
Di tengah hutan tepatnya di atas bukit Damar masih tetap bersemedi dengan begitu fokus. Semuanya tidak lepas dari pengawasan sang romo.
Namun tiba tiba Damar gelisah, ada sesuatu hal yang menghampiri pikirannya. Sebisa mungkin dia memfokuskan kembali pikirannya. Tinggal semalam lagi, Damar tidak mau gagal dalam semedinya yang sudah akan tujuh hari tersebut. Satu pintu sudah akan dia lalui maka dia akan berusaha melepaskan semuanya. Melepaskan ego nya, melepaskan semua perasaannya.
Namun bayangan itu benar benar mengganggu. Ia melihat ada dua orang pria dan wanita. Usianya mungkin seperti bibi dan paman gurunya mereka nampak bahagia saat menggendong seorang bayi. Namun tak lama bayi itu mennagis karena pria dan wanita itu jatuh tersungkur bersimbah darah. Tubuh mereka disabet oleh sebilah pedang panjang.
Air mata Damar seketika luruh membasahi pipinya. Ki Prama pun terkejut melihat Damar. Akan tetapi ia tidak bisa membangunkan putranya dari semedi atau apa yang sudah Damar lakukan selama hampir seminggu ini akan menjadi sia sia.
Ki Prama menyentuh punggung Damar dan mengalirkan sesuatu ke dalam tubuh bocah itu. Damar merasakan ada rasa hangat yang menjalar di dalam tubuhnya. Ia juga merasakan sebuah kenyamanan di sana.
Damar pun kembali fokus terhadap semedinya dan Ki Prama terus mengawasi serta menjaga Damar hingga semedi yang di jalani selesai.
Fajar menyingsing, hawa dingin pagi hari dan bau basah embun menandakan malam telah berakhir. Rasa hangat mulia menelusup ke sela sela tubuh. Suara burung berkicau saling sahut menyahut.
Ki Prama tersenyum, Semedi berjalan dengan lancar tanpa suatu gangguan yang berarti.
" Bukalah matamu le, semedi mu berakhir. Selamat kau berhasil melalui tahap awal ini nak."
Damar tersenyum samar. Ia membuka kelopak matanya perlahan. Remaja itu sedikit menyipitkan matanya saat terkena sinar matahati. Ia mengerjapkan matanya untuk sedikit beradaptasi dengan cahaya yang sudah seminggu tidak ia lihat itu.
Damar kemudian mulai bergerak untuk meluruskan kakinya. Ada yang aneh, dia tidak merasakan rasa pegal sedikitpun. Hanya sedikit lelah, lapar dan haus tentunya.
Kruuuuk kruuuk
__ADS_1
Suara nyaring perut Damar terdengar hingga ke telinga Ki Prama. Pria paruh baya itu tersenyum. Ia pun memberikan makanan dan minuman yang sudah ia ambil di rumah sesaat tadi sebelum Damar selesai bersemedi.
" Makanlah le. Pulihkan tenagamu dulu. Besok kita akan mulai berlatih."
" Baik romo."
Damar makan dengan lahap namun tetap dengan tempo pelan. Dia sungguh tidak terburu buru meskipun sudah seminggu perutnya kosong. Remaja laki laki itu makan seperlunya dan mengakhirinya saat dirasa cukup.
" Sudah romo."
" Baiklah, ada yang ingin romo tanyakan. Mengapa tadi kamu menangis?"
Damar terdiam, ia kembali mengingat bayangan yang muncul di depannya. Sebuah rangkaian kejadian yang membuatnya air matanya jatuh ke pipinya.
" Tadi saya melihat sebuah rangkaian peristiwa. Terlihat sepasang suami istri yang begitu bahagia bersama seorang bayi. Namun kebahagiaan itu lenyap karena tiba tiba tubuh kedunaya jatuh bersimbah darah karena tebasna pedang. Si bayi menangis dan setelah itu hilang bayangannya saat romo menyentuh punggung saya."
" Baiklah, singkirkan dulu tentang apa yang kamu lihat le. Kau harus fokus dengan latihan mu terlebih dahulu."
" Baik romo."
Meskipun begitu, Damar merasa aneh. Bagaimana bisa ia begitu sedih saat melihat bayangan tersebut. Bahkan hatinya sangat sakit seperti diiris pedang yang amat tajam.
Damar mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan. Ia mencoba mengatur emosinya agar tidak terpengaruh dengan bayangan peristiwa itu. Dia harus kembali fokus pada latihannya.
__ADS_1
Malam menjelang, hari itu benar benar hanya digunakan untuk istirahat. Kini baik Ki Prama maupun Damar bisa merebahkan tubuhnya untuk tidur.
" Tidurlah dulu le."
" Njiih romo."
Damar memejamkan matanya, tak berselang lama anak itu terlelap juga. Ki Prama memandangi setiap garis wajah Damar, sungguh semuanya tampak mirip seperti Wiradarma. Namun mata Damar mewarisi mata Gayatri.
Lihatlah Wira, Gayatri, putra kalian sudah besar. Ia tumbuh dengan sangat baik. Dan jika kalian lihat, wajahnya sungguh mirip. Perpaduan dari wajah kalian. Rupanya dia sendiri bisa melihat kejadian masa lalu yang menimpa nya. Meski masih berupa potongan potongan. Aku harap hal tersebut tidak mengganggunya. Anak kalian sungguh luar biasa.
Ki Prama mengusap lembut kepala Damar. Sungguh ia menyayangi putra nya itu, meskipun bukan lah hasil dari benihnya. Bahkan Ki Prama berjanji akan melindungi Damar hingga akhir hidupnya. Dan, untuk waktu dekat ini ia harus bisa menurunkan ilmu pednag legendaris kepada Damar. Meski usianya masih 14 tahun , Ki Prama yakin Damar akan bisa menguasainya dengan baik seiring bertambahnya tingkat ilmu kanuragan yang dimiliki.
Tingkat ilmu kanuragan dibagi menjadi 10 tingkat dan 4 sub bagian.
Tingkat awal yakni dia yang memiliki ilmu kanurgan tingat 1,2 dan 3. Pada tingkatan ini seseornag baru bisa menyalurkan tenaga dalamnya untuk sebatas melindungi diri. Jika melawan musuh maka musuh hanya akan merasakan pegal pegal jika mendapat serangan dari tingkat awal ini.
Tingkat menengah yakni yang sudha memiliki tingkat 4,5 dan 6. Pada tingkatan ini mereka mulai bisa menggunakan ilmu kanuragan untuk melumpuhkan musuh. Dalam artian mereka bisa melukai musuh menggunakan tenaga dalam mereka yang mana akan membuat musub merasa sakit di sekujur tubuh. Ibarat batu, maka akan muncul retakan di luarnya.
Tingkat atas yakni yang memiliki tingak ilmu kanuragan 7, 8 dan 9. Di tingkatan ini mereka sudah bisa membuat organ dalam musuh terluka hingga menyebabkan kematian. Jika diibaratkan batu, akan terjadi retakan di dalam bahkan hancur di dalamnya. Musuh bisa kehilangan nyawanya saat mendapat serangan dari ilmu kanuragan tingkat ini.
Kemampuan temour mereka pun memiliki durasi lebih lama. Pendekar yang berada di tingkat ini bahkan memiliki insting yabg begitu tajam tubuh mereka menjadi lebih peka terhada orang lain. Bahkan mereka bisa menganalisa tingkat ilmu kanuragan laean sehingga bisa lebih waspada saat berhadapan.
Dan yang terakhir tingkat kanuragan 0, buka 10. Ini adalah tingkatan tertinggi. Bisa dikatakan ilmu kanuragan ini adlaah tingkatan tak terhingga. Pendekar yang memiliki ilmu kanuragan tingkat 0 adalah pndekar yang tak terkalahkan. Dan di dunia ini belum adabyang mencapai tingkat ini. Tingkat 0 adalh tingkat yang plaing sulit karena orang yang berada di tingkat ini sama sekali sudha tidak punya keinginan duniawi. Tidak memiliki emosi, tidak memiliki ambisi.
__ADS_1
Saat ini pendekar yang sakti mandraguna masih berada di tingkat 9. Sedangkan rata rata guru di semua padepokan berada di tingkat 8.
TBC