Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Wilayah Singgi Luhur


__ADS_3

Pagi buta, matahari belum muncul namun suara kokokkan ayam sudah menggelegar, semua murid padepokan Resik Jiwo sudah berkumpul di halaman. Mereka semua ingin melepaskan kepergian kelima murid untuk melakukan pertandingan besar yang diadakan di kadipaten gendingan.


Mereka tidak jadi berangkat tadi malam, Mahesa mempertimbangkan kelelahan para murid yang hari kemarin masih berlatih. Jika mereka berangkat semalam, tentu saja badan mereka tidak akan beristirahat dengan baik. Lagi pula perjalanan yang ditempuh hanya sehari semalam, masih ada sehari lagi sebelum hari pertandingan dimulai.


" Nduk, benar kamu mau ikut," tanya Nyi Sumbi kepada anak peremouannya.


" Injih bu, Indira mau ikut. Lagian ada bibi Wardani, nanti Indira akan tidur bersama bibi guru," jawab indira penuh keyakinan.


Nyi Sambi hanya mengehela nafasnya. Sebenarnya wanita paruh baya itu sungguh berat melepas putrinya. Melepas Damar saja berat ini Indira malah juga ingin ikut, meskipun tidak ikut bertanding.


" Baiklah apa kalian semua siap?" tanya Lingga kepada kelima anak itu yang dijawab anggukan. Kelima anak itu pun berpamitan kepada teman temannya dan tentu saja kepada guru besar mereka, Ki Prama. Orang terakhir yang berpamitan kepada Ki Prama tentu saja Damar.


" Le, ingat ya. Hati hati. Lindungi benda pusaka mu. Dia akan menjadi berbahaya jika berada di tangan yang salah. Romo merasa pertandingan besok tidak akan sesederhana kelihatannya. Jika benar terdesak panggil romo."


" Njiih romo, sendiko dawuh. Damar akan berhati hati."


Ki Prama memeluk Damar dengan erat, begitu juga Nyi Sambi. Meskipun Damar tidak terlahir dari perutnya tapi air susunya mengalir ke dalam tubuh putranya itu. Ada rasa berat di hati Nyi Sambi saat melepaskan Damar.


" Ibu, aku akan baik baik saja. Ibu jangan khawatir ya."


Seakan tahu kekhawatiran Nyi Sambi, Damar pun kembali memeluk sang ibu. Nyi Sambi mengangguk, wanita itu mencium kepala Damar yang tinggi badannya sudah melampauinya.


Kelima anak tersebut di tambah dengan Indira memasuki kereta kuda bersama dengan Wardani. Sedangkan Mahesa dan Lingga menunggang kuda mereka. Mahesa akan berada di depan kereta dan Lingga berada di belakang kereta. Hal tersebut bertujuan untuk lebih mengamankan anak anak yang berada di kereta.


Di dalam kereta beberapa anak kembali tertidur. Pagi masih begitu gelap membuat mereka tentu saja masih mengantuk. Bahkan Indira pun ikut tidur juga dengan kepala berada di pangkuan Wardani. Namun tidak dengan Damar, pemuda itu sepenuhnya terjaga. Bahkan sesekali ia melihat keluar kereta melalui jendela yang ada di sana.


" Tidak tidur le?" tanya Wardani.


" Belum mengantuk bibi. Semalam Damar tidur lebih awal juga, jadi sekarang mata sudah terlihat lebih segar," jawab Damar sembari tersenyum.


Lambat laun langit berubah menjadi terang. Cahaya matahari menelisik di sela sela pepohonan. Suara burung burung bersaut sautan menandakan pagi yang menjelang. Kusir kereta pun berhenti sejenak untuk mematikan obor di sisi depan dan di sisi belakang kereta. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Kadipaten Gendingan.


Perjalanan tersebut lancar bebas hambatan hingga mereka hendak memasuki sebuah daerah yang bernama Singgi Luhur. Kusir kereta yang bernama Wibawa tiba tiba menghentikan keretanya membuat Mahesa dan Lingga sedikit heran.


" Ada apa paman Wibawa?" tanya lingga penasaran.


" Memasuki wilayah Singgi Luhur kita harus hati hati Den Mahesa. Daerah ini terkenal dengan rampok nya," jelas Wibawa.


" Baik paman, aku akan memberitahu kepada semua orang."

__ADS_1


Wibawa mengangguk, Mahesa pun membalikkan kuda nya untuk berjalan ke belakang memberitahukan apa yang paman kusir katakan. Wibawa sendiri bukanlah kusir sembarang kusir. Dia merupakan orang kepercayaan Ki Prama yang sengaja ditugaskan untuk mengawal anak muridnya.


" Semua waspada di depan mungkin akan ada ucapan selamat datang dari si empunya daerah yang kita lewati."


Semua yang berada dalam kereta tentu saja paham maksud yang tersirat dari ucapan Mahesa. Semua murid padepokan Resik Jiwo memegang erat pedang mereka sebagai tanda kewaspadaan.


" Jangan takut, tetap waspada!"


Wardani memperingatkan ke enam anak tersebut. Ini pertama kali mereka keluar dari padepokan. Hal hal seperti ini belum pernah mereka hadapi sebelumnya. Tampak wajah wajah gelisah dari anak anak itu. Tetapi Damar tidak. Anak itu malah mengintip pada sebuah celah yang berada tepat dibelakang kusir sehingga ia dapat melihat keadaan di jalan depan kereta.


Hanya sekelompok orang bodoh. Jangan risau, mereka tidak sebanding dengan mu.


Suara yang masuk ke telinganya itu hanya membuat Damar tersenyum tipis. Bagaimana pun ia harus hati hati. Damar merasa ia punya kewajiban melindungi semua orang yang berada di sini. Bahkan termasuk paman dan bibi guru nya.


Tuplak tuplak tuplak


Suara kaki kuda diikuti roda kayu kereta itu berjalan semakin masuk ke dalma daerah Singgi Luhur. Semua memasang kewaspadaan.


" Mangsa baru!"


" Sudah lama tidak mendapatkan yang seperti ini. Tampaknya mereka adalah orang berada ketua."


Dan benar saja, sekelompok rampok itu sudah mengawasi saat pertama kali rombongan Mahesa memasuki Singgi Luhur. Mereka sungguh tersenyum lebar karena akan mendapatkan barang buruan yang bagus. Kelompok rampok itu tentu tidak tahu jika rombongan kereta tersebut adalah sekelompok murid padepokan. Yang mereka pahami adalah rombongan kereta kuda itu adalah orang orang kaya yang memiliki banyak emas.


" Kita diintai, kalian semua bersiap."


Peringatan Ki Wibawa, begitulah anak anak murid memanggil sang kusir tersebut langsung membuat semua yang ada dalam kereta bersiap siap dengan kondisi menyerang.


Syuuuuuh


Hap


Tap tap tap


Ngiiiiik


Kuda meringik saat berhenti mendadak karena ada beberapa orang yang tiba tiba berdiri di hadapan mereka. Lebih tepatnya mengepung mereka.


" Kalian berada di daerah kekuasaan kami. Serahkan harta benda kalian, baru kalian bisa keluar dari sini."

__ADS_1


Seorang pria dengan badan tinggi besar dan rambut ikal panjang dengan sebuah gada besar ditangan kanannya berdiri di tengah jalan menghadang kuda Mahesa.


Mahesa dengan sopan turun dari kuda dan menatap wajah pria besar itu dengan seksama.


" Maaf kisanak, kami bukanlah orang kaya yang memiliki harta benda yang kalian inginkan. Kami hanya sekumpulan murid yang sedang melakukan perjalanan."


" Jangan banyak omong, cepat serahkan apa pun yang kalian miliki. Atau aku akan mengubur mayat kalian di sini sekarang juga."


Mahesa masih berusaha untuk menjelaskan keadaan mereka yang memang tidak memiliki harta benda. Bagaimanapun ia merasa tidak harus berurusan dengan sekelompok rampok ini. Namun sepertinya perundingan yang ia lakukan percuma, karena anak buah pria besar itu mulai menyernag Lingga dan murid murid nya di belakang.


" Anda sungguh salah memilih lawan kisanak."


Hiaaat


Wuuuuus


Buk tap tap


Damar seketika melompat keluar dari kereta membuat Mahesa dan Lingga sungguh terkejut. Wibawa yang tadinya sudah bersiap untuk melawan juga sedikit tertegun dengan apa yang Damar lakukan.


" Jangan sekali kali kalian berani menyentuh saudara saudaraku."


" Tck, dasar bocah ingusan mau sok sok an jadi pahlawan. Serang!"


Hiaaaaat


Syuuuut


Trang trang trang


Bugh


Bugh


Kedebug


Arghhhh!!!


TBC

__ADS_1


__ADS_2