
"Beruntunglah kamu telah meninggal Teddy, jika kamu masih hidup, maka kita berdua akan bersaing untuk memperebutkan satu wanita." Tuan Richard sepertinya tidak lagi empati dengan kepergian Teddy untuk selamanya.
Iapun merobek lembaran kertas yang terdapat di dalam buku agenda milik Teddy.
Tok..tok..
cek lek ..
"Permisi Tuan Richard!" Ponsel dan barang milik tuan Teddy sudah dikembalikan oleh tim SAR, apakah anda ingin memeriksanya?" Tanya Imelda.
"Serahkan kepadaku!" Titah Tuan Richard.
Imelda memberikan barang-barang milik tuan Teddy dari tempat kejadian kecelakaan di mana helikopter yang membawa asistennya dan kekasihnya jatuh di lokasi tersebut.
"Apakah barang milik Sandra tidak ditemukan?" Tanya Tuan Richard penasaran.
"Dari hasil penyelidikan, tubuh nona Sandra jatuh duluan di tempat yang berbeda sebelum helikopter itu jatuh bersama kru helikopter dan mendiang asisten Teddy, Tuan Richard.
Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi pada gadis itu, saat ini, apakah dia masih hidup atau sudah mati." Ucap Imelda seakan tidak tahu apa-apa tentang Sandra.
"Begitukah?" Apakah kamu mengenal Sandra, Imel?" Tanya Tuan Richard sambil memperhatikan wajah Imelda yang terlihat kaget mendengar dengar pertanyaan Tuan Richard padanya.
"Maaf Tuan Richard!" Aku hanya mendengar namanya saja dari tuan Teddy selama anda bersama dengannya, bahkan Teddy tidak pernah menunjukkan foto Sandra pada saya dan juga cerita tentang gadis itu, tapi aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya, Tuan Richard ." Ucap Imelda sedikit gugup.
"Jika kamu mendengar cerita tentang dirinya, apakah kamu tahu di mana ia pernah tinggal dan kuliah?" Tanya tuan Richard lagi.
"Kalau mengenai hal itu, tuan Teddy sangat berhati-hati memberi informasi tentangnya, mungkin itu bagian dari perjanjian Sandra dengan anda Tuan Teddy." Imelda memberi alasan yang cukup masuk akal.
"Mengapa gadis itu terlihat sangat misterius. Apa yang dia takutkan hingga ia membuat perjanjian agar kami tidak mengetahui riwayat hidupnya bahkan satu foto maupun video dari rekaman CCTV tidak ditemukan dirinya." Ucap Tuan Richard kesal karena merasa sangat penasaran dengan sosok Sandra.
"Mengapa Tuan Richard tidak memeriksa saja ponsel milik mendiang tuan Teddy?" Siapa tahu, tuan Teddy memiliki foto gadis itu." Ucap Imelda.
"Kamu benar juga Imel, terimakasih atas ide cemerlang mu!" Ucap Tuan Richard.
__ADS_1
Imelda menarik nafas lega karena terbebas dari pertanyaan Tuan Richard tentang Sandra.
"Sandra, Tahukah kamu bahwa aku sedang mempertaruhkan karirku demi merahasiakan kehidupan pribadimu. Rupanya Tuan Richard tidak akan berhenti mencari tahu keberadaan dirimu karena rasa penasaran dia pada dirimu pasca operasi donor matanya." Imelda bermonolog.
Tuan Richard kembali ke ruang kerjanya dan mulai membuka galeri milik asisten pribadinya itu.
Setelah beberapa saat mengutak-atik ponsel milik Teddy, akhirnya ia menemukan foto-foto Sandra yang sedang duduk di depan perapian ketika keduanya bermalam.
Sayangnya, wajah Sandra hanya menampakkan bola matanya saja karena tertutup oleh syal.
"Ya Tuhan, mengapa gadis ini sangat pelit menampakkan wajahnya?" Gumam Tuan Richard geram dengan semua foto milik Sandra yang tidak terlihat jelas wajah gadis itu.
"Sandra di mana kamu sayang?" Aku sangat merindukanmu dan aku mohon kamu masih hidup sampai saat ini." Ucap Tuan Richard lirih.
Tuan Richard sudah menghubungi kepala pelayannya Carlos untuk mencari tahu tentang Sandra yang mungkin bisa meninggalkan jejak, namun tidak ada satupun gambar dirinya yang terekam di CCTV selama mereka di perkebunan.
"Sandra.... Sandra...Sandra!"
Aku hampir gila karena sangat penasaran dengan wajahmu." Teriak Tuan Richard putus asa.
Hampir tiga tahun kepergian Sandra dari New York, meninggalkan Tuan Richard yang pernah jadi korban tabrak lari oleh dirinya. Rasa ketakutannya itu yang membuat cinta di hatinya untuk Tuan Richard berangsur menghilang.
Saat ini Sandra sibuk dengan aktivitasnya mengajar di salah satu universitas ternama di Amsterdam. Gadis ini hampir tidak punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri.
Ia lebih condong dengan kegiatan mengajar yang menyita waktunya entah itu hari libur sekalipun ketimbang melibatkan perasaannya untuk mengingat masa lalu.
Ia hanya memiliki sahabat yang bernama Alice sebagai tempat ia berbagi namun tidak pada hal yang terlalu pribadi. Terkadang gadis ini memiliki sifat introver.
"Sandra, apakah kamu tidak bosan berkutat dengan buku saat liburan seperti ini?" Tanya Alice.
"Aku harus mempersiapkan diriku untuk memberikan pengetahuan yang terbaik untuk mahasiswa. Siapa tahu diantara mereka ada yang lebih hebat, cerdas dan lebih kritis dari pada kita." Ucap Sandra.
"Tapi kamu tidak pernah sekalipun mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Amsterdam, padahal kota ini menawarkan banyak destinasi wisata yang sangat indah yang akan memanjakan mata kita." Ucap Alice.
__ADS_1
"Nanti saja saat aku berada pada titik jenuh. Aku lebih penasaran dengan setiap buku-buku ini Alice." Ucap Sandra dengan tetap fokus pada bukunya.
"Nanti bisa-bisa kamu dikatain perawan tua kalau seumur hidupmu hanya mengurung dirimu di kamar ini dan langkah kakimu hanya berkunjung di kampus dan restoran kesukaan kamu saja." Ucap Alice dengan merotasi mata malas.
Sementara di New York city, Tuan Richard tidak pernah membuka hatinya untuk wanita lain karena hatinya masih belum move on dari Sandra yang sampai saat ini tidak ditemukan di lokasi kecelakaan sejak tiga tahun yang lalu.
Kedua orangtuanya sudah berusaha menjodohkannya dengan wanita lain yang berasal dari kelas yang sama dengan mereka, namun sedikitpun Tuan Richard tidak bergeming karena ia belum bisa melupakan gadisnya.
"Richard!" Nanti malam temui seorang gadis di restoran milik kita. Jika kamu memang menginginkan gadis perawan, dialah orangnya.
Dia adalah putri sahabat Daddy. Tolong jangan kecewakan Daddy malam ini karena semua sudah diatur jauh-jauh hari. Daddy tidak memaksamu menikahinya tapi, Daddy hanya ingin kamu cukup berkenalan dengan gadis itu dulu. Syukur-syukur kamu menyukainya." Ucap tuan Miller.
Tuan Richard terlihat termenung, alih-alih menyanggupi permintaan ayahnya, ia sibuk memikirkan setiap sentuhan percintaan dirinya dengan Sandra yang masih belum tuntas karena ia ingin menjadikan gadis itu sebagai istrinya. Gadis yang belum sempat ia gauli karena ingin menyaksikan kesucian Sandra dengan matanya sendiri.
"Richard!" Apakah kamu tidak bisa melupakan gadis yang mungkin saat ini tinggal tengkoraknya saja?" Tanya nyonya Catherine yang melihat putranya terlihat enggan untuk berkencan dengan wanita yang telah mereka siapkan untuk dirinya.
"Andai saja mayatnya ditemukan dan aku melihatnya sendiri, mungkin aku akan menikahi gadis pilihan kalian walaupun aku tidak sedikitpun mencintai mereka." Ucap Tuan Richard ketus.
Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari mansion.
"Sebaiknya aku tinggal di apartemen milikku dengan Sandra daripada berada di rumah ini membuatku makin sesak." Ucap Tuan Richard lirih.
Mobil mewah itu sudah membaur dengan kendaraan lain. Tuan Richard menahan kerinduannya dan kesetiaannya hanya untuk seorang Sandra.
"Sandra di mana kamu sayang?" Aku yakin kamu pasti berada di suatu tempat. Mungkin saja saat ini kamu mungkin mengalami lupa ingatan dan tidak tahu jalan pulang." Gumam Tuan Richard sambil membawa kendaraannya.
Tidak lama kemudian, asisten pribadinya yang saat ini adalah Imelda menghubungi dirinya.
Tuan Richard menerima panggilan itu.
"Hallo selamat siang Tuan Richard!"
"Siang!"
__ADS_1
"Tuan Richard, apakah anda siap berangkat ke Amsterdam untuk menghadiri acara penting yang diadakan oleh perusahaan kita di sana?" Tanya Imel hati-hati.
"Baik Imel!" Siapkan pesawat jet pribadi milikku, hari Senin aku akan berangkat ke Amsterdam." Ucap Tuan Richard lalu mematikan ponselnya.