Wanita Simpanan CEO Buta

Wanita Simpanan CEO Buta
30. Rindu


__ADS_3

"Apa..?" Debora?" Tanya tuan Kevin dan nyonya Caroline bersamaan.


Nyonya Caroline menatap suaminya lalu berkata." Bukankah nenek Debora tidak pernah meni....?"


Tuan Kevin menghentikan perkataan istrinya yang hampir mengacaukan rencananya.


"Sayang, aku ingin minum air putih." Pinta tuan Kevin.


Nyonya Caroline memahami kesalahannya lalu ia keluar dari kamar Sandra menghampiri pelayan yang ada di depan kamar Sandra.


"Sandra, apakah kamu ingin mempertahankan pernikahanmu dengan Richard?" Tanya tuan Kevin.


"Entahlah paman, rasanya aku tidak punya hak untuk menentukan nasib pernikahan kami karena dalam hal ini, akulah yang salah. Aku sudah menipunya. Jika dia marah dan kecewa kepadaku, itu hal yang wajar, aku terima apapun keputusannya."


"Tapi dia telah melakukan kekerasan kepadamu hingga membuat kamu hampir kehilangan janinmu." Ucap tuan Kevin murka.


"Dia melakukan itu karena dia tidak tahu aku sedang hamil. Jika dia tahu, mungkin dua akan hati-hati kepadaku.


Kemarin dia hanya sangat emosi kepadaku dan spontan menendang perutku hingga aku terpental. Aku bersyukur kandunganku sangat kuat, jadi masih bisa di selamatkan.


"Sandra, mengapa kamu begitu sabar menerima perlakuan kasar dari Richard. Apakah kamu masih mencintainya?" Tanya tuan Kevin berang.


"Cintaku tidak butuh alasan mengapa dan kenapa. Cintaku melebihi rasa sakitku yang diberikan dia kepadaku." Ujar Sandra lirih.


Tuan Kevin hanya menghembuskan nafasnya kesal. Iapun tidak bisa memaksa putrinya untuk bercerai dari Tuan Richard karena Sandra begitu mencintai Tuan Richard.


"Sekarang, apa yang kamu inginkan Sandra?"


"Aku tidak ingin dia tahu aku ada di sini. Aku menghukumnya untuk tidak mengetahui bahwa aku saat ini sedang hamil. Ini adalah bayiku dan dia tidak perlu tahu tentang bayinya." Ucap Sandra dengan wajah datar.


"Baiklah sayang!" Kalau itu adalah keinginanmu, tapi kamu harus ingat bahwa kami berdua selalu ada untukmu." Ucap tuan Kevin lalu meninggalkan putrinya seorang diri.


"Paman Kevin!" Panggil Sandra lagi.


Tuan Kevin membalikkan badannya." Terimakasih paman sudah mau menerima aku di sini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan tanpa kalian." Ucap Sandra tulus.

__ADS_1


Hati tuan Kevin begitu sakit karena Sandra belum mengetahui kalau dirinya adalah ayah kandung gadis malang ini. Tuan Kevin mengangguk sambil tersenyum kepada putrinya. Ia lalu membuka pintu balkon menuju keluar melalui kamar Sandra.


"Sayang, apakah Sandra ingin istirahat?" Tanya nyonya Caroline sambil berjalan sejajar dengan suaminya menuju kamar mereka.


"Hmm!" Jawab tuan Kevin singkat.


Ia lalu merebahkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa penat saat ini.


"Caroline!"


Hatiku sangat sakit setiap kali mendengar Sandra selalu mengatakan kata maaf dan terimakasih atas apa yang kita lakukan untuknya, bahkan hanya untuk segelas air putih yang aku berikan kepadanya, dia selalu mengatakan terimakasih.


Harusnya dua tidak perlu ucapkan itu karena aku ayahnya yang sudah sepantasnya memberikan apapun yang ia butuhkan walaupun itu adalah nyawaku.


Jika suaminya bukan Richard, rasanya aku ingin mematahkan leher Richard karena sudah menendang perut putriku yang sedang hamil. Dan parahnya lagi, putriku sangat sabar menghadapi sikap arogan Richard yang sudah menyiksanya." Ucap tuan Kevin dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang...!" Sebaiknya kita lakukan apapun permintaan putri kita agar kita mengetahui apa yang membuatnya bahagia. Jangan melakukan sesuatu berdasarkan pandangan kita sebagai orangtua yang belum tentu dinilai benar oleh putri kita, Sandra." Ucap nyonya Caroline sangat bijak kepada suaminya.


"Sifat sabarmu inilah yang sekarang menurun pada putrimu Sandra. Kalian tidak mudah terpancing emosi saat kalian ditindas. Itulah sebabnya, aku lebih senang mengabdi pada negara agar bisa membuatmu bahagia daripada hidup bersama orangtuaku yang memiliki kekayaan berlimpah tapi begitu diktator." Ucap tuan Kevin lalu mengecup bibir istrinya.


Di apartemen miliknya Tuan Richard, lelaki itu masih betah sendirian walaupun sudah hampir dua bulan ia tidak berusaha mencari istrinya Sandra.


Kadang kerinduannya datang memenuhi rongga dadanya teringat semua kenangan tentang momen indah mereka berdua, namun Tuan Richard selalu menepis kerinduannya dan menganggap Sandra adalah wanita bermuka dua.


"Aku tidak akan memaafkan kamu Sandra, aku akan keluarkan kamu dari hatiku." Ucap Tuan Richard lalu meneguk minumannya.


Sementara itu, Tuan Kevin menemui nenek Debora di rumahnya. Wanita tua itu hampir pingsan ketika melihat tuan Kevin putra majikannya sudah berada di depan pintu rumahnya.


Tok.. tok!"


Nenek Debora yang hendak tidur harus keluar lagi menemui tamu yang dikiranya itu tetangganya yang ingin minta tolong kepadanya.


"Ya Tuhan, mengapa orang-orang ini tidak menyadari saat ini sudah tengah malam dan masih mau bertamu. Dasar manusia tidak memiliki sopan santun.


Apakah itu tetanggaku yang ingin minta tolong?" Gumamnya lirih lalu menyalakan lampu ruang tamu dan membuka pintu rumahnya itu buru-buru tanpa mengintip siapa yang datang.

__ADS_1


Cek lek...


Pintu di buka dan alih-alih mendapatkan ucapan selamat malam dari tuan Kevin, justru wanita tua ini ditodong dengan pistol oleh tuan Kevin tepat di bawah dagunya.


Nenek Debora tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berjalan mundur dan duduk lemas di atas sofa tua miliknya.


"Tuan Kevin!" Gumamnya dengan penuh ketakutan.


"Di mana putriku?" Jangan berani menipuku karena aku sudah mengetahui semua ceritanya dari detektif sewaan ku." Ucap tuan Kevin berbohong.


Nenek Debora tidak bisa lagi berkelit dengan kata-kata kecuali memilih berkata jujur kepada tuannya itu.


"Maafkan saya tuan Kevin!" Saya hanya menjalani perintah dibawah ancaman." Ucap nenek Debora ketakutan.


"Katakan di mana putraku dan ceritakan semua apa yang kamu ketahui atau kepalamu akan aku ledakan." Ancam tuan Kevin serius.


Nenek Debora yang masih terlihat cantik di usianya ini memejamkan matanya lalu berkata keberadaan putri tunggal milik tuan Kevin.


"Dia sekarang sudah menikah dengan keponakan anda sendiri tuan Kevin. Dia sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik dan dia adalah Sandra istrinya Tuan Richard." Ucap nenek Debora tanpa ingin menyembunyikan lagi faktanya.


"Mengapa kamu membawa putriku?" Apakah dia mengancam dirimu sehingga kamu tega memisahkan aku dengan putriku yang masih bayi?" Tanya tuan Kevin sengaja memancing siapa dalang dari skenario pertukaran bayi itu.


"Nyonya Catherine mengancamku saat itu karena aku telah menjadi simpanan tuan Vincent Miller, ayah anda tuan.


Aku tidak tahu motivasi dari pertukaran bayiku dan juga bayi tuan saat itu. Jika aku ketahuan oleh nyonya besar Wilhelmina, maka aku akan di tendang olehnya dan tidak bekerja lagi di perkebunan itu.


Jadi putri yang anda asuh itu adalah putriku, adik kandung tuan sendiri. Aku saat itu baru melahirkan sehari setelah itu istri anda tuan, bayiku dibawa pergi oleh nyonya Catherine dan menukarnya dengan putri anda, Sandra." Nenek Debora menceritakan semuanya pada tuan Kevin yang lebih syok lagi karena ayahnya telah mengkhianati ibunya dengan memiliki simpanan seorang pelayan.


"Hehh..!" Rupanya karma berlaku juga pada keluargaku. Putriku sendiri menjadi simpanan Richard dan pada akhirnya menjadi istri sahnya."Gumam tuan Kevin yang merasa dipermainkan oleh takdir.


Tapi ia tidak habis pikir mengapa nyonya Catherine menukar bayinya dengan putri dari nenek Debora.


"Dasar wanita jalan*!"


Kamu memiliki apa yang seharusnya menjadi milikku tapi kamu tega menukar putriku yang pada akhirnya dia juga menjadi menantumu saat ini." Gumam tuan Kevin membatin lalu meninggalkan rumah nenek Debora dengan hati yang masih terluka. Tapi sesaat ia menghentikan langkahnya dan berkata kepada nenek Debora.

__ADS_1


"Maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkan nyawa putrimu, tapi aku sangat berterimakasih karena kamu membesarkan putriku dengan sangat baik walaupun ia melalui hidupnya dengan penuh penderitaan." Ucap tuan Kevin lalu melangkah keluar dari rumah nenek Debora.


__ADS_2