
Proses penyelidikan selama tiga. bulan terakhir di sel tahanan kepolisian setempat, mengantarkan dua wanita beda generasi ini ke pengadilan untuk menjalani sidang perdana mereka dengan para saksi. Keduanya didampingi pengacara yang berbeda karena menghadapi dua kasus yang berbeda.
Kasus pertama yang dijalani oleh Sandra membuat gadis ini terlihat murung karena di sidang tersebut, ada tuduhan yang cukup memberatkan dirinya yaitu Sandra tidak melaporkan diri setelah kejadian kecelakaan. Itu berarti ia sengaja menghindari dirinya dari jeratan hukum.
Pengacaranya berusaha membela kliennya agar hukuman Sandra dari lima tahun penjara menjadi satu tahun penjara karena terdakwa sudah dimaafkan oleh korban yang merupakan suami dari terdakwa sendiri.
"Yang mulia!"
Nona Sandra memang bersalah karena melarikan diri di tempat kejadian perkara tapi dia berinisiatif menghubungi petugas ambulans untuk menjemput korban hingga korban bisa ditangani segera walaupun pada akhirnya korban menjadi buta." Ucap tuan William.
"Tapi, nona Sandra tidak bersedia melaporkan diri kepada polisi usai menabrak korban." Ucap jaksa penuntut umum.
Pengacara Sandra tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena jaksa terlihat kekeh ingin menahan Sandra agar tidak bebas begitu saja setelah apa yang ia lakukan pada korban.
Setelah mempertimbangkan apa saja yang menjadi tuntutan jaksa ada majelis hakim, akhirnya hakim agung menjatuhkan vonis penjara untuk Sandra selama dia tahun. Tuan Richard merasa itu hukuman yang sangat berat untuk istrinya. Ketukan palu hakim sebanyak tiga kali mengakhiri jalannya atas proses sidang pada kasus Sandra.
Tuan Richard segera menghampiri istrinya dan menghibur Sandra agar gadis itu tetap kuat karena ia akan segera membebaskan Sandra secepatnya.
"Sayang!" Jangan takut!" Aku akan mengupayakan naik banding agar hukumanmu lebih ringan ataukah dibebaskan tanpa syarat karena aku sudah mencabut tuntutan itu, kenapa jaksa itu makin memojokkan kamu dengan segala macam propagandanya untuk mempengaruhi hakim." Ujar Tuan Richard begitu kesal pada jaksa penuntut umum.
"Richard... sssstttt!" Sandra memegang keningnya yang terasa sangat pusing lalu ia jatuh pingsan dalam pelukan suaminya.
"Sandra!" Teriak Tuan Richard sambil menahan tubuh istrinya dan segera membawanya keluar dari ruang sidang yang dikawal oleh beberapa polisi.
Dokter segera menangani keadaan Sandra ketika Sandra sudah berada di ruang IGD.
__ADS_1
"Dokter!" Apa yang terjadi pada istriku?" Tanya Tuan Richard panik.
"Tuan Richard!" Selamat! istri anda saat ini sedang hamil tiga bulan." Ucap dokter Baby.
"Apa...?" Tanya Tuan Richard antara bahagia dan sedih.
"Astaga!" Kenapa harus sekarang istriku hamil disaat keadaan yang tidak memungkinkan calon bayiku tumbuh dalam jeruji besi bersama ibunya." Gumam Tuan Richard begitu frustasi dengan kejadian yang menimpa istrinya.
"Ini semua gara-gara mommy karena dia yang ingin mengancam balik paman Kevin dengan mengorbankan istri dan putraku dan sekarang calon bayiku yang telah tumbuh di rahim Sandra." Ujar Tuan Richard pada adiknya Gwen.
"Ini gara-gara aku kakak, semua permasalahan ini terjadi berawal dari kebodohan aku...hiks.. hiks!" Ucap Pricilla yang kembali menyalahkan dirinya.
"Yah, kamu yang telah melengkapi penderitaan kakak iparmu itu." Timpal tuan Jordan.
"Cukup Daddy!" Tanpa perbuatan Pricilla, paman Kevin dan mommy yang punya kepentingan pribadi untuk saling menjatuhkan satu sama lain." Ucap Tuan Richard lalu menemui istrinya yang sedang berbaring lemah di kamar inap yang dijaga oleh dua orang polisi di depan kamarnya.
"Sandra sayang!" Mengapa cinta kita harus diuji sedemikian rupa hingga berakhir menyedihkan seperti ini. Andai saja aku tidak marah dan mengusir kamu saat itu, mungkin mommy tidak akan pernah tahu bahwa kamu adalah pelaku utama yang telah menabrak aku hingga membuat mata aku buta.
Akulah yang telah membalaskan dendamku dengan tanpa sengaja membawa kamu ke jeruji besi. Aku bukan suami yang baik Sandra." Tangis Tuan Richard pecah karena ia tidak tega melihat keadaan istrinya yang merasakan sedikit kebahagiaan dan mengalami penderitaan yang lebih banyak saat hidup bersama dirinya.
Sandra mengerjapkan matanya dan melihat suaminya sudah berada di sampingnya.
"Di mana aku Richard?" Tanya Sandra dengan suara lirih.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Tuan Richard mengecup bibir sang istri sambil berurai air mata.
__ADS_1
Sandra ingin membelai wajah suaminya, namun satu tangannya di borgol di sisi ranjang.
"Apa yang terjadi dengan aku Richard?" Mengapa aku bisa berada di rumah sakit?" Tanya Sandra kesal.
"Sayang, kita akan memiliki bayi lagi." Ucap Tuan Richard berusaha terlihat bahagia.
"Ya Tuhan, apakah aku harus hamil dalam keadaan seperti ini dan akan melahirkan anakku di penjara?" Tanya Sandra lirih.
"Kamu akan segera bebas, aku akan meminta pengacara untuk menjadikan status kamu menjadi tahanan rumah atau kota asalkan kamu tidak akan mendekam di penjara dalam keadaan hamil." Ucap Tuan Richard menenangkan istrinya yang merasa sangat tertekan saat ini.
"Apakah kamu bisa buktikan perkataanmu Richard?" Jika aku tidak hamil, aku rela menjalani hukumanku dengan begitu aku tidak akan merasa bersalah seumur hidupku.
"Sayang, kamu sudah menjalani proses penyelidikan di sel tahanan kepolisian saja sudah hampir tiga bulan dengan sangat menyedihkan. Itu saja sudah cukup menebus rasa bersalahmu." Ucap Tuan Richard.
"Richard, karena diriku keluargamu menjadi kacau. Aku bukan saja pernah membuat kamu buta tapi aku juga sudah membuat mommy masuk penjara.
"Hai sayang!" Mommy pantas mendapatkan hukuman itu karena perbuatannya dan aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena menemukan kamu kembali setelah kamu berusaha melarikan diri dariku walaupun pada akhirnya aku menyakiti dirimu. Aku minta maaf Sandra." Ucap Tuan Richard lalu memeluk istrinya.
Keduanya menangis sedih karena perjalanan cinta mereka diuji saat keduanya sudah saling memaafkan.
Sementara di tepi pantai Florida, nyonya Caroline yang mengetahui bahwa putrinya harus menjalani hukuman dua tahun penjara dalam keadaan hamil membuat ia tidak bisa memaafkan suaminya.
"Puas kamu sekarang, hah!" Putri kini harus menjalani hidupnya di penjara dan sedang mengandung cucu kita." Ucap nyonya Caroline dengan amarah yang sudah memuncak.
"Aku akan mengusahakan untuk membebaskan putriku dan tetap membawanya ke rumah kita dengan menikahkan dirinya dengan Marco." Ucap tuan Kevin yang terlihat tenang.
__ADS_1
"Oh, apakah ini bagian dari rencanamu juga agar hakim maupun jaksa menuntut hukuman berat untuknya?" Tanya nyonya Caroline curiga pada suaminya.
"Aku tidak sekotor itu Caroline. Sandra adalah putri kandungku juga, jadi aku juga sama sedihnya denganmu, hanya saja aku tidak bisa mengeluarkan air mataku seperti kamu. Jadi, berhentilah menuduhku dengan tuduhan keji seperti itu, kamu mengerti!" Bentak tuan Kevin lalu masuk ke ruang kerjanya.