Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Tidak Akan Mudah


__ADS_3

Malam hari kadipaten Gendingan tampak ramai. Suara kereta kuda saling saut bersautan. Satu per satu rombongan dari setiap kadipaten sudah mulai memasuki gerbang Kadipaten. Adipati Ranawijaya tersenyum puas. Perhelatan akbar yang akan diadakan 2 hari lagi rupanya membuat semua penduduk ikut menyambut gembira. Bagaimana tidak, mereka secara tidak langsung juga bisa mendagangkan hasil bumi mereka dan lainnya. Kadipaten Gendingan terkenal dengan kain tenun yang mereka buat. Bahkan Raja Akilendra begitu menyukainya. Ini merupakan kesempatan bagus untuk tambah mengenalkan kain tersebut kepada para tamu dari luar daerah.


" Kakang,"


" Kau, mengapa belum tidur?"


" Sengaja, siapa tahu bisa lihat wanita cantik dari padepokan padepokan itu."


Ranawijaya langsung mengeplak kepala sang adik, membuat pemuda 18 tahun itu meingis. tentu saja ia hanya asal mengatakan hal tersebut. Bagaimana mungkin dia berani mendekati pendekar pendekar wanita tersebut. Kertawijaya masih sadar diri bahwa kemampuannya sangat jauh dibanding para murid padepokan.


" Lha malah melamun. jangan merasa rendah diri begitu. Kakang tahu apa yang kau pikirkan. Kamu hebat dengan kemampuan yang kamu miliki saat ini. Jadi jangan berkecil hati."


Kertawijaya tersenyum mendengara ucapan sang kakak. Ranawijaya sungguh tahu apa yang dirasakan oleh adiknya.


" Baiklah kakang, aku sebaiknya tidur. Besok gadis gadis cantik itu pasti akan lebih terlihat jelas wajahnya. Dan aku tidak mau wajah tampan ku terlihat lesu saat bertemu mereka besok."


RanaWijaya hanya menggelengkan kepala nya pelan mendengar ucapan adiknya tersebut. Kertawijaya memang dikenal dengan bocah yang periang dan mudah akrab dengan siapa saja. Dia berharap Kertawijaya akan banyak mendapatkan teman nanti.


Adipati Gendingan itu masih duduk di pendopo nya. Ia mengambil nafasnya dalam dalam dan membuang perlahan. Ia sungguh berharap bahwa semua akan baik baik saja dan pertandingan lusa dapat berjalan sebagai mana mestinya.


Pria itu pun segera masuk, namun ia urung ketika Wiryo tiba tiba datang menghadap.


" Ada apa Wir?"


" Ampun den, ada sedikit masalah mengenai penginapan?"


" Maksudmu?"

__ADS_1


Wiryo pun menjelaskana duduk permasalahannya. Ada dua padepokan yang datang bersamaan dan mereka menginginkan sebuah penginapan di sebelah danau yang berada di Gendingan. Mereka sama sama kukuh ingin tinggal di situ.


Ranawijaya menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia memijit pangkal hidungnya yang serasa berdenyut. Ia melupakan hal kecil seperti ini. Dimana hal kecil seperti ini nantinya akan menjadi besar.


" Ayo kita ke sana."


Wiryo mengangguk, ia kemudian berjalan bersama dengan Ranawijaya menuju penginapan yang berada di samping danau. Tempat itu memang sangat cantik, karena kita bisa melihat danau dari jendela bilik penginapan. Terkadang akan ada angsa juga yang berenang disana.


Ketika Ranawijaya datang, adu mulut masih terjadi dari kedua utusan padepokan tersebut. Diketahui keduanya berasal dari Padepokan Alas Wangi dan Padepokan Pecut Jiwo. Ya, dalam perhelatan Akbar ini semua padepokan bisa ikut. Jika dulu hanya padepokan besar saja kini tidak. Semua murid padepokan bebas dan berhak mengikuti pertandingan.


" Maaf tuan dan puan, ada yang bisa saya bantu?"


" Akhirnya kau datang juga Adipati. Lihatlah orang dari Alas Wangi ini, sudah jelas kami yang datang pertama, berarti kami yang berhak atas tempat ini."


" Mana bisa, kami datang lebih dulu dari pada Pecut Jiwo."


Jika para dewasa tengah merebutkan tempat, para anak anak dari kedua padepokan itu malah asik bercengkrama. Mereka tampak akrab satu sama lain.


" Ekhem, apakah sudah yang berebut. Jika sudah saya akan mengatakan suatu hal. Penginapan ini begitu luas dan terdapat dua sisi, yakni sebelah kiri dan kanan dimana keduanya tidak saling bersinggungan karena ditengah tengah terdapat pendopo kecil sebagai pembatas. Mengapa kedua guru tidka sama sama menempati penginapan ini. Lihatlah, anak murid kalian saja tidak ribut. Mereka terlihat berteman akrab dengan yang lain."


Keduanya terdiam, mereka lalu menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Adipati tersebut. Keduanya tentu sedikit terkejut, saat mereka tengah ribut untuk berebut para muridnya malah saling bicara dengan akrab.


Ada rasa malu yang menghampiri mereka. Keduanya sudah dewasa tapi malah berlaku seperti anak kecil. Akhirnya keduanya pun saling meminta maaf dan sepakat menggunakan tempat itu bersama dengan catatan tanpa mengganggu kegiatan satu sama lain.


Ranawijaya tersenyum, ia pun bernafas lega karena permasalahan ini berakhir dengan damai. Ia bersama Wiryo sang tangan kanan pamit undur diri dan kembali ke kediaman.


" Untung den, masalahnya cepat selesai."

__ADS_1


" Kau benar Wir, tapi tetaplah berwaspada karena masalah masalah kecil begini pasti akan datang lagi. Tinggal bagaimana kita akan menghadapinya."


Wiryo mengangguk, selama menjadi tangan kanan Ranawijaya ia selalu kagum dengan setiap cara pria itu menghadapi masalah. Tenang, hati hati namun selalu tepat. Ranawijaya tidak pernah terburu buru dalam bertindak. Kabar burung beredar, Ranawijaya merupakan Adipati yang disayangi oleh Raja Akilendra. Bahkan Raja Akilendra hendak menikahkan adiknya dengan penguasa Gendingan itu. Namun dengan tegas Ranawijaya menolak.


Ranawijaya tentu sadar diri. Ia merasa tidak pantas berdampingan dengan adik Raja Akilendra.


Den Ayu Cadudasa Pramesti adalah wanita yang cantik dan anggun. Banyak pangeran kerajaan tetangga yang menginginkan Putri Cadudasa untuk menjadi istri. Namun entah mengapa baik Raja Akilendra maupun Putri Cadudasa tidak terlalu menggubris. Pernah dikatakan bahwa mereka menginginkan Putri kerajaan Astana itu hanya untuk sekedar menaikkan pamor kerajaan mereka. Mengingat Astana merupakan kerajaan besar.


Namun terlepas dari itu semua sungguh Ranawijaya tidak mau ambil pusing. Ia sudah cukup senang dengan kehidupannya disini. Rumah yang sejak kecil ditempatinya. Ia tidak mau terjadi gesekan yang mengakibatkan semuanya gempar saat menerima pinangan Raja Akilendra.


Saat hampir sampai di kediaman miliknya, langkah Adipati terhenti ketika melihat sebuah tombongan yang baru sampai. Mereka tengah di antar oleh orangnya menuju sebuah penginapan.


" Wir, ada yang baru datang sepertinya?"


" Iya den, apa perlu saya memeriksanya."


" Tidak, aku akan menyapanya sendiri."


Ranawijaya urung masuk, ia kembali melenggang menuju penginapan dimana rombongan itu berada. Ia merasa tidak asing dengan wajah wajah para orang dewasa hingga dia yakin bahwa ketiga orang itu dulu pernah ada di sini untuk ikut pertandingan juga. Meski sudah lewat belasan tahun, Ranawijaya tidak lupa akan Mahesa dan kawan kawannya.


Namun ada yang menarik perhatian Ranawijaya saat para murid satu persatu keluar dari kereta kuda yang mereka naiki. Tatapan Ranawijaya terkunci pada salah satu pemuda disana.


" Ki Wira, mengapa wajahnya seperti ki Wira. Lalu itu ... Astaga. Apakah itu benar pedang pitu?"


Ranawijaya bergumam pelan. Tubuhnya terhuyung dan hampir terjatuh. Beruntung Wiryo menahan tuannya tersebut. Seketika kepala Ranawijaya berdenyut.


" Sungguh kali ini pasti tidak akan mudah," ucap Ranawijaya sembari mendengus lelah.

__ADS_1


TBC


__ADS_2