Wanita Simpanan CEO Buta

Wanita Simpanan CEO Buta
38. Merana


__ADS_3

"Hati-hati dengan perkataanmu Sandra. Secara biologis, kamu adalah putriku dan aku sedang memproses pengalihan hak perwalianmu yang sebelumnya adalah Debora menjadi atas namaku dan ibumu." Ucap tuan Kevin tegas.


"Aku tidak menginginkan kalian, aku hanya ingin suami dan bayiku." Teriak Sandra yang tidak ingin di kekang oleh ayahnya.


"Tetap di sini!" Ayah akan mengurus perceraianmu dengan Richard." Tuan Kevin meninggalkan kamar putrinya dalam keadaan gusar.


Nyonya Caroline berusaha menenangkan putrinya yang saat ini sedang merana.


"Sayang, ibu akan membantumu untuk bertemu dengan suami dan bayimu lagi. Aku harap kamu tenang Sandra. Semua ini rencana ayahmu bukan ibu." Ucap nyonya Caroline yang tidak ingin disalahkan oleh putrinya.


Tuan Richard langsung menemui istrinya Sandra di kediaman paman Kevin. Tapi, lagi-lagi Tuan Richard tidak diperkenankan masuk ke istana milik tuan Kevin. Nyonya Caroline sudah berusaha meminta para penjaga untuk mengijinkan menantunya itu menemui putrinya Sandra, namun mereka lebih mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh Tuan Kevin untuk melarang Tuan Richard masuk ke istananya.


"Apakah anda tidak mendengarkan aku?" Aku hanya ingin menemui istriku di dalam sana. Dia baru melahirkan bayi kami. Saat ini bayi kami sangat membutuhkan ibunya.


Bagaimana kalau posisi kalian berada diposisi aku, apakah kalian mau dipisahkan oleh orang lain di saat cinta kalian begitu kuat pada istri kalian?" Tuan Richard sengaja menyentuh hati para pengawal itu agar memahami keadaannya saat ini.


Alih-alih untuk menjawab perkataan Tuan Richard, justru tubuh tuan Richard di seret sejauh seratus meter tanpa ada kata-kata yang keluar dari para pengawal itu.


"Sialan!"


Kalian tidak lebih dari mesin robot yang sudah di atur oleh paman Kevin." Ucap Tuan Richard lalu menghubungi ponsel tantenya Caroline karena ia yakin hanya Tante Caroline yang bisa menolongnya saat ini.


"Hallo Tante!" Sapa Richard kegirangan.


"Hallo sayang!" Sandra langsung merebut ponsel ibunya ketika mendengar suara suaminya.


"Sandra, sayang!" Aku tidak bisa menemuimu saat ini, tapi aku akan mencoba melakukan apapun untuk bisa menjemputmu pulang." Ucap Tuan Richard sambil menangis.


"Kau terlalu bodoh, hingga terkecoh dengan permainan pamanmu sendiri Richard. Lihatlah apa yang dia lakukan padaku saat ini. Dia mengurungku di kamar seperti tawanan perang.


Aku sangat membencinya dan aku menyesal mengenal dirinya." Aku lebih baik mati daripada harus berpisah denganmu Richard." Ucap Sandra sambil terisak.


"Sayang!" Sabarlah!"


Ini adalah ujian untuk menguatkan cinta kita. Aku yakin kita akan bersama lagi. Aku akan menjaga baby kita dan berupaya menempuh jalur hukum untuk mendapatkan kamu kembali." Ucap Tuan Richard.

__ADS_1


Tuan Kevin yang mendengarkan pembicaraan Richard dari balik punggung putrinya, merebut ponsel itu. Sandra terkesiap melihat ayahnya sudah berada di dalam kamarnya.


ponsel milik istrinya itu di lempar ke dinding kamar hingga hancur berantakan.


"Apa yang paman lakukan, hahh!" Teriak Sandra kesal.


"Sekali lagi kamu mencoba berbicara dengan Richard, aku tidak segan-segan akan menyeret ibu mertuamu itu terlebih dahulu ke dalam penjara karena dia telah menukar dirimu dengan putri Debora." Ancam tuan Kevin tidak main-main.


Pikiran Sandra begitu kalut, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, kecuali memilih diam karena dia tidak ingin ayahnya menjebloskan ibu mertuanya ke dalam penjara karena tidak tega pada suaminya Richard yang akan mempengaruhi jiwa suaminya.


Tuan Kevin tersenyum miring, ia merasa perkataannya mampu membuat Sandra gentar.


"Rupanya suamimu adalah kelemahanmu. Aku akan memanfaatkan perbuatan tercela Catherine untuk bisa memuluskan rencanaku. Dengan begitu aku bisa dipromosikan sebagai panglima tertinggi angkatan laut." Ucap tuan Kevin dalam hatinya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Tuan Richard pulang dengan tangan hampa. Ia kembali ke rumah sakit untuk menemui bayinya yang akan pulang hari itu juga.


Tuan Richard menggendong putranya bersama keluarga lainnya yang ikut menjemput bayinya, termasuk Imelda yang merekam momen haru itu.


"Kakak, biarkan aku yang menggendong babynya!" Pinta Gwen.


Tuan Richard menyerahkan bayinya pada adik keduanya. Tuan Jordan tidak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya yang menyandera putrinya sendiri.


Tuan Richard terpaksa tinggal bersama lagi dengan kedua orangtuanya karena tidak ada yang menjaga bayinya jika dia bekerja. Walaupun dia bisa menyewa baby sitter, namun tetap harus diawasi oleh keluarga karena mengingat banyaknya kejahatan di kota besar.


Setibanya di mansion, bayinya di sambut oleh para pelayan yang sudah baris berjejer dengan hiasan rumah yang penuh dengan pernak-pernik bayi.


Kebetulan Tuan Jordan sudah menyiapkan kamar bayi untuk cucunya yang langsung Connecting dengan kamar putranya, Tuan Richard.


Tidak lupa baby sitter yang sudah siap menyambut anggota baru keluarga Miller.


"Kakak, kita belum memberikan nama baby, kita panggil dia dengan nama siapa, kak?"


Tuan Richard dan Sandra sudah menyiapkan nama bayi mereka Brian.

__ADS_1


"Panggil saja namanya Brian!" Ucap Tuan Richard lalu masuk ke kamarnya. Hatinya belum move on dari istrinya Sandra.


Kerinduannya pada Sandra membuatnya makin merana. Ia mengambil foto pernikahannya dengan Sandra dan menatap wajah cantik istrinya seperti peri khayangan.


"Sandra!" Dulu aku begitu mudah mendapatkan kamu dengan uangku. Aku juga begitu mudah menemukan kamu kembali ketika kamu kabur dariku dan mengajar di Amsterdam.


Sekarang setelah semuanya menjadi mudah dengan keluarga kecil kita, kini aku harus kehilanganmu lagi dan aku tidak tahu, apakah aku bisa mendapatkan kamu lagi atau tidak." Ucap Tuan Richard lirih.


Di tepi pantai nun jauh di sana, Sandra sedang menatap hempasan ombak laut yang setiap saat mengecup bibir pantai.


"Laut saja selalu bolak balik menemui bibir pantai. Mengapa aku yang punya perasaan, malah dipisahkan begitu saja oleh orangtua serakah.


Seumur hidupku aku tidak pernah merasakan kebahagiaan saat bersama dengan Richard. Tapi di saat aku mulai menyusun kembali puing cintaku yang pernah hancur karena musibah itu, justru aku kembali di seret dalam permasalahan yang membuat aku muak."


"Ternyata menjadi kaya raya, tidak membuat hidup orang menjadi nyaman." Gumam Sandra lirih.


"Sandra!" Panggil tuan Kevin.


Sandra menengok ke arah suara yang memanggilnya. Dan ternyata ayahnya membawa seorang pria tampan nan gagah bersamanya.


Sandra segera berdiri dan menatap wajah keduanya dengan dingin.


"Marco, kenalkan ini putriku Sandra!" Ucap tuan Kevin memperkenalkan putrinya pada Marco, putra dari sahabatnya.


"Hai!" Marco mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Sandra.


Sandra menatap tangan kekar Marco sedikit lama hingga Marco yang berinisiatif mengambil tangan Sandra dan menggenggamnya dengan erat.


Sandra segera menepisnya dengan sangat keras dan berlari cepat menuju kamarnya.


Setibanya di kamar Sandra menangis histeris karena apa yang direncanakan oleh ayahnya akhirnya terjadi juga.


Lain halnya dengan Marco yang tidak tersinggung sama sekali dengan sikap Sandra. Justru pria tampan ini terhipnotis dengan kecantikan Sandra yang begitu alami tanpa sentuhan make up.


"Maafkan putri Marco!" Ucap tuan Kevin yang tidak enak hati pada putra sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2