
Ki Prama, benar benar membuktikan bahwa kali ini ia akan melatih Damar dengan latihan lengkap. Ia merasa Damar sudah mampu menguasai Pedang Pitu sehingga sudah saatnya untuk menyempurnakan latihan ini dengan menggunakan tenaga dalam.
Latihan ini akan jadi latihan terakhir Damar. Dimana setelah latihan ini berkahir ia dan keempat teman seperguruan nya akan menuju ke Kadipaten Gendingan untuk mengikuti pertandingan akbar antar padepokan.
" Apakah kau siap untuk latihan terakhirmu le?"
" Njiih romo, Damar siap."
Ki Prama tersenyum. Ia kemudian menarik pedangnya sendiri dari sarungnya dan mulai menggerakkannya. Setiap gerakan penuh dengan tekanan dan tenaga.
" Kadangga warayudha ngalad alad paramasuteja ( pedang sakti menyala lah dengan terang benderang)."
Ki Prama merapal kan sebuah mantra yang membuat pedangnya bersinar mengeluarkan cahaya putih keemasan. Damar dibuat takjub dengan apa yang dia lihat tersebut. Pendaran cahaya pedang milik Ki Prama bahkan berhasil membuat mata Damar terasa begitu silau.
Ki Prama tersenyum melihat reaksi Damar. Ia kemudian mengayunkan pedangnya ke arah sebuah batu besar yang ada di sisi depan tebing.
Syuuuuut
Blaaaam
Jeduaaaar
Damar merasakan ada sebuah angin yang berhembus namun begitu cepat melesat di depan wajahnya yang menuju batu tersebut. Suara ledakan menggelegar. Ya sebuah aliran tenaga dan cahaya bersamaan mengenai batu besar itu dan membuatnya hancur berkeping.
Ki Prama melanjutkan putaran pedangnya. Ia kini mengarahkan pedang miliknya ke langit. Serasa ingin membelah langit pedang itu Ki Prama putarkan sebanyak satu putaran penuh dari atas ke kanan, ke bawah lalu ke kiri. Mata Damar membulat sempurna saat pedang yang diayunkan Ki Prama tersebut terlihat menjadi e buah pedang yang masing masing memiliki cahaya yang berbeda.
" Ba-bagiaman bisa pedangnya ada 3 dan mengeluarkan cahaya yang berbeda. Kuning keemasan, putih biru, dan putih bersih namun menyilaukan."
Damar bergumam pelan. Ia sungguh begitu penasaran. Namun remaja itu memilih diam mengamati sampai sang romo selesai memperlihatkan jurus pedang terbaru itu.
Pedang tersebut oleh Ki Prama bisa diambil satu persatu dalam wujud cahaya. Damar semkin mendelik saat ia diminta oleh Ki Prama menyerangnya.
" Kemari, gunakan pedang pitu mu untuk menguji pedang telu milikku.".
Tanpa banyak bertanya Damar langsung mengikuti perintah sang romo. Ia menarik pedang pitu miliknya dari sarungnya dan langsung mengarahkan ke arah sang romo.
__ADS_1
Trang
Trang
Trang
Pedang pitu miliknya beradu dengan pedang telu milik romo nya. Damar benar benar tidak habis pikir bagaimana salinan pedang asli yang hanya berwujud cahaya tersebut bisa beradu dengan pedang asli miliknya. Bahkan kesemuanya pun berbunyi saat bergesekan.
Ki Prama menyudahi sesi pertunjukan pedang miliknya. Ia melihat wajah penasaran sang putra.
" Cukup, simpan dulu pedang mu le. Kadangga traya wantu ! ( pedang telu kembalilah ke bentuk semula)"
Pedang telu milik Ki Prama pun kembali menjadi satu. Ki Prama memposisikan pedang tersebut di depan wajahnya lalu mengembalikan ke dalam sarungnya.
" Piye le, wes mudeng? Sudah mengerti maksud dari apa yang romo perlihatkan tadi?"
Damar menggeleng pelan. Ia sungguh masih belum mengerti. Malah dia merasa bingung dengan semua yang ia lihat.
Ki Prama hanya terkekeh pelan melihat wajah kebingungan sang putra. Ia pun menuntun Damar untuk duduk dan ia akan menjelaskan mengenai apa yang batu saja tunjukkan.
" Ayo, romo akan menjelaskannya agar kamu tidak bingung."
" Pedang milik romo ini adalah pedang telu, dia adalah wujud pedang pusaka sebelum pedang pitu. Nah ... "
Ki Prama menjelaskan bahwa pedang pitu milik Damar nanti pun akan bisa mengeluarkan 7 wujud pedang seperti miliknya. Dimana masing masing wujud kaan memiliki pendar cahaya yang berbeda.
Hal yang lebih spesial dari pedang pitu adalah bentuk salinannya. Bentuk salinan dari pedang pitu memiliki wujud yang berbeda beda. Jika pedang telu memili wujud yang sama di setiap salinannya maka pedang pitu lain. Yang Ki Prama tahu adalah bentuk salinan pedang pitu ada yang ukurannya lebih besar menyerupai pedang milik algojo di kerajaan. Ada juga ukurannya yang lebih kecil seperti pedang biasa namun memiliki kemampuan yang sungguh mematikan karena ia bisa mengeluarkan racun. Lalu ada yang bergelombang menyerupai keris yang mana pedang tersebut bisa mengejar lawannya sampai si lawan tidak bisa bersembunyi.
Mulut Damar menganga mendengar penjelasan sang romo. Ia bergidik, ada rasa ngeri mendengar penjelasan tersebut. Seketika pedang pitu yang berada di pangkuannya bergerak.
Jangan takut, kau akan bisa mengendalikan ku.
Damar begitu terkejut mendengar suara yang entah berasal dari mana itu. Namun saat pedang itu bergetar ia akhirnya mengambil kesimpulan bahwa pedang pusaka tersebutlah yang berbicara kepadanya.
Aku tidak akan mengeluarkan wujud ku yang lain jika kamu tidak menghendakinya.
__ADS_1
Damar mengerutkan kedua alisnya, ia mencoba memahami setiap apa yang suara itu katakan.
apakah benar begitu?
Pedang pitu bergetar kembali seakan menjawab 'iya' pada pertanyaan Damar.
" Tampaknya dia mulai berbicara dengan mu le?
"Eh, romo tahu?"
Ki Prama hanya menjawab pertanyaan Damar dengan senyuman. ia kembali menjelaskan mengenai pedang pitu kepada damar. Bahkan asal mula atau pemilik sebelumnya dari pedang pitu itupun Ki Prama ceritakan.
" Jadi maksud romo, pedang pitu ini sebelumya adalah milik kakekku?'
" Ya, pedang itu adalah milik kakek mu yang dititipkan kepada romo untuk diberikan kepada keturunannya yang sah."
" Maksud romo?"
Ki Prama tidak menjawabnya sekarang. ia terlebih dulu meminta Damar untuk berlatih bersama pedang pitu dengan menggunakan ilmu kanuragannya. Damar harus berhasil mengeluarkan keenam wujud pedang pitu lainnya.
Dan, inilah yang Ki Prama suka. Damar selalu tidak banyak protes. meskipun banyak pertanyaan dalam hatinya namun ia akan memilih mematuhi perintah romo nya untuk berlatih terlebih dahulu.
Damar pun mengikuti setiap arahan yang disampaikan oleh Ki Prama. Termasuk mantra yang harus di rapalkan.
" Kadangga warayudha ngalad alad paramasuteja."
Bushhh
Enam wujud lain dari pedang pitu benar benar langsung bisa keluar. Damar sangat takjub. Melihat pedang telu saja sudah membuatnya keheranan, ini dia melihat pedang pitu, tambah heran saja remaja ini.
" Le, jangan terlena. Ingat, kau lah yang harus mengendalikannya. Jangan sampai kamu yang dikendalikan oleh pedang tersebut. gunakan hatimu, jangan pikiranmu."
Ucapan sang romo kembali menyadarkan dirinya dari keterkejutannya. Ia memejamkan matanya sejenak. merasakan setiap gelombang tenaga yang ada dalam dirinya kemudian ia alirkan ke masing masing wujud pedang pitu. damar pun berhasil mengontrol pedang pitu tersebut sesuai keinginan hatinya.
Kau sungguh luar bisa nak, kau berhasil mengontrol ku dengan cepat.
__ADS_1
Damar tersenyum mendengar suara yang kini benar benar ia yakini milik si pedang pitu tersebut.
TBC