Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Campur Tangan Adipati Gendingan


__ADS_3

Kadipaten Gendingan


Seseorang tengah tersenyum lebar saat mengetahui bahwa kerajaan Astana menggunakan tempatnya lagi untuk dijadikan arena pertandingan bagi para pendekar muda.


Adipati Ranawijaya sungguh merasa terhormat saat sang raja memerintahkan dirinya langsung sebagai penanggungjawab pertandingan ini.


" Apakah begitu senang kakang?"


Seorang pemuda menghampiri Adipati Ranawijaya yang tengah duduk di depan pendopo sambil menikmati bintang bintang di langit malam.


" Tentu saja rayi Kertawijaya. Ini adalah sebuah perhelatan akbar. Tentu saja aku sangat senang."


" Tapi kakang, jika peristiwa belasan tahun silam itu terulang bagaimana?"


Ranawijaya tersenyum mendengar pertanyaan adik kandungnya itu. Kertawijaya adalah adik kandung dari Ranawijaya. Selisih usia mereka begitu jauh. Saat ini Ranawijaya berusia 40 tahun dan sang adik berusia 18 tahun. Meskipun kadipaten Gendingan terkenal dengan daerah netral yang tidak memiliki ilmu kanuragan dan ilmu silat namun Ranawijaya mempunyainya. Ia pun secara sembunyi mengajarkan kepada snag adik.


" Haish, kamu masih kecil waktu itu. Bagaimana bisa kamu mengetahui hal seperti itu."


" Banyak yang berbicara tentang hal itu kakang. Makanya aku sedikit khawatir jika hal tersebut terulang kembali."


Ranawijaya tersenyum simpul. Pertanyaan sang adik membuatnya mengingat peristiwa tersebut. Mungkin bisa dikatakan ia melindungi kelima anak anak yang pergi melarikan diri. Bahkan ia sengaja tidak memberi izin Padepokan Pedang Sakti untuk mencari murid murid nya. Tanpa sepengetahuan semua orang dan semua pihak sebenarnya Rana wijaya mengutus seseorang untuk memata matai kelima murid dari Padepokan Pedang sakti itu.


Bahkan rencana pelarian Mahesa dan adik seperguruannya ia pun tahu. Tadinya ia hendak meringkus kelimanya, namun saat mendengar alasan mereka meninggalkan pertandingan itu membuat Ranawijaya membiarkan mereka untuk pergi.


Adipati Gendingan itu pun berbohong soal ingin melakukan pencarian. Ia bahkan sama sekali tidak bergerak mencari Mahesa dan teman temannya.


" Sudah jangan dipikirkan. Kakang jamin kejadian itu tidak terulang kembali. Sudah sana pergi tidur."

__ADS_1


Kertawijaya mengangguk, pemuda itupun berjalan menjauh dari sang kakang untuk menuju bilik nya.


" Kali ini beda rayi. Kali ini pertandingan akan diperuntukkan untuk menguji kemampuan para murid bukan untuk mencari penguasa dunia persilatan. Huft ... Andaikan orang itu muncul maka sebenarnya dialah penguasa dunia persilatan. Paman kapan kau akan keluar? Sampai kapan kau akan terus bersembunyi?"


Ranawijaya memejamkan matanya sejenak. Ia kemudian membuang nafasnya perlahan. Pria itu segera bangkit dari duduknya dan kembali menuju ruang pribadinya.


Tidak banyak yang tahu bahwa ruang pribadi yang ia miliki itu adalah tempatnya berlatih ilmu kanuragan. Kertawijaya dan sang ibu yang mengetahuinya karena Kertawijaya sudah dilatih olehnya saat usia sang adik 10 tahun.


🌿🌿🌿


Setelah sehari benar benar beristirahat dan tidak melakukan latihan apapun. Kini Damar sudah siap untuk melakukan latihan selanjutnya setelah semedi kemarin.


Pagi hari dimana embun masih tercium bau basahnya itu, Damar sudah bersiap untuk menerima pelajaran dari sang romo. Ki Prama tersenyum melihat semangat Damar yang begitu berapi api.


" Baiklah le, mari kita mulai. Romo akan mengajarimu ilmu pedang."


Damar sedikit bingung, dalam hatinya bertanya tanya bukankah selama ini ia sudah berlatih ilmu pedang selama di padepokan. Apakah semua itu masih sangat belum cukup?


Damar mengangguk patuh. Ia pun segera mengambil pedang miliknya dan mengikuti gerakan demi gerakan yang Ki Prama perlihatkan. Ki prama mengajarkan ilmu pedang yang dimulai dari buku rahasia pertama. Ia memiliki target Damar akan bisa menguasainya selama 7 hari ini. Berbagai gerakan kasar atau bisa disebut gerakan tanpa mengalirkan tenaga dalam di ajarkan oleh Ki Prama.


Damar paham, gerakan gerakan ini haruslah memiliki kuda kuda yang kuat agar ia tetap bisa menstabilkan dirinya saat membuat gerakan pedang seperti menyabet, menghunus, dan memutarkan pedang satu lingkaran penuh diiringi tubuh yang ikut berputar namun harus kembali ke posisi semula dengan tegap dan tidak boleh terhuyung. Jika tubuh terhuyung bisa dipastikan itu menjadi titik lemah yang bisa dimanfaatkan musuh untuk balik menyerang.


Setelah sekitar setengah hari Damar mengikuti gerakan romo nya, kini ia melatih pedangnya sendiri sesuai apa yang ia ikuti tadi.


" Ingat jangan menggunakan tenaga dalam mu. Jangan mengalirkan apapun ke dalam pedangmu. Cukup gerakan saja tanpa emosi tanpa tekanan. Gerakkan pedang mu seolah olah kau sedang menari bukan sedang bertarung."


Sungguh Damar tidak mengerti mengapa ia harus melakukan hal tersebut. Namun ia tetap melakukan apa yang KI Prama katakan.

__ADS_1


" Bukannya kita berlatih untuk bertarung ya, tapi mengapa romo mengatakan hanya untuk menari. Sudahlah ikuti saja kata romo."


Ki Prama yang mendengar gumaman Damar hanya tersenyum tipis. Anak ini benar benar patuh dengan apa yang ia katakan. Dan terbukti hingga matahari tidak lagi menyinari bumi, tarian pedang Damar mulai terlihat indah.


" Baiklah latihan cukup le, kita lanjutkan besok."


Damar mengangguk, ia mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya dengan perlahan. Ia pun memasukkan kembali pedangnya kedalam sarungnya dan meletakkan di samping ia duduk.


" Romo, mengapa kata romo kita berlatih pedang tapi tidak boleh mengalirkan tenaga dalam? Dan tadi kata romo kita malah seperti menari."


" Le, ilmu pedang adalah seni. Jika kita lihat selama ini berlatih dalam pikiran kita hanya untuk membunuh itu tidak sepenuhnya salah sih tapi juga tidak sepenuhnya benar. Ilmu pedang di dunia persilatan memang digunakan untuk mengalahkan lawan. Namun banyak yang lupa bahwa gerakan gerakan yang dihadirkan adalah karya seni yang indah yang sebenarnya bisa dinikmati tanpa harus khawatir melukai."


Damar mengerutkan kedua alisnya. Ia masih tidak mengerti dengan penjelasan Ki Prama.


" Sudah tidak usah bingung. Selama 7 hari kedepannya lakukan saja apa yang aku perintahkan. Kamu akan mengerti seiring berjalannya waktu nanti. Sekarang makan dan istirahatlah."


Damar mengangguk, ia memakan makanan yang sudah romo nya siapkan. Damar benar benar tidak banyak bertanya. Remaja itu selalu patuh dengan setiap apa yang Ki Prama ucapkan.


Di Padepokan Resik Jiwo, anak anak yang dilatih oleh Mahesa dan Lingga sudah mulai tampak banyak kemajuannya. Sama seperti halnya Ki Prama, Mahesa menekankan agar para murid menghilangkan ambisinya saat menghadapi musuh.


Mahesa menekankan pada perlindungan diri, dari hal tersebut maka dengan sendirinya akan mengalir kekuatan besar yang malah akan membuat lawan kalah. Namun jika mereka melawan menggunakan ambisi maka yang terjadi adalah meraka akan menyerang membabi buta dimana tenaga pasti akan lebih cepat habis terkuras.


" Ingat, kalian harus kerja cerdas jangan kerja keras. Bila kalian hanya sekedar kerja keras maka aku yakin kalian akan dikalahkan dengan mudah. Apa kalian mengerti?!"


" Mengerti guru!"


" Baiklah, kalian makan dan istirahatlah. Jika ada yang merasa sakit segera beritahu guru. Guru tidak ingin melihat kalian memaksakan diri. Jika sakit, lelah makan istirahat. Ingat guru besar tidak suka murid yang tidak bisa memahami dirinya sendiri."

__ADS_1


Keempat murid itu mengangguk mengerti dan berlalu menuju ke bilik dapur padepokan untuk mengisi perut mereka sebelum istirahat.


TBC


__ADS_2