
Kukuruyuuuuuk
Suara kokokkan ayam terdengar begitu nyaring. Hari ini adalah hari besar bagi murid-murid seluruh padepokan, karena pertandingan akan dimulai.
Mahesa membangunkan seluruh murid dan meminta mereka semua bersiap. Wardani yang sudah bangun sedari tadi duduk di ruang tengah penginapan menunggu mereka siap. Lebih tepatnya Wardani menunggu untuk mendandani wajah Damar beserta Mahesa dan Lingga agar tidak dikenali.
" Bibi wardani, ini semua untuk apa?" tanya Indira penasaran. Pasalnya Indira melihat beberpa barang milik sang bibi yang biasanya di gunakan untuk merias wajah.
" Lihat saja, nanti kau akan tahu apa yang akan bibi lakukan."
Semua berkumpul di ruang tengah penginapan. Mereka semua betanya tanya akan ada apa pagi ini sebelum mereka memulai petandingan.
Mahesa jadi orang pertama yang akan dirias oleh Wardani. Biasanya Mahesa menggerai rambut panjangnya, kali ini Wardani akan menggulung rambut panjang Mahesa. Ia juga akan membuat jambang dan kumis di wajah Mahesa. Wardani yakin Mahesa akan tampak seperti orang lain. Beberapa saat berlalu akhirnya merias wajah Mahesa selesai juga. Semua sungguh takjub, Mahesa benar benar menjelma menjadi orang yang samgat berbeda.
" Duh Gusti, jika aku bertemu Guru di jalan tanpa melihat ini. Aku pasti tidak akan mengenali guru."
Ucapan salah satu murid tersebut diangguki oleh murid yang lainnya. Bahkan Lingga pun mengakui kehebatan Wardani dalam mengubah wajah tersebut.
Kini giliran Lingga. Rambut Lingga di buat sama dengan Mahesa. Ia juga diberi kumis tapi tidak diberi jambang. Wardani membuat andeng-andeng (tahi lalat) di sudut bibir Lingga. Kini giliran Damar. Pemuda itu sedikit terkejut mengapa dirinya juga ikut dirias.
" Bibi, kenapa aku juga?"
Wardani hanya tersenyum simpul. Kemudian Mahesa lah yang menjawab bahwa ia akan menjelaskannya nanti saat selesai. Damar yang memiliki rambut pendek tidak bisa di bentuk apapun. Mau tidak mau Wardani hanya akan membuat wajah Damar agak berbeda yakni dengan cara membentuk alis Damar agar lebih tebal. Membuat tahi llat di beberapa tempat dan membuat bintik bintik di sekitar hidung tepatnya dibawah mata. Semua sungguh terkejut dengan perubahan wajah damar.
" Baiklah selesai. Kakang Mahesa, kakang Lingga, dan Damar akan menggunakan wajah ini selama berada di Kadipaten Gendingan."
Semua mengangguk mengerti, namun masih tersimpan pertanyaan besar dalam diri Damar. Tidak tahan, Damar pun menanyakan apa alasannya mereka berpenampilan begitu.
__ADS_1
" Baiklah semua dengarkan baik baik. Oh iya kalian boleh sambil memakan sarapan kalian. Begini untuk Damar, kata Bopo Guru wajah Damar itu sangat mirip dengan seorang pendekar yang sakti mandraguna. Pendekar tersebut sudah meninggal karena dibunuh orang yang begitu membencinya. Bopo Guru khawatir nyawa Damar terancam karena dianggap memiliki wajah yang begitu mirip. Sedangkan kami, ceritanya adalah saat kami dulu juga sebagai murid sebuah padepokan. Kami juga seperti kalian yang mengikuti pertandingan, lalu ..."
Mahesa menjelaskan secara garis besar mengenai masa lalu mereka di kadipaten Gendingan ini. Semua murid tampak mendengarkan dengan seksama. Mereka benar benar terkejut mendengar kisah hidup guru guru nya. Terlebih saat mereka mengembara dengan penuh kesusahan.
" Guru harap kalian benar-benar bisa hidup lebih baik dari pada kami. Jangan berambisi, jangan hanya mementingkan diri sendiri. Selalu gunakan hati kalian. Lawan musuh kalian saat musuh kalian sama sama kuat. Namun jika musuh kalian sudah lemah maka jangan lagi kalian menyerangnya. Ingat apa yang diajarkan oleh Bopo guru mengenai welas asih."
Mahesa memberikan pengertian kepada semua murid-muridnya mereka semua mengangguk paham.
" Oh iya, ada satu hal lagi. Jika musuh kalian memang memang tidak kenal ampun, maka kalian berhak dan boleh untuk melumpuhkannya. Intinya kalian gunakan hati kalian. Mana lawan yang benar-benar bisa dikasih ampun. Mana yang harus di lumpuhkan."
Lingga menambahkan penjelasan Mahesa. Semua kini mengerti. Para murid tersebut paham dengan arahan guru gurunya. Mereka kembali ke bilik untuk mengambil pedang mereka. Sedangkan Damar. Dia masih berdiri di sana. Indira menatap aneh kepada sang kakang.
" Kang Damar ada apa? Mengapa tidak mengambil pedang."
" Paman, bibi, bisakah kalian mendapatkan pedang biasa untukku?"
" Kamu itu bicara opi to le. Memangnya pedang pitu mu kemana?"
" Ku simpan paman Mahesa. Aku hanya ingat pesan romo agar berhati hati dalam menunjukkan pedang pitu. Makanya aku simpan."
Mereka masih tidak mengerti apa yang diucapkan Damar. Lalu Damar pun menujukkan dimana pedang pitu. Tentu saja semua tercengang melihatnya. Mahesa, Lingga, dan Wardani paham. Akhirnya Lingga memberikan pedang cadangan miliknya agar digunakan oleh Damar.
Semuanya kini telah siap. Wardani dan Indira hanya bisa mengantarkan sampai pintu penginapan. Indira yang sudah diberi pengertian akhirnya mengerti. Ia pun tidak mau membuat susah dan repot paman dan bibinya.
Damar bersama teman dan kedua paman gurunya menuju halaman Kadipaten. Pagi ini akan dilaksanakan upacara pembukaan. Semua pemimpin padepokan yamg mengikuti perlombaan akan hadir untuk ikut pembukaan.
" Terus, padepokan kita siapa yang akan mewakili paman?" tanya Damar penasaran.
__ADS_1
" Ada, kita lihat saja nanti," jawab Mahesa.
Semua sudah bersiap di halaman. Masing-masing padepokan berbaris sesuai dengan kelompoknya. Tampak Adipati Ranawijaya berdiri di depan dan mulai berbicara. Ia kembali menyampaikan tentang peraturan yang sudah mereka ketahui. Namun disini Adipati kembali menegaskan, jika ada yang melanggar peraturan maka mereka akan dikeluarkan dari pertandingan. Bukan hanya yang melanggar melainkan satu padepokan harus dikeluarkan.
" Baiklah, saya harap semua sudah mengerti. Dengan ini pertandingan besar murid padepokan usia muda saya nyatakan dimuali."
Goooong
Goooong
Goooong
Sebuah gong dipukul sebanyak tiga kali melambangkan pertandingan dimulai. Semua pemimpin padepokan berdiri bertepuk tangan dan memberi hormat kepada Adipati Ranawijaya. Mereka juga melakukan jabat tangan kepada Adipati kadipaten Gendingan tersebut.
" Lah paman, itu bukannya Ki Wibawa yang menjadi kusir kita kemarin?"
" Ya kau benar. Asal kalian tahu. Ki Wibawa adalah tangan kanan Bopo Guru. Dia memiliki kemampuan ilmu kanuragan yang luar biasa juga."
Tentu semua murid terkejut mendengar ucapan Mahesa. Mereka sungguh tidak tahu akan hal tersebut. Pantas saja Ki Wibawa memiliki aura seperti bukan orang biasa.
Setelah acara pembukaan selesai. Mereka pun menunju Arena bertanding. Bukan satu per satu penampilan mereka akan di nilai. Namun ke lima murid sekaligus akan menunjukkan seni bela diri mereka.
" Baiklah, peraturan di babak pertama kali ini adalah seni bela diri. Setiap padepokan akan langsung menunjukkan kemampuan kalian. Dan kali ini seorang ksatria pemimpin perang kerajaan Astina akan berlaku sebagai penilai. Ini lah Ksatria Yasapati."
Semua orang bertepuk tangan. Mereka sungguh tidak mengira seorang pimpinan perang milik kerajaan akan hadir di sana sebagai penilai. Semua terilhat begitu bersemangat untuk menampilkan yang terbaik.
" Nama saya Yasapati, sungguh sebuah kehormatan bisa melihat kemampuan anak anak berbakat seperti kalian. Mari kita mulai babak pertaman ini."
__ADS_1
TBC