Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Padepokan Resik Jiwo


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat. Damar dan Indira mulai bertambah besar. Sedangkan Mahesa dan saudara saudaranya namoak lebih matang.


Lembah Palarang berubah menjadi padepokan yang tidak hanya mempelajari satu senjata saja. Keahlian menggunakan panah, pecut, dan tombak berhasil mereka kuasai dan kini mereka ajarkan.


Ki Prama menamai pedepokan yang ia buat bersama kelima muridnya itu Padepokan Resik Jiwo. Mengapa namanya demikian, filosofi yang tersirat dalam nama tersebut adalah tempat itu dibuat untuk mereka yang ingin hidup lebih baik lagi. Meninggalkan ambisi dan keserakahan. Di padepokan ini bukan hanya diajarkan ilmu kanuragan dan beladiri namun juga pemurnian hati sehingga mereka yang telah lulus dari padepokan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Bukan hanya anak anak atau remaja yang belajar di padepokan tersebut. Ada juga beberapa orang dewasa yang ikut belajar untuk menenangkan hati dan menjernihkan pikiran.


Dua orang remaja berbeda jenis tengah berlatih menggunakan beberapa senjata di awasi oleh dua orang dewasa. Keduanya terlihat begitu lincah.


Hiaaat


Trang ... Trang ...


Suara pedang beradu satu sama lain. Keduanya sama sama bisa mengimbangi permainan. Namun bisa dilihat remaja laki laki tersebut memang lebih gesit dari pada lawannya.


Syuuuuut bug ...


Trang ... Trang ...


Hiyaaa ... Syuuuut


Pemuda itu melompat ke atas dan melewati si gadis hingga ia berdiri tepat dibelakang gadis itu


" Dinda, kau harus fokus. Jika tidak lehermu bisa tertebas pedang," ucap seorang remaja laki laki berusia 14 tahun sambil mengarahkan pedangnya di leher adik perempuannya.


" Tck, aku hanya kalah cepat darimu kakang," sahut remaja perempuan sambil menyingkirkan pedang sang kakak dengan kedua jarinya.


Keduanya kembali memasukkan pedang mereka ke sarungnya lalu saling membungkuk memberi hormat. Latihan mereka akhirnya selesai juga setelah seharian mereka berlatih dengan menggunakan dua senjata sekaligus. Tombak adalah pilihan pertama keduanya, lalu dilanjut dengan pedang. Biasanya mereka akan langsung berlatih panahan namun rupanya hari mulai gelap. Langit senja perlahan mulai menghilang.


" Damar, Indira jika sudah selesai pergilah membersihkan diri."


" Baik bibi Wardani."

__ADS_1


Wardani tersenyum, ia sungguh merasa bahagia melihat perkembangan dua remaja itu. Bagaimana tidak, Wardani ikut andil dalam merawat Damar dan indira.


" Haish, mereka mengapa cepat sekali besarnya?"


" Kenapa dinda?"


Wardani tersenyum mendengar pertanyaan Mahesa. Pria disampingnya itu semakin lama terlihat semakin tampan. Wardani pun memeluk Mahesa dengan begitu erat. Ia menengadahkan wajahnya melihat wajah sang suami.


" Aku merasa hidup kita sangat cepat kakang. Rasanya baru kemarin aku menggendong Darma dan Indira, kini keduanya sudah besar."


" Hahaha jadi begitu rupanya."


" Kakang, maafkan aku. Sampai saat ini aku belum bisa memberimu putra atau putri."


Mahesa membelai lembut wajah sang istri. Pernikahan mereka yang sudah berjalan 7 tahun itu belum juga dikaruniai momongan. Pria itu tahu persis bagaimana perasaan sedih sang istri. Maka dari itu Wardani sangat menyayangi Darma dan Indira.


" Tidak usah sedih dan terlalu banyak berpikir, anak anak kita di sini sudah banyak. Jangan membebani mu dengan persoalan itu. Aku tulus mencintaimu entah kamu bis memberiku anak atau tidak aku tetap mencintaimu."


Wardani sungguh terharu. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Pernah suatu ketika Wardani meminta Mahesa untuk menikah lagi, namun Mahesa menolak mentah mentah bahkan pria itu sangat marah. Bagi Mahesa ia hanya akan mempunyai satu istri di masa hidupnya itu.


Wardani menarik tubuhnya hingga sedikit menjauh dari Mahesa. Rupanya Lingga lah yang menganggu momen indah keduanya. Mahesa hanya tersenyum simpul, sedangkan Lingga cekikikan melihat raut wajah malu Wardani.


" Kau memnag menyebalkan kakang Lingga."


Wardani berlalu dari sana, ia sungguh malu karena dipergoki oleh Lingga.


" Ada apa rayi?"


" Dipanggil oleh bopo kang, katanya ada ynag mau dibicarakan."


Mahesa mengangguk mengerti. Ia dan Lingga kemudian berjalan menuju tempat di mana bopo mereka sudah menunggu. Sesampainya di sana ternyata sudah ada Karendra dan Braja. Mahesa dan Lingga memberi hormat lalu duduk di kursi yang sudah disediakan.


" Kalian sudah berkumpul, bagus. Ada beberapa hal yang akan aku sampaikan."

__ADS_1


Ki Prama mengeluarkan sesuatu dari balik punggung nya yang membuat mereka terkejut. Bagaimana tidak, selama mereka di dunia persilatan, mereka hanya mendengar ceritanya saja. Bahkan mata ke-4 pria itu tidak berkedip saat melihat benda yang berada di atas meja.


Ki Prama tersenyum melihat kata kejutan keempat muridnya. Ingin menambah keterkejutan mereka Ki Prama pun mengeluarkan isi nya.


Sebilah pedang yang terlihat begitu mewah, gagangnya terukir ukiran macan dan elang yang berlapiskan emas. Saat dikeluarkan dari sarungnya pedang tersebut memendarkan cahaya putih yang menyilaukan mata. Getaran yang dihasilkan membuat keempat pria yang melihatnya itu sesaat memundurkan badannya.


" Luar biasa," kata itu lolos juga dari mulut Braja.


" Sangat indah," ucap Lingga tiba tiba.


Ki Prama kembali memasukkan bilah pedang yang panjangnya sekitar satu meter itu kembali pada sarungnya.


" Jaga hati kalian, jangan muncul rasa serakah. Itu sangat berbahaya."


Ucapan Ki Prama tentu saja membuat semuanya terkejut. Mereka oun menundukkan kepalanya. Ada rasa sesal dalam diri mereka karena sempat menginginkan benda pusaka tersebut. Kini mereka mengerti mengapa Ki Prama mengajarkan untuk memurnikan hati pada para murid di Padepokan Resik Jiwo.


" Maaf bopo jika saya lancang, apakah itu benda pusaka yang melegenda? Setahu saya namanya Pedang Pitu, tapi mengapa hanya sebilah saja?"


Pertanyaan Mahesa tentu saja sama dengan yang ingin ditanyakan Lingga, Braja dan Karendra. Ki Prama hanya tersenyum, ia belum mau mengatakannya.


" Nanti, ada yang lebih penting untuk saat ini. Aku mendengar akan ada pertandingan antar murid padepokan dengan iming iming hadiah pusaka berupa panah elang emas. Pertandingan itu akan diadakan di Kadipaten Gendingan."


Glek


Keempat pria tersebut menelan ludahnya dengan susah payah. Kadipaten Gendingan, nama tempat itu membuat mereka mengingat peristiwa 14 tahun yang lalu. Masih teringat jelas dalam ingatan mereka saat mereka kabur dari pertandingan yang diadakan. Sampai sekarang pun mereka tidak tahu apakah pertandingan itu berlanjut atau tidak setelah sepeninggalnya mereka.


Berada di Lembah Palarang membuat mereka tidak banyak tahu mengenai dunia persilatan yang ada di luar sana.


Terlebih saat mereka mulai berlatih, mereka benar benar mengosongkan hati dan pikiran mereka agar mendapatkan tingkat ilmu kanuragan yang tinggi.


" Kita akan mengirim 5 orang murid. Mahesa dan Lingga kalian berdua akan mendampingi para murid. Kali ini pertandingan yang akan diadakan adalah murni ubtuk para murid. Jadi kalian jangan terlalu banyak berpikir."


" Romo, aku mau ikut!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2