Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Pikiran Aneh Wardani


__ADS_3

Hutan Larangan


Para murid dari kelima padepokan tersebut terus mencari token token yang di sebar dalam hutan. Mereka menemukannya di berbagai tempat. Ada yang di dasar jurang, ada yang di sarang binatang buas, bahkan ada juga yang ditubuh binatang mistis seperti peristiwa Wardani kemarin. Namun ada juga yang hanya tergeletak di tanah.


Para murid harus benar benar teliti dalam mencari token token tersebut. Jika beruntung mereka benar benar tidak perlu mengeluarkan tenaga dalam mendapatkannya.


15 token asli tersebut telah berada di para tangan murid. 5 token berada di tangan Padepokan Pedang sakti, 3 berada di padepokan Tombak Emas. 2 berada di Padepokan Keris Putih. 3 berada di Padepokan Panah Menjangan, dan 2 lainnya di Padepokan Pecut Jiwo.


Kini murid murid kelima padepokan besar tersebut telah sampai dan berdiri di kaki bukit Wono Ageng. Sesungguhnya Wardani sangat senang karena mereka mendapatkan 5 token asli. Hal tersebut berarti mereka masing masing bisa maju ke babak selanjutnya.


Namun rupanya semua itu tidak semudah kelihatannya. Wardani melihat wajah wajah penuh nafsuu ingin merebut token token dari murid lainnya. Mereka siap saling berebut untuk mendapatkan token dari lawan. Bagaimana tidak bernafsuu, jika token tersebut adalah sebuah pintu menuju puncak bukit.


" Kalian hati hati, jangan sampai ada yang terluka," ucap Mahesa mengingatkan. Keempat adik seperguruannya pun mengangguk. Mereka mempunyai tanggung jawab untuk memenangkan pertandingan ini. Tanpa mereka tahu masih ada sebuah kejutan lain menanti.


" Lihat, mereka mempunyai 5 token. Rupanya kita harus melawan mereka untuk merebutnya," ucap salah satu murid dari Padepokan Tombak Emas.


Ternyata ucapan salah satu murid tersebut disetujui oleh para murid ketiga padepokan yang lain. Tepatnya mereka harus saling menyerang untuk mendapat kan token pengantar babak selanjutnya itu.


Para murid dari kelima perguruan tersebut siap dengan posisi kuda kuda mereka untuk bersiap menyerang. Tidak lupa senjata mereka masing masing sudah ada di tangan.


Hiyaaaa!!!


Syut

__ADS_1


Wush


Bruk bruk


Arghhh


" Sialan!! Awas kau, hiaaat!!"


Klek


Prang


Prang


Ngguuuuuuung


Sebuah suara terompet berkumandang terdengar begitu nyaring. Mereka semua seketika berhenti saling menyerang.


" Suara terompet? Ada apa sebenarnya?" gumam salah satu dari mereka.


Semuanya menyingkir dan mundur lalu kembali ke kelompok mereka masing masing. Mereka saling berbisik dan menerka nerka ada apa gerangan.


Syuuuut

__ADS_1


Sesuatu bergerak di depan mereka seperti angin yang berhembus tapi begitu cepat. Ternyata ada seseorang yang muncul di dari dalam hutan larangan. Semuanya sungguh terkejut melihat kedatangan orang tersebut. Tapi rupanya tidak hanya satu melainkan ada sekitar 5 orang yang menyusul. Mereka semua berpakaian serba hitam. Bahkan wajah mereka pun ditutup kain hitam dan hanya mata saja yang terlihat.


Para murid tampak waspada hingga salah satu dari mereka mengeluarkan sesuatu. Seperti sebuah kertas gulungan.


Orang itu membukanya lalu membacakan isinya. Semua sungguh terkejut mendengarkan apa yang tertera di dalam kertas tersebut.


" Baiklah, kalian semua sudah mendengar. Bagi yang mendapatkan token, kalian silahkan langsung ke atas bukit. Bagi yang tidak mendapatkan kalian akan ikut kembali bersama kami."


Semua tentu saja terkejut. Peraturan kemarin bukanlah seperti itu. Peraturan pertama yang disampaikan oleh Adipati Gendingan adalah mereka bebas merebut token milik lawan. Tapi mengapa bisa berubah seperti sekarang? Sungguh pertanyaan itu kini terngiang di dalam diri mereka namun tidak bisa mereka utarakan.


Selain murid dari Padepokan Pedang Sakti, mereka kini tengah berunding. Kira kira siapa yang akan mereka percaya untuk memegang token tersebut. Sedangkan Mahesa bersama adik adik seperguruan nya langsung naik ke atas bukit.


" Beruntung kita mendapatkan token itu pas sesuai dengan jumlah kelompok kita," ucap Lingga.


" Jangan senang dulu rayi, ini malah berat buat kita. Secara tidak langsung kita harus saling menyerang nanti. Mengingat peraturan tadi bisa diubah seperti itu, aku sedikit takut dengan peraturan pertandingan di atas bukit nanti," tukas Mahesa.


Semua pun mengangguk paham. Mereka sungguh tidak mengerti apa yang akan terjadi di atas sana. Seperti apakah mereka nanti akan berhadapan satu sama lain untuk mendapatkan gelar terkuat.


Namun tiba tiba Wardani merasa ada yang aneh didalam pertandingan ini. Jika ingin mejadikan padepokan mana yang terkuat mengapa bukan guru besar atau pemimpin padepokan lah yang bertanding? Bila perlu buatlah sebuah peperangan besar dimana hal tersebut lebih meyakinkan untuk mengetahui padepokan mana yang kuat saat nanti diketahui siapa pemenangnya.


Sungguh Wardani ingin bertanya namun ia harus hati hati. Ia tidak ingin apa yang ia ucapkan itu menjadi sebuah senjata makan tuan untuk dirinya.


Gadis itu memilih diam menelan semua pemikirannya sendiri. Ia akan mengatakan apa yang ia pikirkan tadi kepada Mahesa saat waktunya tepat. Meskipun saat ini pikiran aneh nya itu benar benar memenuhi kepalanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2