
"Selamat atas pernikahan kalian sayang!" Maafkan Tante dan pamanmu tidak bisa datang saat itu." Ucap nyonya Caroline penuh penyesalan.
"Tidak apa Tante, kami tahu paman Kevin sedang sakit, jadi tidak mungkin datang di saat itu." Balas Tuan Richard.
Tidak lama kemudian, mobil tuan Kevin berhenti di depan rumah. Tuan Richard menyambut pamannya dengan suka cita.
"Hai Richard!"
"Hai paman!"
"Apakah kamu datang bersama istrimu?" Tanya tuan Kevin.
"Dua orang wanita kita sedang membahas hal yang rahasia. Mereka berdua ada di dalam." Ucap Tuan Richard lalu memanggil istrinya.
"Sandra!" Ini paman Kevin sayang." Ucap Tuan Richard dan Sandra menengok ke arah tuan Kevin.
Lelaki tampan paruh baya itu seketika menghentikan langkahnya dan menatap wajah Sandra lebih dalam. Ia terus mengamati wajah itu tapi bingung untuk mengungkapkannya.
Hatinya mengatakan bahwa Sandra memiliki wajah yang sama dengan seseorang tapi entah itu siapa.
"Hallo paman Kevin!" Aku Sandra." Ucap Sandra lalu mengecup pipi pamannya dengan lembut.
Tuan Kevin merasakan ada sesuatu yang menariknya lebih dalam dari perasaan yang begitu bahagia mendapatkan kecupan dari Sandra. Entah mengapa ia merasa sangat terharu. Sandra yang merasa bahwa saat ini tuan Kevin sedang mengenang mendiang putrinya, berusaha menenangkan paman Kevin yang terlihat emosional dengan pertemuan mereka.
"Apakah paman baik-baik saja?" Tanya Sandra.
"Tidak apa sayang, aku terlalu bahagia hingga tidak bisa mengendalikan diri." Ucap tuan Kevin lalu menyusul istrinya ke dapur.
Tuan Richard mencium istrinya karena Sandra mampu memikat hati keduanya.
"Kamu hebat sayang!" Paman dan Tante sangat menyukai dirimu padahal kalian baru bertemu." Ucap Tuan Richard lalu melempar pandangannya ke arah laut yang membentang dari balik dinding kaca bening.
Sementara di dapur, tuan Kevin menanyakan kesan pertama istrinya pada Sandra saat keduanya baru bertemu.
"Bagaimana pendapatmu tentang Sandra, sayang?" Tanya tuan Kevin.
"Aku merasakan ada keterikatan batin antara aku dan Sandra. Aku merasa sepertinya sedang menemukan anakku yang hilang tapi itu tidak mungkin karena putri kita Anastasia sudah meninggal." Ujar nyonya Caroline yang sedang menyiapkan makan siang untuk mereka berempat.
"Berarti kita kontak batin sayang. Aku juga merasakan hal yang sama ketika Sandra mengecup pipiku seakan aku memiliki getaran yang sangat membuatku ingin menangis. Apakah karena kita baru kehilangan putri kita, jadi melihat Sandra menjadi sentimentil seperti ini." Ucap tuan Kevin.
"Tidak seperti Kevin, Sandra memiliki pesona yang luar biasa yang mampu meruntuhkan semua kesedihan kita dan berganti dengan kebahagiaan." Timpal nyonya Caroline.
__ADS_1
"Aku ingin mereka menginap malam ini di rumah kita. Kita bisa pesta barbeque di tepi pantai. Aku tidak ingin melewatkan momen spesial ini bersama Sandra, sayang." Ucap tuan Kevin.
"Kalau begitu kamu saja yang meminta mereka menginap di sini, mungkin kalau kamu yang memintanya, Sandra tidak akan menolaknya." Imbuh nyonya Caroline.
Nyonya Caroline memanggil pasangan pengantin baru itu untuk makan siang bersama.
"Sayang, ayo kita makan bersama!" Titah nyonya Caroline sambil memeluk keduanya bersamaan.
Sandra menggandeng tangan Tante Caroline sambil membicarakan suasana alam yang begitu mempesona dihadapan mereka saat ini.
"Andai saja Richard membangun rumah untukku di tepi laut seperti ini, aku akan betah tinggal di rumah." Ucap Sandra sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Benarkah kamu ingin tinggal di rumah yang berada tepi pantai, sayang?" Tanya Tuan Richard memastikan apa yang di dengarnya dari permintaan istrinya.
"Aku senang ketika berada di sini sepanjang hari ini dengan memandang laut dari rumah ini." Ucap Sandra santai kepada anggota keluarga Tuan Richard.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian tinggal di sini sambil Richard membangun rumah untukmu, sayang." Ucap nyonya Caroline seraya melirik ke arah suaminya.
"Jangan Tante!" Aku tidak ingin merepotkan kalian." Ucap Sandra yang tidak ingin menyusahkan Tante Caroline.
"Tidak apa Sandra!" Tantemu seringkali merasakan kesepian saat paman ke luar negeri karena suatu urusan. Apa lagi kami telah kehilangan putri kami satu-satunya yang membuat tantemu sering terpuruk dalam kesedihan. Jadi paman harap kalian mau menerima tawaran dari Tante Caroline. Untuk mengetahui kalian betah atau tidaknya berada di sini, sebaiknya kalian menginap malam ini di sini." Ucap Tuan Kevin.
"Terserah kamu saja sayang, karena aku sudah biasa berada di sini sebelum kita bertemu." Ucap Tuan Richard.
Nyonya Caroline dan tuan Kevin menunggu jawaban dari Sandra dengan cemas. Sandra hanya mengaduk makanannya sambil berpikir serius.
"Baiklah, untuk saat ini aku mau menginap di sini malam ini tapi untuk menetap sementara disini, nanti saja, aku akan pikirkan lagi kalau saat libur mengajar." Ucap Sandra.
"Wah, ini sangat menyenangkan." Ucap Tante Caroline lalu mencium pipi Sandra.
"Richard, kamu tidak salah memilih gadis ini. Dia adalah segalanya bagimu dan juga bagi kami saat ini." Ucap tuan Kevin sambil menyeka air matanya.
"Aku hanya berharap Sandra segera hamil anak kami paman. Jika ia meminta rumah di manapun, aku akan membangun rumah itu untuknya." Ucap Tuan Richard sedikit mengancam.
"Cih, kau ini hanya merusak mood aku saja." Sungut Sandra.
*
*
Di malam harinya dua pasangan ini sudah menyiapkan api unggun dan sea food untuk mereka barbeque malam ini.
__ADS_1
Nyonya Caroline begitu bersemangat memasak untuk mereka berempat.
Setelah beberapa saat ikan panggang dan kerang laut sudah di hidangkan. Api unggun segera di nyalakan walaupun hembusan angin laut cukup menganggu perapian itu.
Sandra dan Tuan Richard berbaring sesaat sambil melihat taburan bintang-bintang yang menghiasi langit kelam.
"Bagaimana kalau langit gelap tanpa dihuni oleh para bintang?" Tanya Sandra begitu filosofis.
"Tentunya keindahan malam tidak akan terlihat tanpa mereka." Ujar Tuan Richard.
"Bagaimana dengan hidupmu jika aku tidak ada sisimu?" Tanya Sandra lagi.
"Tentunya lebih menyedihkan dari pada langit tanpa bintang." Balas Tuan Richard.
"Sandra, Richard!" Ayo kita nikmati ikan hasil tangkapan tadi sore," ajak tuan Kevin.
Dua pasangan ini saling mengambil ikan maupun kerang dan kepiting yang sudah di buat juga oleh chef yang sengaja di sewa tuan Kevin untuk membantu istrinya memasak.
"Richard, bagaimana caramu bisa berkenalan dengan Sandra?" Padahal sebelumnya kamu mengalami kecelakaan tabrakan?" Tanya tuan Kevin penasaran.
Tuan Richard mengulum senyumnya, dan sulit untuk menjawab pertanyaan pamannya yang terlalu pribadi.
"Kami tidak sengaja bertemu di salah satu acara sebelum Richard mengalami kecelakaan paman." Ucap Sandra mengambil alih jawaban yang cukup masuk akal untuk paman dan tantenya Richard.
"Apakah sampai sekarang, kamu belum menemukan pelaku yang menabrak kamu Richard?" Tanya Tante Caroline.
"Uhuk..uhuk!" Sandra tersedak mendengar pertanyaan dari Tante Caroline.
"Belum Tante, aku malah berharap cepat atau lambat gadis brengsek itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya padaku." Ujar Tuan Richard geram.
Sandra batuk makin menjadi walaupun tuan Kevin sudah memintanya untuk meneguk air putih.
"Apakah kamu baik-baik saja Sandra?" Tanya tuan Richard kuatir.
Sandra hanya mengangguk sambil memukul-mukul dadanya dengan perlahan.
Tuan Richard segera mengusap punggung istrinya agar tidak begitu menyiksa Sandra.
"Sayang, apakah angin laut mengganggumu?" Tanya Tuan Richard kuatir.
Sandra menggeleng dan terlihat ingin menangis. Hatinya begitu sakit setiap kali mendengar ancaman suaminya yang secara tidak langsung ditujukan kepada dirinya.
__ADS_1