
Braja yang mempunyai keahlian ilmu sirep langsung mengeluarkan ajiannya. Namun sebelumnya Karendra yang memiliki ilmu perlindungan diminta untuk melindungi semua saudaranya agar tidak terpengaruh dengan ajian sirep milik Braja.
Karendra membuat sebuah benteng transparan yang begitu tipis. Tentu saja tidak bisa dilihat orang dari luar. Namun dari dalam terlihat ada gurat cahaya putih dan biru yang mengambang.
Sedangkan Braja, ia duduk bersila. Kemudian ia merapal kan mantra dan menghembuskan ajian sirep ke arah para murid dari padepokan lain.
Wussss
Sebuah asap putih muncul dari mulut Braja. Lambat laun satu persatu dari mereka yang ada di atas bukit itu jatuh tertidur di tanah. Keempat saudaranya pun tersenyum. Sambil mengangkat jempol mereka masing masing. Ya, mereka memutuskan untuk pergi dan lari dari pertandingan ini seperti usulan Wardani.
Syuuuut
Tap tap tap
Kelima anak muda itu langsung turun melompat dari atas tebing. Pertama tama Wardani mengusulkan untuk berjalan ke arah sungai. Mereka akan menyisir sungai. Wardani yakin, ia akan menemukan jalan keluar jika berjalan menyusuri sungai. Ide Wardani di setejui oleh semuanya.
" Tapi dinda, ini sungguh sangat gelap," ucap Lingga sambil memegang erat pedangnya untuk berjaga jaga.
Wardani tersenyum, ia pun memanggil temannya itu.
Bluuuum
" Ada apa gadis kecil?"
__ADS_1
Ke empat pria itu sungguh terkejut kembali melihat macan putih bertanduk berada di hadapan mereka. Bahkan Karendra sampai jatuh terjerembab di tanah karena saking terkejutnya.
" Jangan takut, aku dan dia sudah berteman baik."
Lingga menelan saliva nya dengan susah payah. Kata berteman baik sungguh tidak mudah diucapkan saat ini. Terlebih binatang mistis itu berdiri kokoh dan tentu saja menakutkan di depan matanya.
"Simo, aku mau minta tolong. Bisakah kau membawa kami semua ke tepian sungai? Aku khawatir kami akan ketahuan kalau tidak segera sampai di sana."
Macan yang dipanggil Simo oleh Wardani itu mengangguk mengerti. Pufff, tiba tiba macan putih itu berubah menjadi tiga kali lebih besar dari ukuran aslinya. Simo langsung merunduk meminta ke lima anak muda itu naik ke punggungnya. Semua tampak ragu kecuali Wardani. Gadis itu naik terlebih dulu dengan santainya. Sedangkan keempat pria itu masih berdiri mematung.
" Ayo kakang kakang, kita harus bergegas agar tidak ketahuan. Kalau kita kelamaan disini takutnya mereka sadar kita tidak lagi ada di sana."
Ucapan Wardani tentu saja benar. Mereka pun menghilangkan keraguan mereka. Keempat pria itu segera menyusul naik ke punggung macan tanduk putih yang dipanggil Simo tersebut.
" Apakah kita ini tidak terlihat Simo?"
" Ya kau benar gadis kecil. Dengan kalian berada bersamaku maka aku bisa menyamarkan keberadaan kalian. Bahkan bau kalian pun tidak akan tercium sekalipun oleh anjing yang punya penciuman tajam."
Semuanya menghela nafas lega. Sungguh keberadaan macan putih bertanduk ini membawa keuntungan bagi mereka.
Simo melesat dengan cepat untuk menuju ke tepian sungai sesuai keinginan Wardani. Mereka tidak bisa membuang waktu berlama lama di dalam hutan Larangan.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Pagi hari suasana atas bukit sungguh ramai. Setelah terbangun dari tidurnya para murid dari ke empat padepokan lainnya tidak mendapati murid murid dari padepokan Pedang Sakti.
Awalnya mereka pikir karena mereka tengah membuang hajat, namun hingga para perwakilan dari penyelenggara pertandingan tiba mereka tak kunjung terlihat. Tentu saja hal tersebut membuat semua orang kebingungan. Para penyelenggara pertandingan mencari mereka hingga sejauh 150 kaki namun tetap tidak terlihat tanda-tanda kehidupan dari para murid Padepokan Pedang Sakti.
Kabar hilangnya kelima murid Padepokan Pedang Sakti sampai juga di pendopo Kadipaten Gendingan. Seorang utusan melaporkan hal tersebut. Terang saja Balaajaya murka. Bagaimana bisa para murid itu pergi meninggalkan area pertandingan.
" Keparat, benar benar anak anak tidak tahu diri dan tidak tahu diuntung. Bocah bocah dari keluarga miskin saja berani berbuat begitu kepada ku. Ini sungguh mencoreng wajah ku."
Balaajaya berbicara dalam hati. Memang tidak ada yang tahu tujuan sesungguhnya Balaajaya membawa kelima murid itu. Jika soal kemampuan, memang ada yang lebih unggul dari mereka. Namun Mahesa sungguh sungguh pemuda yang berbakat meskipun dari keluarga miskin.
Bukan hanya sang pemimpin padepokan, Projo sebagai guru mereka pun tak kalah bingung. Namun perasaan Projo adalah sebuah kekhawatiran. Bukan seperti Balaajaya yang murka karena dipermalukan.
Adipati Ranawijaya pun akhirnya membatalkan perhelatan akbar ini. Dia tidak mungkin melanjutkan kegiatan ini saat ada murid yang hilang. Adipati juga meminta seluruh padepokan untuk kembali ke daerah masing masing.
Namun Balaajaya menolak dengan alasan muridnya masih belum diketahui keberadaannya.
" Maaf Ki, anda tetap harus kembali. Urusan di Kadipaten Gendingan ini biarlah menjadi urusan kami. Orang dari kadipaten ini tentu lebih paham mengenai seluk beluk daerah ini. Jadi kami lah yang akan menemukan mereka."
Balaajaya sebenarnya masih ingin mengajukan keberatan. Namun Projo segera menghalang. Projo memberi nasehat bahwa sebaiknya mereka segera kembali ke padepokan. Kadipaten Gendingan mungkin tidak memiliki ilmu bela diri yang mumpuni. Namun keadaannya yang netral malah menjadi daerah ini tak tersentuh. Terlebih kadipaten ini berada di awah pengawasan langsung dari Kerajaan Astana.
Mau tidak mau Balaajaya bersama Projo kembali ke Padepokan Pedang Sakti. Keduanya masih saling bertanya sebenarnya kemana kelima murid itu pergi. Apakah mereka benar benar pergi ataukah terbunuh?
TBC
__ADS_1