Warrior Of The Seven Swords

Warrior Of The Seven Swords
Rencana Yang Disiapkan


__ADS_3

Kedatangan Balaajaya ke penginapan tentu membuat Sangga terkejut. Bagaimana tidak, saat ini malam masih begitu awal dan anak anak tersebut sudah tidur. Tidak mungkin untuk Sangga membangunkan para murid yang tengah beristirahat tersebut.


Sangga pun melirik sepintas keada Projo, ia mendapat sebuah kedipan mata dan tanda untuknya segera pergi masuk ke kamar meninggalkan gurunya.


" Mana mereka?"


" Tidur."


" Mengapa tidak berlatih, ini masih sangat awal untuk mereka tidur."


" Biarkan saja, kasian. Pertandingan besok tidak akan mudah. Jadi biarkan mereka tidur lebih awal.'


Enggan medapat pertanyaan yang bermacam macam, Projo pun segera memberikan selebaran mengenai peraturan pertandingan besok. Balaajaya membacanya perlahan lahan.


" Peraturan macam apa ini? Seni beladiri? Yang benar saja. Mereka kemari untuk bertanding bukan untuk menari."


Ballajaya tampak kesal dengan perturan pertandingan kali ini. Sungguh sangat tidak memuaskan baginya. Ia pun lalu berdiri dan hendak berjalan keluar. Projo yang paham apa yang akan Ballajaya lakukan pun segera mencegahnya. Projo tahu Balaajaya pasti akan menemui Adpati Ranawijaya untuk melakukan aksi protes nya.


" Den jika Anda melakukan hal tersebut percayalah, padepokan kita pasti tidak akan lagi ada di dunia persilatan ini."


" Maksudmu?"


Projo membuang nafasnya kasar. Balaajaya memanglah tidak tahu apapun dan tidak mengerti akan hal apapun yang ada di luar dunia persilatan. Pria paruh baya itu benar benar diliputi rasa kesal namun sebisa mungkin dia menahannya.


" Adipati Ranawijaya adalah pemimpin daerah kesayangan Raja Akilendra. Gusti Prabu Akilendra bahkan konon kabarnya ingin menikahkan Putri Cadudasa sang adik kepada Adipati. Tapi Adipati menolak. Dan setahu saya peraturan ini pun sudah mendapat perstujuan dari Gusti Prabu Akilendra. Jika aden tidak percaya maka lihat baik baik, di bawah peraturan tersebut terdapat cap resmi kerajaan Astana."


Balaajaya tentu terkejut dengan semua penjelasan Projo. Ia pun kembali melihat selebaran yang tadi ia baca, dan benar saja di sana ada stempel resmi kerajaan.


Balaajaya langsung mendudukkan tubuhnya di kursi. Ia mengatur nagasnya yang sempat berpacu.

__ADS_1


Hampiir saja aku memasukkan diriku sendiri di sebuah lobang yang hitam.


Projo menarik sudut bibirnya saat melihat ekspresi keterkejutan Balaajaya. Mungkin Balaajaya bisa beranggapan bahwa dirinya merupakan pendekar pilih tanding, namun berhadapan dengan penguasa negera Astina ini tentu bukanlah tandingannya. Sehebat hebatnya dia tidak akan mampu mengalahkan kekuasaan dan kekuasaan Gusti Prabu Akilendra.


Andaikan aku bisa jadi raja, maka tidak akan ada yang berani menentangku.


Balaajaya membatin. Tiba tiba terbesit pikiran semacam itu. Sungguh, pria ini memiliki keinginan dan obsesi yang tidak pada umumnya. Lebih tepatnya tidak semestinya, dan tidak sadar diri.


" Haaah ya sudah aku akan tidur saja kalau begitu. Jika tahu peraturannya seperti ini maka aku tidak seharusnya kesini."


Balaajaya melenggang masuk ke bilik dan Projo pun bernafas lega. Si perusuh untuk sementara bisa diatasi. Kini Projo tengah memikirkan cara bagaimana bisa mendatangi penginapan mahesa agar ia bisa memperngatkan bekas murid murid nya itu akan kedaangan Balaajaya.


*


*


*


" Jadi kita harus apa kakang? apa kita juga akan menyamar seperti apa yang kita akan lakukan kepada Damar?"


Pertanyaan Lingga tentu saja ada benarnya. Mungkin sebaiknya mereka menyamarkan diri mereka selama mereka berada di kadipaten ini.


" Baiklah, kita lakukan saja ini. Dinda, kamu membawa alat untuk merias wajah mu kan? gunakan itu besok untuk membuat wajah kami sedikit berbeda, pun dengan Damar."


" Baik kakang, aku mengerti. Namun sebenarnya yang harus kita benar benar waspadai adalah Balaajaya. Pria itu bisa saja membawa petaka untuk kita terlebih bagi Damar.


" Apa yang dikatakan Wardani benar."


Deg

__ADS_1


Tubuh ketiganya menengang saat mendengar suara yang masih begitu akrab di telinga mereka. Ketiganya pun menoleh ke sumber suara.


" Gu-ru."


Baik Mahesa, Lingga, maupun Wardani, semuanya sungguh terkejut melihat orang yang sudah belasan tahun ini tidak pernah mereka lihat dan temui tengah berdiri di ujung pintu. Ada rasa senang dan rasa khawatir datang bersamaan.


" Kalian jangan takut, aku tidak akan mengatakan keberadaan kalian di sini. Sungguh aku merindukan kalian semua."


Ketiga orang tersebut langsung bangkit dari duduknya dan mengambur memeluk Projo. Rasa haru seketika menyelimuti mereka.


" Syukurlah, syukurlah kalian baik baik saja dan tumbuh dengan baik. Aku benar benar lega. Sungguh aku benar benar lega melihat kalian di sini lagi degan keadan yang sangat jauh brbeda."


Mereka saling melepas rindu dengan bercerita banyak hal. Namun Mahesa dan lainnya masih belum menceritakan mengenai keberadan Ki Manggala yang saat ini menggunakan nama Ki Prama.


" Baiklah, sebenarnya ada hal penting yang aku ingin sampaikan. Balaajaya berada disini. Jadi kalian harus benar benar hati hati besok. Tadi dia berkata bahwa dia enggan untuk melihat jalannya pertandingan, namun tidak ada satu pun yang bisa menebak apa yang ia lakukan."


Ketiganya mengangguk mengerti. Kali ini mereka benar-benar harus waspada di kedua sisi. Yakni SIsi dalam pertandingan dan sisi luar pertandingan. Keduanya sama sama memiliki kepentingan.


Setelah berbicara banyak akhirnya Projo pamit untuk kembali ke penginapan. Dia tidak ingn Balaajaya curiga jika kepergiannya keluar terlalu lama. Projo sendiri tidak menanyakan mengeani pemuda yang wajahnya begitu mirip dengan Ki Wiradarma serta pedang pitu ada di sini. Pria paruh baya itu yakin pasti Mahesa dan kawan kawannya memiliki cara tersendiri untuk mengatasi hal ini.


Selepas Projo keluar dari penginapan mereka, Wardani langsungmenutup pintu Penginapan. Jujur, saat ini dalam hati Wardani benar benar timbul berbagai banyak rasa. Khawatir, takut, waspada, bingung, dan lainnya. Hal itu sungguh terlihat dari raut wajah wanita itu.


Mahesa paham, raut wajah Wardani yang seperti itu berarti istrinya tersebut tengah menyimpan banyak perasaan yang tidak baik. Mahesa pun menepuk pelan bahu Wardani dan memberi isyarat semuanya akan baik baik saja.


" Baiklah, saat ini mari kita tidur saja kakang Mahesa. Kita besok harus bangun lebih awal untuk membuat penyamaran.


" Kau benar Lingga. Kita juga butuh beristirahat. Banyak hal yang ada dalam pikiran kita harus kita letakkan sejenak. Besok adalah hari besar untuk para murid. Kita jangan malah menganggu dengan pikiran pikiran buruk kita. Dinda, sebaiknya dinda Wardani untuk besok berada di penginapan saja bersama Indira.'


Wardani mengangguk, Ia pun tahu diri bahwa terkadang dia tidak bisa menutupi perasaannya. hal tersebut dikhawatirkan malah akan memancing perhatian orang.

__ADS_1


TBC


__ADS_2