
Damar benar-benar waspada saat Balaajaya berubah dalam bentuk yang lain dari sebelumnya. Aura hitam mendominasi tubuh tersebut. Bukannya takut, akan tetapi Damar memilih untuk hati-hatii. Wulung dan Taraka berusaha disamping tuan mereka untuk tetap melindungi. Mereka bisa merasakan kekuatasn iblis yang menguasai Balaajaya.
" Apa dia berar-benar mempelajari ilmu iblis?" tanya sang serigala.
" Entahlah, tapi jika dilihat dari apa yang terjadi saat ini maka dia hampir separuh dirinya dikuasai Iblis," jawab Wulung.
Kedua binatang mistis yang hidup lebih dari 100 tahun itu tengah berdiskusi mengenai perubahan tubuh Balaajaya. Mereka dulu pernah melihat ada yang seprti itu namun berhasil di segel oleh seorang petapa sakti.
" Hahaha apa kau takut bocah? Lihatlah! Lihatlah kekuatanku yang ku dapatkan. Ternyata buku itu benar-benar luar biasa hahaha."
Damar mengerutkan kedua alisnya. Ia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Balaajaya.
" Buku? Apa dia salah dalam memperlajari sesuatu hingga malah tersesat di dalamnya? Ah entahlah, bukan itu yang harus kupikirkan saat ini. Lebih baik sekarang fokus untuk bisa menghadapinya. Aku tidak tahu kemampuanku sendiri saat menerima serangan darinya nanti."
Hiaaat
Wuuuus
Blaaam
Tanpa aba-aba Balaajaya sudah melancarkan sernagan kepada Damar. Sebuah bola api sebesar lima kali kepala itu mengarah ke arah Damar. Damar yang tidak siap saat itu karena sibuk berpikir sedikit terserempet bola api tersebut. Beruntung Wulung sigap sehingga hanya bagian lengan saya yang terkena.
" Shhhhh rupanya bola api tersebut benar-benar panas."
Damar melihat ke arah lengannya. tampak bajunya robek dan lkulitnya sedikit terbakar. Ia pun segera menggunakan pedang pitu yang bercahaya hijau untuk menyembuhkan lukanya.
" Tck dasar pak tua, kau sungguh curang. Menyerang anak usia 14 tahun tanpa menunggu siap."
" Cuih, tidak usah banyak omong. Aku bukannya mau berdiskusi denganmu, tapi aku menginginkan nyawamu."
Hiyaaat
Trang
trang
Blaaam
Wuuuus
Syuuuut
Trang
__ADS_1
Pedang keduanya beradu. Pedang Pitu tampak mengayun kesana kemari. Bahkan ketujuh pedang itu bisa digunakan semua oleh Damar. Kedua tangan Damar memegang masing-masing tiga pedang dan di mulutnya Damar menggigit sebuah pedang.
Wulung dan Taraka yang melihat begitu takjub dengan kekuatan yang Damar keluarkan. Tenaga anak itu seprti tidak ada habisnya saat ini. Sangat jauh berbeda ketika berada di atas bukit. Ya, walaupun Wulung dan Taraka tidak keluar dan melihat langsung akan tetapi mereka tetap bisa melihat apa saja yang damar lakukan.
Keduanya tampak imbang. Hingga Balaajaya mengerang marah dengan bocah yang ada di depannya. Bagaimana bisa bocah ingusan itu mengimbangi ilmu kanuragannya yang berada di tingkat 8 akhir, itulah yang kini ada dipikiran Balaajaya.
Damar menyunggingkan senyumnya. Ia tahu Balaajaya saat ini tengah kebingungan dengan apa yangialakukan. Ini merupakan kesempatan damar untuk mengeluarkan ajian pembunuh nyawa miliknya.
Hiaaat
Syuuut
Sleeeep
Sebuah cahaya berwrna putih dengan gurat emas tepat mengenai dada Balaajaya embuat pria itu terpelanting ke belakang dan jatuh mengenai sebuah batu besar.
Duuuuum
Suara dentuman begitu terdengar disertai hancurnya batu tersebut. Damar sesaat tersenyum karena serangannya berhasil namun senyumnya seketika pudar saat Balaajaya kembali berdiri dan tampak tidak merasakan apapun.
" Ba-bagaimana bisa. Ajian pembunuh nyawa itu seharusnya bisa membunuh pria itu."
" Hahahah butuh satu abad lagi kau baru bisa mengalahkanku."
" Pasti dia punya kelemahan, tidak mungkin tidak ada."
Hiyaaaaat
Damar kembali mulai menyerang Balaajaya secara bertubu-tubu. Namun berkali-kali pula Damar harus terpelanting, terjatuh, dan terpental menerima serangan balik dari balaajya. bahkan wulung dan Trakapun sudah ikut maju untuk mengahdapai Balaajya.
Sama dengan Damar, kedua binatang mistis itu bolak balik terjatuh bahakan keduanya sudah tidak berdaya lagi menghadapai kekuatan Balaajaya yang sama sekali tidak melemah.
Damar berusaha bangkit dengan tenaga yang masih ia miliki. Namun pedang itu sudah kembali ke wujud semula yakni wujud sebilah besi.
Kini Damar menghadapai Balaajaya tanpa menggunakan ilmu kanuragan yang dimiliki. Anak itu hanya mengandalkan kekuatan tubuh dan beladiri saja. Akan tetapi ada yang aneh di sini. Balaajya denngan mudahnya bisa terluka dengan sabetan pedang Damar.
" Sepertinya aku menemukan kelemahan dari kekuatan iblis itu."
Damar mencoba kembali apa yang sudah ia lakukan. Ia berusaha meyakinkan mengenai apa yang ia pikirkan itu adalah benar adanya.
Dengan tenaga biasa Damar berusaha menyerang titik-titik vital tubuh balaajaya. Dan sesuai dugaan, Balaajaya terluka.
" Siaal mengapa bisa. emnegapa tubuhku bisa terluka hanya dengan pedang yang bahkan tanpa kekuatan apapun."
__ADS_1
Damar tersenyum mendengar ucapan kesal Balaajaya. Ternyata ilmu yang diberikan romonya benar-benar bermanfaat. Mengesampingkan ego dan ambisi, dan melawan dengan tenang tanpa terobsesi memenangkan pertarungan.
" Ternyata ilmu iblis mu tidak ada aa-apanya. bagaimana pakah sudah menyerah. Jika kau menyerah dan meminta maaf atas perbuatan mu yang telah membunuh kedua orang tuaku dan merebut hakku aku akan melupakannya dan mengampunimu."
" Cuiih, aku tidak sudi meminta maaf padamu. Aku tidak salah, mereka saja yang bodoh dan lemah."
Damar tetap tenang dengan ucapan Balaajaya. Ia tidak boleh mengedepankan emosinya saat ini.
Hiyaaaa
Balaajaya kembali menyerang damar dengan membabi buta. Kini pancaran matanya sudah sepenuhya dengan energi iblis. Tak ada lagi aura manusia di dalam tubuh Balaajya. Damar btetap tenang dalam menghadapai Balaajya yang sudah berubah mode iblis sepenuhnya itu.
" Le, tebas kedua tanduknya. Itu kelemahan iblish Banaspati."
Damar sedikit terkejut mendengar suara romonya. Namun ia tersenyum,ia tahu harus berbuat aapa. Damar pun melompat ke atas dan kembali melesat kebawah dengan cepat lalu memfokuskan pandangan matanya kepada kedua tanduk iblis tersebut.
Syuuuut klaataaak
" Arghhhhhh!!!"
Balaajya atau Banaspati berteriak. Ia berguling keakitan sambil memegangi kedua tanduknya.
" Bedebah kalian, Arghhh!!! Kenapa bisa, kenapa bisa aku kalah dengans eorang anak kecil. Arghhhh!!!"
Balaajaya terus berteriak. Tubuhnya berubah-ubah. Dari sosok manusia ke sosok iblis, dan begitu terus hingga benar-benar tubuh Balaajya berakhir menjadi sosok iblis.
" Banaspati, kau rupanya salah mencari wadah."
Dengan sedikit tertatih Pramadana berjalan mendekat menghampiri Damar yang persis berada di depan Balaajaya yang kesakitan.
" Kau ... kau sungguh keparat."
" Asal kau tahu, tubuh iblismu ini malah mudah dikalahkan. Karena sumber kekuatanmu adalah tanduk yang kau miliki. Jika tandukmu hilang maka kau akan melebur."
" Tidak. tidak aku tidak mungkin kalah. Tidaaaak. Awas kalian manusia. Aku akan menuntut bala. Arghhh!!!!"
Banaspati melebur bersama dengan Balaajaya. mahesa yang melihat begitu terkejut. Bagaimana bisa orang itu berakhir seperti itu.
" Romo?'
" Bopo?"
Damar dan Mahesa melihat Pramadana bersamaan, mereka meminta penjelasan mengenai apa yang baru saja mereka lihat.
__ADS_1
TBC