelakaan helikopter kepada anak buahnya.
__ADS_1
Semuanya sepakat dan kembali ke perkemahan mereka supaya bisa beristirahat dan kembali melakukan pencarian keesokan harinya.
Sementara Sandra yang terlempar begitu jauh dari titik kecelakaan mulai sadar dari pingsannya. Gadis malang ini berusaha bangkit dengan mengibas tubuhnya dari tumpukan salju yang sempat menutupi tubuhnya selagi Ia pingsan usai jatuh dari helikopter.
Iapun berjalan menapaki satu demi satu tempat yang terlihat sepi dari rumah warga. Sandra sedang mencari tempat berlindung dengan senter dari ponselnya. Beruntunglah ransel makanannya yg masih terikat kuat di tubuhnya cukup membantunya karena di dalamnya masih terdapat makanan yang disimpannya sebelum dievakuasi oleh tim penyelamat dari perusahaan milik Tuan Richard.
"Ya Tuhan, apakah aku sedang tersesat di hutan?" Ucapnya dengan tubuh bergidik ketakutan.
Suara lolongan anjing hutan mulai terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Sandra berjalan tertatih-tatih dengan tetap waspada karena rubah es setiap saat akan muncul mencari mangsa.
Dari kejauhan ia melihat satu pondok yang terlihat lampu lentera sedang menyala.
"Oh, syukurlah rupanya ada orang yang tinggal di sini juga." Ucapnya lalu berhenti sesaat dan mengambil roti sobek untuk di makannya.
Setelah mengisi perutnya dengan cukup makanan yang dibawanya, ia pun kembali menyusuri tumpukan salju yang menghalangi jalannya menuju gubuk tua itu.
"Apakah di sana tinggal seorang lelaki tua?" atau lelaki muda yang menyeramkan?" Tanya Sandra yang begitu takut jika dia harus berhadapan dengan seorang lelaki.
Ia pun tidak begitu saja mengetuk pintu reot itu. Sandra nampak berhati-hati dan mencari celah yang bisa ia intip ke dalam gubuk itu.
Setelah ia mengintip, beberapa saat kemudian, ia melihat seorang nenek yang sedang memberikan makanan untuk anjing dan kucingnya yang setia menemaninya di pondok itu.
Anjingnya yang curiga dengan adanya ancaman musuh yang datang ke pondok majikannya itu, langsung menyalak ketika mencium bau orang asing.
"Hei ada apa Dawang?" Tanya nenek tua itu sambil membelai anjingnya yang cukup besar badannya itu.
Sandra memberanikan diri untuk mengetuk pintu pondok itu.
Nenek tua itu mengernyitkan dahinya sambil berhati-hati untuk tidak membukakan pintu pada sembarang orang. Iapun mengambil senapan miliknya yang biasa ia pakai berburu rusa.
"Siapa..?" Tanyanya dengan suara menggelegar.
Sandra berpikir sesaat untuk menjawab pertanyaan nenek tua itu dari biliknya.
"Jika aku masuk ke dalam, apakah nenek itu akan menyerangku?" Bagaimana kalau dia seorang yang kurang waras dengan hidup seorang diri di pondok tua ini." Gumam Sandra sambil membayangkan kengerian yang terjadi pada dirinya.
Iapun berdoa terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan nenek tua yang ada di dalam sana.
Suara kawanan rubah mulai melolong panjang dari kejauhan. Sandra yang benar-benar butuh perlindungan dari ancaman hewan buas itu, memberanikan dirinya untuk bertandang ke gubuk nenek tua di dalam sana yang belum ingin keluar melihat keadaan dirinya yang makin menggigil kedinginan di luar sana.
__ADS_1
"Kalau aku tidak masuk ke dalam, aku siap menjadi mangsa para rubah itu." Gumam Sandra membatin.
"Siapa yang ada di luar sana?" Tanya nenek tua yang sudah tidak sabar itu dari dalam gubuknya.