Wanita Simpanan CEO Buta

Wanita Simpanan CEO Buta
53. Epilog


__ADS_3

Dua tahun kemudian, Sandra melahirkan putra ketiganya dan pasangan bahagia ini menikmati hari-hari mereka dengan bahagia.


"Terimakasih sayang!" Akhirnya keluarga kita bisa bahagia setelah melewati setiap ujian berat dalam hidup ini." Ucap Tuan Richard kepada istrinya pasca melahirkan putra ketiga mereka. Bayi ketiganya diberi nama Arthur.


Brian dan Arabella sangat senang mendapatkan adik baru. Di saat yang sama, nyonya Caroline menjenguk cucu ketiganya ini dengan penuh haru. Sandra yang melihat kedatangan ibu kandungnya begitu sumringah.


"Terimakasih ibu!" Karena pengorbananmu, aku bisa mendapatkan lagi kebahagiaanku. " Ucap Sandra lalu memeluk ibunya dengan erat.


"Memang kamu seharusnya sudah mendapatkan kebahagiaanmu sejak lama, Sandra. Hanya saja ulah ayahmu yang menyebabkan kamu harus menderita karena ambisinya." Ucap nyonya Caroline.


"Bagaimana kabar ayah, ibu?" Tanya Sandra.


"Dia sedang menerima hukumannya Sandra dan saat ini dia mengalami stroke." Ujar nyonya Caroline.


"Daddy!" Kami ingin melihat Ade bayi." Rengek Brian pada ayahnya yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Sebentar sayang!" Ayah masih sibuk." Ucap Tuan Richard menolak permintaan anak-anaknya.


"Bagaimana kalau Oma yang mengantar kalian untuk melihat Ade bayi di ruang bayi?" Ajak nyonya Caroline menghibur kedua cucunya.


"Benarkah?" Huhh... Daddy sangat payah. Yang ia perhatikan hanya mommy dan pekerjaannya saja." ujar Arabella so dewasa dengan tingkah lucunya.


Keluarga besar itu sesaat tertawa geli mendengar ocehan Arabella pada Tuan Richard.


"Richard, anak-anakmu sekarang makin kritis menilai tingkah lakumu, jadi hati-hati sayang dalam membagi waktumu untuk mereka." Ucap Sandra menasehati suaminya.


Tidak lama kemudian, Imelda datang dengan membawa bayinya yang baru berusia enam bulan. Ia bersama suaminya tuan Richardo nampak bahagia saat menjenguk Sandra.


"Hallo Sandra!" Apa kabar!" Selamat atas kelahiran putra ketiganya!" Ucap tuan Richardo.


"Terimakasih tuan Richardo atas kunjungannya, sambut Tuan Richard atas pasangan mantan asisten pribadinya Imelda.

__ADS_1


"Aku harus berterimakasih kepada Sandra karena dia, aku bisa mendapatkan wanita hebat ini. Dengan kecerdasannya, sekarang butik milikku makin ramai pengunjung." Ucap tuan Richardo.


"Keberuntungan buatmu, tapi musibah untukku." Ucap Tuan Richard sambil bercanda.


Kedua lelaki hebat ini sedang serius membahas dunia bisnis yang mereka tekuni masing-masing. Sementara Sandra dan Imelda terlibat perbincangan serius membahas tentang tuan Marco dan tuan Lorenzo yang dipecat secara tidak terhormat karena telah menyalahkan gunakan wewenang dan jabatan mereka karena memerasmu." Ucap Imelda.


"Syukurlah kalau begitu, aku sangat tidak suka dengan tuan Lorenzo yang terlalu berambisi untuk menjadi hakim agung dengan memanfaatkan kekuatan koneksi keluarga tuan Marco. Jaksa abal-abal seperti dia, perlu ditindak tegas agar tidak merugikan orang lain dalam menjalankan tugasnya." Ucap Sandra.


"Aku tidak mengira, gadis sepertimu memiliki banyak perhitungan untuk menjatuhkan banyak lawan dalam sekali tepuk.


"Kamu tahu sendiri bukan, ayahmu yang begitu yakin akan keberhasilannya untuk ikut mencalonkan diri dalam jabatan yang sedang di incarnya, akhirnya ditaklukkan juga oleh dirimu." Puji Imelda pada keberanian sahabatnya ini yang ikut menyingkirkan ayahnya dari penjabat pemerintah.


"Daripada kebahagiaan pernikahanku dipertaruhkan, setidaknya aku harus memberi pelajaran untuk ayahku sendiri yang telah mengorbankan cinta kasihku kepada anak-anakku." Ucap Sandra tidak peduli dengan nasib ayahnya kini.


"Aku dengar, ibu mertuamu akan dibebaskan dua tahun lagi, apakah kita juga akan memaafkan dirinya?"


"Aku tidak menaruh dendam padanya setelah aku mengetahui kelakuan ayahku Imelda." Ucap Sandra yang terlihat sedih dengan nasib ibu mertuanya.


Sandra sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Baby untuk membawa pulang bayinya. Ketika tiba di rumah Tuan Richard, pasangan ini sudah di sambut oleh para sahabat dan kolega mereka.


Alicia dan Hendrik menyalami pasangan berbahagia ini. Sandra mengusap perut Alicia yang saat ini sedang mengandung enam bulan.


Sandra yang belum sempat memberikan apresiasinya pada Hendrik yang telah menolongnya kabur dari pernikahannya saat itu.


"Hendrick, terimakasih atas bantuanmu saat itu. Kalau bukan karena dirimu, aku tidak tahu bagaimana nasib anak-anakku tanpa kehadiran aku di sisi mereka." Ucap Sandra sambil menggenggam tangan Hendrik yang sudah dianggap Sandra seperti saudaranya.


"Aku sudah pernah merasakan bagaimana tidak enaknya hidup tanpa kasih sayang seorang ibu dari korban perceraian. Untuk itulah aku memotivasi dirimu agar tidak menyerah pada keadaan selama kamu punya semangat untuk bisa melawan kezaliman yang terjadi pada dirimu, walaupun kamu harus berurusan dengan ayah kandungmu sendiri." Ucap Hendrick.


"Aku tahu Hendrick. Aku bisa bahagia karena kamu dan istrimu yang bersedia mengambil resiko atas rencana yang ku buat saat itu. Aku tidak akan melupakan jasa kalian seumur hidupku." Ucap Sandra lalu merangkul pasangan ini.


"Bagaimana dengan jasaku anak nakal!" Ucap nenek Debora yang sudah ada di balik punggung Sandra.

__ADS_1


"Nenek Debora!" Pekik Sandra lalu memeluk wanita yang telah membesarkannya ini.


"Apa kabarmu, nak!" Tanya nenek Debora dengan berkaca-kaca.


"Maafkan aku nenek, Sandra tidak bisa menjengukmu setelah insiden saat itu." Ucap Sandra sedih.


"Nenek yang harus minta maaf pada kamu Sandra karena nenek telah menyembunyikan fakta bahwa kamu masih memiliki kedua orangtua yaitu nyonya Caroline dan tuan Kevin." Ucap nenek Debora penuh sesal.


"Aku tidak pernah menyesal karena aku bangga hidup dibawah asuhan nenek Debora, kalau bukan karena nenek mungkin aku tidak bisa menjaga diriku dari kenakalan para remaja saat itu yang mencoba menodai diriku.


Beruntunglah, nenek Deborah memasukkan aku di salah satu perkumpulan ilmu bela diri hingga aku bisa menjaga diriku sendiri.


"Debora!" Tegur nyonya Caroline pada mantan pelayan mertuanya ini.


Nenek Debora kelihatan canggung mendapatkan perlakuan istimewa dari nyonya Caroline yang langsung memeluknya.


"Maafkan aku nyonya Caroline karena aku telah menutup kebenaran dan merelakan putriku untuk diberikan kepadamu."


"Aku tidak dendam lagi padamu Deborah, justru aku yang minta maaf karena aku tidak bisa menyelamatkan Putrimu dari sakit kanker yang dideritanya saat itu. Dia putri yang sangat manis dan tidak pernah mengeluh setiap kali ia mendapatkan perlakuan buruk dari kami." Ucap nyonya Caroline.


"Hallo semuanya!" Ayo kita berkumpul untuk mengambil foto dengan anggota baru Miller yang telah lahir dari ibu yang bernama Sandra dengan ayahnya bernama tuan Richard, untuk itu kita sambut baby Arthur Richard Miller." Ucap Imelda lalu meminta Gwen memberikan bayi itu kepada Sandra.


Semua keluarga berkumpul dengan mengambil posisi terbaik mereka dengan berbagai gaya untuk diabadikan momen berharga itu.


Semuanya diminta untuk menikmati makan siang bersama di taman yang cukup luas untuk keluarga besar itu dalam menggelar acara penyambutan baby Arthur.


"Mommy, apakah nanti setelah baby Arthur besar, mommy akan memberikan aku lagi adik perempuan?" Tanya Arabella dengan polosnya.


"Iya sayang dengan senang hati, Daddy akan membuatnya untuk kamu." Ucap Richard disambut jeweran dari Sandra.


"Richarrrrd!"

__ADS_1


__ADS_2