Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Bertemu Teman Baru


__ADS_3

Di Penginapan yang ditempati Damar semua tampak senang dengan hasil yang di dapat. Kelima anak tersebut tak henti hentinya tersenyum. Bukan berlebihan, pasalnya memang sulit untuk bisa lolos di babak awal ini. Padepokan Resik Jiwo menjadi satu-satu nya padepokan yang kelima muridnya bisa lolos semua menuju babak selanjutnya.


" Paman guru bangga kepada kalian," ucap Lingga dan Mahesa bersamaan. Pun dengan Wardani dan Indira, mereka juga mengucapkan selamat kepada kelima anak tersebut. Tampak wajah yang berbinar dengan apa yang mereka dapatkan.


" Tapi, jangan senang dulu. Besok masih ada yang lebih berat dari ini," ucap Mahesa.


Kelima anak itu mengangguk paham. Mereka sudah mengetahui peraturan di babak kedua. Hutan Larangan adalah tempat dilaksanakannya babak kedua untuk pertandingan besok. Baik Wardani, Lingga, dan Mahesa memberi tahu apa yang ada di dalam hutan Larangan.


Tanaman beracun, binatang buas, jurang yang curam, dan binatang mistis. Semua ada di sana. Wardani memberikan masing masing satu botol obat penawar racun kepada kelima anak tesebut. Meskipun sudah ada penawar racun mereka tetap harus berhati hati.


" Baiklah, besok kalian tidak mencari token itu bersama-sama tapi sendiri-sendiri. Disini kemandirian dan keberanian kalian akan diuji."


Sebuah kalimat panjang yang diutarakan mahesa membuat mereka paham. Mahesa juga menjelaskan lagi bahwa mereka harus menemukan token tersebut dalam kurun waktu 3 hari. Jika belum menemukan di hati pertama, maka mereka akan bermalam di hutan Larangan tersebut. Hal ini yang akan menjadi sedikit riskan. Oleh karena itu sebaiknya mereka mendapatkan token tesebut sesegera mungkin saat hari masih terang.


Hutan Larangan adalah jenis hutan lindung yang begitu rapat. Pohon-pohon tinggi besar mendominasi hutan tersebut sehingga meskipun siang hari hutan tersebut terasa teduh dan gelap karena sinar matahari yang terhalang pohon-pohon besar yang rimbun.


" Apa kalian sudah mengerti?"


" Satu pertanyaan paman guru, bagaimana membedakan tanaman beracun dan tanaman yang tidak? Kami khawatir akan memakan tumbuhan yang beracun."


Lingga dan Mahesa tersenyum, pertanyaan salah satu murid mereka ini benar-benar begitu berisi dan tepat.


" Cara membedakannya yakni, tanaman yang beracun biasanya memiliki warna yang mencolok. Ia memiliki buah berwarna merah terang atau hitam pekat. lalu biasanya ia akan mengeluarkan tlutuh (getah) yang berwarna putih seperti susu."


Penjelasan Mahesa bisa diterima dengan mudah oleh kelima anak tersebut. Meskipun begitu, besok Wardani akan memberikan bekal beberapa makanan untuk kelima anak itu.


" Paman satu pertanyaan lagi. Besok jika kita berhasil mendapatkan token berarti kita akan melaju ke babak akhir. Apakah paman guru akan berada di sana. Di atas bukit Wono Ageng."


" Ya Damar, semua guru atau pengantar dari seluruh padepokan akan berada di sana untuk menyaksikan. Bahkan Adipati Ranawijaya pun juga akan di sana."

__ADS_1


" Baiklah saatnya kalian untuk beristirahat."


Perintah Wardani langsung diikuti oleh Damar dan teman temannya. Besok merupakan hari besar karena mereka akan berburu token. Sungguh Damar merasa tidak sabar untuk memasuki hutan Larangan. Ia merasa seperti ada sesuatu yang menarik dirinya kesana.


🌿🌿🌿


Hari baru tiba pertanda babak baru pun tiba. Kali ini Wardani dan Indira iut mengantarkan kelima anak tersebut itu menuju pintu hutan Larangan. Wardani juga melakukan penyamaran tapi tidak dengan Indira. tentu saja Indira tidak perlu karena dia memang tidak ada yang mengenalinya.


" Baiklah, kalian berhati hati lah. Langsung menyebar kesegala arah. Kesempatan untuk mendapatkan token akan lebih besar jika kalian menyebar."


" Siap paman guru."


Semua murid yang lolos dari babak pertama sudah berdiri di depan pintu hutan. Mereka semua mengambil ancang ancang untuk segera berlari setelah tabnda pertandingan babak kedua dimulai.


" Pertandingan babak kedua adalah mendapatkan token. Bagi yang tidak mendapatkan token maka kalian akan dianggap gagal. Kalian semua diberi waktu dua hari untuk mencarinya. Bagi yang sudah mendapatkan, kalian harus segera menuju ke bukit Wono Ageng. Baiklah, dalam hitungan ketiga maka kalian bisa langsung masuk ke dalam hutan. Satu ... dua ... tiga!!!"


Suara kaki milik semua murid tersebut begitu menggema. Pada hitungan ketiga mereka benar-benar langsung berlari memasuki hutan.


" Semoga kau berhasil kakang," doa indira dalam hati.


Para pengantar pun balik kanan untuk kembali ke penginapan. Namun rupanya Indira belum mau kembali. Ia membujuk sang bibi untuk membawanya berjalan-jalan terlebih dulu. Sangat sayang sudah jauh-jauh sampai di kadipaten Gendingan ini tapi tidak pergi kemana-mana.


" Bibi aku dengar di kadipaten ini ada danau yang sangat bagus. bolehkah kita ke sana."


" Anda benar nona, di kadipaten kami memang ada danau yang sangit cantik. Sama seperti nona yang cantik. Jika nona beruntung, nona akan menjumpai angsa-angsa yang tengah berenang di sekitar danau."


Indira sungguh terkejut saat ada seorang pemuda yang tiba-tiba berbicara. Tidak ingin gede rasa, Indira pun menoleh kesana kesini memastikan bahwa pemuda itu tengah berbicara kepadanya.


" Kisanak berbicara kepadaku?"

__ADS_1


" Terus kepada siapa lagi."


Wardani terkekeh geli melihat interaksi kedua remaja di depannya.


" Baiklah pemuda tampan. Siapa namamu dan dari mana berasal."


" Aaah, maaf aku lupa mengenalkan diri. Perkenalkan namaku Kertawijaya, aku adik dari Adipati Ranawijaya."


Wardani tentu terkejut, ia sungguh tidak menyangka Adipati Ranawijaya memiliki adik yang masih begitu muda. Namun ia tidak mau banyak bertanya. Wardani pun menyetujui Kertawijaya yang ingin mengantar Indira untuk pergi melihat danau yang ada di kadipaten tersebut.


Sepanjang perjalanan Indira dan Kertawijaya tampak saling berbicara. Ternyata keduanya sama-sama mudah akrab terhadap orang baru. Berkali kali Kertawijaya mencuri pandang kepada Indira dan hal itu tidak lepas dari pengelihatan Wardani.


Gadis ini sungguh cantik, apa dia juga murid sebuah padepokan? Tapi dilihat dari penampilan dan pedang yang tersampir di pinggang kecilnya itu menegaskan bahwa dia merupakan seorang yang memiliki ilmu beladiri.


Kertawijaya sibuk dengan pikirannya sendiri. Menebak dari mana asal gadis cantik yang berada di sebelahnya itu.


" Maaf bibi, bolehkan saya tahu berasal dari mana kalian?"


" Aaah kami berasal dari padepokan Resik Jiwo."


Kertawijaya tentu saja terkejut. Semalam dia baru saja mendengar kakang nya dan ksatria Yasapati membicarakan padepokan tersebut. Tentang keahlian murid-muridnya dalam mengontrol emosi yang berada pada tubuh mereka. Kertawijaya semakin penasaran saja dibuatnya. Pemuda itu pun akhirnya menanyakan banyak hal hingga ia mengetahui bahwa Indira adalah putri pemilik Padepokan.


Jika Indira merasa takjub dengan keindahan danau milik kadipaten Gendingan, Kertawijaya takjub dengan gadis yang ada di sampingnya tersebut. Indira sosok gadis yang begitu ramah dan menyenangkan saat diajak berbicara.


" Kakang Kertawijaya, danaunya sangat cantik ya," ucap Indira.


" Ya sungguh cantik," Balas Kertawijaya tanpa memalingkan pandangannya pada gadis tersebut.


TBC

__ADS_1


__ADS_2