
Malam pun datang, suara suara binatang malam mulai saling bersahut. Terlebih lolongan serigala itu terdengar begitu jelasnya. Kelima murid dari Padepokan Pedang Sakti yang sedari pagi berjalan menyusuri sungai nampaknya bisa bernafas lega. Mereka kini berhasil keluar dari hutan larangan.
Mengapa mereka berpikir begitu? Tentu saja karena Simo. Ya, Simo lah yang memberitahu mereka bahwa telah berhasil keluar dari Hutan Larangan. Mereka juga bisa merasakan, saat ini tempat yang mereka pijak tidak lagi terasa hawa mistis.
" Baiklah kita beristirahat di sini saja, aku yakin kalian sudah cukup lelah. Tapi ingat, jangan pernah menanggalkan pedang kalian. Bila perlu tidur pun peluk pedang kalian dengan erat."
Ucapan Mahesa dijawabi dengan anggukan kepala dari ke empat adik seperguruannya. Mereka beristirahat setelah selesai makan ikan dari hasil menangkapnya di sungai tadi. Tampak Wardani tidur dengan pulas di pelukan tubuh Simo. Macan putih bertanduk itu sungguh melindungi Wardani.
" Kakang, kau tidak tidur?"
Suara Lingga membuyarkan lamunan Mahesa. Lingga pun duduk di sebelah Mahesa sembari melayangkan pandangannya ke setiap sudut penjuru hutan.
" Kita bergantian berjaga rayi, kau tidurlah dulu."
Lingga menggeleng, dia tidak ingin tidur saat ini. Pikiran pemuda itu tengah ruwet memikirkan apa yang mereka saat ini lakukan. Bagaimana tidak, semua nya terjadi begitu cepat. dimana yang tadinya mereka berada di tengah perhelatan akbar, tiba tiba mereka kini melarikan diri.
" Kakang, apakah keputusan kita ini tepat?"
" Entahlah, tapi apa yang dikatakan dinda Wardani memang benar adanya. Sebenarnya saat kita dipilih aku merasa kita ini hanya dijadikan tumbal. Aku yakin di babak akhir pertandingan kita diminta untuk saling membunuh."
__ADS_1
Lingga termenung mendengarkan ucapan kakak seperguruannya. Ia sendiri setuju dengan ucapan Mahesa. Lingga juga merasa sedikit aneh saat terpilih untuk mengikuti pertandingan. Pasalnya kemampuan murid lain yang berada di atasnya masih banyak. Saat ini tingkatan ilmu kanuragan yang dimilikinya bahkan masih berada di tingkat 3. Sedangkan di padepokan murid yang berada di tingkatan 4 dan 5 masih ada.
" Kakang, apa karena kita orang miskin dan tidak punya orang tua? Kita tidak bisa membayar untuk tetap berada di padepokan sehingga kita lah yang dikirim untuk bertanding. Dan, diharapkan kita mati selama pertandingan? Apakah mungkin seperti itu kakang?"
Mahesa membuang nafasnya kasar mendengar ucapan Lingga. Semenjak Duranjaya yang berubah nama menjadi Balaajaya menjadi ketua padepokan, nasib para anak anak miskin dan yang tidak punya orang tua pun ikut berubah. Mereka tak lagi bisa berlatih sepenuhnya karena mereka banyak diminta melakukan pekerjaan kasar.
Para anak anak tersebut menjadi seperti tersisih. Bahkan untuk mendapatkan makanan pun mereka sungguh mendapatkan perlakuan berbeda. Kelima pemuda itu juga mendapatkan pakaian yang bagus saat mereka diutus untuk bertanding.
Sungguh sangat berbeda saat Wiradarma yang menjadi pimpinan padepokan. Wiradarma selalu menyamaratakan semuanya dan tidak perah pilih kasih. Maka dari itu semenjak ketua padepokan berganti, Mahesa sering berlatih diam diam. Dia yang memiliki ilmu kanuragan tingkat 5 harus rajin berlatih agar bisa terus meningkatkan kemampuannya.
" Sudahlah rayi, pergilah tidur. Beruntung kita memiliki dinda Wardani bersama kita. Dia gadis yang begitu pintar dan pemberani. Jika bukan karena dinda mungkin kita tidak bisa pergi dari tempat itu."
Ya, sebelum meninggalkan bukit Wono Ageng dan masuk ke hutan Larangan, Wardani meminta semua token untuk ditinggalkan di kaki bukit. Karena Wardani berpikir dalam token tersebut ada sebuah mantra yang dapat mengetahui keberadaan pemegangnya.
Rupanya Kadipaten Gendingan ini tidak sesederhana kelihatannya. Mereka menyimpan sebuah rahasia dimana tidak ada sesiapapun yang mengetahuinya.
Balaajaya dan Projo yang baru sampai di padepokan langsung meminta semua orang berkumpul. Mereka akan mengumumkan mengenai apa yang terjadi di Kadipaten Gendingan.
Tentu saja hal tersebut membuat semua orang di Padepokan Pedang Sakti ramai. Mereka semua terkejut mendengar kabar hilangnya kelima murid padepokan. Terselip rasa kekhawatiran beberapa murid lainnya yang memang mengenal dekat Mahesa dan teman temannya. Namun sebagian murid lainnya mulai menebak apa yang terjadi dengan mereka.
__ADS_1
" Apa mereka sudah mati?"
" Jangan jangan mereka dimakan binatang buas."
" Atau mereka sengaja pergi, wah itu namanya pengkhianatan."
" Jika aku benar mereka berkhianat, aku yakin mereka akan menjadi buronan seumur hidup. Bagaimana bisa mereka berkhianat kepada padepokan."
Tebakan demi tebakan buruk murid murid lontarkan kepada Mahesa, Lingga, Braja, Karendra, dan Wardani. Dimana tadinya mereka iri karena kelima orang itu yang dipilih kini mereka semakin buruk berbicara mengenai mereka.
Rasa iri berubah menjadi rasa dengki. Mereka seakan akan menuduh Mahesa dan kawan kawannya yang lari dari pertandingan tersebut adalah orang orang yang tidak setia kepada padepokan.
Disisi lain Projo sungguh tidak suka mendengar murid murid nya berbicara buruk terhadap murid yang lain. Ia pun mengancam akan memberi hukuman kepada siapa saja yang masih berbicara buruk terhadap lima murid yang hilang itu.
Namun berbeda dengan Balaajaya, ia tampak menikmati pemandangan itu. Rupanya ia senang jika murid muridnya memiliki ambisi untuk mengalahkan murid lain. Ia senang jika murid murid nya mempunyai rasa iri. Menurutnya rasa iri itu akan membuat seseorang semakin kuat. Rasa iri juga bisa membuat seseorang akan menjadi lebih unggul dari pada yang lainnya. Karena dari rasa iri tersebut akan membuat seseorang melakukan banyak cara agar bisa lebih unggul.
Sungguh sebuah pemikiran yang salah bagi seorang yang menjadi pemimpin dari sebuah padepokan. Dimana padepokan adalah tempat dimana orang belajar. Bukan hanya ilmu bela diri tapi juga budi pekerti
TBC
__ADS_1