
Keesokan harinya, Sandra dan kedua orangtuanya mengunjungi rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk Sandra yang mengalami permasalahan pada kehamilannya.
Sandra yang sudah menghubungi suaminya untuk menjemput dirinya di rumah sakit, kini sudah berada di rumah sakit tersebut, namun tidak bisa mendekati Sandra karena penjagaan yang cukup ketat yang dilakukan ayahnya dengan mengerahkan seluruh anak buahnya.
Sandra pun tidak bisa berkutik saat ini karena ia sendiri tidak bisa menggunakan ponselnya di depan ayah dan ibunya yang ikut masuk ke ruang pemeriksaan. Dokter Elisabeth yang melihat kegelisahan Sandra, berinisiatif untuk meminta kedua orangtua Sandra menunggu di luar.
"Mohon maaf tuan Kevin dan nyonya Caroline, untuk memudahkan pemeriksaan nona Sandra, saya mohon anda berdua bisa menunggu di luar saja." Titah dokter Elisabeth yang diikuti oleh kedua orangtuanya Sandra.
"Dokter Elisabeth, saya mohon ada tindakan yang lebih preventif untuk putri saya karena usai melahirkan, dia akan menikah dengan kekasihnya." Ucap tuan Kevin berbohong yang membuat Sandra begitu muak mendengar kebohongan ayahnya.
"Cih!" Ayah macam apa kamu yang selalu mengusai hidupku sesuai dengan keinginanmu demi tujuan jabatan." Gerutu Sandra membatin.
Setelah kedua orangtuanya keluar Sandra baru menghubungi Tuan Richard yang sekarang sudah menjadi mantannya.
Dokter Elisabeth hanya memperhatikan aksi Sandra yang ingin bebas dari orangtuanya.
"Hallo sayang!"
"Hallo Sandra!"
"Kamu di mana Richard?" Tanya Sandra terlihat gugup.
"Aku berada di salah satu kamar pasien untuk bisa mengawasi kamu, hanya saja paman Kevin mengerahkan anak buahnya begitu banyak dengan seragam Intel." Ucap Tuan Richard sedih.
"Berarti aku tidak bisa kabur dari mereka semua?" Tanya Sandra cemas.
"Sepertinya rencana kita gagal sayang, karena paman Kevin sudah mengetahui rencanamu." Ucap Tuan Richard membuat Sandra makin murka pada ayahnya.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini, agar bisa kabur Richard?"
__ADS_1
"Untuk saat ini tidak bisa Sandra, kecuali kita harus menjalankan rencana ke dua." Ujar Tuan Richard yang benar-benar tidak berdaya untuk bisa menyelamatkan Sandra.
"Berarti, aku harus pulang lagi ke penjara di istana itu?"
"Terus mau bagaimana lagi sayang, aku sudah berupaya untuk menyelamatkan kamu, tapi paman Kevin tidak ingin dibodohi lagi olehmu untuk kedua kalinya." Ujar Tuan Richard.
"Sebaiknya kamu pulang saja ke New York, jika tidak bisa membantuku. Tunggu saja kelahiran putrimu dan jemput ia di rumah sakit." Ucap Sandra lalu mematikan ponselnya dengan perasaan kecewa.
"Sandra...hallo!" Tuan Richard berusaha menghubungi lagi Sandra, namun gadis itu sudah terlanjur kecewa pada Tuan Richard.
"Sandra, tidak semua rencana berjalan sesuai harapan kita, sayang. Kenapa kamu cepat sekali marah dan menyerah. Bukankah semua ini adalah idemu?" Gumam Tuan Richard lirih.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Sandra merasa pengorbanannya untuk bisa kabur menjadi sia-sia.
"Nona Sandra, apakah kamu butuh hukum untuk melindungi hakmu?" Tanya dokter Elisabeth yang sudah memahami kondisi Sandra yang saat ini dibawah kuasa ayahnya tuan Kevin.
"Dokter Elisabeth, aku mohon maaf sudah menyusahkan anda. Kalau begitu saya pamit." Ucap Sandra yang tidak ingin mengomentari pendapat dokter Elisabeth untuk dirinya. Baginya ia ingin kabur dari ayahnya dengan cara apapun, tanpa melibatkan pihak berwajib.
Nyonya Caroline yang mengerti kalau rencana Sandra untuk kabur tidak berhasil kali ini. Sementara tuan Kevin yang sudah mengetahui otak licik putrinya hanya tersenyum miring. Mereka pulang kembali kembali ke kediamannya tanpa banyak bicara.
Sandra berjalan dengan cepat menuju kamarnya untuk meredakan emosinya yang ingin meledak saat ini. Jika ia ingin mengamuk, maka ayahnya akan terlihat curiga padanya dan itu tidak akan berhasil dengan rencana selanjutnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Waktu begitu cepat berlalu hingga Sandra bisa melahirkan putri keduanya dengan selamat di rumah sakit. Hal yang sangat menyedihkan bagi dirinya adalah kedatangan Tuan Richard bersama dua adik iparnya yang akan mengambil putrinya setelah dua bulan ia menyusui.
Penjagaan pun lebih ditingkatkan oleh tuan Kevin di istananya ketika ketiga keponakannya itu datang mengambil cucunya.
Tuan Richard merasa bingung menyapa Sandra sekedar membahas tentang kedua anak mereka karena tuan Kevin ikut duduk bersama mereka.
__ADS_1
Bawalah putrimu pergi dari rumahku karena aku ingin Sandra tidak lagi menyusui putrimu. Tugasnya sudah selesai sebagai ibu bagi kedua anakmu dan sekarang Sandra akan menikah dengan tuan Marco.
Tuan Richard tidak ingin membantah dengan perkataan yang sama karena akan terjadi pertengkaran diantara mereka yang akan membuat Sandra kelimpungan nantinya.
"Ironis sekali hidupku. Saat aku bayi, aku di pisahkan dengan ibu kandungku hingga aku dewasa karena ambisi ibu mertua akan harta kakekku dan sekarang aku pun dipisahkan dengan putriku karena ambisi ayahku untuk mendapatkan jabatan.
Aku dilahirkan di dunia hanya untuk memenuhi ambisi orang lain tanpa memikirkan bagaimana penderitaanku yang aku rasakan saat ini. Semoga kamu puas tuan Kevin Miller. Mulai saat ini hingga aku mati, aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai ayahku karena kamu lebih kejam daripada binatang buas sekalipun." Ucap Sandra dengan kata-kata yang begitu menohok.
Plakkkk...
Satu tamparan keras mengenai wajah Sandra dari ayahnya membuat semua yang ada di situ hanya bisa terperanjat melihat adegan menegangkan antara Sandra dan ayahnya.
"Paman Kevin, kata-kata Sandra tidak akan mengubah pendirian paman bukan?" Mengapa sesakit itu hingga menampar putri paman sendiri." Ucap Pricilla yang tidak tahan lagi dengan sikap pamannya yang begitu arogan.
"Pergi kalian dari rumahku dan bawa bayi itu ke rumah kalian. Aku tidak ingin memiliki keturunan penculik seperti ibu kalian." Ucap tuan Kevin menyindir perbuatan nyonya Catherine.
"Lantas apa bedanya kamu dengan dia Kevin?" Kalian berdua memiliki hati iblis." Gumam nyonya Caroline membatin.
Tuan Richard membawa pulang bayinya dan juga kedua adik perempuannya kembali ke New York. Sandra meraung di kamarnya ketika bayinya harus direnggut darinya dengan begitu kejam.
"Kau bukan ayahku Kevin, kau hanya seorang monster yang aku kenal." Teriak Sandra dari dalam kamarnya.
Daripada aku menikah dengan bajingan Marco, lebih baik aku mengakhiri hidupku di laut lepas itu." Ucap Sandra sambil terisak.
Kesedihan tidak hanya milik Sandra semata, semua orang yang berhubungan dengannya ikut hanyut dengan kisah pilu Sandra dan Tuan Richard saat ini.
Tuan Richard mengirim pesan untuk Sandra berkali-kali, namun Sandra tidak ingin membaca satu pesan itu dari mantan suaminya ini.
Melihat kondisi putrinya yang makin terancam keselamatan jiwanya, nyonya Caroline akhirnya berinisiatif mendukung rencana putrinya yang terakhir kalinya.
__ADS_1
"Aku tidak boleh takut lagi. Aku harus kuat untuk bisa menyelamatkan putriku dari suamiku." Ucap nyonya Caroline dengan penuh kemantapan hati.