
Berbeda dengan keadaan di lembah Palarang, di padepokan dimana Balaajaya memimpin kembali terjadi keributan. Bagaimana tidak, utusan yang dia kirim ke Kadipaten Gendingan rupanya melaporkan sesuatu yang sungguh membuatnya murka.
" Bedebah Adipati Ranawijaya. Berani beraninya dia tidak menganggap ku. Bagaimana bisa dia tidak mau mengatakan hasil pencariannya selama lebih dari sebulan ini."
Sang utusan hanya bisa diam tanpa berani menanggapi kemarahan Balaajaya.
Projo, satu satu orang yang berani berbicara dengan Balaajaya akhirnya maju ke hadapan sang tuan. Ia meberikan sebuah usulan untuk menyebarkan lukisan kelima murid tersebut dan memberikan sejumlah imbalan kepada siapapun yang menemukan.
Namun rupanya usulan itu ditolak mentah mentah oleh Balaajaya. Ia mengatakan bahwa percuma melakukan itu semua, yang ada sayang mengeluarkan koin perak dan emas untuk orang orang yang tidak berguna.
" Tidak usah, sekarang aku telah membuat keputusan bahwa kelima anak itu kuanggap mereka bukan lagi murid padepokan. Jadi terserah mereka mau hidup atau mati bukan lagi urusan ku. Aku katakan kepada kalian semua. Barang siapa yang keluar dari padepokan ini maka di bukan lagi murid dari padepokan. Dan kita tidak bertanggung jawab lagi terhadap mereka. Satu lagi, bagi dia yang keluar dari padepokan maka dia tidak akan pernah diterima lagi di padepokan ini sampai kapanpun bahkan keturunannya sekalipun."
Semua murid tentu saja terkejut dengan apa yang diucapkan oleh pemimpin mereka tersebut. Rupanya Balaajaya tidak berbelas kasih sedikitpun.
Projo hanya bisa diam dan menghembuskan nafasnya dengan begitu berat. Pun dengan semua guru yang berada di sana. Mereka benar benar tak habis pikir dengan peraturan peraturan baru yang dibuat Balaajaya. Peraturan-peraturan yang ada di sana sungguh sudah sangat jauh melenceng dari peraturan Padepokan Pedang Sakti sebelumnya.
Setelah mengatakan peraturan barunya, Balaajaya meninggalkan pendopo dan kembali masuk ke kamarnya.
Hal tersebut membuat para petinggi yang lain merasa sedikit geram. Setiap setelah melakukan pertemuan Balaajaya langsung masuk ke kamarnya. Tidak seperti Wiradharma, Wira pasti akan menyempatkan diri berbincang kepada petinggi yang lain atau guru-guru untuk sekedar membahas tentang padepokan. Atau Wiradarma biasanya akan menuju ke halaman untuk melihat para murid berlatih. Bahkan terkadang ia akan memberikan beberapa jurus silat untuk dipelajari para murid.
" Haah, mau jadi apa padepokan ini nanti," ucap satu satu guru silat yang masih berada di pendopo.
__ADS_1
" Entahlah Ki, baru ditinggal beberpa bulan oleh Ki Wiradarma semuanya sudah berubah. Jika berubahnya menjadi lebih baik maka tidak jadi soal. Ini perubahannya sungguh sangat diluar pemikiran," sahut guru yang lain.
Mereka semua tertunduk lesu memikirkan nasib Padepokan Pedang Sakti kedepannya nanti. Bahkan mereka merasa tidak perlu waktu bertahun tahun padepokan ini pasti akan hancur di tangan Balaajaya.
Balaajaya hanya memikirkan keuntungan namun tidka pernah berbanding lurus dnegan kualitas. Semakin kesini para murid murid tak lagi memiliki rasa empati dan simpati. Mereka semakin menjadi egois dan berambisi. Terlebih Balaajaya selalu menekankan bahwa mereka harus menjadi lebih baik dari pada yang lain dnegan cara apapun.
πΏπΏπΏ
Ki Prama benar benar mengatakan maksudnya kepada Nyi Sambi. Ia ingin memperistri Nyi Sambi. Ki Prama merasa Nyi Sambi adalah wanita yang baik dan pintar. Damar akan sangat terawat bila bersama Nyi Sambi. Ditambah ada kelima muridnya itu, ia merasa butuh seseorang sosok istri untuk bisa membantunya mengurusi anak anak itu.
Setelah berpikir semalaman Nyi Sambi menerima ajakan menikah Ki Prama. Keduanya pun kini menjadi suami Istri. Ki Prama dibantu Mahesa, Lingga, Braja dan Karendra mendirikan rumah yang lebih layak lagi agar bisa ditinggali bersama.
Ki Prama menyatukan rumah miliknya dan rumah Nyi Sambi. Para pria itu berbagi tugas, ada yang mencari kayu ke dalam hutan dan ada pula yang mulai mendirikan kayu kayu tersebut. Sebelumnya Ki Prama membuat gubuk kecil untuk Damar dan Indira berteduh. Kedua bayi itu tampak tertawa bermain dengan Wardani. Sedangkan Nyi Sambi, ia tengah menyiapkan makanan untuk semua orang.
Tapi tiba tiba Wardani melihat sesuatu yang lain di wajah Damar. Ia seperti mengenali wajah bayi laki laki itu. Wajah Damar sungguh tidak asing baginya. Apalagi sesekali bayi itu mengeluarkan cahaya dari tubuhnya yang membuat Wardani terkesiap.
" Darma, kenapa wajahmu mirip ki Wira. Tapi bukankah waktu itu putra dari Ki Wira sudah meninggal bersama Ki Wira dan Nyi Gayatri?"
Wardani kembali menelisik setiap sudut wajah si bayi. Ia sungguh merasa bayi di depannya itu memiliki kemiripan dengan ketua padepokan sebelumnya.
" Nduk, bisa tolong bantu ibu?"
__ADS_1
" Iya bu, Wardani akan ke sana."
Teriakan Nyi Sambi membuyarkan lamunannya. Ia pun segera menghampiri Nyi Sambi untuk membantu, namun pikirannya tidka lepas dari Damar.
Mereka sepakat memanggil Nyi Sambi dengan sebutan ibu dan Ki Prama dengan sebutan bopo. Sebenarnya itu juga salah satu penyamaran mereka agar tidak dikenali oleh orang luar. Mereka akan hidup sebagai sebuah keluarga di lembah Palarang tersebut.
Setelah satu minggu akhirnya rumah itu pun jadi. Sedikit lebih besar memang. Karena banyak orang yang ada di dalam nya. Mereka semua tampak puas melihat hasil karya yang mereka ciptakan.
Selama seminggu itu juga mereka tidak berlatih. Maka hari ini Ki Prama akan mulai melatih mereka. Ki Prama akan melatih mereka dari awal atau dari dasar terlebih dahulu. Tentu saja kelima anak muda itu tidak keberatan, pasalnya mereka juga membutuhkan dasar ilmu kanuragan yang kuat dan bersih tentunya.
" Baiklah, kita akan berlatih sebelun fajar hingga fajar menyinsing dan setelah hari gelap. Siang harinya kalian bisa bekerja. Mau bekerja di ladang atau mencari pekerjaan di pasar tidak masalah. Untuk Wardani kamu bantulah ibu mu menjaga Damar dan Indira di rumah."
" Baik bopo."
Ki Prama tidka mungkin membiarkan Wardani bekerja kasar di luar. Bagaimana pun Wardani seorang wanita. Lagi pula di rumah Nyi Sambi pasti akan kerepotan mengurus Damar dan Indira yang mulai bertambah besar.
Kelima anak muda itu sungguh merasa hidup mereka akan berubah mulai dari sekarang. Rasa syukur terucap dari bibir mereka.
" Setipa kejadian pasti ada hal lain di sebaliknya ya kakang," ucap Braja tiba tiba. Kini mereka tengah duduk di halaman rumah sambil menatap langit malam.
" benar rayi, siapa sangka kita bisa bertemu guru. Aku yakin kalian tidak terlalu mengingat guru, atau mungkin kalian belum datang ke padepokan saat guru masih di sana. Guru adalah sosok guru yang baik dan hebat. Mari kita belajar dan berlatih dengan sungguh sungguh," jelas Mahesa panjang. merek apun mengangguk setuju dengan ucapan sang kakak seperguruan.
__ADS_1
TBC