
Lembah Prantunan merupakan tempat Balaajaya membawa Damar. Tepatnya di sebuah goa dekat air terjun. Lembah Prantunan lumayan jauh dari Kadipaten Gendingan. Butuh setidaknya setengah hari perjalanan.
Saat ini Damar tengah berusaha membuat Balaajaya berbicara benyak mengenai kematian kedua orang tuanya.
Remaja itu terus menerus memprovokasi Balaajaya sehingga pria paruh baya tersebut marah. Hingga beberapa kebenaran yang Damar tidak tahu terungkap.
" Seharusnya kau mati bersama kedua orang tua mu hati itu. Oooh, aku tahu. Ini semua pasti ulah Projo. Dia pasti yang membiarkanmu hidup. Bedebah, sepertinya aku harus membunuhnya segera setelah kau kembali ke padepokan."
" Yakin kau bisa kembali hidup-hidup?"
Tak disangka Damar sudah mengeluarkan pedang pitu ditangannya dengan wujud yang sempurna. Balaajaya tentu terkejut. Baru itu kali pertama ia menyaksikan wujud pedang pitu dalam wujud sempurnanya dan dari dekat.
Pria tua itu kemudian hendak mendekati Damar namun tentu saja Damar tidak akan memberi kesempatan.
Syuuuut
Shaaaaah
Damar menebaskan pednag pitu di depan tubuhnya sehingga membuat Balaajaya mundur.
Kreteeek
Gluuuuuuaaaar
Damar segera berlari keluar goa dikarenakan terdengar suara goa tersebut yang sepertinya akan runtuh. Balaajaya melihat Damar berlari tentu panik, ia pun berusaha mengejar agar Damar tidak pergi dari Lembah Prantunan tersebut.
" Aku tidak akan membiarkan kau untuk pergi dari lembah ini sebelum kau memberikan pedang pitu itu kepadaku bocah sialan."
" Heh siapa juga yang ingin kabur darimu. Aku hanya tidak ingin terkubur di reruntuhan goa. Lagi pula siapa juga yang mau memberikan pedang ini kepadamu. Dan satu lagi aku tidak akan pergi sebelum bisa membuatmu membayar apa yang telah kau lakukan kepada kedua orang tuaku. Hiyaaaaat"
Damar yang semula berlari kedepan kini melompat dan membalikkan tubuhnya ke arah Balaajaya. Ia mengayunkan pedang pitu tepa di wajah Balaajaya.
Trang
Trang
Wusssss
__ADS_1
Bruk
Sayangnya Balaajaya bisa menangkis serangan dadakan Damar dengan menggunakan pedang miliknya. Adu pedang terjadi. Damar menyunggingkan senyumnya. Ia terus maju menyerang Balaajaya tanpa sedikitpun memberi celah kepada pria itu untuk mengeluarkan ilmunya. Kecepatan pedang pitu dalam membuat serangan sungguh tidak pernah dibayangkan oleh Balaajaya. Sejenak ia mengakui bahwa bocah yang ada di depannya tersebut memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni.
" Tidak, aku tidak boleh kalah, aku harus mengeluarkan ilmu dari buku rahasia yang sudah ku pelajari."
Balaajaya berusaha mencari celah untuk menghindari serangan bertubi dari Damar. Dan benar saja, pandangan Damar teralihkan saat ada seekor rusa yang berlarian. Balaajaya menggunakan tangan kirinya untuk mengeluarkan sebuah ajian dan membuat sekelompok rusa itu berubah menjadi liar dan berlari menuju arah Damar.
Tentu saja Damar mencoba untuk menghentikan rusa-rusa yang menggila itu. Dengan menggunakan salah satu kekuatan pedang pitu sebuah kilat cahaya hijau ia keluarkan dan berhasil, rusa-rusa yang matanya tadi memerah itu kini kembali normal.
" Sial, dia sengaja mengecoh ku."
Damar kemudian mencari sosok Balaajaya. Betapa terkejutnya Damar saat melihat Balaajaya yang telah berubah menjadi sosok lain.
Pria itu berubah menjadi seorang yang bertubuh besar dengan mata merah. Muncul dua tanduk di kepala Balaajaya. Disekelilingnya terdapat aura hitam yang mengeluarkan bayangan hitam. Sontak Wulung dan Taraka keluar melindungi tuan merwka.
" Hati-hati bocah, sepertinya ia sudah dikuasai ilmu hitam," ucap Wulung memperingatkan.
" Kabar burung yang beredar rupanya benar bahwa Balaajaya memepelajari ilmu hitam. Apa kalian berdua akan membantuku."
Elang dan serigalan tersebut mengangguk. Keduanya langsung mengubah wujud mereka menjadi binatang mistis yang gagah.
" Tck, pak tua jangan banyak bicara. Lebih baik sekarang mari kita buktikan siapa yang akan berakhir menyedihkan. Dan, ngomong-ngomong kau harus megembalikan yang bukan milikmu bukankah begitu."
" Keparaaaat, awas kaaau bocah sialan. Hiyaaaa!"
*
*
*
Tuplak tuplak tuplak
Suara kaki kuda menggema saat mulai memasuki lembah Prantunan. Namun ketika ingin masuk lebih jauh kedalam kuda yang ditunggangi oleh Pramadana dan Mahesa tiba-tiba meringik dan hampir membuat keduanya terjatuh. Mahesa dan Pramadana pun langsung turun dari kuda mereka untuk memeriksa.
" Bopo seeprtinya ada formasi pelindung dibuat di sini."
__ADS_1
" Ya kau betul. Balaajaya tidak akan sebodoh itu membiarkan orang lain masuk ke lembah ini."
Mahesa menyentuh benteng tak kasat mata itu dan seketika Mahesa terlempar. Ia terjatuh ke tanah. Tangannya seperti tersambar petir saat menyentuh formasi tersebut.
" Pelindung petir langit. Dia menggunakan formasi itu untuk membuat pagar pelindung disekitaran lembah Prantunan."
Mahesa terhenyak. Pelindung petir langit merupakan sebuah formasi tingkat atas yang biasa digunakan dalam kondisi terdesak. Yakni kondisi dimana sebuah daerah atau tempat yang tengah yang biasanya akan diserang oleh musuh yang kuat.
" Terus bagaimana bopo."
" Kau mundur lah sejauh 10 depa. Kalau bisa sedikit lebih jauh lagi. Ketika melepaskan formasi ini akan ada beberapa akibat yang ditimbulkan. Jika kau terkena maka tubuhmu akan terluka.
" Lalu bopo?"
" Jangan khawatirkan aku."
Dengan terpaksa Mahesa mundur menjauh dari tempatnya saat ini berdiri. Tampak Pramadana duduk bersila dan mulai merapal kan mantra untuk meleburkan pagar pembatas yang dibuat oleh Balajaya tersebut.
" Ini akan sedikit sulit, tapi harus dilakukan. Damar harus selamat. Tunggu romo le."
Sekuat tenaga Pramadana mengeluarkan ajian penghancur. Keringat mulai bercucuran dari tubuh Prmadana. Ia bertarung dengan petir yang keluar dari formasi buatan Balaajaya.
Uhuk ...
Pramadana memuntahkan darah dari mulutnya, namun formasi tersebut belum juga hancur. Ia pun kembali memusatkan pikirannya dan mengambil tenaga dari pusat tubuhnya. Pelan tapi pasti Pramadana menelusupkan kedua tangannya menembus formasi tersebut dan glaaaaar ... Formasi buatan Balaajaya hancur. Muncul kilatan petir dan cahaya putih kebiruan menyebar. Beberapa pohon yang terkena percikan cahaya itu seketika patah dan tumbang. Mahesa sungguh terkejut. Ia segera berlari saat melihat Pramadana terjatuh ke tanah.
" Bopo ... Bopo ... Apa bopo tidak apa-apa?"
" A-aku tidak apa-apa hanya sedikit lelah saja. Ayo kita lanjutkan masuk."
" Tapi ... Keadaan bopo?"
" Damar membutuhkan kita sekarang."
Mahesa mengangguk, sungguh ia tidak tega melihat keadaan bopo gurunya tersebut. Formasi pelindung petir langit sungguh luar biasa bahkan bisa menguras tenaga Ki Prama.
" Benar-benar tidak menyangka. Belasan tahun meninggalkan pria itu kini dia sudah punya banyak yang dia kuasai. Entah kejutan apa lagi yang akan kita temui nanti."
__ADS_1
Mahesa bergumam lirih. Ada sedikit rasa ngeri namun mengingat Damar yang ada di dalam sana ia menepikan rasa itu. Bagaimanapun ia harus bisa membawa kembali Damar dengan keadaan yang baik-baik saja.
TBC