Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Buku Rahasia


__ADS_3

Lembah Palarang


Tampak Ki Prama tengah menggendong Damar sebelum pergi ke ladang sambil berlatih beberapa jurus. Bukannya takut Damar malah tertawa senang. Ki Prama hanya melihat Damar sekilas dan kembali melanjutkan latihannya.


" Anak yang menarik, segeralah besar le, aku sudah tidak sabar melihat kemampuanmu."


Tak berselang lama Nyi Sambi menghampiri Ki Prama dan mengambil Damar dari tangan Ki Prama. Nyi Sambi memperingatkan Ki Prama untuk tidak mengajak Damar berlatih. Namun Ki Prama acuh. Dia tidak mengindahkan ucapan Nyi Sambi. Hingga Nyi Sambi kembali ke rumah nya bersama dengan bayi mungil itu.


Trap


Seseorang dengan pakaian pendekar lengkap dengan pedang nya muncul di hadapan Ki Prama. Orang tersebut berjongkok di depan Ki Prama memberi hormat.


" Ada apa?"


" Mereka tengah membuat pertandingan Ki, di mana pertandingan itu di gelar di Kadipaten Gendingan dan diikuti oleh 5 padepokan besar."


Ki Prama hanya mengangguk. Ia tidak mengatakan banyak hal untu menanggapi mengenai peristiwa tersebut.


" Pergilah!"


" Kapan anda akan kembali Ki?"

__ADS_1


" Nanti jika sudah waktu nya."


Pria itu mendengus. Rupanya memang sulit meminta tuannya itu untuk segera bisa kembali. Ki Prama pun melenggang pergi menuju ladang dan seseorang tadi juga langsung menghilang dari sana.


" Rupanya kematian dinda Wiradarma sudah menyebar ke seantero negeri. Tapi belum waktunya aku kembali. Masih ada hal yang belum terselesaikan. Dan lagi, membawa Damar kembali saat ini bukanlah keputusan yang baik."


Ki Prama membuang nafasnya kasar. Ia bermonolog sambil mencabuti tanaman ubi nya. Ya, Ki Prama mengetahui kalau Damar adalah putra dari Wiradarma saat melihat sebuah cahaya yang dikeluarkan dari tubuh bayi itu. Dia semakin yakin saat melihat lebih jelas wajah sang bayi. Wajah nya begitu mirip dengan Wiradarma. Dan perhelatan akbar tentang pertandingan ini sangat jelas diadakan untuk menentukan siapa padepokan yang dinyatakan sebagai padepokan terkuat.


Setelah bertahun tahun gelar itu di jabat oleh Padepokan Pedang Sakti, kini padepokan yang lain berlomba lomba merebut gelar tersebut.


" Dasar manusia iblis kau Duranjaya. Tapi saat ini aku tidak bisa kemana mana dulu. Lebih lebih untuk menghadapi nya sungguh sangat riskan. Huft."


Ki Prama lagi lagi membuang nafas nya kasar. Ia mengepalkan tangannya dengan erat. Bahkan ia membuang tumbuhan ubi itu dengan begitu kesal. Ia merutuki ketidak mampuannya saat ini.


Sebuah buku dengan tulisan jawa kuno ia pegang saat ini. Ki Prama pun mengambil nafasnya dalam dalam dan membuang nya perlahan. Ia membuka lembar pertama buku tersebut.


" Apakah aku benar benar harus mempelajari ini?"


Ki Prama kembali bermonolog. Buku yang sudah bertahun tahun tidak ia sentuh dan hanya tersimpan rapi di lemarinya itu kini ia buka. Rupanya dia memang harus mempelajari apa isi buku tersebut.


Buku yang dipegang oleh Ki Prama saat ini adalah salah satu buku dari dua buku milik leluhur Padepokan Pedang Sakti. Buku tersebut bisa dikatakan buku rahasia dan harta milik padepokan. Ki Prama enggan mempelajarinya karena buku tersebut bisa menyesatkan jika orang yang membaca dan mempelajarinya memiliki hati yang hitam.

__ADS_1


Tapi rupanya ia harus mempelajari buku tersebut. Jika ia kembali suatu hari nanti, ia harus bertambah kuat. Ada sedikit sesal dalam hati Ki Prama. Ia berpikir jika saja ia masih di padepokan mungkin Wira dan istrinya masih hidup. Namun karena suatu hal yang membuatnya terusir dari padepokan dan belum bisa kembali saat saat sekarang.


" Baiklah, mari kita kembali belajar dan berlatih. Aku berharap aku lah yang mengontrol mu, bukan kamu yang mengontrol ku."


Hal yang pertama kali harus dilakukan oleh Ki Prama yakni membersihkan hatinya. Hal tersebut dilakukan dengan cara bertapa selama 40 hari penuh. Dengan begitu berarti selama 40 hari dia harus meninggalkan Damar sepenuhnya dan menitipkannya kepada Nyi Sambi.


Ki Prama pun bergegas menuju rumah Nyi Sambi. Ia mengutarakan maksudnya, beruntung Nyi Sambi tidak keberatan. Ki Prama juga membawa bahan makanan yang di miliki ke rumah Nyi Sambi.


" Semoga ini cukup Nyi. Jika bahan makanan ini sudah habis sebelum aku kembali, pergilah ke ladang Nyi. Tanaman ubi dan singkong ku sepertinya sudah cukup umur untuk di panen."


" Tidak perlu khawatir Ki. Yang makan hanya aku, anak anak juga belum makan. Aku rasa semuanya akan cukup sampai Ki Prama kembali."


Ki Prama mengangguk, ia kemudian menggendong Damar sekilas lalu mencium pipi gembul bayi itu.


Setelah itu, Ki Prama menyerahkan Damar kepada Nyi Sambi dan segera pergi. Ia berjalan ke arah sungai.


Ya, Ki Prama akan bertapa di pinggir sungai. Ia memilih tempat itu karena memang tidak akan ada orang yang melintas di sana. Ia mulai menaruh kain putih di atas batu sebagai alas dan duduk bersila di sana. Meskipun dia sudah mempelajari buku yang pertama namun buku ke dua ini yang merupakan lanjutan dan penyempurna dari buku pertama memiliki energi spiritual yang sangat besar. Maka dari itu Ki Prama merasa harus memiliki landasan yang kokoh sebelum mempelajari isi buku ke dua.


" Baiklah, semua dimulai dari sekarang."


Ki Prama menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan memejamkan mata nya. Pertapaannya sudah dia mulai dan akan berakhir 40 hari kemudian.

__ADS_1


TBC


__ADS_2