
"Apakah anda sempat melihat wajah gadis itu ketika ia menabrak anda, Tuan?" Tanya Sandra berusaha tenang dan juga merasa penasaran dengan Tuan Richard, apakah lelaki ini mengenali wajahnya.
"Aku hanya melihat wajahnya sekilas. Aku tidak sempat menghindar karena mobil itu terlalu cepat bergerak hingga menghempaskan tubuhku.
Gadis itu sepertinya sedang mabuk, dan lebih gilanya lagi, ia nekat menghubungi petugas mobil ambulans dengan menggunakan ponsel milikku. Setelah itu dia meninggalkan aku begitu saja.
Apa yang ada di pikirannya saat itu, dengan melarikan diri begitu saja. Untung saja aku buta, kalau saja aku bisa sembuh, aku akan menghancurkan hidupnya hingga ia takut untuk dilahirkan ke dunia ini.
Tapi, dia tidak akan bebas dari hukuman, karena cepat atau lambat, keluargaku dan aku akan mengirimkannya ke penjara." Ucap Tuan Richard dengan sangat geram.
Duaaarrr...
"Ya Tuhan, aku sedang terjebak dalam permainan bodoh yang telah aku ciptakan sendiri. Aku akan bertanggung jawab setelah menunaikan tugasku untuk melayani Tuan Richard.
"Tuan, jika anda bisa menangkapnya, apakah anda bersedia mendengarkan alasannya tanpa ada tuduhan bahwa gadis itu dalam keadaan mabuk?" Mungkin saja dia meninggalkan anda karena ada kepentingan pribadi yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja karena itu menyangkut masa depannya." Ujar Sandra untuk mengurangi kemarahan Tuan Richard kepadanya.
"Tidak ada kesempatan untuk Gadis itu menyampaikan alasan apapun itu karena aku ingin ia juga harus merasakan apa yang aku alami saat ini. Aku ingin dia di hukum mati."
Tuan Richard mengepalkan kedua tangannya dengan mengatupkan rahangnya hingga mengeras.
Sandra tercengang mendengar ancaman yang menakutkan dari Tuan Richard. Ia pun memejamkan matanya, merasakan kesedihan, jika nasibnya akan berakhir di jeruji besi.
"Tuhan tolong aku!" Sandra membatin.
"Tuan Richard, aku merasa kedinginan, apakah boleh kita masuk sekarang?" Sandra terlihat menggigil dengan udara dingin saat ini, di tambah lagi ancaman Tuan Richard yang membuatnya hampir mati beku di perkebunan itu.
"Baiklah sayang, ayo kita masuk!" Ucapnya dengan menggandeng lengan Sandra, sebagai penunjuk jalannya.
Keduanya sudah berada di dalam kamar tuan Richard. Para pelayan sudah kembali ke tugas mereka, setelah tuan Richard menghubungi Carlos.
"Sandra, andai aku bisa melihatmu, rasanya aku ingin menggendongmu dan kita bercinta sepanjang waktu."
"Maafkan aku ya sayang!" Kamu harus menerima keadaan aku seperti ini." Ujar Tuan Richard dengan wajah sendu.
"Tuan Richard, waktu yang akan memberikanmu kesempatan kedua untuk bisa melihat lagi indahnya dunia ini. Jika suatu saat nanti, aku mendapatkan kecelakaan, ambillah bola mata milikku untuk mu, Tuan Richard!" Ujar Sandra dengan suara bergetar menahan kesedihannya.
__ADS_1
"Hei, kamu bicara apa sayang?" Mana mungkin aku tega melakukan itu padamu, kamu harus tetap di sampingku dan jangan sampai kamu sakit, apa lagi ingin mati." Ucap Tuan Richard lalu meng*l*m bibir Sandra dengan penuh gelora yang sangat menggebu.
Sandra mengimbangi permainan lidah milik Tuan Richard, keduanya saling mencopot baju milik mereka dan menyentuh aset yang saat ini membawa mereka meleburkan diri dalam kenikmatan duniawi.
Belahan dada yang terlihat bulat dan padat, menuntun Tuan Richard untuk menikmati belahan dada Sandra secara bergantian.
"Tuan Richard, lakukan yang lebih dari ini!" Aku ingin merasakan milikmu." Pinta Sandra yang sudah terlalu terbakar birahi.
"Tidak Sandra!"
Aku tidak akan menyentuh milikmu, hingga aku bisa melihat dirimu dan menyaksikan darah kesucianmu." Cegah Tuan Richard.
"Tapi tubuhku sangat membutuhkannya, Tuan Richard. Ini sangat menyiksaku. Bukankah kamu sudah membeli ku?" Tanya Sandra kecewa.
"Awalnya, aku memang sudah membelimu, tapi setelah merasakan perasaanku padamu yang tidak biasa seperti wanita lainnya, aku memutuskan agar kamu mau menjadi kekasihku bukan seorang wanita simpanan ku, sayang." Ucap Tuan Richard memberi pengertian kepada Sandra.
"Bagaimana aku bisa menebus kesalahanku padanya, kalau aku tidak bisa memuaskan dirinya." Gumam Sandra membatin.
"Sandra! aku harap kamu tidak tersinggung dan marah padaku karena aku memegang prinsip ku untuk tidak menggaulimu sampai aku menikahimu, menjadikan kamu istri yang sah untuk seumur hidupku. Maukah kamu menua bersamaku?" Tanya Tuan Richard dengan sungguh-sungguh.
"Tuan, apakah aku pantas untuk kamu miliki suatu saat nanti?" Bagaimana jika kamu tahu aku wanita yang telah menabrakmu." Lagi-lagi Sandra terlihat sedih dengan pernyataan Tuan Richard yang ingin menikahinya.
Hari demi hari, pasangan romantis ini melalui hubungan mereka dengan sangat baik, hingga akhirnya Sandra pamit untuk kembali ke bangku kuliah.
"Tuan Richard, liburan semester kuliah aku, sudah berakhir. Apakah aku boleh melanjutkan kuliah karena anda sudah melunaskan pembayaran kuliahku melalui tuan Teddy." Ucap Sandra sambil tiduran di dada bidang Tuan Richard.
"Apakah kamu sanggup pulang pergi antara kampus dan perkebunan?" Tanya Tuan Richard.
"Tentu saja tidak sanggup Tuan, kecuali akhir pekan aku bisa kembali ke sini untuk tidur bersamamu." Ucap Sandra.
Tuan Richard tidak mampu menolak keinginan Sandra untuk mengenyam pendidikan karena awal kesepakatan keduanya harus memahami kesibukan masing-masing dan tidak boleh memaksakan kehendak.
"Baiklah, kalau begitu setiap weekend kamu harus kembali ke perkebunan. Tapi ingat!" Jangan pernah kenalan dengan lelaki manapun, apa lagi untuk menjalin pertemanan dengan mereka, walaupun itu adalah teman kelas kamu sendiri." Ucap Tuan Richard tegas.
"Kalau bisa, tolong jangan mencoba untuk menyuruh anak buah Tuan Richard untuk mengawasi aku. Jika ketahuan, aku tidak akan mau bertemu dengan Tuan Richard lagi." Pinta Sandra serius.
__ADS_1
Deggg...
"Sial!" Mengapa gadis ini sudah mengetahui, kalau aku akan meminta orang lain untuk mengawalnya. Kalau dia ngambek, bisa bahaya nih." Gumam Tuan Richard membatin.
"Baiklah, aku janji tidak akan meminta anak buahku untuk mengawasi aktivitas kamu. Aku yakin, kamu tidak akan mengkhianati aku.
"Jika aku ingin hancur, tidak perlu mengkhianati Tuan, sebelum mengenal Tuan Richard, aku akan tidur dengan lelaki manapun untuk bisa memuaskan aku. Dan aku tidak akan mungkin berada di hadapanmu saat ini." Timpal Sandra.
"Aku pegang kata-katamu Sandra, itulah mengapa aku tidak ingin menjebol kesucianmu supaya kamu tidak akan menggantikan tempatku dengan lelaki lain untuk mendapatkan kepuasan." Ujar Tuan Richard.
"Tenang saja Tuan Richard, aku bisa menjaga diriku dengan baik tanpa takut dengan ancaman anda. Aku tidak akan menipu dirimu walaupun kamu tidak melihatnya ataupun tidak menggunakan mata orang lain untuk mengawasi perlakuan ku dengan teman lelaki yang ada di kampus maupun di luar sana. Aku jaminkan diriku bahwa kesucian ku, hanya untuk kamu seorang, sayang!" Ucap Sandra.
Deggg...
Senyum di wajah tampan Tuan Richard, begitu sempurna ketika mendengar panggilan sayang dari seorang Sandra.
"Kamu ini membuatku sangat gemas, kenapa kamu begitu sulit ditaklukkan Sandra. Harusnya dari awal kita bertemu, panggil lah, aku dengan kata sayang, bukan kata Tuan, itu sangat membuat aku tidak suka." Ucap Tuan Richard.
"Kenapa tidak bilang dari awal?" Sudah satu bulan baru minta di panggil dengan kata sayang." Ucap Sandra yang tidak ingin disalahkan oleh Tuan Richard.
"Aku tidak akan memintanya padamu, kecuali itu keluar dari hati nurani mu sendiri, sayang." Balas Tuan Richard, lalu mengulangi lagi permainan mereka yang hanya sebatas sentuhan, bukan hubungan intim.
Sandra tidak lagi keberatan dengan sentuhan yang tidak bisa terpuaskan olehnya. Tapi, jauh dalam hatinya, ia ingin memberikan harta satu-satunya yang ia masih pertahankan di usianya yang ke sembilan belas tahun ini.
Tidak lama berselang, tuan Teddy datang menjemput Sandra untuk kembali ke aktivitasnya sebagai mahasiswa. Hanya Teddy yang dipinta Tuan Richard untuk selalu memperhatikan kebutuhan wanitanya.
"Tuan Richard, aku berangkat dulu, sampai jumpa di akhir pekan." Sandra mencium lembut bibir Tuan Richard tanpa rasa sungkan.
"Cepatlah pergi sayang!" Sebelum aku berubah pikiran untuk menahan mu lebih lama lagi di sini." Ucap Tuan Richard dengan berat hati.
"Aku mencintaimu Sandra."
"Jaga permataku, Teddy!" Aku tidak mau ia di ganggu oleh lelaki manapun." Pinta Tuan Richard.
"Siap Tuan Richard!" Jawab Teddy.
__ADS_1
Keduanya sudah berada di mobil. Mobil mewah milik Tuan Richard, menjadi kendaraan mewah untuk Sandra saat ini.
Perkebunan itu kembali sepi setelah kepergian Sandra kembali ke kota.