
Para murid yang gagal mendapatkan token satu persatu keluar dari Hutan Larangan. Ada yang terlihat baik-baik saja namun ada juga yang terluka. Para guru langsung meraih tubuh mereka dan membawanya kembali ke penginapan.
Begitujuga dengan Lingga. ia membawa Praji dan Reksa kembali ke penginapan untuk beristirahat. Jika Praji tampak tidak apa-apa, berbeda dengan Reksa. Ada beberapa luka di tubuhnya.
Wardani dan Indira tentu terkejut saat melihat dua anak tersebut datang bersama Lingga. Lingga memberikan kode dengan kedipan mata yang berarti jangan tanya apapun. Lingga yakin mereka pasti tengah merasa kecewa karena tidak bisa mendapatkan token dan pergi ke bukit Wono Ageng.
" Kalian berdua duduklah. Praji sebaiknya kau membersihkan diri dulu lalu makan dan Reksa sini bibi akan mengobati lukamu."
Praji berjalan gontai menuju bilik nya dan kemudian pergi ke sumur untuk membersihkan diri. Sedangkan Reksa ia duduk dan kini di depannya duduklah Wardani yang siap mengobati luka di beberapa bagian tubuh Reksa.
Setelah beberapa saat kedua nya pun selesai dengan apa yang baru saja mereka lakukan dan tengah makan bersama. Baik Praji maupun Reksa tampak tidak berselera makan. Lingga pun mendengus, ia tahu kedua anak muridnya itu tengah kecewa.
" Apa begitu kesal hmmm?"
" Bukan kesal guru, hanya saja merasa tidak berguna saja. Masa iya cuma ambil token butuh waktu 3 hari dan kami gagal."
Lingga tersenyum dengan jawaban Reksa. ia pun mengusap kepala kedua muridnya itu bergantian dengan penuh rasa kasih sayang.
" Dengarkan guru. Kalian hebat sudah bisa sampai sejauh ini. Apa kalian tahu? Hutan Larangan itu sangat berbahaya. Beruntung kalian bisa keluar dengan hidup-hidup. Banyak hal yang kalian tidak tahu mengenai hutan tersebut."
Praji dan Reksa saling pandang. Sebenarnya apa yang dikatakan Guru Lingga memang benar. saat malam, hutan Larangan begitu mencekam. Bahkan Reksa sejenak ketakutan saat malam pertama dilaluinya di dalam hutan tersebut tanpa bertemu siapapun.
" Apa kalian tahu, kalian sungguh beruntung bisa ikut dalam pertandingan ini. Aku saja yang sangat ingin tidak bisa ikut. Pengalaman kalian nanti bisa diceritakan kepada teman-teman di padepokan."
Ucapan Indira tentu benar. Lingga dan Wardani kagum kepada putri Nyi Sambi ini. Gadis tersebut begitu pandai menghibur dan menyenangkan hati orang lain.
Akhirnya Praji dan Reksa kembali bersemangat memakan makanannya. Perut yang tadi begitu kosong kini mulai terisi. Dalam hati keduanya berdoa agar Damar, Saka, dan Panca bisa menjalankan pertandingan dengan sebaiknya. syukur-syukur salah satu diantara mereka bisa pulang dengan membawa kemenangan.
*
__ADS_1
*
*
Di Atas Bukit Wono Ageng
Beberapa peserta mulai melakukan pertarungan. Masing-masing mereka mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Syuuut
Trang
Trang
Wooosh
Sleep Trang Trang
Sama halnya apa yang sedang dilakukan oleh Damar sekarang. Anak itu tengah melompat sambil mengayunkan pedangnya ke arah lawan sehingga membuat lawannya terhuyung dan jatuh.
Hap ... Buuug ... Syuuut
Ujung bilah pedang yang tajam itu tepat berada di depan mata sang lawan. Lawan Damar tersebut sudah sangat pucat pasi.
" Aku menyerah!"
Sang lawan rupanya sudah tidak sanggup lagi mengimbangi tehnik pertarungan Damar. Dari tadi ia mencoba menyerang namun tidak ada satupun serangan yang mengenai Damar. Malah serangan tersebut bisa dikembalikan Damar sehingga lawannya itu merasa kewalahan.
Damar sama sekali tidak membuat lawannya terluka. Ia hanya membuat lawannya kelelahan. Dan itu begitu terlihat saat sang lawan yang diketahui dari padepokan tombak emas tersebut begitu terengah-engah bahkan kesulitan mengatur nasfasnya.
__ADS_1
" Anak ini benar-benar menarik. Bahkan dia belum mengeluarkan semua kemampuan yang dimilikinya. Ini hanya sebagian kecil dari apa yang ia miliki."
Ksatria Yasapati bergumam pelan. Namun rupanya gumamannya tersebut masih bisa di dengan oleh Ranawijaya. Dan Ranawijaya setuju dengan Yasapati. Damar benar-benar terlihat begitu istimewa. Banyak rahasia yang terdapat dalam diri anak tersebut.
Ranawijaya yang merasa sedikit aneh dengan wajah Damar yang tampak berbeda dari saat pertama kali melihatnya mencoba berpikir keras. Ia pun melirik ke arah Mahesa dan rupanya Mahesa juga berubah penampilan serta wajahnya. Ranawijaya mengerutkan keningnya mencoba menerka-nerka ada apa sebenarnya. Mengapa Mahesa berpenampilan seperti itu dan juga Damar, hingga ia melihat ke arah Balajaya.
" Huft, tampaknya karena orang ini. Bagaimanapun dia memang tidak boleh tahu mengenai identitas Damar. Wajah Damar begitu mirip dengan Ki Wira. Bisa-bisa Damar akan terkena masalah."
Ranawijaya berbicara dalam hati. Kini ia paham maksud dari perubahan tampilan Damar dan Mahesa.
Pertandingan pun berjalan begitu seru. Beberapa murid yang mengaku kalah akhirnya harus mundur ke belakang. Kini tinggal 4 orang saja. Dua dari padepokan Resik Jiwo yakni Damar dan Saka lalu 2 lagi dari padepokan Keris Putih dan padepokan Pecut Jiwo.
Mahesa agak sedikit khawatir soalnya Damar akan ditandingkan dengan Saka kali ini. Ranawijaya memberi waktu untuk istirahat sejenak sebelum putaran selanjutnya di mulai.
" Panca, apa kau tidak apa-apa?" tanya Damar khawatir.
" Tidak, aku tidak terluka Mar. Jangan khawatir. yang perlu dikhawatirkan adalah kalian berdua. kalian akan saling bertarung nanti."
Baik Damar maupun saka saling pandang lalu menunduk lesu. Keduanya terlihat membuang nafas mereka dengan amat sangat kasar.
" Kalian berdua perhatikan dan dengarkan paman. Mau tidak mau, suka tidak suka saat seperti ini pasti akan ditemui. Begini saja, jika kalian tidak bisa menganggap orang didepan kalian ini ada lawan maka ubah pola pikir kalian. anggap saja kalian tengah latihan. Tapi bukan sembarang latihan. Anggap pertarungan ini sebagai latihan yang dilihat oleh seluruh teman kalian di padepokan jadi kalian harus menampilkan yang terbaik. Bagaimana?"
Damar dan Saka kembali memandang satu sama lain. Terang saja dalam hati mereka tidak bisa menganggap masing-masing dari mereka adalah lawan. Maka dari itu sepertinya saran dari paman guru mereka mungkin bisa dicoba.
" Baiklah paman guru aku akan mencobanya seperti itu. apa kamu setuju Damar?"
" Ya, aku setuju Saka. Ayo menganggap ini sebuah latihan. Tapi latihan ini kita harus benar-benar memperlihatkan kemampuan kita. Tapi jika nanti aku sampai menyakitimu sungguh aku minta maaf."
" Baiklah sudah diputuskan. Ayo kita berlatih dengan serius untuk menjadi murid Padepokan Resik Jiwo yang terbaik."
__ADS_1
Mahesa sungguh sedikit merasa lega. Tapi ia tetap harus waspada dengan apa yang akan kedua muridnya ini nanti lakukan. Di satu sisi ia bangga keduanya bisa sampai ditahap ini, tapi disisi lain rasa khawatir memenuhi hati dan pikirannya.
TBC