Wanita Simpanan CEO Buta

Wanita Simpanan CEO Buta
48. Jebakan


__ADS_3

Sandra mengambil rekaman percakapannya dengan tuan Lorenzo yang sedang memerasnya saat ini. Ia sudah memasang jebakan untuk Marco dan tuan Lorenzo yang memanfaatkan jabatan mereka dengan sengaja memisahkan dirinya dengan sang suami.


"Kalian akan merasakan bagaimana pembalasanku diakhir permainan yang kalian ciptakan sendiri." Gumam Sandra tersenyum penuh kemenangan.


Sandra mengambil ponsel yang disimpan suaminya di antara buket bunga untuk mengirimkan rekaman pembicaraannya ke suaminya Tuan Richard.


"Kita harus mengumpulkan bukti atas kejahatan mereka sayang dan sekarang aku tidak keberatan jika kamu ingin menjalankan rencanamu untuk menyeret tuan Marco di pengadilan disiplin militer." Ucap Tuan Richard.


"Anak buahnya paman Kevin sebentar lagi akan menjemputku sayang, aku harap kamu tidak mencemaskan keadaan kami berdua karena saat ini kita sedang menjalani peran kita untuk melawan orang-orang jahat seperti tuan Marco dan tuan Lorenzo." Ucap Sandra.


"Dan juga ayahmu, paman Kevin." Timpal Tuan Richard.


"Aku sudah tidak respek lagi pada pakan Kevin. Dia begitu egois yang hanya memanfaatkan aku demi ambisinya. Mereka bertiga mengambil keuntungan dari kemalangan diriku. Ayahku membutuhkan aku demi pangkat dan jabatan, tuan Marco memanfaatkan aku hanya karena tubuhku dan tuan Lorenzo hanya ingin mendapatkan promosi jabatan untuk bisa duduk sebagai hakim agung saat ini." Ucap Sandra terlihat sedih.


"Begitulah ujian kehidupan Sandra, jika kamu lemah, maka mudah bagi mereka untuk menindas kamu. Tapi, jika kamu kuat dengan mempertaruhkan prinsip hidupmu, maka mereka akan mencari kelemahanmu yang lain untuk mencapai tujuan mereka." Ujar Tuan Richard.


"Selamat tinggal sayang!" Aku mencintaimu Richard. Titip banyak cintaku untuk putra kita Brian. Mohon maaf aku tidak bisa hadir untuk merayakan ulang tahun pertamanya karena situasiku yang kurang mendukung." Ucap Sandra lalu memberi kecupan terakhir untuk suaminya.


Tok...tok


Cek..lek


Sandra melihat sesosok tubuh tinggi besar dengan penuh kewibawaan menyapanya dengan lembut. Siapa lagi kalau bukan tuan Kevin yang saat ini menjemput sendiri putrinya.


"Sayang, apakah kamu sudah siap pulang ke rumah kita..?" Tanya tuan Kevin penuh perhatian pada putrinya.


"Hmm!" Ujar Sandra datar.


"Ibumu menunggu kedatanganmu. Sebentar lagi pesawat akan berangkat, sebaiknya kita cepat berkemas." Ucap tuan Kevin lalu mengambil tas pakaian putrinya di bantu oleh ajudannya.


Ketika tuan Kevin mendorong kursi roda putrinya menuju lobby rumah sakit, Tuan Richard memperhatikan istrinya dari kejauhan. Hatinya begitu sakit dengan permainan takdir yang belum juga usai dengan perpisahan mereka.


"Sandra, aku menantikan kebersamaan kita sayang, entah itu kapan, yang jelas aku yakin cintamu selalu ada untukku." Gumam Tuan Richard membatin.


Sandra yang sempat melihat suaminya yang bersembunyi mengintip dirinya, terlihat sedih. Bulir bening itu menetes tanpa terasa dipipinya. Ingin rasanya ia bangun berlari menghampiri suaminya, sayangnya perjanjiannya dengan tuan Marco membuatnya urung melakukannya.


"Sayang, kita akan bahagia selamanya, jika permainan hidupmu ini akan berakhir suatu saat nanti." Ucap Sandra sambil memperhatikan wajah suaminya dari kejauhan.


Tuan Kevin membantu putrinya untuk duduk di mobil. Kondisi kehamilan Sandra yang rentan demgan keguguran membuat ia harus berhati-hati menjaga calon bayinya.


"Sandra, harusnya aku yang menggendongmu, sayang!" Ucap Tuan Richard dengan suara tercekat sambil menahan air matanya yang hampir tumpah ruah.


Mobil yang membawa Sandra dan ayahnya mulai bergerak menuju bandara. Sandra menangis pilu meninggalkan orang-orang yang ia cintai lagi demi memenuhi ambisi orang lain atas dirinya.

__ADS_1


Tuan Kevin membiarkan putrinya mengusap air matanya sendirian. Ia tahu bahwa saat ini putrinya tidak sanggup meninggalkan semua kenangan keluarga kecilnya. Iapun berpura-pura serius membaca notifikasi pesan yang masuk di ponselnya.


Sementara itu, Tuan Richard yang berhasil merekam video istrinya saat perpisahan tadi, membuat pria tampan itu ingin menyusul istrinya ke bandara. Tapi, mengingat rencana Sandra yang sudah diatur sedemikian rupa, membuat dirinya harus menurunkan egonya demi kebahagiaan yang akan mereka raih selamanya.


Rupanya Tuan Richard tidak sendirian melihat kepergian Sandra, pria tampan ini di temani asisten pribadinya yaitu Imelda yang juga sahabat dekat istrinya.


"Tuan, sebaiknya kita kembali ke perusahaan sambil memikirkan sesuatu yang akan kita lakukan untuk menyelamatkan pernikahan kalian. Kasihan Sandra yang sudah banyak berkorban untuk cinta kalian." Pinta Imelda.


"Kamu benar Imel, aku ingin menjebloskan tuan Marco dan tuan Lorenzo ke penjara, dengan begitu mereka tidak akan bisa bermain-main dengan nasib pernikahan orang lain." Timpal Tuan Richard.


"Hehh!" Dunia begitu lucu Tuan Richard, begitu banyak wanita bertebaran di luar sana dengan kelebihan yang mereka miliki, namun mengapa tuan Marco begitu terobsesi pada istri anda yang saat ini sedang mengandung anak kedua kalian." Ujar Imelda terlihat miris dengan kehidupan sahabatnya yang diperebutkan oleh dua lelaki sekaligus.


"Dia akan membayar atas apa yang dia perbuat pada hubungan kami Imelda. Sekarang dia sedang bahagia di atas penderitaan kami tapi, setelah itu dia akan menyesali perbuatannya karena menyalahgunakan kewenangannya." Ucap Tuan Richard.


Keduanya sepakat kembali ke perusahaan mereka untuk mengurus hal yang lebih penting.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Setibanya Sandra di istana milik kedua orangtuanya, Sandra disambut hangat oleh ibu kandungnya, nyonya Caroline.


"Sandra!" Apa kabar sayang!" Peluk erat nyonya Caroline pada tubuh putrinya yang terlihat sangat kurus.


"Siapkan makanan untuk kami Caroline!" Titah tuan Kevin yang sudah duduk di meja makan bersama keluarganya.


Tanpa di suruh ayah dan ibunya untuk makan, Sandra terlebih dahulu menikmati makanan itu. Kedua orangtuanya saling menatap satu sama lain.


Lagi-lagi Sandra seakan membutuhkan banyak energi untuk bisa berpikir cerdas dalam menangani permainan yang sedang diperankannya saat ini.


"Apakah bayimu sedang kelaparan saat ini sayang?" Tanya Nyonya Caroline yang melihat putrinya makan dengan lahap.


Sandra enggan menjawab pertanyaan ibunya, ia hanya sedikit mengangguk sambil menikmati makanannya.


Sebenarnya, nyonya Caroline sedih dengan dengan sikap putrinya yang belum menerima dirinya ataupun mengakui dirinya sebagai ibu kandungnya. Walaupun begitu ia masih bisa menikmati kebersamaannya dengan sang putri walaupun dalam keadaan yang tidak menyenangkan saat ini bagi Sandra.


"Tidak apa sayang, aku tahu kamu belum siap mengakui aku ibumu, tapi aku sangat bersyukur karena aku bisa merawatmu selama masa kehamilanmu." Gumam nyonya Caroline membatin.


"Tolong urus putrimu dengan baik, aku mau menemui keluarga Marco untuk membicarakan pernikahan putri kita." Ucap tuan Kevin usai makan siang bersama keluarganya.


Sandra yang mendengar perkataan ayahnya, langsung membanting piring makannya yang sudah kosong ke lantai.


"Apakah kamu bisa membahas tentang pernikahan itu setelah aku melahirkan bayiku?" Tanya Sandra dengan wajahnya yang sudah memerah karena menahan amarah sedari tadi yang ia pendam selama perjalanan menuju Florida.


"Urusanmu hanya pernikahan ini, apapun yang ayah lakukan untukmu, itu semua demi kebahagiaanmu. Oh iya dua hari lagi kamu harus menandatangani surat gugatan cerai yang sudah dilayangkan oleh suamimu itu yang mengaku sangat mencintaimu, tapi ia malah dengan mudah mengurus perceraian kalian. Dia sudah memudahkan semua urusanku." Ucap tuan Kevin lalu melempar lap tangan di atas meja makan dengan perasaan gusar.

__ADS_1


Sandra masuk ke kamarnya dan tidak merasa terpengaruh dengan ucapan ayahnya tentang suaminya yang menggugat cerai dirinya karena itu semua atas permintaannya.


Ia pun mengambil ponselnya yang ia simpan di balik celana panjangnya persis di kakinya karena ayahnya sudah menggeledah tasnya miliknya.


Sandra masuk ke kamar mandi lalu mengirim pesan untuk Tuan Richard dan memberitahukan keadaannya saat ini dan perlakuan ayahnya.


"Aku heran dengan paman Kevin yang ingin mengatur pernikahan ini secepatnya, padahal di isi surat perjanjian, pernikahan itu akan berlangsung setelah aku melahirkan." Tulis Sandra.


"Mungkin ada hal yang lebih penting yang saat ini, ayahmu bahas sayang. Dia hanya ingin menyakiti perasaanmu saja, jadi aku harap jangan terlalu terbawa emosi karena kita harus fokus dengan rencana kita ke depannya. " Balas Tuan Richard.


"Baiklah sayang!" Aku ingin istirahat dulu karena masih lelah." tulis Sandra.


Tuan Richard memberikan banyak emoticon ciuman dan pelukan untuk sang kekasih hati.


Tuan Richard sebenarnya juga takut dengan acara pernikahan yang sudah disiapkan oleh ayah mertuanya itu untuk istrinya Sandra secepat mungkin.


Tapi, ia tahu kalau tuan Marco tidak akan melanggar surat perjanjian itu.


Tok.. tok..


Cek.. lek..


Nyonya Caroline masuk ke kamar putrinya untuk membawakan susu untuk ibu hamil. Ia pun meletakkan susu itu di atas nakas karena putrinya sedang tidur saat ini.


Sandra yang melihat ibunya langsung memanggil ibunya lagi ketika nyonya Caroline hendak membuka pintu.


"Tante Caroline!" Apakah kita bisa bicara sebentar?" Tanya Sandra.


Nyonya Caroline membalikkan tubuhnya lalu menghampiri putrinya." Katakan apapun yang kamu inginkan, sayang!" Karena ibu dengan senang hati akan membantumu." Ucap nyonya Caroline penuh ketulusan.


"Apakah paman Kevin sudah meninggalkan rumah ini?" Tanya Sandra yang masih ragu.


"Dia sudah pergi dari tadi, Sandra." Ucap nyonya Caroline.


"Apakah Tante Caroline bisa di percaya?" Tanya Sandra.


"Sandra, aku memang tidak menyukai dengan niat ayahmu yang akan memisahkan kalian. Aku tidak berpihak sedikitpun kepada rencananya untuk menikahkan kamu dengan Marco.


Aku ingin kamu bahagia bersama Richard dan juga anak-anakmu. Katakan saja apa yang harus ibu lakukan untuk kebahagiaanmu, nak?" Tanya nyonya Caroline dengan wajah sendu.


"Tante, jika aku mengatakan apa saja rencanaku untuk menggagalkan rencana pernikahan ini, apakah Tante mau membantuku?" Tanya Sandra dengan gugup.


Nyonya Caroline menatap wajah cantik putrinya sesaat seakan ia melihat luka hati putrinya yang saat ingin diobati oleh dirinya. Ia menggenggam tangan putrinya lalu mengecup punggung tangan itu yang memiliki jari lentik yang sangat indah.

__ADS_1


"Kamu bisa mengandalkan ibu dalam hal apapun karena bukan saja bantuan ibu untukmu, bila perlu, ibu akan mempertaruhkan nyawa ibu demi kebahagiaanmu, sayang." Ucap nyonya Caroline dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2