
Sandra meneguk air putih untuk kesekian kalinya. Setiap keindahan alam yang saat ini dilihatnya berubah gelap dan menyedihkan seperti laut yang tidak bisa lagi di pandang lebih jauh karena terhalang kegelapan.
Posisi Sandra saat ini makin tersudut. Kebahagiaan yang ia rasakan saat ini selalu terselip dengan masalalunya yang akan mengubah masa depannya menjadi hancur.
"Apakah pernikahan ini salah?" Apakah aku harus mencoba lagi untuk berkata jujur bahwa akulah pelakunya?" Sandra terlihat gelisah lalu pamit kepada Tante dan pamannya untuk ke kamar.
"Tante Caroline, Sandra mau ke kamar dulu. Dada Sandra tiba-tiba terasa sakit." Ucap Sandra lalu meninggalkan keluarga itu.
Tuan Richard mengejar istrinya yang berjalan sendirian tanpanya. Tuan Richard ikut masuk ke kamar dan mendapati Sandra sedang tidur telungkup.
"Sayang!" Apakah kamu perlu dokter untuk memeriksa keadaan kamu?"
"Tidak perlu Richard!" Aku hanya ingin sendiri, bolehkah kamu meninggalkan aku di kamar aku sendiri?"
"Sandra!" Sepertinya kamu sedang sedih, apakah kami melukai perasaanmu?" Tanya Tuan Richard.
"Aku hanya ingin sendiri dan saat ini aku sedang merindukan nenek Debora." Ujar Sandra berbohong.
"Sandra!" Mengapa setiap kali kalau aku membahas pelaku tabrakan itu, sikap kamu terlihat berbeda. Apakah kamu mengenal pelakunya?"
Duaaar....
Sandra membalikkan tubuhnya menghadap suaminya saat ini yang sedang duduk di sampingnya.
"Bukankah aku pernah bertanya kepadamu, bagaimana kalau akulah pelakunya?" Mengapa kamu tidak mempercayai aku?" Tanya Sandra kesal.
"Sandra!" Mengapa kamu terkesan ingin melindungi si jala*g itu?"
"Aku tidak melindungi siapapun karena akulah pelakunya Richard. Akulah yang saat itu.....? Sandra menghentikan ucapannya ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
__ADS_1
Tok...tok..!" Pintu diketuk oleh nyonya Caroline yang sedang membawa obat herbal untuk Sandra.
"Ah, sial!" Setiap kali aku sedang serius, selalu saja ada godaan seperti ini." Gerutu Sandra.
Tuan Richard membuka kamarnya." Iya, Tante!" Sapa Tuan Richard ramah.
"Richard!" Tante bawakan obat herbal untuk istrimu agar batuknya sedikit berkurang dan terhindar dari radang." Ucap nyonya Caroline seraya menyerahkan obat itu pada Tuan Richard.
"Terimakasih Tante Caroline!" Ucap Tuan Richard lalu menutup lagi pintu kamarnya.
Tuan Richard memberikan obat herbal untuk diminum Sandra. Gadis itu meneguk obatnya sampai tandas.
"Sebaiknya kamu tidur sayang!" Besok pagi kita harus pulang karena perjalanan cukup jauh." Tuan Richard menyelimuti tubuh istrinya dan mengecup bibir itu sekilas.
Ia lalu keluar dari kamar menuju bar tender untuk mengambil Vodka. Tuan Kevin ikut menemaninya dan merasakan ada yang tidak beres dengan ponakannya.
"Ada masalah Richard?" Tanya tuan Kevin sambil menuangkan Vodka ke dalam gelasnya.
"Bagaimana kalau dia sedang mengatakan yang sebenarnya, Richard?" Tanya tuan Kevin memancing reaksi dari Tuan Richard.
"Paman, aku tidak ingin mempercayai itu suatu bentuk kebenaran. Sandra tidak mungkin nekat mendatangi aku yang saat itu aku masih buta dan memanfaatkan keadaanku karena aku tidak bisa melihat apa-apa hingga aku jatuh cinta padanya dalam kebutaan ku." Ucap Tuan Richard lalu menenggak lagi minumannya.
"Richard, sebenarnya bagaimana pertemuan pertama kalian?" Pasti kalian berdua belum pernah bertemu sebelum kamu mengalami kebutaan.
"Saat itu, aku begitu depresi paman. Aku meminta Teddy untuk mencari seorang gadis perawan yang belum tersentuh oleh lelaki manapun.
Sebenarnya aku tidak yakin kalau Teddy bisa menemukan gadis perawan di kota kita. Tapi entah mengapa dia benar-benar membawanya untukku.
Tapi saat itu, aku ingin langsung meniduri Sandra. Aku ingin memastikan gadis itu bohong atau tidak dengan menunda melakukan percintaan panas kami sampai aku bisa melihat lagi.
__ADS_1
Ironisnya, saat aku bisa melihat lagi, Sandra di kabarkan mengalami kecelakaan helikopter saat di evakuasi dari zona ekstrim karena cuaca buruk yang mengakibatkan salju menutupi semua jalanan.
Tiga tahun aku tidak pernah mendengar kabar kematiannya, hingga akhirnya, secara tidak sengaja aku bertemu dengannya di acara amal untuk pendidikan dan kebetulan Sandra mengajar di salah satu perguruan tinggi di mana kampus itu selalu menerima bea siswa untuk mahasiswa berprestasi.
Aku membawanya pulang kembali ke Amerika dan menikahinya. Aku menyaksikan sendiri gadis itu masih suci di malam pengantin kami." Ucap Tuan Richard secara gamblang kepada tuan Kevin.
"Apakah saat itu, dia sedang kesulitan ekonomi hingga menerima tawaran Teddy untuk menghiburmu saat itu?" Tanya tuan Kevin penasaran.
"Saat itu, dia masih sangat muda dan baru melanjutkan kuliah. Karena terbentur biaya, dia nekat menerima tawaran itu dan itu sangat membuat aku tidak tega melakukannya. Karena aku sangat mencintainya, akhirnya aku memilih melakukannya di malam pengantin kami." Ucap Tuan Richard.
Tuan Kevin menghela nafasnya yang terasa sangat berat. Ia sedang merenung apa yang saat ini sedang terjadi kepada Sandra. Ia yakin gadis itu tidak bohong, kalau dirinya lah yang menyebabkan Tuan Richard menjadi buta.
"Sandra!" Betapa malangnya nasibmu, nak." Gumam tuan Kevin lalu menenggak minuman vodka untuk kesekian kalinya.
Entah mengapa, ia juga merasakan kepedihan yang saat ini Sandra rasakan. Ia yakin Sandra sedang butuh kekuatan untuk mencurahkan isi hatinya yang penuh dengan rahasia.
"Richard, apakah cintamu yang begitu besar bisa memaafkan istrimu sendiri nantinya." Ucap tuan Kevin dalam diamnya.
"Paman Kevin, aku ke kamar dulu." Ucap Tuan Richard lalu berjalan sempoyongan menuju kamarnya.
Setibanya di kamar, ia melihat tubuh istrinya dengan gaun tidur yang tersingkap. Tuan Richard mencium bibir istrinya dengan beringas dan mengigit bibir itu hingga bibir Sandra berdarah.
Sandra tidak kuat lagi dengan ciuman Tuan Richard yang begitu kasar dengan percintaan mereka yang tidak lagi lagi merasakan kelembutan seperti biasanya. Sandra mendorong tubuh suaminya sekencang mungkin hingga Tuan Richard jatuh dari tempat tidurnya.
"Richard, ini sakit sayang." Keluh Sandra sambil merasakan darah yang mengalir dari bibirnya.
Tuan Richard tidak menggubris keluhan kesakitan istrinya. Ia malah membungkam bibir istrinya dengan ciuman membabi buta. Lidah Sandra dihisap begitu kuat.
Ia pun jatuh terkapar disebelah tubuh Sandra lalu tidur begitu saja tanpa mempedulikan istrinya yang sangat merasakan kesakitan saat ini.
__ADS_1
Begitu banyak memar di tubuh Sandra dengan sudut bibir yang terlihat berdarah. Miliknya yang terasa begitu perih karena lecet dari permainan brutal suaminya.
"Apakah dia mulai percaya dengan perkataanku bahwa akulah pelakunya?" Aku yang telah menyebabkan matanya buta saat itu. Tuan Richard, jika kamu sudah mengetahuinya, mengapa kamu mengingkari kebenaran dari ku yang sesungguhnya." Gumam Sandra sambil terisak di sudut tempat tidur.