
Balaajaya mengumpulkan kelima muridnya yang sudah dipilih untuk berlatih. Padahal waktu masih menunjukkan tengah malam. Namun Balaajaya tidak peduli. Projo pun sudah berusaha untuk mengatakan bahwa sebaiknya latihan di mulai esok hari saja dan membiarkan murid murid itu untuk beristirahat dengan tenang malam ini.
Tapi apalah daya, omongan abdi sepertinya tentu saja tidak masuk dalam pertimbangan Balaajaya yang memang memiliki sikap keras kepala. Apa yang dia mau maka harus segera terlaksana tanpa ada penolakan sama sekali.
" Apa kalian mengantuk?" tanya Balaajaya.
" Tidak Ki!" jawab kelima murid itu dengan keras dan bersemangat.
Pertanyaan lantang Balaajaya dijawab tak kalah lantangnya oleh kelima murid tersebut. Jika boleh dibilang mereka masih anak anak. Karena rentang usia mereka 15-17 tahun. Sebenarnya jika boleh jujur anak anak itu memang mengantuk. Akan tetapi karena mereka mengetahui akan diberi pengajaran langsung dari pemimpin padepokan seketika itu juga rasa kantuk mereka lenyap.
" Bagus, aku akan mengajari kalian sebuah jurus rahasia. Jika kalian mau maka tinggallah di sini. Jika tidak kalian bisa kembali ke kamar untuk tidur, namun hal tersebut berarti kalian tidak akan bisa mengikuti pertandingan, atau dengan kata lain tempat kalian akan diganti."
Terang saja kelima anak itu memilih untuk tinggal. Kapan lagi mereka bisa dibimbing langsung oleh ketua padepokan. Hal itu pasti lah merupakan kebanggan bagi mereka. Terlebih selama ini memang Balaajaya tidak pernah turun langsung untuk mengajari murid muridnya.
" Baiklah, dengan diamnya kalian aku anggap kalian setuju berlatih malam ini juga bersamaku. Hal yang perlu kalian lakukan adalah berendam di air di kolam belakang padepokan. Di sana aku akan mengalirkan tenaga dalam ku kepada kalian."
Kelima murid itu pun langsung berlari menuju kolam. Balaajaya tersenyum puas namun tidak dengan Projo dan Sangga. Kedua orang itu saling pandang dan menghembuskan nafas mereka dengan kasar.
" Guru, apa ini tidak apa apa? Aku sungguh khawatir dengan anak anak itu. Ilmu kanuragan mereka baru tingkat 3 jika dipaksa menjadi tingkat 5 dan 6 apakah tidak akan berbahaya bagi tubuh mereka?"
Projo hanya diam, ia sendiri tidak tahu mau bagaimana nanti hasilnya anak anak itu. Ucapan Sangga tentu saja semuanya benar. Tapi lagi lagi ia tidak bisa melakukan apapun. Apa yang jadi keinginan Balaajaya adalah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
" Kita lihat saja dan terus awasi. Ingat untuk memanggil tabib, minta dia membuatkan pil obat untuk menambah kesehatan anak anak itu. Bilang saja pada tabibnya sesuai resep yang sudah ku katakan."
" Baik guru, sendiko dawuh."
Sangga langsung berlari menuju tempat tabib padepokan itu berada. Tanpa menunggu pagi, Sangga membangunkan sang tabib. Membuat pria yang sudah tidak muda lagi itu sedikit terkejut.
__ADS_1
" Ono opo to le. Ini tengah wengi lho masihan"
" Ini lho, mbah tabib. Guru Projo memintaku memberitahu mbah untuk membuat pil untuk menjaga kesehatan anak anak yang sedang berlatih dengan Ki Balaajaya."
Mbah tabib pun mengangguk mengerti. Jika Projo yang meminta dibuatkan obat khusus itu berati memang snagat dibutuhkan. Mbah tabib tersebut pun langsung bangkit dari tidurnya dan langsung mulai meramu rempah rempah. Sedangkan Sangga bernafas lega. Ia pun meninggalkan Mbah Tabib dan menuju kolam belakang padepokan. Ia kemudian berdiri di sebelah sang guru.
" Apa yang mereka lakukan sekarang guru?"
" Entah, kita lihat saja nanti. Tapi sepertinya Ki Balaajayaa akan ikut masuk ke dalam kolam juga."
Keduanya memperhatikan apa yang akan terjadi setelahnya. Dan benar saja, Balaajaya ikut masuk ke dalam kolam. Ia mulai merapalkan mantra dan meniupkan sesuatu dari mulutnya. Keluar sebuah cahaya berwarna merah keunguan. Cahaya tersebut ia arahkan ke kolam dan seketika air dalam kolam tersebut berubah warnanya menjadi seperti cahaya tadi. Semua murid tentu saja terkejut, pun dengan Sangga dan Projo.
" Tetap gokus, jangan meleng!"
Ucapan Balaajaya membuat kelima murid tersebut kembali fokus dan memusatkan pikirannya. Tiba tiba tubuh kelima nya bergetar. Ada sesuatu ynag menelusup ke aliran darah mereka.
Kelima anak itu mengerang bahkan hampir berteriak. Namun mereka berusaha untuk menahannya. Pembuluh darah mereka seakan mau pecah rasanya. Tubuh mereka seperti mendidih, rasanya sungguh tidak karuan saat ini.
" Rasakan di setiap aliran darah kalian. Tetap pusatkan pikiran kaluan pada tubuh kaluan. Berusahalah mengendalikan hal tersebut. Bawa apa yang menjalar di tubuh klaian ke otak."
Murid murid ituencoba melakukan apa yang dikatakan Balaajaya. Mereka bahkan tak lagi merasa dingin berendam di air tengah malam tersebut.
" Kalian akan ada di sini sampai kalian bisa menguasai apa yang saat ini berada di dalam diri kalian. Jika kalian berhasil maka aku bisa memastikan kalian akan semakin kuat."
Setelah mengatakan hal tersebut, Balaajaya pun keluar dari kolam itu. Sedangkan Sangga dan Projo sejenak merasa kasiah dengan kelima anak yang berada di sana. Terlihat wajah kesakitan ada pada mereka.
" Guru apa ini tidak keterlaluan."
__ADS_1
" Mau bagaimana lagi, yang penting kita awasi saja. Jangan sampai mereka terluka. Cepat beri pertolongan kalah ada diantara mereka yang jatuh tak sadarkan diri."
Sangga mengangguk patuh. Hanya kepada Projo lah dia berani berpendapat. Dia tahu betul apa resiko melawan Balaajaya.
Keduanya duduk di bibir kolam sembari mengawasi kelima murid tersebut. Baik Projo maupun Sangga mereka tidak boleh meleng sedikitpun dari kelima anak muridnya.
Terbukti saat Projo hendak menuju sumur karena harus buang air kecil tiba tiba salah satu dari muridnya itu jatuh pingsan. Projo langsung melompat ke arah bocah tersebut dan menangkap tubuhnya.
Pyuk
Air dalam kolam itu bercipratan keluar karena tekanan dari tubuh Projo.
" Sangga cepat lari minta obat ke mbah tabib."
Tanpa berkata Sangga sudah melesat pergi dan kembali dengan begitu cepat. Beruntung pil obat tersebut sudah selesai dibuat sehingga bisa langsung diminumkan kepada kelima murid itu. Ya, semua diberi pil obat. Bukan hanya yang pingsan saja.
Projo dan Sangga bernafas lega karena anak yang pingsan dan hampir jatuh di kolam tadi langsung tersadar. Projo dan Sangga kembali ke atas kolam. Mereka tidak mau jika Balaajaya mengetahui apa yang keduanya lakukan.
" Guru, ini sungguh sangat berbahaya. Apakah mereka akan aman hingga akhir?"
" Aku tidak tahu Sangga. Ini memang sangat berbahaya, tapi lagi dan lagi kita tidak bisa berbuat apapun. Saat ini yang bisa kita lakukan hanya menjaga mereka. Wes kui tok Ngga."
" Sendiko dawuh guru."
Sangga mendudukkan tubuhnya. Di samping kolam, ia sungguh merasa kasihan melihat murid muridnya yang mulai menggigil kedinginann dan bergetar menahan aliran ajian yang Balaajaya berikan kepada mereka.
TBC
__ADS_1