
Matahari mulai kembali ke peraduannya. Warna jingga di langit berubah menjadi hitam. Titik titik cahaya putih mulai terlihat di langit gelap malam. 15 orang dari 5 padepokan kini semua berada di atas bukit Wono Ageng. Mereka duduk bersama dengan teman seperguruan mereka. Menempati sudut demi sudut bukit. Hawa persaingan begitu terasa disekitar mereka.
Malam menjelang tanda pertandingan hari ini telah usai dan akan dilanjutkan esok hari. Kini waktunya mereka mengistirahatkan tubuh setelah seharian penuh berlari dan bertarung di hutan Larangan. Ada yang langsung tidur, ada juga yang menikmati makan malam seadanya.
Tapi rupanya mereka pun tak bisa tidur dengan nyenyak. Rasa khawatir terhadap peserta lain membuat mereka tidur bergantian untuk saling berjaga.
Mahesa sebagai kakak tertua membiarkan adik adik seperguruannya untuk tidur terlebih dahulu. Di bagian awal malam dia akan menjadi penjaga. Namun setelah beberapa saat rupanya Wardani terbangun dan duduk di sebelah Mahesa. Sebenarnya bukan terbangun karena memang ia sengaja untuk tidak tidur. Wardani ingin mengatakan apa yang sedari awal mengganjal di hati nya. Sungguh ia sudah tidak tahan untuk menyimpannya sendiri.
" Kakang," ucap Wardani lirih memanggil Mahesa.
" Loh dinda, mengapa bangun? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Mahesa sambil mengerutkan kedua alisnya. Ia tahu Wardani adalah gadis yang cerdas dan saat ini ia juga tahu bahwa ada yang mengganggu pikiran adik seperguruan nya itu. Hal tersebut bisa dilihat dari raut wajah Wardani. Hidup bersama dalam kurun waktu yang lama cukup membuat pemuda 20 tahun itu paham betul perangai gadis di depannya.
Wardani mengangguk menjawab pertanyaan Mahesa. Ia meringsek duduk ke sebelah sang kakak seperguruan. Ia harus lebih dekat dengan Mahesa agar apa yang akan dikatakannya tidak terdengar oleh orang lain. Meskipun jarak tempat duduk mereka sangat jauh, namun malam yang begitu sunyi membuat suara selirih apapun bisa terdengar.
" Kakang aku ingin menanyakan ini padamu. Sedari awal aku berpikir, jika tujuan pertandingan ini untuk mencari padepokan mana yang terkuat? Mengapa yang bertanding bukanlah para pemimpin atau guru besar saja? Ini menurutku sangat aneh kakang," bisik Wardani pelan. Ia tidak boleh bicara keras.
__ADS_1
Perkataan Wardani membuat Mahesa menjadi berpikir lebih dalam. Apa yang dikatakan adik seperguruannya itu benar ada nya. Tapi ia sendiri juga bingung apa sebenarnya tujuan diadakannya semua ini.
" Apa yang kau katakan benar dinda. Bahkan aku merasa kita besok pun aku di adu satu sama lain sesama murid seperguruan. Jika hanya ada satu pemenang pastilah kita akan melawan saudara kita sendiri. Ini yang sedari tadi aku pikirkan. Aku sungguh takut besok kita akan dipaksa untuk menghabisi nyawa saudara kita sendiri. "
Keduanya termangu, banyak hal besok yang akan terjadi. Dan yang mereka tahu pasti akan sulit di hadapi. Wardani sendiri punya pemikiran ingin pergi dari tempat itu sekarang juga. Jika kemarin dia benar benar ingin ikut bertanding di puncak bukit Wono Ageng, kini ia berubah pikiran. Gadis itu sekarang ingin menghindari hal tersebut.
Bukan karena takut. Ia berpikir untuk lari karena ia tidak ingin menyakiti saudara seperguruannya. Kecuali jika peraturannya menjadi kelompok mana yang menang, itu berarti mereka akan bertarung atau bertanding antar murid dalam sebuah padepokan bukan antar murid pada padepokan lain.
" Kakang, aku ingin pergi dari sini."
Sontak perkataan Wardani membuat Mahesa terkejut. Bagaimana gadis itu berpikir untuk lari di malam gelap gulita seperti ini. Di tambah mereka kini berada di tengah hutan.
" Dinda! Apa kau gila? Kita saat ini berada di tengah hutan, bagaimana kau berpikir ingin lari. Lagi pula di sekeliling kita ini semuanya adalah hutan Larangan dan kau tahu sendiri apa isi dari hutan ini."
" Tapi kakang, aku sungguh tidak bisa melukai saudara ku sendiri."
__ADS_1
Mahesa terdiam apa yang dikatakan oleh Wardani benar. Tapi? Lari dari bukit ini juga merupakan sebuah hal dengan bahaya yang besar. Mereka tidak tahu ada apa di dalam hutan gelap itu. Siang hari saja hutan Larangan terlihat begitu singup. Apa lagi malam hari. Namun Mahesa tiba tiba yakin dengan apa yang jadi pilihannya.
" Baik aku akan ikut dengan mu!"
" Tapi, kau lah yang diandalkan guru dan pemimpin padepokan untuk memenangkan pertandingan ini kakang."
" Aku tidak peduli, jika menang tapi harus menyakiti saudara sendiri aku pun jika tidak mau."
Keduanya pun mantab ingin pergi dari sana namun sebelumnya mereka membangunkan ketiga saudara mereka yang lain. Mahesa menceritakan semuanya kepada Braja, Lingga dan Karendra tentang apa yang mereka semua pikirkan dan bicarakan tadi. Ketiganya paham, wajah mereka pun tampak pias dan saling melihat satu sama lain. Rupanya sikap welas asih yang selalu Wiradarma ajarkan masih begitu melekat dalam diri mereka.
Bagaimana tidak, mereka sudah berada di padepokan saat masih di usia muda. Mulai dari usia 7 tahun mereka masuk belajar di padepokan. Dimana Wiradarma sebagai pemimpin selalu mengajarkan saling menghargai dan menyayangi antar anggota seperguruan.
Sungguh sangat berbeda dengan Balaajaya yang hanya meminta mereka semakin kuat dan kuat. Hingga muncul rasa mementingkan diri sendiri. Sebenarnya itu sungguh bertentangan dengan hati mereka saat ini.
" Jadi bagaimana? Apa kalian bertiga akan ikut kami?"
__ADS_1
TBC