
Karena tidak ada tanggapan dari Sandra pada pesannya, Tuan Richard mendatangi kediaman pamannya untuk menemui istrinya, Sandra.
Petugas keamanan yang menjaga istana tuan Kevin menghadang Tuan Richard untuk tidak masuk ke istana itu atas perintah tuan Kevin sendiri.
"Ini rumah pamanku Kevin, katakan kepadanya kalau aku ingin bertemu dengan istriku, Sandra." Ucap Tuan Richard yang sudah kesekian kalinya kepada petugas keamanan yang tidak bergeming sedikitpun.
Melihat tidak ada respon dari para penjaga itu yang berdiri seperti patung hidup sambil memegang senjata, akhirnya Tuan Richard mengalah, namun ia tidak diam begitu saja, ia tetap menghubungi telepon rumah pamannya Kevin dan juga nomor ponsel istrinya yang tidak diangkat juga oleh mereka.
"Sial!" Tuan Richard menendang ban mobilnya.
Sementara Sandra melihat rekaman CCTV yang menampilkan sosok suaminya yang sedang putus asa tidak bisa menemui dirinya.
"Mengapa kalian semua mengabaikan aku? saat aku ingin sekali melihat calon bayiku melalui perut istriku." Ucap Tuan Richard lirih.
Tuan Richard turun ke pantai melepaskan sepatunya dan masuk ke laut. Sandra memperhatikan tingkah suaminya dari jauh dengan menggunakan teropong.
"Apa yang sedang dia lakukan di sana?" Apakah dia ingin bunuh diri?" Tanya Sandra kuatir.
Lama sekali Tuan Richard berada di dalam laut membuat Sandra keluar dari rumahnya menuju pantai. Ibu hamil itu berjalan tertatih-tatih menuju pinggir pantai dan membuka pintu gerbang yang menghalanginya sebagai pembatas wilayah milik tuan Kevin.
Petugas keamanan berlari mencegah Sandra untuk tidak keluar dari pagar itu.
"Nona Sandra berhenti!" Ucap penjaga itu.
"Aku ingin menemui suamiku." Ucap Sandra ketus.
"Di luar sana banyak ranjau yang sengaja di tanam. Jika anda melangkah lagi, ranjau itu akan menghancurkan tubuh anda." Ucap penjaga itu.
Tidak lama Tuan Richard muncul dari permukaan laut dan melihat sosok istrinya yang sangat ia rindukan.
"Sandra!" Ujarnya begitu gembira.
Sandra menatap wajah suaminya dari jauh, namun bingung harus berbuat apa. Ia pun segera meninggalkan tempat itu, namun langkahnya terhenti ketika Tuan Richard berteriak memanggil namanya dari kejauhan.
"Sandraaa!" Pekik Tuan Richard yang tidak ingin Sandra meninggalkannya saat ini.
Sandra berbalik dan melihat Tuan Richard berlutut setengah memohon kepadanya.
"Sayang jangan pergi!" Aku hanya bisa melihatmu dari jarak jauh yang cukup lumayan sekitar 200 meter denganmu." Tuan Richard berbicara dengan suara kencang.
Sandra menatap wajah suaminya dengan tubuh yang basah kuyup. Dari kejauhan tuan Kevin dan istrinya mengamati adegan dramatis pasangan yang sedang marahan tersebut.
"Sayang, apakah tidak sebaiknya kita membiarkan putri kita menemui Richard?" Tanya Nyonya Caroline yang tidak tega melihat Richard yang saat ini sangat merindukan putrinya.
__ADS_1
"Biarkan saja seperti itu, supaya Richard tahu bagaimana merasakan sakitnya rindu." Ucap tuan Kevin acuh.
"Sandra, aku mohon maafkan aku!" Beri kesempatan aku untuk memegang perutmu merasakan pergerakan bayi kita." Ucap Tuan Richard.
"Jadi kamu hanya datang menemui aku karena aku hamil anakmu?" Gumam Sandra lirih.
Gadis cantik itu membalikkan tubuhnya karena kecewa dengan perkataan Tuan Richard yang tidak begitu menginginkan dirinya.
"Sandra!" Jangan pergi sayang!" Teriak Tuan Richard.
Sandra tidak menggubris perkataan suaminya dan ia berjalan santai menuju rumahnya tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Bagus sekali putriku." Kau adalah putriku yang sangat kuat." Ucap tuan Kevin bangga ketika melihat putrinya tidak luluh dengan permohonan maaf Tuan Richard.
Nyonya Caroline bergegas menghampiri putrinya yang sudah menaiki tangga menuju rumah mereka.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Tanya nyonya Caroline cemas.
"Tidak apa-apa Tante Carolin!" Ucap Sandra santun.
Sandra lalu masuk ke kamarnya dan menangis. Jauh dalam hatinya, ia sangat merindukan suaminya, namun mendengar Tuan Richard yang hanya mempedulikan kehamilannya saja, membuat ia enggan untuk menemui lelaki itu.
"Dari mana dia mengetahui kalau aku hamil?" Apakah paman Kevin yang sudah memberitahunya?" Tanya Sandra sambil menangis.
"Masuk!" Sandra duduk di tepi tempat tidur.
Nyonya Caroline mengantar cemilan untuknya dan menaruhnya di atas nakas.
"Sandra!" Apakah kamu merindukan suamimu, sayang?" Tanya Nyonya Caroline.
"Dia hanya ingin mengetahui kehamilanku saja, tante. Dia tidak merindukan aku." Ucap Sandra sedih.
"Apakah karena itu, kamu menangis?"
Sandra mengangguk." Apakah kamu ingin memberinya lagi kesempatan untuknya?" Tanya nyonya Caroline.
"Jika yang dia butuhkan anaknya saja, berarti tidak menutupi kemungkinan, kalau dia akan menceraikan aku Tante....hiks.. hiks!" Aku takut dia akan mengambil bayiku dan menceraikan aku." Ucap Sandra lirih.
"Dia tidak akan bisa melakukan itu padamu sayang. Saat ini dia memang datang ke sini hanya memiliki satu alasan untuk melihat kandunganmu, tapi dia justru ingin menemuimu karena dia sangat merindukanmu juga, sayang." Ucap nyonya Caroline sambil membelai rambut panjang putrinya.
"Peluk aku Tante!" Pinta Sandra manja.
Nyonya Caroline menatap wajah cantik putrinya yang saat ini sedang merundung duka karena prahara rumah tangganya.
__ADS_1
"Oh, putriku!" Ucap Nyonya Caroline memeluk erat putrinya.
"Tante! entah mengapa, aku sangat nyaman saat berada di pelukanmu. Aku merasa sedang memeluk ibu kandungku sendiri." Ucap Sandra yang sedang membenam wajahnya di dada ibunya.
"Sandra, kamu memang putri kandungku sayang. Aku tidak tahu cara mengatakan ini kepadamu. Apakah kamu akan marah dan menolak kami ataukah mengakui kami sebagai orangtua kandungmu, sayang." Nyonya Caroline memejamkan matanya sambil menangis.
Hal yang paling menyakitkan adalah memiliki seseorang yang sangat berharga dalam hidupmu, tapi begitu sulit untuk mendapatkan pengakuan itu.
Sementara itu, Tuan Richard kembali lagi ke apartemennya dengan perasaan gusar.
"Harusnya Sandra yang meminta maaf kepadaku karena kesalahannya, mengapa dia malah meninggalkan aku tanpa ingin mendengarkan penjelasanku." Ucapnya kesal.
Ia lalu mengambil ponselnya dan ingin menghubungi asistennya Imelda. Sahabat dekat Sandra ini mengangkat telepon dari bosnya dengan nafas tersengal karena sedang bercinta dengan kekasihnya.
"Amel!"
"Iya Tuan Richard!"
"Aku ingin kamu hubungi pengacaraku untuk mengurus perceraian aku dengan Sandra." Titah Tuan Richard sambil mendengar desah*n Imelda yang sedang bercinta di seberang telepon.
"Apa..?" Tuan Richard ingin menceraikan Sandra tanpa mengetahui alasan mengapa Sandra bisa nekat menabrak anda saat itu?" Tanya Imelda lalu menghentikan permainan panasnya dengan sang kekasih.
Tuan Richard mengernyitkan dahinya, merasa heran dengan perkataan asistennya.
"Apakah kamu mengetahui cerita ini juga?" Tanya Tuan Richard sambil mengatupkan rahangnya.
Imelda menepuk jidatnya karena sudah keceplosan mengatakan kepada Tuan Richard. Mau tidak mau, dia harus mengatakan sebenarnya dan resikonya dia harus di pecat dari pekerjaannya.
"Maafkan saya, Tuan Richard!"
Saya sudah mengetahui alasannya Sandra mengapa ia tidak sengaja menabrakmu saat itu. Sebenarnya dia sendiri cerita kepadaku, di hari anda mengusirnya dari apartemennya." Ucap Imelda hati-hati.
"Kalau begitu katakan kepadaku!" Mengapa Sandra bisa menabrak aku saat itu?"
"Akhhhhkkk!" Pekik Imelda saat sedang bercinta dengan kekasihnya, hingga membuat Tuan Richard menahan geram dan juga terpancing birahinya karena sudah lama ia tidak bercinta dengan Sandra.
"Bisakah kamu menghentikan percintaan panasmu sebentar saja dan bicara kepadaku secara serius?" Pinta Tuan Richard dengan menahan geram.
"Maafkan saya Tuan Richard!" Ini sangat nikmat, aku tidak bisa menangguhkan permainannya." Goda Imelda di seberang telepon.
"Sial!"
Urus saja percintaan panasmu dulu dan hubungi aku setelah selesai!" Titah Tuan Richard lalu mematikan ponselnya.
__ADS_1