
Putaran ke tiga babak terakhir pertandingan besar di atas bukit Wono Ageng di mulai kembali. Kali ini hanya menyisakan 4 orang saja. Damar dan Saka dari padepokan resik Jiwo akan menjadi lawan. Sedangkan Padepokan Pecut Jiwo dan Keris putih akan melawan satu sama lain.
" Baiklah, mari kita mulai pertandingan ini. Aku harap kalian masih mengingat peraturan yang sudah kusampaikan sebelumnya. Para peserta silahkan menempatkan diri di tenag pelataran. Pada hitungan ketiga maka kalian bisa langsung memulai. satu ... dua ... tiga!!!"
Di sisi sebelah kanan murid dari padepokan pecut Jiwo dan Keris putih langsung mengeluarkan senjata mereka masing masing. Sebuah keris dengan panjang setengah depa itu terlihat kokoh dan bercahaya. Sungguh berbeda dari keris kebanyakan. Pecut Jiwo yang di sabetkan juga memiliki getaran yang cukup kuat hingga tanah seakan bergerak saat sabetan pecut tersebut mengenai tanah.
Syuuuut ... tak
Pecut tersebut berhasil mengenai lawan namun bisa dihadang dengan keris putih. Kedua senjata tersebut saling beradu. Jika keris mengeluarkan cahaya putih kebiruan seperti kilat, pecut lawan mengeluarkan sebuah cahaya kuning keemasan. kedua cahaya tersebut seperti saling beradu.
Blaaaaammmm
Sebuah suara seperti ledakan timbul saaat kedua senjata tersebut seakan tak mampu lagi beradu. Kedua pemilik sampai terpental hingga terjerembab di tanah.
Namun keduanya masih sama sama belum menyerah dan mengaku kalah hingga murid dari pecut jiwo behasil mengenai tubuh lawan dan menggulungnya menggunakan pecut tersebut lalu melemparnya ke atas dan buuugh... murid dari keris putih terjatuh.
" Cukup ... saya menyerah."
Suara sorakan memenuhi atas bukit saat pemenang di sisi sebelah kanan sudah diketahui yakni murid dari pecut Jiwo. Murid tersebut pun mendekat menghampiri murid dari keris puih lalu mengulurkan tangannya untuk membatu murid tersebut berdiri.
Ranawijaya tersenyum simpul. inilah yang dia inginkan yakni tidak adanya saling hasut dan menjatuhkan lawan. Meskipun mereka bertanding , kalah menang adalah hal biasa namun pertemanan sebaiknya selalu dipupuk.
Balaajaya yang sudah tidak sabar ingin segera pulang karena anak muridnya tidak ada yang maju ke putaran selanjutnya tiba-tiba urung. Matanya menelisik setiap ggerakan demi gerakan murid yang masih sama-sama berdiri tegak tersebut. Ya, yang Balaajaya saksikan adalah Saka dan Damar, sesaat Balaajaya merasa tidak asing dengan jurus-jurus yang dipakai oleh keduanya. Tapi semakin Balaajaya berpikir maka ia semakin kesal karena hal itu tadi, muridnya tidak ada satupun yang lolos.
" Apakah aden sudah mau kembali?"
" Tidak! Aku masih ingin di sini. kenapa sih kamu Projo kayaknya kamu sangat tidak suka aku berada di temat ini. Apa jangan-jangan ada yang kamu sembunyikan dariku?
" Tentu tidak den. Saya hanya takut aden merasa bosan."
__ADS_1
Projo membuang nafasnya perlahan. Hampir saja Balaajaya curiga dengan apa yang ia katakan. Projo harus sangat hati-hati dalam berucap,
Hiaaaat
Syuuuuut
Trang ... trang ... Trang
suara kedua pedang saling beradu. Meskipun keduanya bukan berasala dari padepokan pedang sakti namun gerakan pedangnya sungguh luwes dan indah. Beberapa pasang mata bahkan melihat Saka dan Damar dengan tatapan kagum.
" Aku akan menyerang mu Saka."
" Silahkan Damar, jika begitu aku juga tidak akan sungkan."
Seperti yang sudah dikatakan, Damar pun melakukan sebuah serangan dengan merapalkan mantra terlebih dahulu hingga membuat pedang pitu miliknya yang semula hanya sebuah bilah pedang biasa kini menjadi pedang dengan kilat cahaya putih kebiruan. Entah memang pedang pitu sudah tahu atau memang Damar sengaja, identitas pedang pitu benar-benar tidak diketahui oleh siapapun. Pedang yang dipakai Damar benar-benar seperti pedang biasa yang tengah dimantrai sehinga muncul sebuah kekuatan spiritual dari ilmu kanuragan milik Damar.
Pun dengan Saka, ia juga merapalkan mantra sehingga pedangnya mengeluarkan kilat cahaya keemasan. kini keduanya saling beadu pedang. Namun bukan lagi suara pedang yang saling bergeskan namun lebih seperti suara dentuman saat kedua pedang tersebut betemu satu sama lain.
Blaaaaaam
Jeduaaaar
Sebuah ledakan terjadi saat kedua pedang tersebut bergesekan lalu Damar dan Saka sengaja melempar arah serangan kesebuah batu besar yang ada di sana hingga batu tersebut pecah berkeping-keping. Hal tersebut dilakukan agar orang-orang yang berada di atas bukit tidak terkena oleh percikan ledakan yang dihasilkan kedua pedang tersebut.
Damar tersenyum simpul begitu juga dengan Saka. Adipati Ranawijaya melihat kedua anak tersebut. ia kemudian mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia tahu kedua anak tersebut bakan belum benar-benar bertarung. Jika ini terus dibiarkan bahkan sampai besok pagi pun tidak juga akan ditemukan pemenangnya.
Akhirnya Ranawijaya menemukan sebuah gagasan. ameskipun ini sedikit beresiko namun ia harus mengeluarkannya. Ia bsa merasakan, kedua anak itu pasti tidak mau menyakiti satu sama lain.
" Sepertinya aku harus mengubah peraturan untuk kedua anak dari Padepokan Resik Jiwo tersebut. Paman, sepertinya kali ini kau benar-benar mengujiku dengan dengan kedua muridmu itu."
__ADS_1
Ranawijaya semakin yakin dengan pedapatnya bahwa ketua perguruan Resik Jiwo adalah orang yang ia kenal. Orang yang pernah memberinya ilmu kanuragan dan pernah membimbingnya dalam berlatih beladiri meskipun hanya sebentar. Namun Ranawijaya berhasil mengembangkan itu sehingga tanpa orang luar tahu dia memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni namun tersembunyi dan tidak bisa diketahui oleh orang lain.
*
*
*
Di padepokan Resik Jiwo seorang pengawal bayangan menhaddap Ki Prama atau Ki Manggala. Pengawal bayangan yang di tmpatkan Ki Pramadana di sekitar kedua anak dan murid-muridnya itu tengah melapor mengenai keadaan terkini. Walaupun Ki pramasendiri sebenarnya sudah tahu karena dia menggunakan ajian melepas sukma untuk bisa melihat sendiri apa yang terjadi di Gendingan
" Hormat Tuanku!
Utusan dengan pakaian serba hitam itu datang di hadapan Prama seperti kilat yang tidak diketahui oleh orang lain selain Prama. Pria tersebut berjongkok dengan mnopang satu angannya di lutut sambil menunduk memberi hormat.
" Bangunlah, sudah ku bilang tidak perlu memberi hormat resmi begitu. Katakan apa yang terjadi."
" hamba yakin tuanku sudah mengetahui apa yang terjadi di sana namun hamba tetap harus mengatakannya. Saya rasa Projo dan Adipati Ranawijaya sudah mengetahui identitas Den muda dan uanku."
Pramadana terdiam, ia memang sudah tahu akan hal itu namun ia cukup tenang karena baik Projo maupun Ranawijaya masih diam dan tidak bereaksi yang berlebihan. dengan hal itu Pramadana berkesimpulan mereka akan membantu menyembunyikan identitas Damar. Tadinya Pramadana sempat khawatir akan keberadaan Damar di sana. Namun siapa sangka kalau Wardani benar-benar punya gagasan bagus untuk mengubah wajah mereka demi menyamarkan siapa mereka sebenarnya.
" Aku mengerti.Awasi pergrakan balaajaya. Walaupun ia terkesan acuh aku yakin dia mulai bertanya-tanya saat ini mengenai Damar. pasalanya tidak dapat dipungkiri jurus yang aku ajarkan pasti akan sdikit dikenali dan memncing rasa penasaran pria itu. Kembalilah kesana sesegra mungkin."
" Baik Tuanku. Hamba mohon pamit."
Syuuut
Dalam sekejam mata pengawal bayangan Pramadana itu sudah tidak ada di sana. Ternyata dia pun menggunakan ajian misah sukmo yang berarti raga dari pengawal bayangan itu tetap berada di sana tapi sukma nya bisa ada di hadapan Pramadana.
" Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi dengan kalian di sana. Balaajaya, jika kau bernai menyentuh seujung rambutpun putraku maka aku tidak akan membiarkanmu melihat matahari setelah itu."
__ADS_1
TBC