Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Keterkejutan Projo


__ADS_3

Keesokan paginya masing masing ketua rombongan yang diutus datang ke padepokan kadipaten. Mereka harus melakukan pendaftaran untuk pertandingan besok. Kali ini banyak padepokan yang ikut membuat kadipaten Gendingan begitu ramai.


Projo yang menjadi utusan dari padepokan Pedang Sakti sedikit terkejut melihat Mahesa diantara banyaknya orang. Meskipun sudah belasan tahun namun Projo tidak akan lupa wajah Mahesa.


Pria paruh baya itu punenyerahkan urusan daftar mendaftar kepada Sangga. Ia kmeudian mengikuti kemana arah Mahesa pergi.


" Untuk apa dia disini? Apa mungkin ikut pertandingan. Namun usianya tentu saja sudah tidak bisa karena ini untuk murid usia remaja."


Projo bergumam pelan sambil terus mengikuti arah Mahesa berjalan. Tidak ingin ketahuan, Projo mengikuti sambil menjaga jarak aman. Tibalah Mahesa di sebuah penginapan yang semua ketahui adalah penginapan untuk sebuah padepokan yang muridnya akan bertanding.


Pria itu menajamkan penglihatannya, ada rasa rindu yang menerpa dirinya saat melihat Mahesa tengah berbicara dnegan Lingga dan seorang wanita yabg ia yakini adalah Wardani. Ingin rasanya Projo berlari dan memeluk ketiga muridnya tersebut namun ia urung saat melihat sesorang yang baru keluar penginapan. Seseornag yang wajahnya sungguh tidak asing.


" Mengapa wajah anak itu sepeti aku kenal?"


Projo bregumam pelan, ia sungguh penasaran dengan murid murid nya dulu yang sekarang terlihat baik baik saja itu. Mata Projo tambah membelalak dengan lebar saat melihat pedang yang berada di tangan pemuda yang ada di ujung sana.


" I-itu pe-pedang pitu. Ba-bagaimana bisa ada ditangan pemuda itu. Siapa dia sebenarnya?"


Berjuta pertanyaan berkelana di kepalanya. Projo pun hendak melangkahkan kakinya, namu terhenti saat seseorang menepuk bahunya pelan.


" Guru, mengapa guru di sini? Aku sudah selesai."


Projo menoleh cepat dan menggeleng perlahan," Tidak, tidak ada apa apa. Mari kembali ke penginapan. Kasihan murid murid pasti sudah menunggu kita."

__ADS_1


Pria paruh baya itu merangkul tubuh Sangga dan berbalik meninggalkan tempat itu. Meski demikian, Projo masih sanagt penasaran. namun semua itu pasti akan terlihat besok saat pertandingan. Ia yakin baik Mahesa atau Lingga pasti akan mengenali dirinya. Ia pun yakin akan melihat dengan jelas pedang pitu dan pemuda yang menjadi pemiliknya.


Namun saat memikirkan mengenai pedang pitu, ada sebuah ketakutan dalam diri Projo. Jika benar itu memang pedang pitu maka akan banyak kemungkinan yang terjadi. Pertama, melijhat sekilas wajah pemuda itu yang mirip dnganseseorang di masa lalu bisa berarti dia adalah putra dari orang tersebut. Kedua, jika benar pedang pitu di tangan pemuda itu berarti ia bertemu dengan seseorang pendekar pilih tanding yang pernah dimiliki oleh Padepokan Pedang Sakti.


Hal tersebut bisa dipastikan akan terjadi goncangan di dunia persilatan karena banyak yang menginginkan pedang pitu tersebut. Apalagi jika Balaajaya mengetahuinya. beruntung orang itu tidak ikut, namun jika pedang pitu keluar besok maka dipastikan kabar tersebut akan sampai ditelinga Balaajaya. JIka itu terjadi maka keselamatan pemuda pemilik pedang pitu itu akan terancam.


Banyak sekali sekarang hal ayuang berputar dipikiran Projo. Sepanjang jalan, berkali kali pria paruh baya itu membuang nafasnya lasar. Sangga yang berjalan di sampingnya melihat sekilas sang guru.


" Guru, apa ada yang menganggu pikiranmu?"


" Ya, kau benar Sangga. Tapi ku harap ini akan jadi rahasia kita berdua. Apakah kau bisa merahasiakannya?"


Sangga mengangguk, Projo bagi Sangga bukan hanya sekedar guru tapi juga orang tua. dia yang yatim piatu dan selalu mendapat perlakuan berbeda di padepokan memang dekat dengan Projo karena hanya Projo yang memperlakukan dia dengan baik.


" Tadi aku melihat Mahesa, Lingga danWardani.


Saking terkejutnya, Sangga langsung menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada gurunya. Ia menelisik kedalam mata sang guru, dan tidak ada kebohongan di sana.


Ada sebuah rasa bahagia di hati Sangga. Ia pun ingin menemui Mahesa saat Projo mengatakan bahwa rumah yang ia laihat tadi adalah penginapan dari mereka. Namun tangannya di cekal oleh Projo. Gurunya itu menggeleng sebagai tanda bahwa Sangga tidak boleh menemuinya sekarang.


" Tidak sekarang le, waktunya sungguh tidak tepat. Aku juga ingin menemuinya, namun tidak untuk sekarang."


Sangga mengangguk lesu. Ia menurut apa yang dikatakan oleh gurunya. keduanya pun kembali kepenginapan sebelum para murid mereka bingung mencari keberadaankedua guru mereka.

__ADS_1


🌿🌿🌿


Di penginapan Mahesa mengumpulkan semua muridnya. Rupanya setiap pendaftar tadi sudah sekaligus mendapatkan selebaran mengenai peraturan untuk pertandingan besok. Mahesa pun menyampaikan isi selebaran tersebut kepada kelima muridnya.


" Apa ada yang ditanyakan?" tanya Mahesa kepada anak muridnya.


"Paman guru, berarti di babak pertama ini kita benar benar hanya menggunakan kekuatan tubuh kita?"


Mahesa mengangguk, Mahesa pun kembali menjelaskan maksud dari babak yang pertama. bahwa di babak pertama inimerek asama sekali tidak boleh menggunakan senjata dan ilmu kanuragan. yang dinilai disini adalah seni bela diri yang berasal dari dalam tubuh tanpa pengaruh tingkatan ilmu.


Semua mengangguk paham, bahkan Indiraa yang tidak ikut bertanding pun mengerti.


Dalam babak ini benar benar sebuah seni yang ditunjukan. Tanpa sebuah emosi tanpa sebuah ambisi. Beruntung anak anak Padepokan Resik Jiwo sudah diajarkan meleburkan ambisi mereka saat pertama kali masuk ke padepokan. Mahesa dan Lingga yakin, anak anak pasti lolos di babak pertama ini.


Babak kedua ini lah yang akan menjadi penentu, Mahesa teringat dengan kejadian belasan tahun lalu. namun seketika itu dia menyadarkan diri. Ia yakin Adipati Ranawijaya pasti sudah berbenah saat kembali menyelenggarakan pertandingan akbar ini.


" Untuk babak kedua kalian harus mencari sebuah token di Hutan Larangan. Dimana Hutan Larangan tersebut memiliki banyak binatang mistis dan tumbuhan beracun. Kalian harus hati hati. Disini paman guru tegaskan, carilah token tersebut masing masing. Dan bagi yang tidak mendapatkan Token mereka akan gagal lalu akan ditarik kembali dari hutan ke kadipaten."


Setelah semuanya paham, Mahesa meminta anak anak tersebut untuk beristirahat. mengingat mereka semalam datang sudah sangat larut. Mahesa ingin anak anak cukup beristirahat sebelum menjalankan pertandingan esok hari.


Tampak rona kekhawatiran di wajah Wardani dan Lingga mengingat megenai hutan Larangan. NAmun mereka meyakinkan diri mereka bahwa anak anak itu hebat diusianya yang mash muda.


di dalam bilik nya, damar tidak bisa memejamkan matanya. Dia harus memikirkan cara bagaimana menyembunyikan pedang pitu. Pesan romo nya begitu membekas mengenai pedang pitu yang merupakan pedang pusaka ayang diincar banyak orang. Maka dari itu pemuda berusia 14 tahun itu sungguh berpikir keras bagaiman menyembunyikannya.

__ADS_1


Jangan bingung, kau bisa menyimpan ku di dalam tubuhmu


TBC


__ADS_2