
Pertandingan berakhir dengan sangat jelas bahwa Damar lah pemenangnya. Saka tersenyum lebar, remaja 15 tahun itu langsung menjatuhkan tubuhnya di tanah. Ia mencoba mengatur nafasnya yang masih tersengal.
" Hosh ... Hosh ...hosh ..."
Damar yang baru saja menyimpan kembali pedangnya langsung menghampiri Saka. Ia mengulurkan tangannya kepada sang teman dan menariknya hingga Saka kembali berdiri di sebelahnya. Mahesa pun segera berlari ke tengah arena pertandingan kemudian memeluk kedua anak muridnya tersebut.
" Syukurlah, syukurlah kalian tidak apa-apa. Matursuwun Gusti, matursuwun sanget."
Berkali-kali Mahesa mencium pucuk kepala kedua anak itu bergantian. Sungguh Mahesa lebih khawatir saat keudanya menghadapi kejadian seperti tadi ketimbang duel satu lawan satu dengan musuh.
Adipati Ranawijaya pun tersnyum lebar. Ia sungguh merasa senang melihat kemampuan Damar waktu menghadapai para manusi semu yang ia ciptakan.
" Baiklah, puncak pertandingan antara murid padepokan tombak emas dan padepokan resik jiwo akan kita laksanakan besok. Sekarang semuanya silahkan beristirahat terlebih dahulu."
Perintah atau lebih tepatnya pengumuman yang diucapkan oleh Ranawijaya tentu membuat semua orang bernafas lega. Setelah menyaksikan pertandingan 2 lawan 100 mereka juga ikut merasakan betapa banyak kekuatan yang habis digunakan oleh Damar dan Saka.
" Sungguh aku akui, murid-murid dari padepokan resik jiwo begitu luar biasa."
" Ya aku setuju. Apa tadi kau lihat bahwa kedua anak tersebut tadi pun mampu mengunakan senjata lain. Tidak hanya pedang.
" Bahkan ilmu dan jurus pedang yang diperlihatkan tadi itu lebih baik dari pada padepokan pedang sakti yang merupakan pusat latihan pedang di negeri ini."
Beberpa orang saling berbisik-bisik membicarakan mengenai kehebatan Damar dan Saka. Namun entah mmengapa mereka tidak terlalu mengingat mengenai pedang pitu.
Akan tetapi tentu saja hal tersebut tidak berlaku dengan Balaajaya. Ia bahkn sedari tadi selesai pertandingan tersebut terus mengawasi gerak gerik Damar. Satu pertanyaan yang terbesit dalam pikiran Balaajaya mengambil pedang pitu tersebut dari Damar. Terlebih ia tahu bahwa pedang pitu tersebut bersemayam di tubuh Damar. hal trsebut semakin sulit karena Ksatria Yasapati terus berada di dekat Damar.
" Sialan, apa sih yang dibincangkan pria itu. Bangsaat, jika begini aku tidak bisa bertindak. Aah aku punya sebuah cara untuk bisa mengambil pedang pitu dari anak itu."
Balaajaya nampaknya memiliki rencana tersendiri. Mamun ia tidak bisa melakukannya dengan segera karena Damar benar-benar tengah berada di sekitar banyak orang.
__ADS_1
Di tempat Damar saat ini duduk, remaja tersebut langsung merebahkan tubuhnya saat Ksatria Yasapati pergi dari sisinya. Damar melonggarkan otot-otot tubuhnya sejenak.
" Apa sangat capek?" tanya Mahesa.
" Sedikit paman, tapi setelah tidur pasti tidak apa-apa," jawab Damar sembil tersenyum
Hanya butuh waktu sebentar Damar dan kedua temannya yang lain sudah langsung memejamkan mata dan tertidur. Terdengar dengkuran halus dari ketiga anak tersebut. Bagaimanapun kuatnya mereka, tetap saja mereka masih anak-anak. Mereka pasti kelelahan setelah melakukan pertarungan tadi.
Mahesa mengusap kepala Damar dengan lembut. Da rasa perih di hatinya setiap menatap wajah Damar.
" Andaikan Ki Wira dan Nyi Gayatri masih hidup, aku yakin mereka akan bangga kepada mu le."
Setetes air mata membasahi pipi Mahesa. Mendngar bagaimana Damar ditemukan oleh Ki Prama membuat pria tesebut semakin memiliki hasrat untuk selalu melindungi Damar. Mahesa sungguh berharap bahwa Damar akan baik-baik saja hingga sampai pertandingan ini berakhir. Entah mengapa, tiba-tiba Mahesa memiliki firasat buruk. Sejak tadi ia memandangi wajah Damar menambah peerasaan tidak enak dalam hatinya. Mahesa pun memutuskan untuk tidak tidur malam ini untuk menjaga Damar dan kedua muridnya.
*
*
*
Balaajaya yang sedari tadi pura-pura tidur untuk mengelabui Projo kini langsung bangkit dari posisi tidurnya. Ia tersenyum misterius.
" Baiklah, saatnya melakukan hal yang sudah ku rencanakan."
Balaajaya menangkupkan kedua tangannya di depan dada lalu merapalkan mantra. Setelah itu Balaajaya meniupkannya ke seluruh penjuru atas bukit.
Wusss
Sebuah asap putih tipis langsung menyebar ke semua penjuru. Yang tidur semakin lelap dan yang masih terjaga seketika menjatuhkan tubuhnya dan tertidur. Lagi-lagi Balaajaya tersenyum. Rupanya hal yang ia rencanakan adalah mengeluarkan ajian sirep sehingga semua orang tertidur dan memudahkan dia untuk membawa Damar keluar dari bukit dan hutan tersebut. Bagaimanapun Balaajaya harus bisa mendapatkan pedang pusaka tersebut meskipun harus menculik Damar.
__ADS_1
Balaajaya berjalan cepat ke tempat dimana Damar tidur. Ia kemudian mengangkat tubuh Damar untuk segera pergi membawa Damar dari atas bukit, Balaajaya harus bergerak cepat. Ia khawatir ajian sirep yang ia keluarkan tadi hilang dan membuat bangun semua orang.
Balaajaya berhasil mengangkat tubuh Damar dan langsung melompat turun dari atas bukit Wono Ageng. Meskipun dia tidak pernah tampil selama ini, namun kemampuannya tentu tidak sembaranga juga. Ilmu dari buku rahasia yang sebanarnya terlarang untuk dipelajarinya karnea harus lengkap dengan buku lanjutan membuat ilmu kanuragannya meningkat. Meski tetap banyak hal yang tidak sempurn aberada dalam tubuh pria itu.
Seharusnya ilmu kanuragan tersebut bisa menjadikan dirinya semakin kuat. Akan tetapi karena obsesi dan ambisi akhirnya yang seharusnya ilmu aliran putih yang diterima menjadi aliran gelap yang dihasilkan oleh Balaajaya.
Damar yang sebenarnya tidak sepenuhnya tersirep membiarkan pria itu membawa dirinya. Ingin sekali berteriak namun lidahnya kelu dan tubuhnya seakan tidak bertenaga. Bahkan matanya pun tidak bisa membuka, hanya kesadaran mata batinnya yang saat ini terjaga.
Lagi, tiba-tiba Famar mendapatkan sebuah bayangan. Ia melihat seorang pria yang wajahnya begitu mirip dengannya ditebas dengan sebuah pedang. Hal tersebut juga terjadi kepada seornag wanita, padahal wanita tersebut tengah membawa seorang bayi.
" Kang Wira!"
" Gayatri."
Kedua nama itu menggema saat itu memanggil satu sama lain. Bayi tersebut menangis keras saat sosok pembunuh tersebut menatapnya tajam.
" Singkirkan bayi ini sebelum dia mengancam keberadaan ku nantinya."
Seorang pria membawa bayi tersebut, perintah mengatakan ia harus membunuhnya. Akan tetapi rasa iba jelas terpancar dari wajah si pria. Bayi itu tidak ia lemyapkan melainkan ia larung ke sungai hingga bertemu oleh seorang petapa dan orang itu mengambil bayi tersebut.
" Romo?"
Damar tentu terkejut melihat bayangan itu. Seakan-akan dia bisa merasakan semuanya. Kesedihan, tnagisan, kepiluan, kemarahan, kebencina dan kehangatan kasih sayang bisa ia rasakan. Dalam ketidak sadaran raga Damar mencoba menelisik melalui mata batinnya.
" Apakah romo bukan romoku? Apakah yang aku lihat tadi adalah romo dan ibuku yang sebenarnya? Apakah mereka dibunuh oleh orang ini? Apakah bayi itu adalah aku? Siapa diriku yang sebenarnya?"
Banyak sekali pertanyaan yang ada dalam benak Damar. Dan ia tahu siapa yang bisa menjawab semuanya tersebut.
TBC
__ADS_1