
Tuan Kevin berinisiatif untuk melakukan tes DNA pada Sandra. Mereka hanya ingin memastikan, apakah Sandra adalah putri mereka yang ditukar oleh seseorang karena kedengkian yang dirasakan oleh orang itu yang berkaitan dengan tahta bisnis keluarga Miller.
Lima hari Sandra dirawat di rumah sakit. Kondisi Sandra saat ini berangsur membaik. Sandra sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Tuan Kevin dan nyonya Caroline membawa pulang Sandra untuk tinggal bersama mereka.
Tapi sebelumnya, tuan Kevin dan nyonya Caroline menghadap dokter yang telah memeriksa DNA Sandra.
Dokter Steven memberikan hasil DNA tersebut kepada keduanya. Tuan Kevin menatap wajah istrinya yang terlihat menegang saat ini. Keduanya berharap bahwa Sandra adalah putri mereka.
"Apakah kamu sudah siap sayang melihat hasil tes DNA milik Sandra?" Tanya tuan Kevin kepada istrinya.
Nyonya Caroline mengangguk cepat karena sudah penasaran dengan hasil DNA tersebut.
"Bukalah sayang, aku ingin mengetahui hasilnya dan semoga kecurigaan kita benar." Ucap nyonya Caroline.
Tuan Kevin menahan nafasnya, lalu membuka hasil tes DNA tersebut. Keduanya sama-sama membaca surat tersebut yang menyatakan.
Hasil tes DNA Sandra memiliki kecocokan dengan tuan Kevin yaitu 99,9%. Itu berarti Sandra adalah putri kandungnya tuan Kevin dan nyonya Caroline yang sengaja ditukar oleh seseorang.
Keduanya saling berpelukan mengetahui Sandra adalah putri kandung mereka.
"Ya Tuhan, ini benar-benar mujizat dariMu, terimakasih telah mempertemukan kami setelah sekian lama kami dipisahkan oleh manusia yang berhati busuk." Ucap Tuan Kevin murka.
"Sayang, Tuhan punya rencana sendiri untuk mengembalikan putri kita dengan cara yang tidak di sangka-sangka." Ucap nyonya Caroline sangat terharu.
Wanita paruh baya ini yang masih cantik di usianya segera pamit pada dokter Steven untuk menjemput putri mereka di ruang inapnya.
Keduanya berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil bercakap-cakap seputar rencana mereka untuk Sandra.
"Sayang, tolong rahasiakan hasil DNA ini pada Sandra. Putri kita masih dalam masa pemulihan terutama mentalnya yang masih labil. Kita harus mencari tahu siapa yang telah mengadopsinya, baru kita bisa tahu siapa yang tega memisahkan kita dengan putri kandung kita." Ucap tuan Kevin.
"Apa yang akan kamu lakukan sayang?" Jika kamu tahu siapa dalang dari semua kekacauan ini." Tanya nyonya Caroline.
"Nanti saja aku akan pikirkan lagi. Yang penting saat ini, aku ingin menyelamatkan putri kita dari kekejaman Richard yang sudah tega menyiksa putri kita hingga membuat dia hampir kehilangan janinnya." Ucap tuan Kevin dengan penuh amarah.
Cek...lek!"
__ADS_1
Pintu kamar Sandra dibuka oleh tuan Kevin. Pasangan ini memberi senyum terbaik mereka pada putri kecil mereka dengan menahan haru.
"Sandra sayang!"
Nyonya Caroline mendatangi putrinya dan memeluk erat Sandra, meluapkan emosi kerinduannya kepada putrinya.
Sandra yang belum mengetahui alasan keintiman ibu kandungnya dengan dirinya hanya merasakan kenyamanan berada di antara dua orang di hadapannya ini.
"Apakah kamu sudah siap Sandra?" Untuk tinggal bersama kami?" Ucap tuan Kevin.
"Iya paman, tolong bawa aku pergi dari kota ini. Aku ingin menjauhi Richard sampai anakku lahir." Ucap Sandra dengan wajah sendu.
"Kamu berada dibawah pengawasan kami, dia tidak akan berani menyentuhmu." Timpal nyonya Caroline yang sudah merasa antipati pada keponakannya, Tuan Richard yang sudah menindas putrinya.
"Terimakasih, paman Kevin dan Tante Caroline. Aku merasa sangat nyaman dan bahagia saat ini. Aku merasa kalau kalian seperti orangtua kandungku, walaupun hubungan kita tidak secara langsung berhubungan pertalian darah. Tapi, entah mengapa aku merasa sangat nyaman berada bersama kalian.
Andai aku masih punya orangtua, nasibku tidak akan semalang ini." Ucap Sandra lirih.
"Sayang, perlakukan kami juga seperti orangtua kandungmu dan kami akan memperlakukanmu seperti itu juga." Pinta nyonya Caroline.
Beberapa saat kemudian, helikopter milik angkatan darat datang menjemput ketiganya. Tuan Kevin di kawal oleh dua helikopter lainnya menuju kediamannya.
Setibanya di istana megah milik tuan Kevin, rupanya nyonya Caroline meminta pelayannya untuk merenovasi kamar Sandra yang berhadapan langsung ke arah pantai.
Kamar mewah nan indah yang begitu besar itu membuat Sandra merasakan dirinya disambut oleh keluarga suaminya ini bak seorang putri raja.
"Tante, apakah ini tidak terlalu berlebihan?" Tanya Sandra sambil menggendong seekor anjing cantik yang dihadiahkan oleh ayahnya tuan Kevin.
"Kamu pantas mendapatkan semua ini sayang." Ucap tuan Kevin yang masih merasa kebahagiaan setelah mengetahui Sandra adalah putri kandungnya.
Sandra melihat keadaan kamarnya yang sudah dilengkapi ruang ganti yang dilengkapi banyak pakaian dari formal hingga santai dan di beberapa bagian tersedia juga baju hamil untuknya.
Tuan Kevin membuka pintu balkon agar Sandra bisa menatap hamparan air laut yang menawarkan pesonanya.
Tidak lama kemudian, pelayan membawakan beberapa kue dan roti juga buah-buahan segar untuk keluarga kecil ini.
__ADS_1
"Duduklah di sini Sandra!" Pinta tuan Kevin menuntun putrinya untuk duduk di sofa panjang.
Sandra menuruti permintaan tuan Kevin. Mereka ingin menikmati matahari terbenam sambil makan makanan ringan dan juga minuman herbal untuk kesehatan Sandra tentunya.
Tuan Kevin membuka dengan obrolan ringan dan menanyakan keluarga Sandra yang belum ia ketahui.
"Sandra, apakah kamu selama ini dibesarkan di pantai asuhan?"
"Sebagian waktu ku, aku habiskan di panti asuhan karena nenekku harus bekerja di keluarga besar Tuan Miller." Ucap Sandra.
"Apa..?" Jadi nenekmu bekerja sebagai pelayan di perkebunan orangtuaku?" Tanya tuan Kevin.
"Iya paman!" Menurut pengakuan nenek, aku kehilangan orangtuaku saat aku masih bayi karena mereka mengalami kecelakaan. Sejak saat itu aku di serahkan ke panti asuhan saat usiaku lima tahun.
Nenek melarang panti asuhan itu untuk menyerahkan aku kepada orangtua yang ingin mengadopsi aku. Karena nenek merasa aku satu-satunya keluarganya. Saat usiaku lima belas tahun nenek mengambil aku dari panti asuhan untuk tinggal bersamanya.
Aku bertemu dengan nenek setiap hari Senin dan Selasa karena dua hari itu nenek bisa libur. Setelah tamat SMA, aku berkeinginan untuk melanjutkan kuliah dan nenek membelikan aku sebuah mobil bekas yang masih layak di pakai untuk menempuh jarak jauh antara kota dan desa.
Sayangnya, mobil itulah yang membuat aku menabrak Richard yang saat itu sedang menerima telepon di pinggir jalan.
Andai saja aku biarkan pemabuk itu menabrak mobilku saat itu, mungkin aku tidak perlu mengorbankan nyawa orang lain hingga membuatnya buta.
Aku yang salah paman, Tante karena sudah menabrak Richard dan aku begitu pengecut untuk menyerahkan diriku ke polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku....hiks..hiks!" Tangis Sandra pecah mengenang kebodohannya.
Nyonya Caroline memeluk putrinya yang begitu menderita karena harus menyimpan rahasia besar selama enam tahun ini.
Tuan Kevin penasaran dengan alasan Sandra kenapa meninggalkan Tuan Richard begitu saja di pinggir jalan dalam keadaan terluka parah.
"Sandra, mengapa kamu terlihat terburu-buru meninggalkan Richard, padahal kamu tahu dia sedang membutuhkan pertolongan medis saat itu." Tanya tuan Kevin.
"Hari itu aku sedang menghadapi ujian pertamaku. Jika aku tidak mengikuti ujian itu maka aku harus mengulang lagi mata kuliahnya dan itu membuatku sangat takut jika berurut dengan bayaran. Aku tidak punya uang lebih untuk membayar mata kuliah yang tertinggal. Karena itulah aku meninggalkan Richard di pinggir jalan dan menghubungi petugas mobil ambulans untuk menjemputnya." Ucap Sandra.
"Lalu siapa nama nenekmu itu Sandra?" Tanya nyonya Caroline.
"Deborah Lorenzo."
__ADS_1
Duaaarrr....