Wanita Simpanan CEO Buta

Wanita Simpanan CEO Buta
49. Permainan Dimulai


__ADS_3

Sandra memberitahukan rencananya kepada ibu kandungnya yaitu nyonya Caroline. Wanita paruh baya ini sangat mendukung rencana putrinya atas pernikahan Sandra dengan tuan Marco.


"Tante, aku nggak tahu apa yang akan direncanakan paman dengan tuan Marco saat ini. Tapi, aku harap Tante mau mendukung rencana yang sudah aku buat dengan suamiku Richard.


Siapa tahu tuan Marco tidak sabaran menunggu aku melahirkan bayiku, hingga ia nekat menikahiku dalam keadaan aku sedang hamil." Ucap Sandra mewanti-wanti ibunya.


Nyonya Caroline termenung sesaat, ia lalu mempertanyakan persiapan putrinya untuk pernikahan Sandra dan Marco.


"Apakah kamu yakin sayang, Jika rencanamu ini akan berhasil?" Tanya nyonya Caroline ragu atas tindakan nekat putrinya.


"Itulah sebabnya, mengapa aku ingin melibatkan Tante Caroline dalam rencana ini, tanpa bantuan Tante Caroline, semuanya akan menjadi sia-sia." Ucap Sandra dengan jujur.


"Masalahnya, yang kamu libatkan dalam rencanamu itu bukan saja ibu, tapi terlalu banyak orang yang kamu libatkan Sandra. Ibu takut jika tidak berjalan sesuai rencana, maka bukan cuma kamu yang akan mendapatkan hukuman dari ayahmu dan tuan Marco, tapi orang-orang yang membantumu ikut terseret saat keduanya tahu kamu berusaha menjebak mereka." Ucap nyonya Caroline kuatir.


Sandra mengernyitkan dahinya, seolah tidak percaya dengan ucapan ibunya barusan. Ia lalui berdiri dan mulai berkata kasar kepada ibu kandungnya ini.


"Bukankah Tante Caroline juga pernah menjadi seorang perwira?" Aku kira aku bisa mengandalkan Tante dalam hal ini, ternyata Tante sangat penakut untuk membantuku.


Mungkin nasibku akan berakhir menyedihkan, apabila pernikahan ini sesuai dengan rencana paman Kevin dan tuan Marco. Kalian berdua ternyata sama saja. Sama-sama ingin menghancurkan masa depanku dengan memisahkan aku dengan keluarga kecilku. Sekarang aku minta Tante Caroline, keluar dari kamarku!" Bentak Sandra pada ibu kandungnya yang begitu pengecut menghadapi kemelut yang saat ini tengah ia hadapi.


"Sandra!" Jangan berkata seperti itu, nak. Ibu bukan tidak mendukungmu atau tidak peduli dengan nasib cinta kalian berdua, hanya saja, aku sangat mengenal ayahmu dan juga kelicikan tuan Marco padamu nak." Ucap nyonya Caroline dengan memelas pada Sandra agar mempertimbangkan kembali rencana gadis ini untuk menjebak tuan Marco.


Sandra menarik tangan ibunya untuk keluar dari kamarnya. Nyonya Caroline tidak bisa berbuat apa-apa ketika putrinya mengusir dirinya dengan begitu kasar.


"Kau bukan ibuku!" Kau bahkan tidak peduli dengan kebahagiaanku. Kau dan suamimu itu hanya memanfaatkan aku demi ambisi kalian. Aku membencimu, keluar dari sini!" Teriak Sandra di depan wajah ibunya sambil mendorong tubuh ibunya dengan sangat kasar.


"Sayang, tolong dengarkan ibu sebentar!" Aku ingin kamu memikirkan konsekuensinya dari rencanamu itu yang akan membuat kamu celaka." Ucap nyonya Caroline dari balik pintu kamar putrinya.


"Setidaknya aku memperjuangkan nasib pernikahanku dan juga untuk kedua anakku dengan mempertaruhkan nyawaku. Selama ini aku hidup dengan nenek Debora dalam keadaan yang begitu papah hingga kami harus menahan lapar karena tidak punya uang untuk membeli makanan. Tapi aku masih bisa hidup sampai saat ini karena tidak mau menyerah begitu saja pada nasib malang menimpaku. Terakhir kali perjuanganku hanya dengan tubuhku yang dibeli oleh Richard yang pada akhirnya dia mau menikahiku karena cinta. Ketulusan hatinya yang merubah semua pandangan buruk dia padaku. Kini di saat aku ingin bahagia bersama keluarga kecilku, kau bahkan tidak ingin berkorban untukku karena jiwa pengecutmu itu." Ucap Sandra dari balik pintu kamarnya.


Nyonya Caroline menangis sesenggukan di depan pintu kamar Sandra. Saat ini rasa keibuannya menyentuh sanubarinya ketika mendengar caci maki Sandra pada dirinya.


Hidup Sandra yang begitu malang yang ingin memperjuangkan nasib pernikahannya hanya dengan bantuannya, namun nyonya Caroline sangat mengenal suaminya yang akan menyiksa siapa saja jika ia dikhianati walaupun itu adalah Sandra sendiri.


Dirinya ingat betul, ketika memiliki putri pertama yang di anggap suaminya adalah hasil hubungan gelap dengan salah seorang perwira angkatan laut.

__ADS_1


Dirinya disiksa sedemikian rupa dan hampir mati saat itu. Hingga akhirnya, ia bisa diselamatkan oleh hasil tes DNA putri angkatnya itu yang tidak memiliki hubungan darah antara dirinya dan juga suaminya. Dari situlah tuan Kevin merasa menyesal karena tidak mempercayai pengakuan istrinya bahwa dia tidak pernah selingkuh dengan siapapun karena putri mereka sengaja ditukar oleh seseorang.


Nyonya Caroline kembali ke kamarnya dengan air mata yang masih mengucur deras. Mendapatkan penolakan putrinya saja membuat ia sudah sangat sakit, apa lagi saat ini ketika putrinya membutuhkan pertolongannya, ia malah begitu takut untuk memulai sesuatu yang baru saja di bicarakan oleh putrinya.


"Ibu seperti apa aku ini?" Semua orang membenciku dan sekarang aku sudah mendapatkan putriku lagi tapi tidak bisa memberikan kebahagiaan untuknya." Gumam nyonya Caroline dengan penuh penyesalan.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Selama tiga bulan pertama, Sandra tinggal di rumah orangtuanya, selama itu pula Sandra tidak ingin bicara sedikitpun dengan nyonya Caroline. Ia hanya menghabiskan waktunya di kamar dengan perutnya yang kini sudah makin membesar.


Sandra menatap tubuhnya yang terpantul dari cermin yang saat ini ia pandangi. Tubuhnya makin berisi dengan pipi chubby disebabkan oleh hormon kehamilan.


"Tiga bulan lagi aku akan melahirkan bayiku. Aku bahkan belum tahu jenis kelaminnya karena lelaki tua bangka itu, tidak mengijinkan aku untuk keluar dari penjara istana ini." Umpat Sandra pada ayah kandungnya.


Tok...tok...


"Sandra, tolong buka pintunya!" Titah ayahnya.


Sandra beringsut dari tempat tidurnya lalu membuka pintu kamarnya. Sandra melihat ayahnya membawa seorang dokter spesialis kandungan yang sangat cantik dengan didampingi satu orang suster. Mereka juga membawa alat USG portabel untuk memeriksa keadaan kandungannya. Sandra membuka pintu itu lebih lebar untuk tim medis itu. Wajahnya kelihatan datar tanpa ada ucapan sama sekali dari mulutnya.


"Sandra!" Kenalkan ini dokter Elisabeth yang akan memeriksa kandunganmu.


"Permisi nona!" Apakah aku boleh memeriksa kandungan anda?" Tanya dokter Elisabeth dengan sangat ramah.


Sandra mengangkat bajunya dan dokter Elisabeth mulai mengoles jeli pada permukaan perut Sandra yang mulai membesar. Stik USG diarahkan sesuai penampakan bayinya dan Sandra melihat pergerakan bayinya. Ketika dokter Elisabeth mengarahkan stik USG ke tempat kelamin calon bayi Sandra yang ternyata berjenis kelamin perempuan.


"Selamat nona Sandra, bayi kedua anda berjenis kelamin perempuan. Semoga anda bisa melahirkan secara normal. Saya akan menuliskan resep obat dan vitamin untuk ibu hamil.


Jauhkan setress yang berlebihan dan kurangi mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat karena berat bayi anda terlihat sangat besar dan itu akan menyulitkan Anda untuk melahirkan secara normal." Ucap dokter Elisabeth namun ditanggapi dingin oleh Sandra.


"Apakah ada yang anda ingin tanyakan nona Sandra?" Tanya dokter Elisabeth setelah merapikan peralatan medisnya.


"Apakah saya harus melahirkan bayiku di rumah ini juga?" Bisakah anda mau membantuku untuk memberi tahukan kepada ayahku, kalau aku ingin melahirkan di rumah sakit karena kuatir akan kondisi bayiku yang akan mengakibatkan diriku bisa tidak selamat." Pinta Sandra dengan sedikit membujuk dokter Elisabeth.


Ketika dokter Elisabeth ingin menjawab pertanyaan Sandra, pintu kamar itu dibuka oleh tuan Kevin membuat ketiga wanita itu tersentak.

__ADS_1


"Apakah kalian sudah selesai dengan urusan kalian, apakah ada masalah dengan kandungan putriku, dokter?" Tanya tuan Kevin yang merasa dokter Elisabeth terlalu lama memeriksa kandungan putrinya.


Dokter Elisabeth mengatur nafasnya dan mengendalikan perasaan sentimentilnya pada Sandra yang terlihat membutuhkan pertolongannya saat ini.


"Maaf tuan Kevin!" Apakah saya bisa bicara berdua dengan anda mengenai kandungan putri anda?" Tanya dokter Elisabeth.


"Baiklah!" Saya akan menunggu anda di ruang keluarga." Ucap tuan Kevin lalu meninggalkan kamar putrinya.


Sandra menatap mata dokter Elisabeth dengan begitu sendu, seakan ia sedang berada di dalam bahaya.


Dokter Elisabeth yang mengetahui arti dari tatapan mata itu, hanya mengusap bahu Sandra untuk memberikan kekuatan pada gadis itu.


Dokter Elisabeth duduk di hadapan tuan Kevin dan menceritakan kondisi Sandra yang banyak sekali masalah yang ia temukan ketika memeriksa keadaan kandungan Sandra.


"Maaf tuan Kevin!" Sebaiknya nona Sandra dibawa ke rumah sakit saja untuk mengetahui kondisi pastinya gadis itu.


Saat ini tensi darahnya sangat tinggi, berat badan bayinya juga melebihi bayi normal di usia kandungannya yang baru menginjak enam bulan dan nona Sandra mengeluhkan dirinya sulit tidur di malam hari karena pinggangnya sering merasakan nyeri." Ucap dokter Elisabeth berbohong.


"Apakah harus dibawakan secepatnya atau butuh waktu dua atau tiga hari untuk bisa dibawa ke rumah sakit?" Tanya tuan Kevin.


"Bila perlu, besok tuan Kevin bisa mengantarkan nona Sandra ke rumah sakit karena besok saya praktek. Kalau hari ini saya sedang off setelah memeriksa nona Sandra. Asisten saya yang akan mengembalikan peralatan medis ke rumah sakit." Ucap dokter Elisabeth dengan tenang.


"Baiklah!" Besok kami akan mengantar Sandra untuk berobat lebih lanjut, terimakasih dokter Elisabeth untuk informasinya.


Berapa lama lagi putriku melahirkan?" Tanya tuan Kevin.


"Sekitar tiga bulan lagi tuan Kevin." Ujar dokter Elisabeth.


Setelah bahas beberapa hal dengan tuan Kevin dan juga nyonya Caroline, Dokter Elisabeth dan suster Renata pamit pulang.


Nyonya Caroline terlihat sedih mendengar kondisi kandungan putrinya yang saat ini bermasalah. Iapun ke kamar putrinya untuk menghibur Sandra.


Tuan Kevin pun demikian, ia sangat kuatir jika rencananya untuk menikahkan Sandra dengan tuan Marco akan gagal jika putrinya saat ini mengalami penyakit serius yang akan mengakibatkan kondisi fisik Sandra drop pasca melahirkan nanti.


"Sandra, ayah akan mengantarmu ke rumah sakit besok dan ingat, ikuti semua saran dokter Elisabeth jika kamu ingin melihat bayimu bisa lahir ke dunia ini dengan selamat." Ucap tuan Kevin tegas.

__ADS_1


Sandra yang mendengar penuturan ayahnya begitu kegirangan karena ia sudah berhasil meyakinkan dokter Elisabeth memudahkan rencananya untuk bisa kabur dari orangtuanya.


"Terimakasih dokter Elisabeth!" Ternyata anda bukan hanya menolong menyembuhkan pasien atau menyelamatkan nyawa para bayi dan ibunya. Tapi engkau telah menyelamatkan aku dari cengkraman ayahku sendiri." Gumam Sandra membatin.


__ADS_2