
Sampai malam datang, belum ada satupun tanda-tanda kehadiran manusia di bukit Wono Ageng. Damar mendengus pelan, sesaat ia teringat dnegan saudara-saudara seperguruannya. Kira-kira bagaimana mereka menghadapi malam di hutan Larangan itu.
Damar mengambil sebuah kesimpulan bahwa mungkin dia merupakan orang yang beruntung karena dapat menemukan token tersebut di hari pertama dan tentunya paling cepat.
" Wulung, apakah semua temanku akan baik-baik saja di dalam hutan saat malam begini?"
" Kalau mereka menemukan sebuah tempat berlindung seperti gua, cerukan batu, atau akar besar yang membentuk sebuah lobang maka mereka akan baik-baik saja. Jika tidak aku hanya khawatir munculnya binatang malam seperti ular dan yang lainnya. Mereka cukup beracun."
Damar menyadari hal tersebut. Sungguh ia begitu mengkhawatirkan teman-temannya.
" Bisakah kita menyusul mereka?"
" Tck, jangan aneh-aneh. Kau juga tidak tahu dimana mereka berada saat ini. Tetap diam di sini. Tidurlah dan tunggu kedatangan mereka."
Damar membuang nafasnya dengan kasar. Apa yang dikatakan Wulung benar bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.
Damar pun kembali melanjutkan istirahatnya. Ia mencoba memejamkan mata untuk tidur tapi tidak bisa juga. Rasa khawatirnya memenuhi seluruh hati dan pikirannya.
Sedangkan di dalam hutan Larangan, salah satu teman Damar yang bernama Saka tengah kebingungan mencari tempat beristirahat. Sebelum malam menjelang Saka berhasil mendapatkan token. Ia mendapatkan token tersebut di sebuah pohon yang melengkung ke arah jurang. Dengan penuh kehati-hatian Saka berhasil mendapatkannya meski hampir saja ia kehilangan nyawanya karena dahan yang dia jadikan pijakan tiba-tiba patah. Beruntung tangan kirinya sigap berpegangan dan Saka berhasil kembali ke atas dengan selamat.
" Sudah malam, aku tidak mungkin bisa melanjutkan perjalanan menuju bukit Wono Ageng. Aku harus cari tempat istirahat. Tapi dimana? Tidak tampak adanya gua di sekitar sini."
Sebisa mungkin Saka mencari, tapi tetap ia tidak bisa menemukannya. Akhirnya Saka memilih untuk memanjat pohon dan beristirahat di atas pohon tersebut.
" Baiklah, aku akan tidur sejenak. Semoga tidak ada yang mengganggu. Besok aku harus segera meninggalkan hutan ini. Apakah Damar dan lainnya sudah menemukan token mereka ya? Semoga sudah."
__ADS_1
Saka pun mulai menyandarkan tubuhnya di pohon besar tersebut dnegan posisi duduk di dahan. Tidak lupa ia mengikat tubuhnya dengan sebuah tali tak kasat mata. Tali tersebut sebenarnya adalah sebuah pecut/cambuk yang ia dapatkan dari latihan ilmu kanuragannya. Hal tersebut ia lakukan karena ia khawatir terjatuh saat tidur nanti.
πΏπΏπΏ
Kertawijaya dari tadi terus melamun. Wajah Indira begitu terngiang-ngiang di pelupuk matanya. Padahal dia baru kali ini melihat Indira. Tapi seakan mereka sudah berkenalan lama. Sang kakak Adipati Ranawijaya pun menatap heran dengan tingkah adiknya.
" Rayi, apa yang kau pikirkan hmmm?"
" Eeeh ... Bukan apa-apa kakang. Hanya saja tadi tidak sengaja bertemu seorang murid dari padepokan Resik Jiwo."
Ranawijaya mengerutkan alisnya. Murid dari padepokan Resik Jiwo bukannya semua sedang bertanding? Lalu siapa yang ditemui sang adik? Begitulah arti tatapan Adipati Gendingan tersebut.
Kertawijaya yang paham akan tatapan sang kakak langsung menjelaskan mengenai Indira. Ranawijaya kemudian ingat saat malam hari kelompok dari Mahesa itu datang ada seorang gadis yang ikut bersama mereka.
" Ohhh ya, kakang paham sekarang. Ya, gadis itu katanya mengantar sang kakang. Saking sayangnya dia terhadap kakangnya makanya dia ikut ke Kadipaten Gendingan ini. Jangan-jangan kau menyukai gadis tersebut?"
Ranawijaya sesaat terdiam. Kadipaten Gendingan ini terkenal dengan daerah yang netral dimana masyarakatnya tidak ada yang pergi berguru ke sebuah padepokan dari dulu. Dan hal tersebut terjadi sudah turun temurun.
" Entahlah, kakang tidak bisa menjawab pertanyanmu itu Kertawijaya. Sejak dulu kita tahu mengenai apa yang terjadi di masyarakat kita. Tapi ada satu cara yang membuatmu bisa pergi ke padepokan."
" Apa itu kakang?"
" Menikah. Kau bisa pergi ke padepokan manapun jika kamu bisa menikahdengan salah satu murid padepokan tersebut."
Glek
__ADS_1
Kertawijaya menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Masa iya, hanya untuk pergi berlatih dan berguru di padepokan dia harus menikah terlebih dahulu? Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mendesahhkan nafasnya engan mat berat.
" Sudahlah kakang. Mungkin aku memang harus berada di sini seumur hidupku."
Setelah mengatakan hal tersebut, Kertawijaya melenggang pergi menuju ke bilik nya. Wajah pemuda itu begitu lesu. Sedangkan Ranawijaya ia hanya menatap punggung sang adik dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ada sebuah rasa tidak berdaya yang menyelimuti drinya.
" Apakah aku perlu memohon kepada Gusti Prabu Akilendra untuk mengubah peraturan yang ada di Kadipaten Gendingan ini? Tapi apakah bisa, mengingat peratauran itu sudah ada dari jaman dulu."
Ranawijaya membuang nafas perlahan sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Banyak hal yang memang perlu dipertimbangkan mengenai peraturan turun menurun yang ada di kadipaten Gendingan ini. Sebenarnya ada sisi buruknya jika kadipaten Gendingan masyarakatnya tidak bisa menguasi ilmu beladiri. Hal tersebut membuat daerah ini akan mudah ditindas. Meskipun kadipaten ini berada di bawah perlingungan langsung Kerajaan Astana.
Akan tetapi yang namanya hidup tidak ada yang tahu. Bagaimana jika Astana di serang, bagaimana jika Astana jatuh? akankah Gendingan masih bisa berdiri atau malah akan hancur karena ketidak mampuannya mempertahankan diri?
Hal tersebut berputar dalam pikiran dan benak Ranawijaya. Sepertinya ia benar-benmar perlu berbicara kepada Prabu Akilendra mengenai ilmu beladiri yang belum menyentuh daerah ini. Terselip harapan, di Pertandingan selanjutnya Gedingan tidak hanya sebagai penonton saja melainkan bisa ikut bertanding bersama.
Ranawijaya membulatkan tekadnya untuk berbicara mengenai masalah ini kepada Prabu Akilendra. Ia akan menyampaikan saat pertandingan ini selesai di gelar.
Di bilik nya, Kertawijaya kembali mengingat pertemuannya dengan Indira. Ia mengingat kembali kata-kata sang kakang.
" Suka? Apakah aku menyukai dinda Indira? Tapi aku baru pertama kali bertemu. Masa iya aku menyukai gadis itu?"
Kertawijaya tak habis-habisnya bergumam dan menyebut nama Indira. Ia sendiri tidak yakin dengan pa yang ia rasakan.
" Menikah? Apakah benar aku harus menikah baru bisa berguru di padepokan? Tapi siapa murid padepokan yang mau menikaahi pria lemah seperti aku ini. Para gadis murid sebuah padepokan pastilah menginginkan pria yang kuat dana memiliki ilmu kanuragan yang melebihi dirinya untuk dijadikan suami. Lha aku, aku hanyalah butiran debu, tidak ada apa-apanya bahkan dengan mereka sekalipun. huuuft."
Kertawijaya mendengus pelan. Ia kemudian membaringkan tubuhnya di dipan miliknya itu. Matanya menatap langit-langit atap rumahnya. Lagi, wajah Indira membayang sempurna di sana sehingga membuat Kertawijaya terkejut.
__ADS_1
" Aku pasti wis edan!"
TBC