
Damar begitu mudahnya menarik bilah pedang tersebut dari sarungnya. Bahkan tanpa mengeluarkan tenaga apapun anak laki laki tersebut mempu menarik pedang pusaka yang dinamakan pedang pitu. Mengapa dinamakan pedang pitu, nanti hal tersebut akan diketahui seiring berjalannya latihan yang akan Damar lakukan.
Ki Prama masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. mungkin jika dia hanya mendengar cerita mengenai apa yang Damar lakukan, ia pun tidak akan percaya.
" Apakah begini romo?"
" Ya benar memang seperti itu. Itu sudah sangat benar."
Ki prama masih benar benar terpana dengan gerakan santai dan sederhana yang dilakukan Damar saat menarik pedang.
" Le, sekarang coba gunakan pedang itu untuk berlatih. Ingat, tanpa mengalirkan tenaga dalam sama sekali. lakukan yang seperti tadi dan kemarin."
Damar mengangguik, ia pun menggunakan pedang yang dipinjamkan oleh Ki Prama untuk berlatih. Damar mulai mengayunkan pedangnya, pelan tapi pasti.
" Sungguh indah, bahkan sangat indah."
Tanpa adanya emosi dan tenaga dalam yang dialirkan oleh Damar, pedang pitu dapat meliuk dengan indah. Terdapat getaran saat pedang dihentakkan. Ki prama sempat terkejut, ia sungguh tidak menyangka. Damar yang menggunakan pedang pitu tanpa aliran tenaga dalam ini malah bisa mengeluarkan tenaga asli pedang tersebut. Ki Prama bahkan sampai menganga melihat ketrampilan Damar yang tidak dimiliki oleh siapapun bahkan ayahnya dan dirinya saat muda dulu.
Ki Prama pun sampai saat ini tidak bisa melakukan apa yang Damar lakukan. ia menggunakan pedang pitu pun harus menggunakan tenaga dalam karena akan sulit menggerakkan pedang tersebut.
Hiaaaat
Syuuut
Syuuut
Kretaaaak bruk
Syuuuut
Blaaaam
Damar terkejut. Saat ia mengayunkan pedangnya, sebuah pohon yang ada depannya tiba tiba patah dan tumbang. Keterkejutan Damar masih berlanjut saat sebuah batu besar memunculkan suara menggelegar dan batu tersebut hancur.
" Romo, maafkan aku. Aku sungguh tidak menggunakan tenaga dalam saat menggerakkan pedang ini."
Damar sedikit takut dengan apa yang ia lakukan. Ia benar benar mengikuti apa yang diperintahkan romo nya. Sedangkan Ki Prama tersenyum, nampaknya Pedang Pitu benar benar menemukan tuannya. Hal tersebut bisa dilihat dari reaksi pedang pusaka tersebut. Pedang Pitu begitu menurut dan bahkan mengeluarkan tenaganya sendiri tanpa si pengguna berusaha mengeluarkannya.
" Tidak apa apa le, kamu tidak perlu minta maaf. Kamu tidak salah. Pedang Pitu telah mengakui mu sebagai tuannya. Kini pedang itu menjadi milikmu sepenuhnya."
__ADS_1
" Tapi, bukankah ini pedang milik romo?"
Ki Prama menggeleng pelan, ia pun menjelaskan bahwa Pedang Pitu adalah benda pusaka yang dititipkan kepadanya. Ia akan memberikannya kepada seseorang yang memang tepat untuk memiliki pedang pusaka tersebut. Dan, Pedang Pitu memilih tuannya sendiri.
" Simpanlah le. Sekarang dia milikmu. Benda pusaka Pedang Pitu ini sekarang adalah milikmu sepenuhnya."
" Apa benar begitu? Terimakasih romo, terimakasih. Tapi mengapa namanya Pedang Pitu jika wujudnya hanya satu."
" Kamu akan mengetahuinya nanti."
Damar mengangguk, meskipun ia tidak paham tapi paling tidak ia sungguh merasa senang dengan apa yang ia miliki itu. Pedang indah dan kuat menjadi miliknya.
" Le?"
" Ya Romo?"
" Ingat, jangan sombong. Tulus lah dalam memiliki dan tentunya rendah hati. Jika kamu sombong dan congkak maka pedang itu akan berubah menjadi alat pembunuh yang keji."
Glek, Damar menelan ludahnya dengan begitu susah payah. Rupanya ada syarat yang harus dipenuhi untuk bisa memiliki dan menggunakan pedang tersebut dengan aman.
" Ba-baik romo. Aku akan berusaha, mohon bimbingan romo. Ingatkan aku jika aku sudah di luar kendali."
Ki Prama mengusap kepala Damar dengan lembut. Dalam lubuk hatinya yang terdalam ia meyakini bahwa Damar akan bisa memiliki Pedang Pitu dengan sangat baik.
Damar terus berkelanjutan alias konsisten dengan tidak menyalurkan tenaga dalam ataupun ilmu kanuragan saat berlatih Pedang pitu. Remaja itu berhasil sabar dan tidak buru buru untuk mencobanya.
Hal tersebut berbanding lurus dengan yang ada di Padepokan Resik Jiwo. Mahesa dan Lingga mengajari ke empat murid muridnya dengan begitu sabar dan welas asih sehingga mereka merasa latihan ini bukanlah beban. Keempat remaja tersebut begitu bersemangat setiap Lingga maupun Mahesa menunjukkan ilmu baru, baik ilmu pedang ataupun ilmu kanuragan. Saat ini mereka berempat tengah menuju tingkat ilmu kanuragan yang ke empat.
Jika kemarin saat pertama kali latihan mereka masih di tahap awal, kini mereka telah siap di tahap menengah. Dan, semua itu terjadi dengan alamiah. Keempat bocah itu dengan pasti merasakan aliran tenaga yang besar dalam diri mereka. Terlebih saat mereka berlatih satu sama lain. Mereka dapat merasakan sebuah lonjakan energi dalam diri saat melawan musuh.
" Waaah guru Mahesa mengapa sepertinya aku tambah bertenaga," ucap salah satu anak itu.
Mahesa tersenyum, hal ini lah yang diinginkan Ki Prama yakni mereka menuju tingkat ilmu kanuragan tanpa diketahui.
" Apa kalian merasa ada sesuatu yang lain dalam diri kalian?" tanya Mahesa yang dijawab anggukan kepala oleh keempat anak murid itu.
" Hahaha bagus. Selamat kalian saat ini sudah naik tingkat. Dari tingkat awal menjadi tingkat menengah yang pertama yakni di tingkat empat."
" Waaah, apakah benar begitu guru?"
__ADS_1
" Ya benar."
Keempat remaja itu bersorak sorai bahagia. Sungguh mereka tidak menyangka akan bisa menaikkan tingkat kanuragan dengan waktu yang relatif cepat.
" Eist ingat, jangan sombong dan congkak. Dan teruslah berlatih."
Keempat anak itu mengangguk mengerti. Mereka kemudian kembali memfokuskan pikirannya untuk berlatih. Mereka mengingat pelajaran pertama dan utama di Padepokan Resik Jiwo yakni tidak boleh mempunyai sifat sifat yang buruk dalam hati seperti sombong, iri, dengki, dan lain sebagainya.
Berlatih dengan tulus dan ikhlas maka semuanya akan mengikuti dengan sendirinya. Baik kekutan, kemampuan, penguasaan terhadap pelajaran semua akan di dapat jika bisa selalu mengendalikan diri terhadap keinginan dan hasraat duniawi.
Hiaaat
Hiyaaa
Syuuuy
Trang trang trang
Syuuuut duagh
Bugh
Bugh
" Ingat!! Jnagan berambisi untuk mengalahkan lawan. Fokus untuk melindungi diri. Cari titik kelemahan lawan. Gunakan hati kalian!"
Keempat murid tersebut paham. Kali ini mereka berlatih untuk melawan teman mereka. Sesuai petunjuk, mereka bisa menyalurkan ilmu kanuragan mereka ke pedang namun diarahkan ke sebuah batu atau pohon agar tidak melukai teman latihan.
Syuuut wussss blammm
Jeduaaaar
Syuuut wussss kreteeeek
Bruaaak
Sebuah suara batu yang terbelah dan pohon tumbang mengiringi latihan anak anak itu. Mahesa dan Lingga saling tatap dan tersenyum puas.
" Mereka sungguh luar biasa kakang," ucap Lingga kagum.
__ADS_1
" Ya rayi, mereka benar benar mengikuti setiap perintah dan hasilnya sungguh luar biasa. Anak anak ini memiliki bakat yang akan menjadikan mereka pendekar yang mumpuni," sahut Mahesa.
TBC