
Tiga bulan kemudian, Sandra benar-benar tidak bisa bertemu dengan putranya. Ia tidak di perkenankan untuk memegang ponsel maupun jaringan komputer untuk bisa mengirim email kepada siapapun.
Nyonya Caroline pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong putrinya. Jika tidak mengingat Sandra ada di rumahnya, rasanya dia ingin kabur meninggalkan suaminya yang sekarang sudah berubah semenjak mengetahui jati diri Sandra, sebagai putri kandungnya.
Sandra merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya. Namun mengingat ia memiliki putra yang harus ia temui, mengurungkan niatnya untuk menyiksa dirinya.
"Aku harus tetap sehat, kuat dan harus berpikir cerdas untuk bisa kabur dari istana terkutuk ini." Ucapnya sambil berlatih yoga di dalam kamarnya.
Nyonya Caroline menemui putrinya dengan membawa makanan kesukaan Sandra. Walaupun ibunya sangat baik padanya, Sandra sedikitpun tidak tersentuh dengan perhatian ibunya.
Mungkin karena pengaruh besar ayahnya yang sudah mendominasi pikirannya untuk ikut membenci sang ibu yang selalu membelanya.
Sandra tetap cuek melakukan olahraga yoga. Nyonya Caroline memperhatikan putrinya yang sudah mulai segar pasca melahirkan putra pertamanya.
"Sandra, ini sarapan pagi mu, selamat menikmati!" Ucap nyonya Caroline yang tampak segan dengan diamnya Sandra.
"Tante!" Apakah aku boleh masuk ke tempat olah raga, paman Kevin?" Tanya Sandra ketika ibunya hendak membuka pintu kamarnya.
"Di sana banyak prajurit yang sedang berlatih Sandra. Apakah kamu ingin berlatih di sana?"
"Kalau tidak boleh, tidak apa." Ujar Sandra lalu meneguk susunya.
"Boleh sayang, kalau kamu mau, ibu akan mengantarmu ke sana." Ujar nyonya Caroline yang ingin mendapatkan empati putrinya.
"Hmmm!" Terimakasih!"
"Apakah kamu ingin ke sana sekarang?" Tanya nyonya Caroline.
"Apakah aku harus di kawal oleh Tante untuk berkunjung ke sana?"
"Baiklah, kalau kamu ingin sendiri ke sana, nanti ibu akan menghubungi pelatih di sana bahwa kamu ingin menggunakan alat-alat olahraga yang ada di ruang olahraga ayahmu."
"Dia bukan ayahku, kalian bukan orangtuaku!" Ucap Sandra ketus lalu mengambil tas olahraganya dan berlari keluar menuju tempat olahraga milik ayahnya di seberang istana mereka.
Nyonya Caroline segera menghubungi pelatih ruang games milik suaminya bahwa putrinya Sandra sedang menuju ke tempat tersebut.
Sandra masuk ke ruangan itu dengan wajah datar namun terlihat begitu anggun. Baju olahraga yang dikenakan saat ini membentuk lekukan tubuhnya yang terlihat sangat indah dengan bokong dan payu**a yang cukup padat membuat semua mata prajurit menatapnya dengan kagum.
"Sayang sekali dia sudah memiliki suami dan anak, kalau tidak aku ingin menikahinya," ujar salah satu prajurit yang selalu suka ngebanyol bersama teman-temannya.
__ADS_1
"Lihatlah perbedaan kamu dengan putri komandan, apakah kamu pantas mendapatkan gadis secantik itu?" Canda tawa terdengar membahana di antara mereka hingga pelatih mereka berseru untuk memberi hormat kepada Sandra.
Sandra melihat ke sekelilingnya dan menatap wajah prajurit itu satu persatu lalu menuju treadmill untuk berolahraga di sana melenturkan tubuhnya.
Salah satu prajurit menawarkan Sandra menggunakan ponsel dan handset miliknya, untuk mendengarkan musik agar tidak mendengar kebisingan mereka. Sandra begitu kaget menerima tawaran itu dan Sandra menerimanya dengan senang hati.
Tapi Sandra tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang terlihat bahagia, ia tetap menunjukkan sikap dinginnya namun tetap ramah agar prajurit itu tidak berubah pikiran.
"Apakah anda ingin mendengar musik, nona?" Tanya Hendrik.
"Apakah aku boleh memakainya?"
"Tentu saja, bukankah anda tidak membawa ponsel anda?"
"Oh, aku sengaja tidak ingin membawanya." Ujar Sandra berbohong.
Sandra memasang handset di kupingnya dan mengatur lagu untuk ia bisa mendengarkannya.
Pikirannya secepat kilat berubah karena ia ingin sekali mengirim pesan singkat kepada suaminya.
"Hai sayang, ini aku Sandra. Aku memanfaatkan keluguan salah satu prajurit untuk menggunakan ponselnya. Tolong keluarkan aku dari sini karena aku tidak sanggup lagi bertahan di sini. Tolong jangan di balas dan tunggulah sepuluh menit lagi, aku akan menghubungi kamu di toilet." Sandra menulis dengan cepat.
"Sayang, lihatlah!" Mommy kamu sangat pintar memanfaatkan suasana untuk bisa bicara dengan kita." Ucap Tuan Richard sambil menggendong putranya.
Tuan Richard tidak sabar menunggu telepon dari istrinya, sepuluh menit ke depan karena kerinduannya pada istrinya tersebut.
Ia berjalan mondar-mandir dengan putranya dengan perasaan gelisah.
Sandra sedang mencari cara untuk bisa menghubungi Tuan Richard. Ia pun mendekati pelatih untuk mencari toilet. Pelatih itu mengarahkan Sandra ke kamar pribadi tuan Kevin karena tidak ada toilet untuk wanita di ruang pelatihan tersebut.
Sandra begitu gembira karena rencananya kali ini akan berhasil.
"Yes, sebentar lagi aku bisa melakukan video call dengan suamiku." Sandra buru-buru mengunci kamar ayahnya dan melihat sekelilingnya, kuatir ada CCTV yang terpasang di kamar itu. Ia memilih masuk ke kamar mandi karena lebih privasi.
Tuan Richard menatap ponselnya lalu sambungan video call dari istrinya terjadi juga. Tuan Richard mengarahkan bayinya ke layar ponsel agar bisa dilihat oleh istrinya.
"Hai sayang!"
Sapa Sandra dengan suara tercekat menahan kerinduan dan takjub melihat putranya yang sudah berusia tiga bulan.
__ADS_1
"Brian, itu mommy!" Ayo sapa mommy!" Pinta Tuan Richard sambil berurai air mata.
"Brian!" Kamu sudah besar sayang?" Tanya Sandra yang terlihat sangat terharu.
"Sandra, kamu makin cantik sayang?" Apakah saat ini kamu di ruang gym?" Tanya Tuan Richard kuatir.
"Tenang saja sayang mereka tidak akan menggangguku." Ucap Sandra meyakinkan suaminya yang terlihat cemburu istrinya berada diantara banyak prajurit-prajurit tampan.
"Sandra, aku merindukanmu, apa yang harus aku lakukan untuk bisa menyelamatkan kamu dari paman?" Tanya Tuan Richard.
"Aku punya rencana untuk itu, tapi saat ini aku ingin kamu mengirim aku ponsel dengan menggunakan nama Hendrik dan jangan mencantumkan namamu di paket itu.
Aku akan memanfaatkan Hendrick untuk mencapai tujuanku." Ucap Sandra penuh siasat licik.
"Baiklah sayang aku akan melakukan apapun untukmu, asal kita kembali bersama." Tuan Richard memberikan kecupannya berkali-kali untuk sang istri melalui ponselnya.
Ia pun mengarahkan lagi bayinya yang sedang tidur dalam dekapannya kini. Sandra memberikan kecupan manis untuk keduanya dan mengakhiri pembicaraan mereka.
Sandra buru-buru keluar dari toilet dan kembali lagi ke ruang gym sambil mendengarkan musik untuk mengelabuhi pelatih yang sedang mengawasinya.
Beberapa saat kemudian, Sandra mendekati Hendrick untuk mengembalikan ponsel milik lelaki itu. Ia pun berusaha mendekati Hendrick untuk melancarkan rencana berikutnya dengan berpura-pura mengobrol sesuatu yang umum.
Hendrick yang terlihat masih remaja dengan sifatnya yang lugu begitu terpesona dengan kecantikan Sandra.
"Terimakasih untuk ponselnya, Hendrick. Kamu sangat baik, dari mana asalmu?" Tanya Sandra.
"Dari Texas!" Ucap Hendrick.
"Apakah kamu mau mengantar aku melihat laut?" Aku ingin jalan-jalan di pinggir pantai." Pinta Sandra.
"Tapi aku harus meminta ijin pelatih dulu." Ucap Hendrick.
"Aku yang meminta ijin pada pelatihmu itu." Ucap Sandra yang ketakutan jika pelatih melarang Hendrick menemaninya.
"Baiklah nona, terserah nona saja." Hendrick menunggu Sandra yang sedang berjalan menghampiri pelatih.
Terlihat Sandra terlibat obrolan serius dengan pelatih tersebut. Tidak lama kemudian Sandra memanggil Hendrik dengan melambaikan tangannya ke arah pria lugu itu.
Hendrick pun begitu girang bisa menemani putri komandannya itu.
__ADS_1
"Ada apa dengan Hendrick?" Mengapa ia bisa di ajak putri komandan berjalan di pinggir pantai. Sial!" Harusnya tadi aku bisa menaklukkan hati gadis itu." Ucap salah satu pria tampan yang sedari tadi memperhatikan Sandra.