Wanita Simpanan CEO Buta

Wanita Simpanan CEO Buta
40. Cemburu


__ADS_3

Sandra mengajak Hendrick berlari menyisiri pantai. Banyak pasang mata prajurit yang melihat keakraban Hendrick dan Sandra yang begitu cepat, seakan mereka sudah lama berkenalan.


Hendrick memberikan ponsel untuk Sandra yang dikirim oleh Tuan Richard melalui dirinya. Sandra langsung mengambilnya dengan perlahan lalu menyelipkan diantara kaos kakinya agar tidak ketahuan ayahnya.


"Apakah kamu dipisahkan dari suamimu karena masalalu?" Tanya Hendrik yang sangat prihatin dengan kehidupan pernikahan Sandra.


"Aku tidak peduli dengan cerita masalalu keluargaku karena selama ini aku menjalani hidupku dengan baik. Aku baru tahu kalau aku putri mereka di saat usia kandunganku memasuki bulan kedelapan, karena masalah itu aku melahirkan bayiku dalam keadaan prematur." Ungkap Sandra sedih.


"Apakah karena ancaman tuan Kevin yang membuat kamu menyerah dan mau menerima perjodohan dengan Tuan Marco yang play boy kelas kakap itu?"


"Entahlah!" Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah ayahku. Jika aku melanggar, ibu mertuaku yang akan dijebloskan ke penjara karena kesalahannya."


"Mengapa kamu terlalu baik Sandra, padahal jelas-jelas, kamu adalah korban di sini. Di saat kamu baru dilahirkan di pisahkan dari ibumu dan saat kamu dewasa dan telah menemukan kebahagiaanmu, kamu justru dipisahkan dari anak dan suamimu. Kalau aku jadi kamu, aku ingin berontak Sandra." Ucap Hendrick prihatin.


"Jauh dalam hatiku, aku pun ingin berontak, tapi aku tidak punya strategi untuk bisa kabur dari istana yang menakutkan ini." Sahut Sandra sedih.


"Aku akan membantumu Sandra, asal kamu mau bersabar." Ucap. Hendrick menyemangati Sandra.


"Terimakasih Hendrick, tapi aku tidak mau, kamu akan kena masalah gara-gara aku." Ucap Sandra tak enak hati.


"Jangan pikirkan tentang keselamatan aku, Sandra karena aku merasa terhormat bisa membuat kamu bahagia."


"Hanya aku yang bisa membahagiakan Sandra." Ucap Marco bertepatan dengan ucapan terakhir Hendrick.


Pria tampan ini diam-diam muncul begitu saja di balik punggung Sandra dan Hendrick yang sedang membahas sesuatu yang pelik sambil melihat ke arah laut.


Keduanya sama-sama terperanjat mendengar suara Marco.


"Bisa kamu tinggalkan kami Hendrick?" Pinta Marco dengan gaya kharismatik.


"Siap Tuan!" Ucap Hendrick dengan sikap hormat sempurna pada seniornya.


Hendrick segera meninggalkan keduanya untuk kembali ke markas. Sandra tidak mampu mencegah Hendrick pergi karena anak itu akan mendapatkan masalah dari Marco.


Sandra melempar pandangannya ke laut lepas. Ia enggan menatap wajah Marco walaupun sangat tampan menurutnya.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak ingin berlari lagi Sandra?" Tanya Marco.


"Aku sudah lelah dan ingin pulang." Ucap Sandra lalu segera bangkit berdiri.


Sandra berlari menuju ke rumahnya karena dia harus menyimpan ponsel baru yang dikirimkan oleh Tuan Richard melalui Hendrick.


Setibanya di kamar Sandra segera menutup pintunya dan menyembunyikan ponsel itu di tempat yang nyaman.


Tidak lama kemudian Sandra masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Namun betapa terkejutnya Sandra ketika seseorang memeluknya dari belakang dan ternyata...


"Kau..?" Sandra seolah tak percaya dengan pengelihatannya.


"Richard!" Bagaimana bisa kamu berada di sini?" Tanya Sandra ketakutan ketahuan oleh keluarganya.


"Aku masuk ke bagasi mobil si kunyuk yang mencoba menggodamu itu." Ucap Tuan Richard lalu membungkam bibir Sandra dengan begitu rakus.


Tidak butuh pemanasan yang lebih lama, keduanya menyatukan tubuh mereka, melepaskan kerinduan yang selama ini telah terpisah dengan cara paksaan oleh ayah kandung Sandra yang begitu posesif dengan putrinya.


"Sandra, aku merindukanmu sayang." Ucapnya dengan suara berat namun terdengar bergetar. Percintaan panas ini lebih nikmat ketika cinta keduanya sedang di uji.


Keduanya berteriak bersama sambil memberikan kata-kata fulgar dengan saling memuji satu sama lain. Keduanya berpelukan setelah melepaskan hasrat birahinya. Tuan Richard tersenyum puas sambil menarik nafas lega. Iapun memberikan kecupan terakhir pada bibir sang ratunya.


"Kamu makin lihai dalam bercinta sayang." Puji Tuan Richard sambil membelai lembut pipi Sandra.


"Kamu bisa masuk ke sini, tapi bagaimana caramu pulang sayang?" Tanya Sandra kuatir pada suaminya.


"Kita pulang bersama Sandra. Aku ingin kamu bertemu dengan bayi kita yang saat ini sangat merindukanmu." Pinta Tuan Richard setengah memaksa istrinya.


"Richard!" Itu sangat beresiko sayang, kalau ketahuan, aku bisa di bawa pergi lebih jauh lagi dari sini dan kamu akan mengacaukan semua rencanaku dan Hendrik yang akan membantu aku untuk bisa kabur dari sini." Ucap Sandra menasehati suaminya.


"Kita belum bercerai Sandra, jadi tidak ada yang berhak memisahkan kita." Ucap Tuan Richard.


"Aku tahu, tapi paman Kevin akan menggunakan kekuatan dan koneksinya untuk membungkam hukum." Ucap Sandra yang tidak ingin suaminya mendapatkan masalah dari ayahnya.

__ADS_1


"Lantas sampai kapan aku harus menunggu kepulangan kamu sayang?" Tanya Tuan Richard putus asa.


"Tunggu sampai kesempatan kita untuk bisa bersatu lagi dengan cara yang aman." Ucap Sandra menenangkan suaminya.


Wajah Tuan Richard terlihat murung, ia tidak suka dengan perpisahan ini yang sangat menyiksanya. Sandra memahami kegelisahan hati sang kekasih. Untuk menghibur suaminya, Sandra punya cara jitu untuk kembali memanjakan benda pusaka suaminya dengan mulutnya.


Tuan Richard merasa sangat surprise cara Sandra menghiburnya, ia pun nampak pasrah sambil menikmati pelayanan istrinya pada miliknya.


Permainan kali ini lebih lama dan nikmat, hingga keduanya mereguk indahnya kerinduan yang menyekap kebebasan mereka dalam menikmati hubungan suami-istri yang sah, namun terhalang oleh keserakahan sang mertua.


Tok... tok...


Sandra dan Tuan Richard sama-sama kaget lalu keduanya masuk ke kamar mandi bersama-sama.


Tidak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka dengan kunci duplikat. Ternyata yang masuk ke kamarnya adalah ayahnya.


Mendengar suara air di dalam kamar mandi, tuan Kevin baru mengerti kalau putrinya sedang mandi. Ia hanya berteriak dari luar kamar Sandra.


"Sandra dalam setengah jam kamu harus berdandan cantik dengan dress yang bagus karena ayah akan mengajak kamu makan malam dengan keluarga Marco." Titah tuan Kevin lalu meninggalkan kamar putrinya.


Tanpa menjawab perkataan ayahnya, Sandra sedang menikmati percintaan panasnya dengan suami tercinta.


"Aku tidak akan membiarkan bajingan itu mendapatkanmu Sandra." Ucap Tuan Richard terlihat sangat tidak rela melepaskan wanitanya dengan pria lain.


"Aku milikmu sayang, selamanya milikmu. Keduanya berpelukan sambil berciuman mesra di bawah pancuran air hangat yang mengalir dari shower.


Keduanya kembali mandi bersama dan menghentikan permainan panas mereka karena Sandra harus bersiap-siap untuk makan malam bersama keluarga Marco.


Pintu kamar Sandra kembali diketuk oleh seseorang. Sandra buru-buru membukakan pintu itu sebelum ada yang masuk ke dalam kamarnya karena Tuan Richard sedang bersembunyi di ruang ganti pakaian.


Nyonya Caroline tersenyum pada putrinya, namun di sambut datar oleh Sandra.


"Boleh ibu masuk ke kamarmu sayang?" Tanya nyonya Caroline hati-hati.


"Maaf Tante Caroline, Sandra harus segera menyiapkan diri untuk bertemu dengan keluarga tuan Marco." Ucap Sandra datar.

__ADS_1


"Untuk itulah, ibu ingin memberikan perhiasan ini untukmu, ibu harap kamu mau memakannya karena ini warisan nenekmu yang diberikan mendiang nenekmu ketika ibu menikah. Dan sekarang ibu ingin kamu mau memakainya dan juga menjaganya." Ucap Nyonya Caroline penuh harap.


"Baiklah!" Terimakasih Tante Caroline, aku akan memakainya karena dirimu." Sandra mencoba menyenangkan hati ibunya walaupun saat ini, ia belum sepenuhnya menganggap nyonya Caroline sebagai ibu kandungnya.


__ADS_2