Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Hal mengejutkan


__ADS_3

Perkataan pedang pitu tentu saja membuat Damar berpikir. Bagiamana dia bisa menyimpan pedang sepanjang satu depa itu kedalam tubuhnya. Damar menyeringai, ia kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Baginya itu merupakan sebuah saran yang gila.


Kau sungguh tidak percaya padaku? duduklah dan fokuskan pikiranmu hanya padaku.


Padahal menurutnya itu adalah sebuah saran yan tak masuk akal, namun entah mengapa ia menurut saja dengan apa yang diminta oleh pedang pitu. Damar pun duduk bersila dengan kedua telapak tangan yang ia tangkup kan di depan dadanya. Damar kemudian memusatkan pikirannya hanya pada pedang pitu. Secara tiba tiba ada sebuah kekuatan yang masuk kedalam tubuhnya yang membuat Damar sedikit terjengkang.


Pemuda itu pun membuka matanya seketika. betapa ia terkejut saat tidak menemui pedang pitu yang ia letakkan tadi di pangkuannya.


" Kemana, pedangku?"


Damar sungguh panik. Dia bahkan membuka sebuah lemari kayu kecil yang ada di bilik nya. Ia pun mencari hingga ke kolong dipan, namun pedang pitu juga tidak ada.


Hahaha dasar bocah, aku sudaha masuk ke tubuhmu. Mau kau cari sampai ujung bumi pun tidak akan kau temukan.


" Kau, bagaiman bisa? terus bagaimana aku nanti mengeluarkan mu?'


Panggil saja namaku maka aku kan muncul di tangan mu.


Damar mengerti, namun karena dia tidak ingin gagal nanti ia pun mencoba memanggil pedang pitu. Dan benar saja, pedan tersebut sudah berada di tangannya. Damar pun tersenyum senang. Permasalahan mengenai pedang pitu ini akhirnya bisa ia dan pedang pitu selesaikan.


Kini Damar bisa bernafas lega. ia pun kemudian membaringkan tubuhnya dan beristirahat seperti apa yang paman gurunya minta.


Sedangkan di luar Wardani bersama Mahesa dan Lingga tengah berbincang dengan begitu serius. Mereka sedang mengkhawatirkan Damar tentunya. Bagaimana jika dia dikenali oleh orang orang. Terlebih dulu guru besar mereka Ki Wira merupakan seorag yang cukup termasyur di dunia persilatan terlebih dulu saat Ki wira sebagai pemimpin, Padepokan Pedang Sakti merupakan padepokan terkuat yang pernah ada. Setia peraturan dalam dunia persilatan bahakan diambil berdasarkan keputusan oleh Ki Wiradarma.


" Bagaimana ini kakang?" tanya Wardani sedikit cemas pasalnya hanya tinggal hari ini mereka memikirkan cara agar identitas Damar bisa disamarkan.


Mahesa dan Lingga terdiam. Keduanya berpikir mengenai hal tersebut hingga Lingga menemukan sebuah usulan.


" Bagaiamana kalau begini saja."


Lingga pun kemudian menyampaikan gagasannya kepada Mahesa dan Wardani. Keduanya mengangguk setuju, namun sekarang yang jadi pertanyaan adalah bagaimana menyampaikan pada anak itu tentang gagasan tersebut. Mereka tentunya harus memiliki alasan yang tepat bukan. tidak mungkin mereka asal melakukan hal tersebut kepada Damar kalau tidak ada alasannya.

__ADS_1


🌿🌿🌿


Di padepokan kadipaten, Ranawijaya tengah termenung memikirkan pa yang ia lihat semalam. ia yakin wajah anak itu sungguh mirip dengan Ki Wira pemimpin padepokan Pedang Sakti sebelum Balaajaya.


" Lapor den."


" ya, apa kau sudah mendapatkan apa yang aku mau, coba katakan."


" kelompok yang semalam kita lihat adalah guru dana murid dari padepokan Resik Jiwo. Padepokan tersebut termasuk masih baru karena baru berdiri sekitar 10 tahun silam. Dan yang kita lihat itu memang lah Mahesa dan kawan kawannya. mereka semua menjadi guru di padepokan tersebut. Kepala padepokan tersebut adalah Ki Pramadana."


Padepokan Resik Jiwo? Ki Pramadana? sungguh nama nama tersebut belum pernah ia dengar sebelumnya. Namun menurut informasi lanjutan yang Wiryo katakan, dalam sepuluh tahun tersebut Padepokan Resik Jiwo memiliki banyak murid. Dan anehnya muridnya itu dari berbagai usia. Jika padepokan pada umumnya hanya menerima murid usia belia tapi tidak dengan padepokan tersebut.


Ranawijaya tambah semakin bingung. Ia semakin penasaran dengan kekuatan ilmu dari murid murid padepokan resik Jiwo.


" Oh iya Wir, bukannya setiap padepokan hanya mengirim 5 murid? Tapi kemarin ku lihat ada 6."


" Ampun den, gadis itu tidak ikut dalam pertandingan. ia hanya ikut menemani sang kakang. Menurut kabar, kakak adik tersebut merupakan putra dan putri pemimpin padepokan."


" Hmmm menarik, sepertinya akan ada hal yang menarik yang akan kita lihat di pertandingan besok. bersiaplah Wiryo, akan banyak kejutan nantinya."


jika aku tidak salah tebak, orang yang bernama Ki Prama adalah paman guru


manggala. karena beliau adalah orang yang terakhir membawa benda pusaka pedang pitu. Jika itu benar aku sungguh tidak sabar melihat kemampuan anak itu. Tapi aku ragu kalau pemuda itu putra Paman Manggala, dia lebih terlihat seperti Ki Wiradarma.


Ranawijaya tidak mau banyak berpikir dulu. Saat ini yang harus a pastika adalah jalannya pertandingan agar tidak ada suatu hal yang salah dan kurang tepat.


*


*


*

__ADS_1


Di tempat lain Projo yang begitu rindu akan murid muridnya bertekad untuk menemui mereka malam ini juga. Ia sungguh tidak sabar ingin menanyakan bagaimana mereka bisa menghilang hari itu. Sebagai gurunya, tentu Projo sangat khawatir. Bahkan Projo sempat berpikir bahwa murid muridnya itu meninggal.


Akan tetapi saat melihat Mahesa saat ini, Projo yakin mereka hidup degan baik. Oleh karenanya, dia ingin segera bertemu dengan Mahesa dan yang lainnya.


" Sangga!"


" Njiih Guru."


" Aku akan keluar sebentar jagalan murid murid ini. Biarkan mereka tidur setelah selesai makan. Ini sebagai penebus atas kelelahan yang mereka rasakan saat di padepokan akibat berlatih."


" Njiih guru sendiko dawuh."


Projo melenggang keluar penginapan. Senyumnya mengembang sempurna saat ia memikirkan pertemuannya dengan para muridnya. Projo terus berjalan semakin jauh dari tempatnya menginap.


Tuplak tyuplak tuplak


Sebuah kereta kuda memasuki jalan kadipaten. Projo memicingkan matanya, jalan yang diterangi obor tersebut tampak temaram, namun ia masih bisa melihat kereta kuda yang berjalan semakin mendekat menghampirinya.


Seketika wajah Projo memucat ketika mengetahui pemilik si kereta kuda. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya seperti tercekat, sungguh ia merasa kesulitan bernafas saat ini.


Pria paruh baya itu pun mencoba mengatur pernafasannya. ia mengambil nafasnya dalam dalam dan mengeluarkannya perlahan. lambat laun udara bisa memasuki tubuhnya dan membuat pria itu kembali bisa menguasai dirinya.


" Den, mengapa malam malam begini kemari."


" Heh, memangnya aku tidak boleh kemari? aku pemimpi Padepokan Pedang Sakti, dan besok adalah pembukaan pertandingan tentu saja aku harus datang."


" Bukannya kemarin aden bilang tidak mau datang?"


" Tck berisik, bawa aku ke tempat kalian menginap."


Projo mendengus kesal. Ia sungguh tidak tahu mengapa orang ini tiba tiba memutuskan ingin datang. Seketika perasaan takut menyerang ke sekujur tubuhnya. Ia sungguh khawatir keberadan Balaajaya akan membahayakan Mahesa beserta yang lainnya.

__ADS_1


Aku harus mencari cara untuk dapat memberitahu mereka mengenai keberadaan Balaajaya. ya, harus.


TBC


__ADS_2