
Padepokan Pedang Sakti
Balaajaya tengah menyaksikan latihan kelima murid yang akan ia kirimkan untuk mengikuti pertandingan bulan depan. Ia benar benar tidak boleh melakukan kesalahan lagi kali ini. Ia tidak ingin kejadian bertahun tahun silam kembali terulang.
Maka dari itu Balaajaya sungguh menekankan kepada semua penghuni padepokan tersebut untuk mentaati peraturan yang ia buat. Jika tidak maka ia tidak akan segan untuk menyingkirkan mereka.
Tentu saja semua orang yang ada di sana patuh. Terlebih para guru dan para petinggi, mereka enggan mencari masalah denan Balaajaya. Selama ini yang mereka lalukan hanya menurut patuh tanpa melawan.
Masih terngiang jelas diingatan mereka saat 3 tahun silam ada seseorang yang mencoba melawan Balaajaya.
Waktu itu Balaajaya meminta para murid untuk saling bertarung hingga ada salah satu dari mereka yang benar benar tidak mampu lagi berdiri. Balaajaya benar benar ingin membuat muridnya menjadi lebih kuat dan berani. Tentu saja hal itu tidak disetujui oleh para guru di sana, namun mereka pun tidak berani bersua. Hingga ada salah satu guru berani mengatakan penolakannya, karena menurutnya hal tersebut sangat tidak manusiawi.
Terang saja Balaajaya murka. Bahkan ia langsung melempar tubuh guru itu seketika. Semua orang sungguh terkejut, lebih lagi Balaajaya melakukannya tanpa menyentuh sedikitpun.
Jarak antara Balaajaya dengan guri tersebut sekitar 15 depa. Hanya dengan mengayunkan sebelah tangannya membuat tubuh guru tersebut melayang dan Balaajaya berhasil membuat nya terpental jauh hingga membentur dinding. Terdapat sebuat cahaya unggu kebiruan yang muncul dari tangan Balaajaya. Cahaya itulah yang mengikat dan melemparkan tubuh guru tersebut. Seketika guru itu pun meninggal dengan darah yang keluar dari kepalanya.
Semua menatap ngeri, mereka benar benar terdiam saat Balaajaya melakukan hal tersebut. Bahkan tubuh orang itu dibiarkan sesaat hingga pertemuan selesai.
Meskipun mereka pernah berada dalam sebuah pertempuran dan melihat darah dimana mana, namun melihat salah seorang dari mereka terbunuh tepat di depan mata dan kepala membuat mereka pun kesusahan menelan ludah masing masing.
Kelima murid yang sudah dipilih oleh Balaajaya tersebut terlihat begitu giat berlatih. Mereka benar benar berambisi untuk menang. Bahkan dalam sesi latihan pun mereka mengerahkan semua tenaga dan kekuatannya.
Rupanya cara mendidik Balaajaya berhasil. Para murid nya kini semua memiliki ambisi tinggi untuk menjadi yang terdepan dan terkuat.
" Projo, apa semua sudah dipersiapkan?"
" Sudah Ki, tapi?"
Balaajaya mengerutkan kedua alisnya mendengar kata tapi dari mulut Projo. Kata itu tentu saja bermakna sebuah ketidak sempurnaan.
__ADS_1
" Tapi apa?"
" Ampun Ki, monggo jika Ki Balaajaya mau marah dengan saya. Tapi saya harus menyampaikan hal ini. Jika kita menguras tenaga mereka untuk berlatih setiap hari, maka besok saat hari pertandingan mereka tidak akan bisa memiliki penampilan yang baik."
" Jadi maksudmu cara melatihku salah, begitu?"
" Ampun ki."
Balaajaya terdiam, ia kemudian menimbang pernyataan Projo. Pandangannya teralihkan kepada 5 orang murid yang dipilihnya itu. Baru setengah hari berlatih mereka memang tampak kelelahan. Jika diteruskan mungkin mereka akan pingsan saat itu juga. Terkadang ambisi mengalahkan segala hal termasuk kondisi tubuh yang sudah tidak sanggup lagi.
Apa yang dikatakan Projo ada benarnya juga. Jika orang dewasa maka tidaklah apa apa, tapi mereka masih anak anak. Usia mereka bahkan paling besar 17 tahun. Sepertinya aku harus sedikit lebih berperasaan.
Balaajaya bicara dalam hati. Mencoba menelisik satu demi satu wajah muridnya yang dipenuhi dengan peluh.
" Baiklah, biarkan mereka istirahat. Kau ikut dengan ku."
" Sangga, kemarilah. Biarkan mereka istirahat sejenak. Suruh mereka makan lalu tidur agar kembali segar."
" Baik guru, sendiko dawuh."
Projo pun segera menyusul Balaajaya. Ia enggan jika harus mendengar Balaajaya mengomel karena menunggunya terlalu lama. Mungkin dia bisa dikatakan munafik, karena dalam hatinya ia sama sekali tidak menyukai Balaajaya. Namun saat ini ia hanya bisa begini. Ia masih sayang nyawanya hingga suatu hari nanti bayi yang tidak jadi ia tenggelamkan itu kembali merebut apa yang seharusnya menjadi milik si bayi putra sah dan pewaris yang sesungguhnya.
Sabar Projo, biarlah orang berkata apa tentang dirimu. Paling tidak ini adalah caraku agar padepokan ini masih ada sampai sekarang.
Projo membatin sepanjang jalannya menuju ke bilik milik Balaajaya. Selama ini Balaajaya hanya bisa mendengarkan ucapan Projo. Maka dari itu, Projo memanfaatkannya untuk sedikit menghalangi kebrutalan Balaajaya dalam mengubah padepokan.
" Pripun den?"
Ya, jika hanya berdua Projo lebih senang memanggil pemimpin padepokan itu dengan sebutan den ketimbang ki.
__ADS_1
" Apakah aku perlu mengajarkan jurus rahasia kepada kelima murid itu?"
" Maksud aden?"
" Iya jurus rahasia yang ku punya. Apa aku harus mengajarkannya. Agar mereka bisa menang nanti saat pertandingan melawan padepokan yang lain. Aku mendengar akan ada satu padepokan baru yang ikut. Dimana padepokan itu tidak khusus dalam menggunakan senjata."
Projo terdiam sesaat, ia memang pernah mendengar kabar mengenai padepokan yang belum lama berdiri tapi memiliki banyak murid itu. Namun ia tidak pernah tahu jika mereka tidak memiliki keahlian khusus dalam menggunakan senjata.
Selama ini setiap padepokan pasti memiliki keahlian khusus dalam menggunakan senjata. Karena hal itulah mereka benar benar ahli dalam menggunakannya.
" Apakah benar begitu den? Tapi hal tersebut belum mesti benar. Masih sekedar kabar burung saja."
" Entahlah benar atau tidak. Tapi sebaiknya kita bersiap. Jika kabar itu benar adanya maka bukankah sebaiknya kita sudah mengantisipasinya terlebih dahulu?"
" Tapi den, apa anak anak itu sanggup menerima jurus tersebut. Apa tidak akan berbahaya untuk tubuh mereka jika mereka tidak sanggup menerima jurus tersebut."
Kini giliran Balaajaya yang terdiam. Ia tengah memikirkan cara agar mereka memenangkan pertandingan. Hingga ia tiba tiba tersenyum. Ya, Balaajaya menemuka cara agar bisa menang dalam pertandingan kali ini. Ia akan membalas rasa malunya belasan tahun silam.
" Aku tahu Projo harus melakukan apa. Aku akan turun tangan mengajarkan jurus rahasia itu pada mereka. Namun dengan catatan, mereka tidak boleh menyebarkan jurus ini."
Projo mengehela nafasnya dengan berat. Ia bergumam dalam hati," Apa orang ini bodoh atau apa. Tadi kan aku sudah mengatakan bahwa akan bahaya bagi murid murid itu mempelajari jurus rahasia, terlebih dalam waktu singkat. Huft terserahlah."
Projo hanya tertunduk lesu. Terkadang memang Balaajaya itu tidka bisa berpikir dengan benar. sesekali Projo melihat Balaajaya seperti kehilangan dirinya sendiri.
Pernah suatu hari Projo tanpa sadar melintas di depan bilik Balaajaya. Ia mendengar Balaajaya sedang berbincang dengan seseorang namun saat Projo mengintip nyatanya tidak ada siapapun di sana. Projo hanya melihat sebuah cahaya ungu kemerahan yang berada di depan Balaajaya. Sempat Projo berpikir, apakah cahaya yang menyerupai asap itu lah yang selama ini menjadi rekan berbicara Balaajaya.
TBC
TBC
__ADS_1