Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Kegagalan Dalam Latihan


__ADS_3

Berbeda dengan latihan di Padepokan Resik Jiwo yang penuh kasih sayang, kesabaran, dan keuletan para guru yang mengajar dan murid yang selalu bahagia. Di Padepokan Pedang Sakti kelima murid yang Sangga awasi tengah terengah engah karena lelah yang menghampiri tubuh mereka. Bukan hanya tubuh bahkan kini pikiran mereka penuh dengan tekanan.


Keinginan Balaajaya agar mereka segera meraih ilmu kanuragan tingkat 7 membuat anak anak itu seperti hendak jatuh pingsan.


Setelah kejadian di kolam kemarin yang mana Balaajaya mengalirkan ilmu kanuragannya agar bisa membatu mereka lebih cepat berlatih malah membuat mereka tumbang dan tidak berdaya selama 2 hari. Dan selama 2 hari itu juga Balaajaya selalu mengomel dan menyalahkan anak anak tersebut.


" Dasar lemah, bodoh, tidak becus. Keparat kalian semua. Begitu saja pingsan. Tidak bisa diharapkan!"


Balaajaya benar benar marah saat mengetahui apa yang dia harapkan tidak tercapai sama sekali. Bahkan bisa dikatakan gagal.


Murid murid itu hanya tertunduk lesu. Mereka takut dan merasa bersalah. Tentu saja hal tersebut mengurangi semangat mereka dalam berlatih. Sehingga Sangga dan Projo sedikit kesusahan saat mengajari mereka kembali.


" Jangan dipikirkan ucapan Ki Balaajaya. Kalian sudah sangat bekerja keras untuk latihan kali ini," ucap Sangga membesarkan hati mereka.


" Tapi guru, apakah kita memang seburuk itu? Apakah kita hanya akan gagal nanti?"


Pertanyaan salah satu murid tersebut membuat hati Sangga mencelos. Ia sungguh bingung dengan keadaan ini. Berlatih di padepokan Pedang sakti tidak lagi semenyenangkan dulu saat masih dipimpin oleh Ki Wiradharma.


Sangga sungguh merindukan saat saat itu. Dimana mereka bisa bermain di sela sela latihan. Bahkan ada satu hari dimana mereka semua libur tidak melakukan latihan apapun. Mereka bebas bermain di dalam maupun di luar padepokan. Mereka akan pergi kepasar, bermain di sungai dan mencari buah buahan di hutan. Sungguh hal yang menyenangkan, dan semua itu tidak pernah lagi dilakukan saat Balaajaya menggantikan posisi kepemimpinan Padepokan Pedang Sakti.


" Sudah, mari kita berlatih lagi ya. Sekarang lakukan dengan tulus. Tidak usah dihiraukan ucapan guru besar. Sangat disayangkan jika kalian berhenti disini. Hanya tinggal kurang dari 7 hari lagi kita akan berangkat ke Kadipaten Gendingan."


" Baik paman guru," ucapan kelima murid tersebut kepada Sangga.


Mereka pun kembali berlatih. Mereka berlatih seperti sebelumnya. sangga memberikan latihan saat masih ada Wiradarma. Paling tidak itu malah membuat anak anak tersebut nyaman.

__ADS_1


Di biliknya, Balaajaya sedari kemarin bersungut sungut. Ia sungguh snagat marah karena hasil latihan anak anak itu tidak sesuai harapannya. Ia sudah berharap anak anak itu akan lebih kuat dari sebelumnya. Namun semuanya hanya tinggal harapan dan angan angan. Bagaimana pun mereka tidak bisa secepat kilat mempelajari sesuatu yang memang membutuhkan waktu dan proses. Kecuali memang orang orang tertentu yang dianugerahi dan ditakdirkan bisa melakukannya.


" Projo, bisakah kita mengganti murid lain untuk berangkat bertanding."


" Ampun den, tidak bisa. Tinggal 7 hari lagi, mana bisa mengganti anak anak itu. Latihan yang diterima anak anak itu berbeda dengan anak yang lain. Mereka secara khusus dilatih memang untuk menghadapi pertandingan besok. Bahkan mereka juga dilatih caranya menghadapi berbagai kemampuan senjata milik lawan. Aden tahu sendiri padepokan dengan nama nama senjata pusaka memiliki keahlian di bidang senjata tersebut. Akan berat untuk anak anak baru menggantikan kelima anak ini."


Balaajaya mendengus kesal. Sungguh dia tidak puas dengan anak anak ini. Bagaimanapun juga mereka masih sangat lemah. Itu menurut persepsinya sendiri. Padahal menurut yang lain, tidak. Anak anak yang berlatih secara rutin itu sungguh bisa meningkatkan kemampuan pedangnya dan kemampuan ilmu kanuragannya.


" Baiklah terserahlah. Yang jelas aku tidak mau menanggung malu. Dan besok aku tidak akan ikut ke kadipaten Gendingan. Kau saja yang mewakiliku. Aku malas melihat wajah Adipati Ranawijaya itu."


" Tapi den."


" Tidak ada tapi tapi an. Sudah sana aku sungguh sednag malam berbicara panjang lebar."


Projo mengangguk mengerti, ia pun segera berjalan mundur lalu menghilang dari balik pintu. Dalam hati Projo begitu senang jika Balaajaya tidak ikut ke Kadipaten Gendingan esok. Ia merasa lebih leluasa dalam mengarahkan murid muridnya.


Projo tergugu di bilik nya. Bagaimana pun Mahesa adalah murid kesayangannya. Murid yang begitu berbakat namun mulai tersisihkan saat berdatangan murid murid dari keluarga yang kaya. Meskipun begitu Projo sama sekali tidak pernah membedakan mereka. Projo mengajari semuanya dengan sama rata.


🌿🌿🌿


Di hutan tempat Damar dan Ki Prama berada, Pedang Pitu tiba tiba mengeluarkan cahaya keemasan. Tentu saja hal tersebut membuat Damar terbangun dari tidurnya.


Tidak ingin membangunkan sang romo, Damar bangun sendiri dan perlahan mengambil pedang tersebut. Ia kemudian berjalan sedikit menjauh dan menarik pedang tersebut dari sarungnya.


" Kamu mau apa hmmm? Mengapa malam malam begini tiba tiba bersinar?"

__ADS_1


Seakan mengerti apa yang Damar ucapkan, pedang pitu tiba tiba berkedip kedip. Bahkan pedang tersebut bergerak sendiri hingga membuat Damar mengikuti setiap arah gerakan pedang yang berada di tangannya.


Damar meliuk ke kanan dan ke kiri. Ia bahkan melompat dan berputar. Sungguh ia hanya mengikuti setiap gerakan yang di arahkan oleh pedang pusaka yang kini jadi miliknya.


Terdapat aliran tenaga dalam ke dalam tubuh Damar. Jika biasanya ia menggunakan senjata, dia lah yang mengalirkan tenaga maka kali ini tidak. Dia lah yang mendapatkan tenaga dari senjata yang ia gunakan.


Malam itu akhirnya Damar tidak tidur karena sang pedang memintanya untuk berlatih.


Syuut


Trang trang


Suara sabetan pedang dan gesekan Pedang Pitu dengan bebatuan tentu saja membangunkan Ki Prama. Pria paruh baya tersebut langsung bangkit dari tidurnya. Ia mengucek kedua matanya, menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan sang putra. Namun Ki Prama hanya diam dan menyaksikan. Ia tidak akan berkomentar apapun sampai Damar selesai berlatih dengan pedang miliknya itu.


Huuuuup huuuuuh


Damar berhenti setelah suara kokok kan ayam hutan terdengar nyaring di telinganya. Remaja tersebut sungguh terkejut saat melihat sang romo sudah duduk bersila di atas batu menyaksikan apa yang ia lakukan.


" Romo, sejak kapan romo bangun?"


" Sejak semalam, saat kamu dengan Pedang Pitu mulai berlatih."


Damar menampilkan wajah yang sungkan. Ia sungguh merasa tidak enak karena apa yang dia lakukan membuat sang romo terbangun.


" Maaf romo, pasti romo bangun gara gara suara berisik ku."

__ADS_1


" Tidak perlu minta maaf. Romo senang kamu mau berlatih dengan semangat. Sekarang mari kita berlatih dengan menggunakan ilmu kanuragan mu. Kita gabungkan dengan ilmu pedang dan ilmu kanuragan."


TBC


__ADS_2