
Nyi Sambi yang berada di pasar tengah menukarkan hasil bumi yang dibawanya dengan beberapa bahan makanan lain dan kain untuk anak anak nya. Ya, dia sudah menganggap Damar sebagai putranya sendiri. Tak hanya itu, dia pun terpikirkan Ki Prama. Pakaian milik pria itu sudah sangat lusuh dan Nyi Sambi ingin membelikan setidaknya satu pakaian saja.
Nyi Sambi akhirnya mendapat semua barang yang dibutuhkannya. Kini dia kembali berjalan pulang. Wanita berusia 27 tahun itu terlihat kesusahan untuk membawa barang barangnya.
" Boleh kami bantu Nyi," sapa seseorang dengan suara lembut. Namun saat Nyi Sambi menoleh ternyata suara tersebut adalah milik seorang pria.
" Maaf kisanak, saya tidak memiliki koin perak atau pun emas untuk membayar kinasak," jawab Nyi Sumbi sungkan.
" Anda tidak perlu membayar kami Nyi, jika tidak berkeberatan kami hanya sedikit membutuhkan makanan," jelas orang tersebut.
Nyi Sambi berpikir sembari melihat orang tersebut. Rupanya pemuda yang menawarkan bantuan itu tidak sendiri. Masih ada 4 orang lainnya di sana. Wajah mereka tampak lusuh begitu juga pakaian pakaian mereka. Mereka benar benar seperti pengemis.
Jika dilihat dengan teliti, sepertinya pemuda pemuda ini perut mereka belum kemasukan makanan selama beberapa hari. Karena merasa iba dan kasihan, Nyi Sambi pun menyetujui barang barangnya dibantu dibawakan oleh mereka. Nyi Sumbi membawa mereka kembali ke lembah Palarang.
Matahari tampak tepat berada di atas kepala. Panas nya begitu menyengat. Beruntung mereka sudah sampai di rumah.
Owee oweeee
Terdengar suara tangis bayi bersahutan. Nyi Sambi pun setengah berlari menuju ke rumah Ki Prama dan meninggalkan para pemuda itu di rumah miliknya.
" Kenapa Ki?"
" Sepertinya mereka berdua kelaparan Nyi."
Nyi Sambi pun meraih salah satu dari dua bayi itu untuk segera menyusui nya. Ki Prama pun bergegas keluar agar Nyi Sambi leluasa menyusui Damar dan Indira.
Kedua alis Ki Prama berkerut melihat sekelompok pemuda yang tengah duduk menyelonjorkan kaki nya di tanah. Dia merasa sedikit tidak asing dengan salah satu dari mereka.
__ADS_1
" Nyi! Siapa pemuda pemuda itu dan dari mana asal mereka!" teriak Ki Prama dari luar rumah.
" Aku bertemu mereka di pasar Ki, kasian sepertinya mereka kelaparan!" jawab Nyi Sambi dengan berteriak juga.
Ki Prama membuang nafasnya perlahan. Nyi Sambi benar benar wanita yang welas asih. Ki Prama mengambil pisang yang ia bawa saat kembali dari sungai tadi dan berjalan ke arah sekelompok pemuda yang tampak terlihat kelelahan itu. Ia pun langsung duduk di dipan yang ada di depan rumah Nyi Sambi lalu mengulurkan pisang tersebut kepada kelima anak muda tersebut.
" Terimalasih Ki," ucap mereka bersamaan.
Mereka langsung memakan pisang dengan lahap. Bahkan tanpa mereka sadari Ki Prama tengah memperhatikan satu per satu dari mereka. Ki Prama menelisik satu diantaranya yang merasa ia kenali.
" Dari mana kalian berasal? Mengapa kau seorang wanita berpakaian sebagai pria, dan pedang pedang yang kalian sembunyikan itu, mengapa disembunyikan?"
Uhuk ... Uhuk
Kelima anak muda itu tersedak. Selama ini tidak ada yang mengenali mereka dan bertanya serinci itu. Tapi ini hanya dengan sekali lihat orang yang ada dihadapannya bahkan bisa mengetahui bahwa Wardani adalah seorang wanita.
" Maaf Ki, apa kita pernah bertemu?" tanya Mahesa sopan.
Ki Prama menaikkan satu alis nya saat mendengat pertanyaan dari Mahesa. Ia pun merasa tidak asing dengan pemuda yang baru saja bertanya kepadanya itu. Ki Prama pun menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Huft, mengapa kalian bisa berkeliaran sampai sini. Lembah Palarang ini begitu jauh dengan padepokan Pedang Sakti."
Deg
Semuanya kembali terkejut dengan penuturan Ki Prama. Mahesa pun semakin yakin jika pria di hadapannya itu adalah guru yang pergi dari padepokan 8 tahun yang lalu.
" Ki, apakah benar anda adalah Ki Manggala. Duh gusti maturnuwun. Akhirnya murid bisa bertemu dangan guru."
__ADS_1
Mahesa langsung bersimpuh di depan Ki Prama. Ya nama asli Ki Prama adalah Manggala. Ki Prama pun mengusap Kepala Mahesa dengan lembut.
" Bangunlah, dan jangan memanggilku dengan sebutan itu. Panggil aku Ki Prama. Tidak ada seorang pun yang tahu mengenai siapa aku sebenarnya."
Mahesa mengangguk. Keempat adik seperguruannya masih sedikit bingung hingga Mahesa menceritakan siapa Ki Prama yang sebenarnya. Semuanya pun takjub dan sangat beruntung bisa bertemu dengan salah satu pendekar pilih tanding di dunia persilatan ini.
" Sekarang ceritakan mengapa kalian bisa sampai di sini."
Mahesa dibantu Wardani menceritakan apa yang telah terjadi di pertandingan yang ada di kadipaten Gendingan juga tentang pelarian mereka. Mereka pun menceritakan semua perubahan padepokan Pedang Sakti di bawah kepemimpinan Balaajaya.
Ki Prama mendengarkan cerita mereka dengan seksama hingga ia mengambil sebuah keputusan.
" Kalian tinggallah di sini, kau Wardani nanti bisa tinggal bersama Nyi Sambi dan yang lainnya tinggal bersama ku. Pulihkan dulu tenaga kalian, setelah itu kalian akan berlatih bersama ku tapi di sini kalian harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kalian sendiri juga. Apa kalian mengerti?"
" Mengerti Ki, sendiko dawuh."
Kelima anak muda itu saling melempar senyum satu sama lain. Kini mereka tidak perlu lagi berpindah pindah tempat dan hidup dalam pelarian. Kini mereka memiliki rumah sebagai tempat berteduh dan tujuan untuk pulang. Sungguh ini merupakan sebuah keberuntungan dalam hidup mereka.
Kini kehidupan baru di mulai. Mereka akan hidup di Lembah Palarang ini bersama guru mereka. Guru yang tentunya begitu sakti mandraguna. Namun tidak ada yang tahu bagaimana Ki Prama bisa terusir dari padepokan. Semuanya masih menjadi teka teki.
Bahkan Mahesa sendiri tidak tahu persis ceritanya. Padahal Ki Manggala adalah guru yang sangat di hormati dan menyayangi para murid murid nya. Hubungan Ki Manggala dan Ki Wiradarma juga sangat baik. Mereka berdua suka berlatih pedang bersama. Para murid sangat suka melihat permainan pedang keduanya yang begitu cantik menurut mereka, yang mana tampak seperti sebuah tarian.
Tapi memang ada hal yang mulai tidak menyenangkan apalagi saat Balaajaya mulai masuk ke dewan pemerintahan di padepokan. Meskipun Mahesa saat itu masih tergolong sebagai anak kecil, dia bisa melihat bahwa Balaajaya sangat tidak menyukai Manggala. Bahkan pernah sesekali Mahesa memergoki Balaajaya berbicara kepada Manggala dengan raut wajah ketidaksukaannya. Mereka berdua juga selalu berselilsih dan pada puncaknya Manggala pergi meninggalkan padepokan.
Sekuat tenaga Wiradarma menghalangi namun Manggala kukuh ingin pergi. setelah kepergiannya hingga saat ini tidak ada seorang pun yang tahu kemana pria itu pergi.
Maka dari itu Mahesa sungguh sangat bahagia bisa bertemu gurunya kembali. Benar benar pelarian mereka mendapatkan berkah yang tidak bisa di ukur dengan apapun. Rasanya ingin sekali Mahesa bertanya mengapa gurunya waktu itu bisa pergi meninggalkan padepokan. Namun sepertinya ia tidak perlu ikut campur dalam urusan pribadi sang guru. Sudah bisa bertemu saja merupakan hal yang luar biasa.
__ADS_1
TBC