
Pagi menjelang, mentari mulai menelusup di cela cela dahan dan ranting pepohonan. Hawa dingin begitu terasa, namun sungguh sejuk. Kelima anak manusia itu menggerakkan tubuhnya. Mereka seakan akan menyambut hari baru.
Simo yang berada di pelukan Wardani pun telah menghilang. Binatang mistis itu kembali menyembunyikan dirinya. Ia akan muncul kembali jika sang tuan memanggil.
" Jadi kemana kita akan pergi kakang Mahesa?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Braja membuat semuanya berpikir. Tidak hanya Mahesa saja, mereka semua kini tengah berbicara mau apa setelah ini dan mau kemana.
" Kita akan mengembara, namun pertama yang harus kita lakukan adalah mengubah penampilan kita. Paling tidak kita harus mengubah pakaian dan rambut kita. Kita tidak boleh terlihat seperti pendekar, aku yakin pihak padepokan akan mencari kita."
Penjelasan Mahesa dapat diterima oleh semua orang di sana. Bahkan Wardani berpikir akan berpenampilan seperti pria. Sebagai satu satunya wanita, Wardani pun tak ingin dirinya menjadi beban keempat saudara seperguruannya.
" Kakang, apakah berarti kita akan hidup dalam pelarian?"
Pertanyaan Karendra dijawab dengan anggukan kepala oleh Mahesa. Ya, mereka akan benar benar mengembara dan terus berlari sejauh mungkin meninggalkan padepokan Pedang Sakti.
Ketika mereka pergi dari pertandingan tersebut maka sudah bisa dipastikan mereka meninggalkan padepokan. Meninggalkan padepokan berarti mereka benar benar telah terlepas dari nama murid padepokan besar itu.
Ada rasa sedih yang menggelayuti hati mereka. Namun sekali mengambil keputusan maka mereka harus bertanggungjawab.
Setelah berganti pakaian dan mengubah sedikit penampilan, mereka siap melanjutkan perjalanan. Namun Mahesa kembali berbicara kepada adik adik nya.
" Sebelum kita benar benar pergi, adakah diantara kalian yang ingin kembali? Aku ingatkan, hidup kita mungkin tidka akan mudah nantinya di pengembaraan. Jika diantara kalian ada yang ingin kembali ke padepokan maka aku tidak akan menghalangi."
Wardani menggeleng, tentu dia tidak ingin kembali. Ia sendiri sebenarnya sudah enggan berada di padepokan. Sedangkan Braja, Lingga dan Karendra ketiganya saling pandang lalu bersamaan menggeleng.
__ADS_1
" Tidak kakang, kami tidak akan kembali. Mari kita pergi. Siapa tahu hidup kita menjadi lebih baik dipengembaraan dari pada di sana."
Ucapan Lingga diangguki kepala oleh yang lainnya. Mahesa tersenyum lalu mengangguk, tekad mereka sudah bulat. Kini langkah pertama sudah siap untuk menuju kehidupan yang lebih baik lagi, tentu saja menurut kelima pemuda itu.
πΏπΏπΏ
Sebulan lebih kelima anak muda itu berpindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka pun bekerja menjadi pekerja kasar seperti buruh pengangkut barang ataupun apa saja asalkan bisa untuk bertahan hidup.
Mereka juga tidak lupa untuk terus berlatih ilmu kanuragan. Hal tersebut mereka lakukan agar ilmu dan kemampuan beladiri mereka tidak hilang.
Di sisi lain Balaajaya sungguh geram kepada pemerintah Kadipaten Gendingan karena sudah sebulan lebih tidak mendapatkan kabar mengenai murid murid nya. Tadinya Balaajaya tidak peduli namun karena padepokan lain mengetahui hilangnya murid murid nya membuat pria itu harus pura pura peduli.
" Parjo, kirim utusan pergi ke Kadipaten Gendingan untuk menanyakan kabar mengenai kelima anak itu."
" Sendiko dawuh Ki."
Balaajaya langsung duduk bersila di lantai. Ia mulai merapal kan mantra dan melanjutkan apa yang sebelumnya pernah ia lakukan.
Balaajaya mulai membaca satu persatu buku kuno tersebut. Ia pun mulai mengikuti gerakan yang ada di buku.
Sluuuuup
Sebuah getaran masuk dalam tubuhnya. Balaajaya merasa ada sebuah kekuatan besar yang menjalar ke dalam tubuhnya. Sebuah kekuatan besar yang ia yakin bisa membuatnya menjadi seorang pendekar yang pilih tanding. Namun tanpa ia sadari kekuatan yang masuk itu sedikit menekan jantung nya. Bahkan tadi saat cahaya merah keunguan itu menelusup ke area pernapasannya sedikit membuat ia merasa sesak di dada. Balaajaya sedikit memukul mukul dadanya. Namun ia mengacuhkan iti.
Ha ... Ha ... Ha ...
__ADS_1
Balaajaya tertawa lebar, ia sungguh yakin apa yang ia pelajari akan membawanya menuju puncak tertinggi ilmu kanuragan. Ia pun sangat yakin bahwa ia akan jadi orang yang tidak tertandingi. Tanpa ia tahu di luar sana ada seseorang yang sudah menguasai buku tersebut dna kini dia sudah bersiap untuk mempelajari buku yang kedua.
Balaajaya memang tidak mengetahui atau tepatnya belum mengetahui jika buku yang ada pada dirinya itu belumlah sempurna. Buku yang ia curi dari sang kakak itu masih ada kelanjutannya yang tidak ia tahu sebelumnya.Dan ditambah lagi, Balaajaya tidak tahu akibat dari mempelajari buku tersebut.
Di lembah Palarang Ki Prama tengah bermain dengan Damar. Hampir 2 bulan tidak bertemu dengan bayi itu membuat Ki Prama merasa rindu. Ki Prama rindu dengan tawa renyah dari sang bayi.
Tadinya Ki Prama ingin bertapa 40 hari saja lalu kembali ke lembah. Namun setelah 40 hari selesai bertapa, Ki Prama melanjutkan memulai latihannya di tepian sungai. Bahkan ia juga berlatih di dalam air. Hal tersebut ternyata merupakan sebuah cara untuk meredam kekuatan yang dihasilkan dari latihannya. Ia melakukan itu untuk tidak menarik perhatian siapapun.
Bagaimana pun buku itu menyimpan sebuah kekuatan besar. Ia tidak mau memancing orang lain disaat dia belum sepenuhnya bisa mengendalikan kekuatannya. Dirasa cukup, Ki Prama pun baru memutuskan kembali pulang. Ada sebuah latihan penyempurnaan yang ia tidak bisa ia lakukan di tepian sungai. Yakni Berlatih dengan pedangnya.
Buku rahasia itu ternyata adalah buku yang di ********** terdapat ilmu pedang yang mumpuni. Dan, Ki Prama dapat melanjutkannya di rumah karena pedang miliknya tersimpan rapi di rumah.
" Nyi Sambi, tole anteng kan? Maksudku dia tidak menangis?"
" Tidak Ki, Damar sungguh anteng dan menurut. Dia hanya menangis sesekali. Mungkin kangen dengan sampeyan Ki."
Ki Prama tersenyum mendengar ucapan Nyi Sambi. Ia lalu mengusap dan mencium pipi Damar dengan sayang. Mata bayi itu berbinar melihat wajah Ki Prama. Damar seakan tahu bahwa Ki Prama begitu menyayanginya.
" Ki, bisakah aku menitip Indira sebentar. Kemarin aku memanen ubi yang ada di ladang mu. Aku ingin ke pasar untuk menukarnya dengan beberapa bahan makanan yang lain."
Ki Prama mengangguk menyetujui permintaan Nyi Sambi. Terlebih dia melihat bahan makanan yang ada di rumah Nyi Sambi memang sudah habis. Ki Prama tiba tiba berpikir tentang sesuatu. Tapi ia akan menyampaikan kepada Nyi Sambi nanti saat wanita itu sudah kembali dari pasar.
Ki Prama melihat Darma dan Indira bergantian. Ia tersenyum, wajah keduanya entah mengapa bisa semakin terlihat mirip.
" Semoga kalian nanti bisa saling menjaga ketika dewasa. Indira, aku akan membuatmu jadi wanita yang kuat dan hebat. Biar bapak mu yang tidak tahu diri itu menyesal telah menyia-nyiakan mu dan ibu mu."
__ADS_1
Ki Prama sebenarnya sungguh geram dengan mantan suami Nyi Sambi yang menganggap kelahiran anak perempuan akan menjadi beban dan akan menimbulkan kesialan. Maka ia bertekad menjadikan Indira pendekar wanita yang hebat nantinya.
TBC