
Semua orang yang menyaksikan Damar dan Saka benar-benar kebingungan. Mereka belum bisa mengetahui kira-kira apa yang akan menjadi pemenang kali ini.
" Anak itu mau sampai kapan bermain-main?" ucap Yasapati. Ksatria Kerajaan Astana itu sungguh gemas terhadapa Damar yang tak kunjung melakukan penyerangan untuk mengalahkan lawannya.
" Dia tidak akan melakukan itu. Bagaimanapun yang ia lawan ini adalah saudara seperguruannya. Meskipun aku belum tahu banyak, namun jika tebakanku benar karena cinta kasih yang diajarkan di sana kepada sesama saudara seperguruan maka mustahil bagi mereka membuat satu sama lain bertekuk lutut. Paling tidak mereka hanya akan mengaku kalah tanpa perlawanan yang berarti. Bukannya tidak menghargai pertandingan ini atau tidak serius namun rasa cinta kasih yang kuat itu membuat mereka tidak akan melakukan hal yang mengalahkan saudaranya."
" lalu, apa yang harus dilakukan Ranawijaya. Jika begini pun 7 hari 7 malam tidak akan selesai."
Yasapati sungguh gemas.Ya keduanya rupanya adalah sahabat lama. meskipun Yasapati merupakan panglima perang milik Astana namun keduanya masih sering bertemu dan membaas hal-hal tidak penting.
Ranawijaya tersenyum melihat sahabatnya yang sudah tidak sabar itu. Ia pun kemudian kembali tersenyum simpul. Senyum yang bisa Yasapati artikan bahwa ada rencana cadangan bagi kedua anak yang tengah bermain-main tersebut.
Ranawijaya sedikit maju ke arena pertandinga. ia menggigit ujung jarinya sedikit lalu merapalkan mantra dan menggebrakan tangannya ke tanah. Dari situ muncullah beberapa manusia bayangan namun mereka bisa melukai. Semcam prajurit bertubuh semu namun bisa disentuh dan serangannya bisa melukai orang yang terkena. Setidaknya ada sekitar 100 manusia semu yang dimunculkan oleh Ranawjiaya. Mereka masih berdiam diri menunggu perintah sang tuan.
'" Kalian berdua berhenti!"
Baik damar maupun saka berhenti saling menyerang. Bahkan mereka langung mengembalikan pedang mereka ke keadaan semula. Yang tadinya pedng keduanya bersinar dengan pendaran sinar berbeda, kini kembali ke wujud sebuah pedang besi.
" Peraturan kali ini dengan terpaksa kuubah. Kalian beruda kan melawan manusia-manusia semu ini. iapa yang paling banyak mengalahkan mereka maka dialah yang menang. Dan bagi kalian semua aku tidak menerima protes. Pertandingan yang diadakan di kadipatenku adalah titah Gusti Prabu Akilendar dan aku diberi kewenangan penuh oleh beliau. Jika ada yang menentang maka dia menentang titah Raja."
Tentu saja ultimatum yang disampaikan Ranawijaya merupakan sebuah ancaman agar mereka semua tidak ada yang protes. Meskipun mereka adalah pendekar sakti namun menentang raja sama halnya bunuh diri.
Damar dan Saka saling pandnag. Keduanya tentu senang dengan apa yang Adipati katakan baru saja. dengan begitu mereka tidak harus saling menyerang dan mereka bisa mengeluarkan selruh kemampuan merek dalam menghabisi manusia-manusia semu tersebut.
" Baiklah, Kalian semua serang kedua anak itu. SEKARANG!!!!"
Gruduk ... gruduk ... gruduk ...
Suara langkah kaki beradu dari saratus orng tersebut membuat bukit wono Ageng seperti terkena gempa. Semua orang menatap takjub. Mereka sama sekali tidak tahu jika Ranawijaya memiliki kemampuan seperti itu. Walaupun dalam benak mereka bertanya-tanya namun mata mereka seaakan tersihir dengan kelincahan dua murid dari padepokan baru yang baru saja merek dengar namanya itu.
__ADS_1
Melompat, menendang, mengibaskan, mengayunkan, srangan demi serangan betenaga penuh Damar dan saka kerahkan untuk melawan seratus manusia semua tersebut. Dan ternyat tidak mudah. Jika tidak terkena pada organ vital mereka, mereka pun masih bisa kembali berdiri.
Yasapati sungguh puas bisa melihat kekuatan Damar yang sesungguhnya. Ia benar-benar melihat sisi Damar yang lain saat ini.
" Apa sekarang kau puas?"
" Tentu saja, ini lah yang dinamakan bertarung yang sesungguhnya."
Ranawijaya tersenyum mendengar ucapan Yasapati. Sebagai panglima perang tentu Yasapati paham betul mengenai pertarungan di medan peran. Jadi ketika melihat apa yang saat ini tersaji di depannya ia benar-benar menjelma sebagi penilai ulung.
Di medan pertempuran, Damar mulai sedikit kelelahan. Tampak peluh bercucuran di wajahnya.
" Tidak, aku tidak bisa seperti ini terus. Jika aku tidak mengeluarkannya maka tenagaku akan habis. Dan apa, dari tadi aku hanya bisa mengalahkan 10 orang saja."
Disela-sela kegiatannya melawan manusi semu itu damar berusaha brprikir praktis. Mau tidak mau dia benar-benar harus mempraktekkan latihannya bersama sang Romo dalam kondisi ini.
Tentu saja, sudah dari tadi aku ingin melenyakan manusia-manusia bayangan ini.
Damar tesenyum mendengar suara pedngnya tersebut. Terkadang damar merasa bahwa pedangnya ini memiliki jiwa yang bersemayam disana. Namun ia menepis pikiran itu.
" Baiklah mari kita selesaikan dengan cepat. Aku kasian juga melihat Saka yang sepertinya sudah begitu lelah."
Damar merapalkan mantranya dan keluarlah pedang pitu denagn wujud tujuh yang sempuran. Sekali tebas msing masing pedang bisa menjatuhkan 3-4 lawan. Saka tersenyum, sungguh ia bersyukur Damar akhirnya mengeluarkan kemampuann yang sebenarnya.
" Haaah, aku sangat senang Mar. sungguh aku kuwalahan menghadapai mereka semua ini. kau sungguh hebat, jika tadi kau melawanku dengan kemampuanmu yang sebenarnya itu pastilah aku sudah kau kalahkan dari tadi."
Saka berbicara dalam hati dengan terus berusaha melawan manusia semu ciptaan Ranawijaya. Saka tentu mengakui kehebatan Damar. Dia sungguh salut saat berhadapan dengannya, Damar memang berusaha untuk bermain imbang tanpa melampaui batas. Dan kini Damar bear-benar menampilkan dirinya yang sesungguhnya.
Hiyaaaat
__ADS_1
Syuuuut
Woooos
Blaaaam
Jeduaaaar
" Saka menyingkir!"
Blaaaam
Jeduaaar
Hanya butuh beberapa saat saja manusia semu tersebut habis ditangan Damar dengan pedang pitu. Kini keriuahan berganti kasak kusuk. Tentu mereka semua terkejut bahwa bocah seusia itu memiliki benda pusaka yang diincar banyak orang. Tidak ingin menarik perhatian lebih lama lagi, Damar langung kembali menyimpan pedang pitu di dalam tubuhnya.
Balaajaya yang sedari tadi tidak berkedip melihat apa yang ada di deannya sungguh merasa tidak percaya. Berkali-kali ia mencubit tangannya sendiri memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi.
" i-itu Pedang pitu? Ba-bagaiman bia bocah ingusan itu memilikinya. Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan. pedang yang belasan tahun aku mencari tiba-tiba ada di tangan bocah itu. aku harus bisa memilikinya. Ya, pedang itu ditakdirkan menajadi milikku. Aku harus bisa merebutnya."
Balaajaya bergumam pelan. Namun Projo yang berdiri tidak jauh dari balaajaya tentu bisa mendengarnya dengan jelas. Muncul kekhawatiran dalam benak Projo.
Sial, bedebah satu ini sepertinya akan membuat masalah nantinya. Brengsek.
Sedangkan pengawal sekaligus mata-mata milik Pramadana lagsung mengirimkan kabar kepada Praadna melalui telepatinya. agak sedikit sulit namun ia bisa melakukannya dengan baik. bagaimanapun kabar penting ini harus segera diketahui oleh tuannya.
" Baiklah sekarang tugasku adalah mengamankan den Damar dari badjingan yang telah menghabisi nyawa kedua orang tua Den Damar. Entah apa yang terjadi nanti jika den Damar tahu pria keparat ini pembunuh kedua orangtuanya."
TBC
__ADS_1