
Sebuah kekuatan yang begitu besar dapat mereka rasakan saat melihat bukit Wono Ageng. Ada sesuatu yang tersimpan dalam bukit tersebut yang membuat aliran energi spiritual begitu terasa.
Semua guru dan pendamping para murid di masing-masing padepokan dapat merasakan hal tesebut. Mahesa sedikit terhenyak. Pasalnya dulu saat dia menginjakkan kakinya di bukit Wono Ageng ia tidak merasakan hal dimikian.
" Apa mungkin dulu kami masih muda jadi kami tidak bisa merasakan kekuatan spiritual yang begitu besar ini?" gumam Mahesa dalam hatinya.
Sedangkan yang lain masih diliputi rasa kertekejutan dan kekaguman oleh bukit tersdebut, Adipati Ranawijaya dengan licah langsung menaiki bukit menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Terang saja hal tersebut membuat semua orang yang melihatnya menganga. Selama ini mereka menganggap adipati Gendingan tersebut adalah orang lemah yang berlindung di balik kekuatan Gusti Prabu Akilendra. Namun ketika mereka melihat betapa lincahnya Adipati Ranawijaya merekapun mematahkan anggapannya tersebut.
Satu persatu para guru dan pendamping tersebut mulai menyusul Ranawijaya. Hari sudah senja dan malam mulai menghampiri. mereka harus bergegas sampai di atas bukit.
Di atas bukit Damar dan Saka serta Panca terkejjut dengan kedatangan orang-orang dewasa. Namun ketiganya senang saat seseorang yang sangat mereka kenal berjalan ke arah mereka bertiga.
" Paman guru!"
Ketiganya menghambur dan memeluk Mahesa. Pun sebaliknya, Mahesa juga memeluk ketiga anak muridnya tersebut.
"Paman, kita tidak akan mulai bertanding malam ini kan?"
" Setahu paman guru tidak Damar. Tidak mungkin adipati meminta kalian bertanding malam ini. Kalian istirahatlah. Paaman Guru akan menjaga kalian."
__ADS_1
Damar dan kedua temannya mengangguk. Malam mulai menjelang dengan begitu babak kedua pun sudah dinyatakan berakhir. Jika di atas bukit ini hanya ada tiga anak muridnya, maka bisa dipastikan kedua murid Mahesa yang lain tidak berhasil mendapatkan token tersebut. Tampaknya pencarian token kali ini tidaklah semudah waktu dulu. Terbesit rasa kagum Mahesa akan kepiawaian Adipati Ranawijaya dalam mempersapkan pertandingan ini. Mahesa yakin Ranawijaya tidak sesederhana kelihatannya.
Namun saat ini yang jadi pikiran Mahesa adalah hadirnya Balaajaya di tengah-tengah mereka. Bagaimanpun juga Damar nantinya akan mengeluarkan pedang pitu saat bertanding. Hal tersebut pati akan memancing perhatian Balaajaya. Bukan hanya Balaajaya tapi seluruh orang akan penaaran dengan pedang pitu milik Damar.
" Hufttt bopo guru, kau sungguh memberiku pekerjaan rumah yang tidak mudah."
Mahesa mendengus pelan. Dia harus benar-benar waspada nantinya. akan banyak hal terjadi nanti yang tidak bisa ia perkirakan sebelumnya.
Di sisi lain tampak Balaajauya bersungut-sungut karena ia harus tidur di sembarang tempat.
" Huh, tau begini aku tidak sudi ikut ke atas bukit. Mana yang lolos hanya dua orang lagi. Dasar murid-murid tidak becus! Sungguh tidak bisa diharapkan."
Balaajaya sedari tadi hanya mengumpat dan marah. Beruntung Projo mencari tempat yang sedikit jauh dari orang-orang sehingga ucapan Balaajaya tersebut tidak akan menganggu istirahat orang lain.
" Aku benar-benar salut dengan Adipati Ranawijaya. Dia menyamaratakan semu orang di sini tanpa mengkhususkan siapapun. Kadipaten Gendingan memang pantas untuk dijaikan arena pertandingan karen penguasanya tidak memihak manapun. semoga hal ini terus berlangsung sampai masa yang akan datang. sulit menemukan seseorang yang memerintah tanpa membela suatu kaum pun."
πΏπΏπΏ
Pagi hari semuanya sudah siap berkumpul di pelataran bukit Wono Ageng. Adipati Ranawijaya bersama tangan kanannya berada di tengah-tengah. Agar semua bisa mendengar apa yang akan dia sampaikan, Adipati Ranawijaya benar-benar meminta semuanya untuk diam dan tidak bertanya selama dia menjelaskan.
" Baiklah, saya ucapkan selamat untuk semua yang sudah sampai di sini. Kita akan melanjutkan babak yang ketiga ini. Di babak ketiga ini kalian para peserta bebas untuk mengeluarkan seluruh kemampuan kalian saat bertanding. Akan tetapi ada sebuah catatan. Kalian harus berhenti jika lawan kalian terlihat sudah jatuh dan mengaku kalah. Aku tidak mentolerir mereka yang membuat lawannya sampai tidak berdaya."
__ADS_1
Apa yang disampaikan oleh Ranawijaya itu benar benar seperti peringatan. Bagaimanapun dia adalah penguasa di tempat ini maka semua harus tunduk pada peraturan Ranawijaya.
Ranawijaya kemudian mengundi siapa yang akan menjadi lawan siapa. Damar, Saka, dan Panca melempar senyum saat mereka tidak harus slaing melawan di putaran pertama ini.
" Baguslah, lakukan yang terbaik. Ingat apa yang dikatakan Adipati Ranawijaya ya."
" Baik paman guru. Kami akan ingat hal tersebut."
Mahesa mengangguk, anak muridnya mudah menerima apa yang mereka dengar
peserta yang lolos di babak ketiga ini hanya berjumlah 16 oang. Pertandingan akan dilakukan 3 putaran. 16 besar menjadi 8 besar lalu menyisakan 4 orang dan terakhir menyisakan 2 terbaik yang akan diambil satu saja pemenang.
Saat ini baru diketahui bahwa pemenangnya akan mendapatkan sebuah benda pusaka. Namun Adipati Ranawijaya tidak mengatakan jenis senjata pa itu dan bagaimana kekuatasn senjata tersebut juga dimana letaknya.
Semua masih tersimpan rapi di benak Adipati Gendingan tersebut.
Ksatria Yasapati ternyata juga berada di sana. Padahal ia hanya bertugas di babak pertama. rupanya Yasapati memiliki maksud tersembunyi. Ia masih penasaran dengan pemuda yang bernama Damar tersebut. bahkan Yasapati secara khusus meminta izin kepada Prabu Akilendra untuk menyaksikan pertandingan di atas bukit wono Ageng.
" Aku benar-benar penasaran dengan anak laki-laki itu. Aura yang terpancar dalam tubuhnya bukanlah sembarangan. Bahkan ia memiliki aura lain di sana. Dan benda yang bersarang dalam tubuh anak itu sungguh istimewa. Jika aku tidaksalah, itu sebuah benda pusaka yang memiliki banyak sekali kekuatan. Bahkan dengan cepat bisa meningkatkan tingkatan ilmu kanuragan. Akan tetapi mata awam tidak bisa menembusnya. Sungguh hebat."
Yasapati berbicara dalam hati. Ia terus mengamati Damar. bahkan sesekali ia dibuat terkejut saat dua bayanganb silih berganti keluar dari tubuh Damar. Bayangan sebuah elang dan serigala. Yasapati benar-benar dibuat takjub. Damar bahkan bisa memanipulasi tingkatan ilmu kanuragan yang dimiliki agar tidak bisa terbaca lawan. Jika hanya melihat dengan sekilas menggunakan mata normal, Damar hanyalah seorang murid padepokan biasa. Namun Jika menggunakan mata batin, Damar nbenar-benar seperti seorang pendekar pilih tanding yang pasti setiap orag akan segan saat berhadapan dengannya.
__ADS_1
Entah bocah itu sadar atau tidak dengan apa yang ada dalam dirinya. Namun jika melihat sikap dan perilakunya, Yasapati yakin bahwa bocah itu sangat tahu dan paham dengan kekuatan yang dimiliki. panglima perang tersebut sungguh tidak sabar dengan aksi yang akan ditampilkan damar saat menghadapi lawannya nanti.
TBC